UHIBBUKI

UHIBBUKI
UAS



Happy reading!!!


Akhirnya tes pertama setelah dua kali pengisi pelajaran selesai. Hasil nilainya sangat memuaskanku. Dengan begini aku hanya perlu melakukan 2 tes ujian dan nilai anak akan sangat memuaskan.


Terima kasih ya Allah, engkau telah membantu hambamu ini.


"Ela gimana hasil nilai ujian pertama?" tanya Lifi. Dia dan Uni baru saja membeli nasi padang di amigos, tempat biasa kami membeli makan.


"...Alhamdulillah bagus. Nilai anak-anaknya juga melebihi KKM," jawabku sambil melap coklat yang ada di pipi Azril. "Kalau kamu gimana?" tanyaku melirik kearahnya.


Terlihat raut wajah Lifi yang lesu.


"Ya begitulah... nilai anak-anak banyakan di bawah KKM. Jadi menurut mereka bahasa inggris itu tidak peting dan masih menyepelekan," jelas Lifi sedih.


"Itu benar! Anak muridku aja pada main HP saat aku menjelaskan," sambung Uni yang tiba-tiba muncul dengan tumpukan kertas yang sudah di taruh diatas meja dosen.


"Nyambung aja kamu Uni, kayak tiang listrik!" gurauku. "Ngomong-ngomong dari mana? Terus itu kertas buat apa?" tanku kepo.


"Aku dari ruangan dosen pembimbingku. Beliau minta tolong ambilin kertas lembar jawaban dari BAK (Badan Audit Kemahasiswaa)," jelasnya setelah duduk di kursinya. Dia mengambil bubur dari dalam plastik yang tadi dibeli Lifi.


"Kamu gak makan Ela?" tanya Lifi setelah menelan bubur yang dimakannya.


"eng... aku udah makan tadi di rumah," jawabku.


Aku lalu melihat kembali ke arah Azril.yang sudah belepotan oleh coklat yang tadi dimakannya.


"Aduhh Azril kok makannya belepotan gini," kataku yang mencari tisu basah dari dalam tasku. Sedang anaknya hanya menyengir.


"Ke kamar mandi aja di lapnya!" usul Uni kemudian ia menyuapkan buburnya kemulutnya kembali.


Segera aku membawa Azril ke kamar mandi yang ada di dekat tangga. Lalu menggosok tangan dan mulutnya yang lengket.


Saat keluar kamar mandi aku berpapasan dengan Pak Syahrul yang ingin menaiki tangga ke arah kelasku.


Kubisikan sesuatu ke telinga Azril. Kemudian ia menghampirinya untuk menyalaminya. Sedang aku hanya menempelkan kedua telapak tanganku lalu menaruhnya di depan dada.


Tampak Pak dosen tersenyum saat melihat tingkah Azril yang memanggilnya tadi.


Setelelah Pak Syahrul masuk kelas aku dan Azril mengikutinya dari belakang kemudian aku menuju bangkuku yang berada di depan dosen.


Uni mencolekku lalu dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Ela! Tadi pas kamu masuk setelah Pak Syahrul keliatan seperti pasangan suami istri dengan anak yang di gandeng bapaknya," bisiknya.


"Ha ha ha bisa aja kamu," tawaku pelan yang langsung di delik oleh pak Syahrul yang sedang mengabsen.


UAS dengan Pak Syahrul bagaikan UAS dengan 3 mata pelajaran dengan dosen selain pak Syahrul. Karna jika ujian dengannya jangan berharap beliau membiarkan menyontek. Boro-boro mau nyontek kepala gerak dikit aja beliau sadar.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga," aku meregangkan tanganku kesamping dan meluruskan kakiku.


Kulirik Azril yang sejak tadi anteng. Dia sedang mewarnai buku gambarnya dengan krayon yang dibawanya.


"Masyaallah Azril pintar bangat ngewarnainnya," kataku memperhatikan gambar yang dia beri warna.


"Hehehe makasih Bunda," balasnya senang.


"Ela!" panggil pak dosen yang sejak tadi membereskan kertas-kertas yang diberikan mahasiswa yang telat.


"Iya pak!" jawabku sopan.


"Tolong bawa kertas ini dan temanmu yang belum mengumpulkan keruangan saya!" perintahnya sambil menunjuk beberapa mahasiswa yang masih mengerjakan.


"Iya pak.."


Lalu Pak Syahrul pergi meninggalkan ruangan kelas.


Sambil menunggu teman-teman yang mengumpulkan kertas. Aku merapikan bukuku dan juga buku Azril.


"Ayo sayang salam sama ammahnya (tante)," kataku pada Azril yang lansung menyalimi Lifi dan Uni.


"Pulang duluan kamu Ela," kata Uni yang mukanya terlihat lesu karna otaknya benar-benar di peras pagi ini.


"Iya, soalnya habis ini beli kue. Mamanya Azril tadi nitip soalnya di rumahnya nanti sore akan ada kumpul teman kerjannya," jelasku.


"Wahh beli kue. Nanti bagi-bagi ya!" seru Uni dari bangku belakang yang sejak tadi sepertinya mendengar percakapan kami.


"Tenang aja. Nanti fotonya aku kirimin ke kamu Lifi," balasku dengan cengiran sedang Lifi memanyunkan mulutnya.


"Udah ya aku pulang duluan Assalamualaikum,"


"Walaikumsalam," jawab Lifi, Uni dan teman-temanku yang mendengarnya.


Kuambil tumpukan kertas diatas meja. Tangan kanan aku memegang kertas sedang tangan kiri memegang tangan mungil Azril.


Sampai di ruang prodi aku segera pergi keruangan pak Syahrul. Sebelum masuk aku mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Assalmualaikum Pak!" kataku lembut pada pak Sayahrul dan pak Ali yang sedang mengobrol.


"Walaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Kertasnya taruh aja diatas meja!" seru pak Syahrul.


"Iya pak,"


Aku segera memasuki ruangan. Saat Azril masuk pak Ali segera menyapa Azril.


"Azril masih ingat sama kakek!" seru pak Ali sambil menempelkan telapak tangannya di dadanya.


Kulihat Azril mengangukan pelan kepalanya. Tanda dia lupa-lupa tapi ingat.


"Ayo sayang salim bapaknya!" seruku lembutnya.


Azril lalu menghampri pak Syahrul kemudian menghampiri Pak Ali.


Setelah menyalim Pak Ali mencubit gemas pipi gembul Azril dengan lembut. Beliau menawarkan biskuit yang ada di mejanya pada Azril.


Azril lalu mengambil biskuit itu. "Makasih kakek dosen," katanya malu-malu. Dia lari kearahku lalu memeluk kakiku dengan tangan pendeknya.


"Saya permisi dulu ya pak. Assalamualaikum,"


"Walaikumsalam,"


"Rasanya jantungku berdebar kencang kalau ada dua dosen kiler itu," gumamku dalam hati.


Aku menundukan palaku. Mendapatkan Azril yang saat ini memakan makanannya sambil berdiri.


"Subahanallah Azril makanannya bunda pegang dulu ya," kataku mengambil makanan yang dia pegang. "Kita makan didepan sambil duduk oke," jelasku padanya yang duangguki.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Terimakasih.