UHIBBUKI

UHIBBUKI
Twenty Eight



Happy Reading!!!


Di kamar aku berguling-guling di kasur bagaikan anak kecil, karna rasa senangku akan kehadiran Rafiq di rumah.


"Akhirnya.. akhirnya!!" gumamku dengan sumringah lalu memeluk bantal gulingku dengan erat.


Kucoba cium ketiakku yang ternyata tercium bau-bau asem yang membuat mabuk.


"Aku harus mandi.. siapa tau nanti.. hehehe.." halyaku liar kepada hal yang aku inginkan dan tentu kunantikan.


Aku bergegas keluar kamar. Sebelum ke kamar mandi kuliat Rafiq yang masih bercakap-cakap dengan bapak. Tapi entah apa yang mereka bicarakan, yang kudengar hanya suara tawa mereka.


Sehabis mandi kucium kulitku yang sudah harum dengan wangi sabun bayi yang kugunakan. Cukup lama aku mandi karna menggosok semua bagian tubuhku, agar semua daki yang melekat keluar.


Ku kenakan kembali daster yang tadi kugunakan, tentu kucium terlebih dahulu. Agar memastikan pakaian yang kugunakan harum. Supaya suami betah dekat sama istri.


Ke luar kamar mandi aku tidak melihat siapapun di ruang tamu. Kemudian aku memasuki kamar kudapati Rafiq yang sedang tengkurap membelakangi pintu.


Ku langkahkan kakiku pelan-pelan untuk melihat Rafiq, yang ternyata dia sudah tertidur.


Kupandangi wajah tidurnya yang terasa begitu adam menyejukkan qolbuku.


"Andaikan saat kamu bangun wajahmu selembut sekarang.." kataku lirih.


Dengan pelan kulangkahkan kembali kakiku menuju arah pintu untuk menutupnya lalu mematikan lampu kemudian berbaring disamping Rafiq.


Kupandangi wajahnya kembali. Ingin sekali rasanya menyentuh wajahnya dan mengelusnya. Tapi itu enggan kulakukan karna takut membangunkannya.


Aku sangat gemas dengan wajahnya. Bukan karna dia imut ataupun berpipi cabi layaknya Azril tapi karna aku begitu merindukannya.


"Mas aku rindu sama kamu! Kapan kamu bisa maafin atas kebohonganku dan menerimaku? Aku selalu berdoa kepada sang pemilik hati agar kamu menerimaku dan memaafkan kebohonganku..." gumamku lirih. Lalu kupejamkan mataku.


@@@@@


"Elaaa.. Elaa.. bangun Ela!!"


Sayup-sayup aku mendengar suara mama memanggil. Dengan berat kubuka mataku.


"Ayo bangun siap-siap!" perintah mama.


Aku bangun dari tidurku dengan sangat berat karna rasa kantuk yang begitu kuat kemudian duduk melihat mama yang sudah menyalakan lampu membuat mataku silau.


"Siap-siap kemana?" tanyaku dengan suara khas bangun tidur. Suara yang mirip-mirip orang sakit batuk.


"Kok pake nanya sih? Bukannya Rafiq udah bilang sekarang kita mau pergi ke taman safari?" tanya mama kembali.


"Aaa.." aku bengong mendengar perkataan mama. "Rafiq gak bilang apa-apa ma.." jawabku.


Kupegang ujung mataku yang terdapat butiran emas yang tidak laku dijual.


"Maaf ma, tadi malam kak Ela udah tidur. Jadi aku gak sempat bilangnya," kata Rafiq yang tiba-tiba nongol dari pintu.


Dia kemudian masuk kedalam kamar lalu naik ke atas kasur duduk tepat didepanku.


Dia merapikan rambut panjangku yang menutupi sebagian wajahku. Rafiq kemudian mencium jidatku lalu berkata.


"Maaf ya sayang tadi malam aku lupa bilangin kamu.." Rafiq menangkup kedua pipiku dengan tangannya.


Wajahku langsung memanas. Dadaku berdegup kencang bagai anak gadis yang baru jatuh cinta.


"Enggak apa-apa mas.." jawabku malu-malu memandang iris matanya.


"Aduhh kalian ini malah mesra-mesraan!" seru mama. "Yaudah Ela kamu cepat bangun terus siap-siap!" mama lalu pergi keluar kamarku.


Setelah mama keluar kamar Rafiq langsung melepas sentuhannya dari pipiku. Dia berdiri lalu membalik kan badan memunggiku.


"Kak cepat siap-siap yang lain udah pada nungguin!" Rafiq berlalu keluar kamar.


Aku masih termenung dengan memegang kedua pipiku. Bibirku tidak henti-hentinya berhenti menyungging senyuman.


"Astagfirullah Elaaa masih senyum-senyum aja cepat siap-siap!" intip mama dari balik pintu. Segera aku bangun lalu bersiap-siap.


Yang menyupir tentu saja abangku yang ganteng dan juga Rafiq yang ternyata bisa mengendarai mobil.


Sampainya disana kami segera menonton sirkus, bermain permain dan yang terpenting melihat animals yang tidak di kandang dari dalam mobil.


Tidak ada hal khusus antaraku maupun Rafid tapi disini aku bisa merasakan kelembutan Rafiq yang aku rindukan. Walaupun dia bersikap baik hanya saat didepan keluargaku jika kami berdua dia akan bersikap dingin bagaikan es kutub selatan. Tapi setidaknya aku merasa bahagia.


Kami sampai di rumah sekitar pukul 9 malam. Semua terlihat begitu lelah begitu juga Rafiq yang langsung membaringkan tubuhkan diatas kasur kamarku.


"Mas bangun, ganti dulu bajunya baru tidur. Biar lebih enak," aku mengoyangkan lembut tubuh Rafiq.


"Gua cape, mau tidur!" Rafiq menghempaskan tanganku yang memegang pundaknya. Kutatap tanganku yang dihempaskannya dengan sedih.


Selesai membersihkan diri aku kembali ke kamar melihar Rafiq yang sudah tertidur terlentang dengan sangat pulas.


Dia hanya mengenakan celana boxer dan baju tanpa lengan yang menampilkan keseksian otot tangannya yang mulai terbentuk dan juga paha dan betisnya yang ditumbuhi bulu-bulu. Sedangkan kemeja dan celana panjangnya sudah berserakan di lantai.


Aku lalu membereskannya dan mencucinya bersama pakaian lain dengan mesin cuci.


Setelah beres aku kembali ke kamar untuk beristirahat.


@@@@@


Kupingku mendengar suara samar-samar yang sering kudengar disetiap malam.


Dengan dorongan tekad yang kuat aku membuka mataku agar segera bangun. Aku terkejut mendapati sosok seseorang yang mukanya tidak terlalu jelas yang sedang memandangiku dari atas.


Saat ingin berteriak orang itu langsung membungkam mulutku dengan tangannya.


"Jangan berteriak! ini aku!" kata orang itu dengan suara yang sangat ku kenal.


"Rafiq!!" gumamku dalam hati.


"Untuk apa Rafiq diatasku malam-malam seperti ini?" batinku kembali bertanya-tanya akan tidakan Rafiq.


"Mas aku.."


"Shuuh.. diam! Sekarang kamu hanya perlu mengikuti keinginanku!" perintahnya. Dia lalu menempelkan bibirnya ke bibirku dengan lembut.


Kulihat matanya terpejam sedang aku melotot kaget melihat tindakannya yang tidak ku bayangkan.


Semakin lama sentuhan bibirnya semakin liar. Tapi hanya dia yang bekerja sedang aku hanya menerimanya saja hingga dia menjauhkan bibirnya dariku. Membiarkan ku maupun dia menadapatkan oksigen.


"Kenapa lo gak balas ciuman gua?" tanyanya dengan nafas yang sedikit memburu. Sedang aku mendapat sebercik harapan.


"...memangnya boleh?" tanyaku kembali meyakinkan.


"Tentu saja! Kemudian Rafiq kembali melakukannya dan aku sesekali membalasnya walupun balasanku tidak seliar Rafiq. Hingga tangan Rafiq yang awalnya ada di atas kepalaku mulai melakukan kegiatannya di tubuhku yang langsung aku tahan dengan kedua tanganku.


"Mas tunggu!" seruku menghentikan aktivitas Rafiq.


"Kenapa? Lo gak mau?" tanyanya dengan suara yang terdengar kesal.


"Bu bukan mas.., aku sangat menginginkan hal ini. Tapi aku ingin kita berwudhu dan mas berdoa untukku terlebih dahulu!" pintaku yang akhirnya di iyakan dengan sangat terpaksa oleh Rafiq.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.


Jangan Lupa Mampir Ya ke Novel keduaku


yang judulnya Friends After Marriage.