UHIBBUKI

UHIBBUKI
prologue



Jangan lupa like dan coment ya supaya semanga terimakasih.


saya dengan senang hati menerima juga saran dan kritiknya...


***


Hari sabtu, biasanya di jadikan tempat untuk beristirat melepas penat setelah cape bekerja. Mengunjungi saudara, hang out khusus untuk anak muda walaupun orang tua juga ada yang seperti itu, dan berbagai hal lainnya yang membuat mereka fresh kembali.


Tapi ada juga yang menghabiskan waktu liburnya untuk menambah ilmu dan pengetahuan.


***


Suara telepon terdengar, membuat wanita mungil berkerudung hijau yang sedang berbicara diam. Dia memandang kearah gadis berkerudung biru yang sedang merogoh tasnya untuk mencari sumber suara. Setelah beberapa saat suara itu hilang, sedangkan gadis itu masih saja merogoh tasnya untuk nemukan benda yang di carinya. Karena merasa di perhatikan, dia mengalihkan pandangan dari tas menuju sekelilingnya. Dia hanya nyengir lalu menghentikan pencarian sumber suara yang akan menjadi sumber permasalahan sekarang.


Wanita mungil tersebut masih memperhatikannya, membuat gadis itu yang awalnya nyengir menjadi diam. Dia menundukan kepalanya karena merasa bersalah. Dia tau Tingkah lakunya tidak sopan karena saat wanita mungil tersebut bicara dia tidak mendengarkan.


Wanita mungil itu kemudian membuka keheningan, "Baiklah sampai sini pembahasan kita hari ini! Apa ada pertanyaan terkait materi pembahasan!?" dia menatap gadis di depannya satu persatu yang hanya mereka balas dengan gelengan kepala.


Wanita mungil itu menutup kegiatan tersebut dengan istigfar dan doa penutup.


"Kak Zahra maaf," kata gadis berjerudung biru itu. Dia memperhatikan Zahra yang sedang memasukkan buku kedalam tas.


Zahra lalu melihat kearah gadis berkerudung biru, yang nampaknya terlihat menyesal.


"Kakak maafkan. Tapi jangan ada kesalahan yang sama paham," jawab Zahra tegas terlihat dari wajah mungilnya dan matanya yang menatap lurus kearah gadis itu.


"Iya. Makasih Kak," kata gadis itu senyum sumringah.


Tidak berapa lama supir pribadi(suami) Zahra datang menjemput, meninggalkan tiga orang gadis yang masih duduk di teras menjid.


"Ela tadi siapa yang nelpon kamu?" tanya gadis berkerudung merah marun yang sedang menyelonjorkan kakinya karena kesemutan.


"Enggak tau Uni. Aku masih nyari HP! Enggak ketemu- temu nyelip dimana dia?" jawab Ela yang masih merogoh-rogoh tas besarnya yang terlihat seperti tas camping.


Akhirnya Ela menemukan HP nya yang terselip diantara buku-bukunya. Dia melihat layar HP yang nunjujan panggilan dari mamanya.


"El, jadi kan kita ke kosan Uni?" tanya gadis berkerudung hitam yang sedaris tadi diam memperhatikan kedua sahabatnya.


"Enggak Lifi! Mama meminta aku pulang sekarang," jawab Ela bingung. Tumben-tumbennya mamanya nyuruh nelpon dan nyuruh pulang cepat. Biasanya mamanya gak pernah nelpon kecuali kalau Ela belum pulang sampai jam 8 malam.


"Wah tumben-tumbennya calon mertua nelponin kamu. Mungkin calon imam kamu udah sampai rumah kamu setelah perjalanan panjang," ledek Uni membuat Lifi tertawa dan Ela tertawa garing.


"Amiin, siapa tau bener. Mungkin setelah menyebrangi lautan dan muter-muter akhirnya dia nemuin rumah ku yang terselip diantara milyaran bahkan triliunan rumah di dunia ini. Tapi sayangnya nanti ada yang cemburu sama aku soalnya nikah duluan," balas Ela menatap tajam Uni dengan cengiran. Sedangkan yang orang yang ditatap hanya membalas dengan senyuman.


"Enggak papa calon adek ipar nikah duluan. Siapa tau abangmu mau ngelamar saya setelah itu," Uni menyenggol lengan Ela dengan senyum yang mengembang di wajah manisnya.


"Aimiin," kata Lifi kenceng.


"Iya dah biar cepat. Yaudah saya pulang ya Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam. Hati-hati dijalan kalau jatoh bangun sendiri! Soalnya gak ada yang kuat ngebopong kamu," kata Uni di sambut gelak tawa Lifi.


Ela lalu melajukan motornya menuju rumahnya yang hanya berjarak 20 menit.


Sampainya didepan rumah, Ela melihat pagar rumahnya terbuka lebar tidak seperti biasanya yang selalu tertutup rapat. Karena biasanya ayam akan dengan senang hati tanpa permisi menjadikan teras rumah menjadi kamar mandi umum. Dia mengalihkan matanya kearah pintu rumah yang ternyata terdapat sendal yang tidak dia kenal.


Ela kemudian memasukan motornya hitamnya ke dalam pagar dan menaruhnya di samping motor abangnya yang sedang bertengker dengan manisnya dengan gembok yang masih nyangkut didepan ban depannya.


Dari teras Ela tidak melihat seorang tamu yang duduk di ruang tamu. Kemudian dia melangkahkan kakinya kearah pintu. Sebelum masuk dia mengucapkan salam yang di jawab oleh seorang wanita cantik setengah berkerudung panjang menutupi dadanya yang sedang berjalan kearahnya. Ela membalas senyuman wanita tersebut dengan gugup.


"Wah cantik bener tante ini. Mukanya mulus, hidungnya mancung, walaupun badannya berisi tetapi terlihat lincah dari cara berjalannya," gumam Ela dalam hati memperhatikan kecantikannya wanita didepannya.


"Kamu Ela?" tanya wanita itu dengan senyum ramahnya.


"Iya tante saya Ela," Ela membalas senyum tante didepannya. Dia memperhatikan tante didepannya yang mukanya basah dan kedua lengan bajunya terlipat. "Tante mau sholat? Ayo bareng tante? Ela juga mau sholat asar?"


Tante itu menatap kearah Ela, "....Boleh tapi kamu imamnya ya!"


"Iya tante,"


Ela kekamar menaruh tasnya, kemudian mengambil wudhu di kamar mandi yang berada disebelah kamarnya. Kemudian ia menuju je ruang nontin TV yang biasanya keluarga Ela jadikan ruang sholat. Disana Ibunya sudah memberikan mukena yang sedang digunakan tante cantik. Ela kemudian shalat bersama dengan tante itu.


Setelah selesai sholat Ela langsung mencium tangan tante itu menggunakan hidungnya. Kemudian mereka berdoa.


Ela masih tetap di atas sajadahnya berzikir dan berdoa sedang tante cantik sudah kembali ke ruang tamu setelah membetulkan sedikit make up dan kerudungnya.


Ibunya Ela yang melihatnya sendiri kemudian menghampiri dan berkata dengan suara yang sangat pelan, "Ela kamu kok gak cerita-cerita sama mama?"


Ela yang sudah selesai doa melihat kearah mamanya dengan tampak bingung, "Mama gak sholat?"


"Ela mama nanya kok malah nanya balik. Mama lagi gak sholat. Sekarang jawab pertanyaan mama yang tadi!" mama terlihat sekali muka penasarannya sedang Ela masih bingung maksud perkataan mamanya.


"Cerita apaan ma? Ngomong-ngomong siapa yang datang? Tantenya cantik bener. Teman bapak ya ma?" tanya Ela pelan bertubi-tubi membuat mamanya menggeleng kepala.


"Harusnya mama yang tanya kamu! Kamu malah nanya balik," jawab mama sambil memijah keningnya.


"Maksud mama apa? Aku gak kenal tante tadi? Ini pertama kali ketemu?" Ela bingung dengan perkataan mamanya.


Suara salam terdengar dari pintu depan yang di jawab mereka di dalam rumah bersama-sama.


Mamanya Ela menyuruh Ela cepat bersiap dan menyalam tamu didepan walaupun tadi sebenarnya Ela sudah menyalamnya saat masuk rumah.


Ela bersama mamanya berjalan kearah ruang tamu. Disana sudah duduk bapaknya, tantenya yang tadi dan satu laki-laki yang sangat dia kenal membuatnya matanya melotot pada sosok laki-laki yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Ela.


"Kak Ela lama gak ketemu. sarange!" kata laki-laki tersebut lalu membuat finger hurt membuat bapak dan tante itu menegok kearah Ela dan ibunya menatap kearah Ela minta penjelasan atas pertanyaan yang tadi. Sedangkan Ela memberikan tatapan dinginnya pada laki-laki yang menurutnya tidak sopan.


Saat ingin duduk Ela Lebih memilih duduk dibangku yang didepan tante itu. Karena dia benar-benar risih di pandang oleh laki-laki itu. Bisa-bisa badannya bolong diliatin mulu dengan matanya. Sedangkan mamanya Ela duduk didepan laki-laki tersebut.


"Baiklah karena orang yang di tunggu sudah datang mari kita langsung ke pembahasan utama," kata Bapak Ela membuka topik pembicaraan.


"Iya pak, seperti yang sudah saya sampaikan tadi. Saya Ike sebagai ibunya Rafiq kesini bersama anak saya ingin melamar anak bapak yang bernama Ela untuk anak saya ini yang bernama Rafiq Hanif Pramata," kata tante itu lembut tetapi membuat Ela sontak melirik Rafiq yang sedang setia memandang dengan senyuman kemenangan diwajahnya. "Jadi bagaimana pak? Apa bapak menerima lamaran anak saya?"


"Saya menerima lamaran nak Rafiq. Tapi saya perlu tanyakan pada Ela apa dia setuju, karena yang menikah bukan saya tapi anak saya. Bagaimana Ela apa kamu menerima lamaran nak Rafiq?"


Ela bingung seribu bahasa. Dia hanya diam membungkam mulutnya. Kata orang kalau diamnya perempuan artinya iya. Sedangkan Ela sendiri bingung mau menjawab apa dia hanya menatap lurus kearah meminta penjelasan apa Rafiq serius atau bercanda sedangnkan orangnya hanya senyum menampilkan wajah tampannya yang semakin tampan.


"Kamu benar-benar persis seperti mamamu. Waktu bapak lamar mamamu juga diam kayak kamu. Diam-diam mau," kata bapak mencolek lengan mama Ela yang membuat sedikit lelucon ditengah kediaman ini.


"hem... Ela terserah bapak aja. Kalau menurut bapak Rafiq yang terbaik buat Ela..., Ela... Ikut aja," kata Ela gugup dan terbata-bata lalu dia menundukan kepalanya. Rafiq yang melihat kegugupan Ela tersenyum.


Ela masih bingung Rafiq serius atau bercanda melamarnya. kalaupun sudah seperti ini mana mungkin bercanda, apalagi bapak Ela terkenal keras. Kalau benar bercanda Rafiq seperti minta di hajar oleh bapaknya.


Ela menyetujui pernikahan ini karena percaya dengan Rafiq walaupun masih ada keraguaan ketika melihat tingkah Rafiq.


Saat orang tua mereka sedang ngobrol kapan menentukan pernikahan mereka. Ela melirik kearah rafiq meminta penjelasan dari semua ini.


"Rafiq tukaran bangku sama mama, biar kamu bisa leluasa ngobrolnya. Gak usah malu-malu ya nak sama Rafiq. Dia anaknya emang deman bangat ngegodain. Apa lagi sama cewek yang Rafiq suka," kata mama Rafiq sambil melirik kearah Ela dan Rafiq yang dibalas lirikan Rafik pada Bundanya.


"Apa perlu kita pindah ke ruang TV biar gak dengar obrolan kalian?" ledek mama Ela menyenggol lengan putri bungsunya.


"Jangan ma! Disini aja!" pinta Ela.


Rafiq lalu pindah kearah bangku yang tadi di duduki bundanya. Mereka saling hadap berhadapan. Keheningan masih meliputi mereka. Tatapan intens masih Rafiq berikan pada Ela, sedangkan orang yang ditatap benar-benar merasa risi. Jika saja Ela itu tidak dosa maka tanpa segan segan Ela akan menjahit mata Rafiq supaya berhenti menatapnya.


Ela melihat kearah Rafik kemudian membuang mukanya kesamping.


"Rafiq kamu serius ngelamar saya?" Tanya Ela membuka keheningan mereka. Rafiq terlihat mengerutkan dahi melihat ekspresi dingin Ela yang selalu dia berikan ketika bertemu Rafiq.


Rafiq mengabaikan tatapan dingin Ela. Dia membalasnya dengan senyuman lalu berkata, "Tentu saja aku serius melamar kakak, kalau aku gak serius mana mungkin aku bawa mama dan seserahan yang kakak minta ke sini," Ela yang mendengar jawaban Rafiq hanya menganggukan kepala tanda paham kemudian dia bertanya kembali.


"Jadi kamu beneran suka sama aku? Akukan umurnya lebih tua dari kamu? Terus apa yang kamu suka dari aku?"


Rafiq yang mendengarnya, tidak butuh waktu lama dia menjabnys dengan khasnya playboynya, "Bukannya aku sudah mengatakan pada kakak berulang kali, kalau aku suka kakak. Itu berarti saya serius menyukai kakak. Kalau umur tidak menjadi masalah untukku. Lagi pula aku lebih suka bermanja-manja dari pada memanjakan," Rafiq menatap genit kearah Ela yang dibalas Ela dengan wajah dingin yang santai seoerti tidak terpengaruh sedikitpun oleh godaan Rafiq. "Yang aku suka, kakak berani menolak anak seganteng saya, padahal banyak cewek yang ngatri jadi pacar gu.. aku," lanjut Rafiq membanggakan diri yang dibalas Ela dengan alis naik sebelah.


Orang tua Ela yang diam-diam mendengar pembicaraan mereka berdua hanya senyam-senyum. Sedangkan Ibu Ika memperhatikan Ela yang sedaris tadi memasang wajah dinginnya ketika berbicara dengan Rafiq.


"Terus kamu tau nomor HP aku dari siapa?"


"Kamu mau tau bangat... atau mau tau aja...," goda Rafiq setelah nendenar pertanyaan Ela. Membuat Ela menatap kesal Rafiq yang dia tahan lalu mengabaikan perkataan laki-laki tersebut.


"Kalau begitu, aku percaya sama kamu. Aku menikah denganmu karena ingin menjalankan sunah rasul. Aku ingin kamu menjadi imam dalam sholat maupun keluarga yang akan kita bangun nanti. Aku mau kita sama-sama mencari ke ridhaan Allah dalam pernikahan kita," kata Ela lurus menatap Rafiq. Walaupun sebenarnya yang di tatap Ela tengah-tengah antara kedua mata Rafiq. Sedangkan orang yang ditatap lalu diam menundukan kepalanya, jarinya memegang erat satu sama lain.


"Jadi sekarang kamu mau jadi pacar saya?" tanya Rafiq menjawab pernyataan Ela tadi yang di balas Ela dengan kerutan dahi.


"Aku akan pacaran denganmu setelah menikah!! Walaupun kita akan menikah satu menit ataupun satu detik kemudian saya akan tetap menolakmu!!" kata Ela pelan dan jelas dengan muka dingin masih terpasang di wajah bulatnya membuat Rafiq kesal terlihat dari kepalan di kedua tangannya.


"Tapi kenapa kan saya serius sama kakak?" Tanya Rafiq meminta penjelasan.


"Rafiq bukankah aku sudah pernah menjelasnya!!" kata Ela menekankan suaranya membuat Rafiq terdiam.


"Aku ingin kamu membolehkanku untuk mengikuti pengajian setiap seminggu sekali. Kamu tidak boleh melarangku!"


Rafiq yang mendengar pernyataan Ela lalu bertanya dengan nada menggoda, "Kalu aku melarangmu?"


"Aku akan membatalkan lamaran ini," kata Ela cepat tanpa pikir panjam. Diam menjawabnya dengan santai membuat Rafiq mengeraskan rahangnya.


"Baiklah aku tidak akan melarangmu. Apa ada lagi?" kata Rafiq lalu menyrnderkan tubuhnya pada kursi yang di dudukinya.


"...Tidak ada itu saja,"


Kemudian para orang tua bertanya pernikahan seperti apa yang mau Ela dan Rafiq adakan. Yang mewah atau sederhana.


"Bagaimana Ela, Rafiq. Pernikahan seperti apa yang kalian inginkan?" tanya mama Rafiq melihat Ela dan Rafiq secara bergantian.


"Kalau saya terserah Ela ma. Yang penting saya cepat jadi suaminya," jawab Rafiq membuat bapak dan mama Ela tersenyum-seyum sedang Ela mengerutkan dahi.


"Kalau begitu bagaimana kalau akad nikah saja. Masalah resepsi belakangan itukan butuh waktu lama," timpal bapak Ela yang disetujui oleh mereka semua.


Masih banyak pertanyaan di kepala Ela bagaimana setelah pernikahannya. Apa dia masih tetap tinggal sama orang tua atau akan diboyong ke rumah mertuanya. Walaupun sebenarnya Ela lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya.


Yang lebih membuat Ela bingung bagaimana dia memenuhi kebutuhannya sedangkan mereka sama-sama kuliah belum kerja, tentu biaya ditanggung orang tua mereka.


Mama Rafiq melihat Ela memasang wajah dingin tetapi mata Ela terlihat memiliki pertanyaan. "Ada apa Ela? Kamu ingin menanyakan sesuatu?" tanya Ibu Ika lalu tersenyum. Ela yang mendengar perkataan Ibu Ika lalu berkata dengan gugup. Rafiq yang melihat ke gugupan Ela mengangkat sebelah alisnya.


"Iya tante, ...saya dan Rafiq kan.. sama-sama masih tanggungan orang tua, hem"


Mama Rafiq yang mengerti maksud Ela lalu tersenyum kemudian berkata, "Kalau masalah kebutuhan hidup kalian kamu gak perlu khawatir. Ibu juga sudah membicarakannya pada orang tua Ela. Semua kebutuhan Ela akan tante tanggung. Tentu saja anak ganteng ini juga harus bantu memenuhi kebutuhan istrinya?" mama Rafiq menyenggol lengan Rafiq dengan senyum ramahnya yang sangat dipahami oleh Rafiq.


"Jadi intinya kamu gak usah khawatir. Kalau masalah tempat tinggal kamu bisa tinggal disini atau di tempat Ibu," lanjut ibu Ika Rafiq.