
Happy Reading!!!
Kulanjukan motorku dengan pelan meninggalkan area kontrakan. Otakku saat ini dipenuhi oleh Ela. Tentang keberadaannya saat ini.
Sayup-sayup aku mendengar suara dan merasakan getaran dari jaket yang kugunakan. Kuhentikan motorku didepan halte bus lalu kuraih HPku dari kantong jaketku.
Kulihat telepon masuk dari Rifqi. Kugeser tanda telepon. Tanpa salam terlebih dahulu orang disebrang sudah menyerbuku dengan pertanyaan.
"Mas, dimana lo sekarang? Dari pagi lo udah ngilang aja!" sewot suara disebrang telpon.
Kukeratkan gigiku menahan amarah dari telpon disebrang.
"Gua dari rumah Ela! Emang ada apa nelpon gua?"
Beberapa detik tidak ada jawaban dari sebrang membuat darahku menaik.
"Ada apa?" tanyaku kembali.
"...Mas, sekarang ke rumah ya! Gua ada perlu," perintahnya lalu mematikan HP.
Kutatap layar HPku yang telah diputuskan sepihak oleh bocah disebrang sana.
"Shit.." lalu kunyalakan motor kembali lalu melajukannya ke arah rumah mama dengan cepat.
Rumah mama Ika
Di halaman rumah mama Ika, sudah nampak 1 mobil yang sangat kukenal. Aku langsung mestandar motor disamping mobil besar berwarna biru tua itu.
Lalu kulangkahkan kakiku kearah pintu masuk. Saat membuka pintu...
"Kejutan!!!" tampak teman-temanku mengagetkanku yang baru saja membuka pintu.
Terlihat wajah temanku berubah cemberut ketika melihat ekspresi datarku. Wajahku tidak terkejut sama sekali, karna tau keberadaan mereka dari mobil yang ada di halaman.
"Nohkan gua bilang! Harusan tadi mobil lo di umpetin dulu!" seru sahabatku yang berkaos hitam dan berambut layaknya boy band korea pada sahabatku yang memakai kacamata dan berkaos putih dengan kemeja biru kotak-kotak yang tidak dikancing.
"Di umpetin dimana Oppa Davin!" serunya terlihat jengkel pada lelaki berkaos hitam itu. "Kalau bisa tadi mah, gua umpetin dikantong kemeja gua!" lanjutnya menatap laki itu.
"Yaudah kenapa enggak lo umpetin di kantong kemeja lo! Ajusi Reza" balasnya. Sedang teman-teman lain hanya tertawa mendengar pertengaran mereka.
"Udah-udah! Kayak anak kecil aja berantem!" uraiku menenangkan mereka.
Dari belakang tiba-tiba ada yang menepok bahuku. Saat berbalik tampak seorang wanita cantik, berkerudung merah. Dia menggunakan pakaian longgar sepaha dan bercelana jins panjang.
"Eli!" sahutku kaget melihat sosok berbeda didepanku.
"Halo! Gimana kabar lo?" balasnya dengan senyum yang manis.
"Hem...gua baik! ...Gimana kabar lo?" kataku sedikit gugup melihat sosok yang kurindukan.
"Gua juga baik," balasnya.
Kami saling tatap menatap. Ada yang berubah darinya. Lima bulan yang lalu dia tanpa sesuatu menutupi kepalanya sekarang dia berbeda. Tetapi dia tetap sama seperti dulu tomboi dan cantik.
"Ciee...yang ketemu sama pujaan hatinya!" ledek teman-teman yang sejak tadi memperhatikan kami.
"Apa sih kalian!" seruku menatap mereka tajam lalu kembali menatap Eli lembut.
"Gimana sama kejutan kami! Kagetkan!" seru Nayla yang berkerudung Biru pasmina.
"Biasa aja!" balasku dengan muka santai yang langsung di cibiri oleh mereka.
"Biasa aja, tapi muka kaku gitu.." sorak Davin.
Lalu kami bersama-masuk kedalam rumah.
Kami duduk di ruang TV sambil bercanda dan ngobrol bareng tentang liburan kemarin.
Kutatap sosok prempuan disampingku ini yaitu Eli. Dia merupakan sahabat dan wanita yang kusuka sejak awal masuk SMA.
Lulus SMA kami satu tempat kuliah. Aku jurusan bisnis sedang dia jurusan arsitektur tetapi karna ayahnya yang dipindah tugas ke luar Negri, dia harus pindah kuliah juga. Alhasil lima bulan lebih ini aku gak pernah melihatnya.
Sebenarnya aku penasaran, mengapa dia memakai kerudung? Apa alasannya? Padahal selama 3 tahun di sekolah Islam. Hanya di sekolah saja dia mengenakan kerudung. Jika di luar are itu dia akan menanggalkannya. Yang lebih membuatku penasaran kenapa dia seperti menjaga jarak denganku setelah hari dimana dia bertemu dengan Ela.
Kutatap wajahnya yang sedang tertawa, mendengar guyonan Davin yang sangat garing bagiku.
"Eli!" panggilku pelan. Lalu memberi kode padanya untuk mengikutiku.
Di taman aku langsung duduk di bangku kayu dekat kolam renang. Begitu juga dia yang duduk disebelahku.
"Rumah tante Ika nyaman sekali!" serunya sambil menyandar.
Kutatap wajahnya lekat-lekat meluapkan rasa kangenku yang sudah lama tak berjumpa.
"Gimana kuliah disana?" Eli melihat kearahku lalu kembali menegakkan tubuhnya yang awal menyandar.
"Seru!" balasnya senyum. "Orang-orangnya baik dan yang terpenting aku mudah bergaul disana.."
Aku menganggukan kepala lalu mengalihkan pandanganku kearah depan.
"Gimana kabar Tante sama Om?"
"Alhamdulillah Ayah sama Ibu sehat. Mereka sangat mesra. Kadang-kadang membuatku sedikit cemburu.."
"Apa disana kamu dekat dengan seseorang?" tanyaku kembali tapi saat ini mataku menatap wajah samlingnya yang saat ini menatap kedepan.
"Hemm..ada deh.." jawabnya sambil tersenyum.
Dari dalam rumah kulihat Reza menghampiri kami. "Hei...kalian pacaran bae disini. Hayo cepatan siap-siap!"
Aku mengerutkan dahi mendengarnya. "Siap-siap kemana?"
Sekarang gantian Reza mengerutkan dahi. "Kita tu mau ke puncak!" jawabnya. "Gua kira lo tadi ngilang, lagi nyiapin pakaian. Ternyatanya pacaran.." katanya menggeleng kepala.
"Emang lo belum bilang Li?" tanya Reza melihat kearah Eli. Sedang dia hanya menyengir menggeleng kepala.
"Emang lo ikut Li?" tanyaku memastikannya. Dia menganggukkan tanda ikut.
Aku lekas menuju kamar lalu mengambil beberapa baju yang akan digunakan disana kemudian memasukkannya kedalam koper.
Saat keluar kulihat Rifqi yang sama membawa koper.
"Lo juga ikut Rifqi?"
"Yoi, gua ikut. Mumpung mama masih di sana," sahutnya nyengir.
***
Kami lalu pergi menggunakan 2 mobil. Mobil besar biru tua milik Reza diisi oleh Reza, Bunga, Davin dan Devi. Sedang mobil kedua diisi oleh aku, Via, Rifqi dan Hajar.
Kami menuju kearah puncak. Disana kami akan tinggal di Vila milik keluarga Davin.
Seketika fikiranku yang awalnya di penuhi wanita itu hilang, bagaikan disapu ombak.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih.
.