UHIBBUKI

UHIBBUKI
Thirty Two



Happy Reading!!!


Suara takbir menggema diseluruh daerah, Merayakan hari raya yang telah di tunggu-tunggu oleh semua umat muslim.


Biasanya hari raya di manfaatkan semua orang untuk pulang kampung maupun mengunjungi saudara. Kegiatan tersebut merupakan menjadi rutinitas yang di lakukan setiap tahunnya, tapi tidak denganku tahun ini.


Sejak jam 6 aku sudah datang ke mesjid. Aku menunggu sholat ied sambil membaca ayat suci Al-Qur'an. Tidak berapa lama selang Bapak RT mengumumkan waktu dimulainya sholat, warga mulai datang satu persatu memenuhi mesjid dengan pakaian terbaiknya.


Selesai sholat ied dimulailah inti dari sholat ied yaitu khutbah. Sehabis khutbah warga mulai beranjak dari tepat duduknya dan mulai menyalami warga yang lain. Begitu juga denganku yang saat ini bersalaman dengan orang yang ku kenal maupun tidak.


Tidak butuh waktu lama, mesjid dalam sekejab yang tadinya rame sudah terlihat sepi.


Entah mengapa kakiku enggan untuk pulang dan lebih memilih berdiam diri di mesjid, karna aku merasa di mesjid jauh lebih rame dibanding di rumah dalam kesendirian.


Aku menyesali akan tawaran mama saat puasa kemaren. Seandainya kemarin saat mama menawarkan pulang kampung. Sebaiknya aku ikut dengannya, tentu aku tidak akan sesedih ini.


Sebenarnya bisa saja aku lebaran bersama Uni. Tapi dia pasti sekarang sedang di rumah kerabatnya. Walaupun aku lebaran dengannya pasti dia bacak tanya mengapa aku lebaran sendiri tidak dengan orang tuaku.


"Haahhhhh..." ku hembuskan nafas kasar karan pikuran yang entah kemana.


Flashback on


"Assalamualaikum.." panggilku dari luar pagar pada Bibi yang sedang menyapu halaman.


Bibi yang mendengar suara salam lalu menoleh padaku dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Walaikumsalam Ba Ela.."


"Mama ada Bi?"


"Ada Ba, masuk ajak! Sejak tadi nyonya sudah menunggu Ba Ela.."


Bibi membuka pagar lalu dia melirik bocah disampingku yang sejak tadi memperhatikannya. "Namanya siapa?" tanyanya kepada Azril dengan ramah.


Tanpa disuruh bocah disampingku menghampiri Bibi lalu mencium punggung tangannya. "Nama saya Azril Bi," jawabnya dengan senyum lucu.


Setelah itu aku dan Azril masuk kedalam rumah. Sampainya di ambang pintu, mama Ika sudah menyambut kami dengan wajah gembira.


"Ela kamu akhirnya sampai juga! Ayo masuk!"


Dia lalu memelukku dan mencium pipi kanan dan kiriku. Diliriknya bocah yang sejak tadi mengintiliku.


"Ini anak siapa Ela?"


"Ini Azril ma, Anak yang Ela asuh.." jawabku.


Tanpa disuruh Azril juga menyalami Mama lalu memperkenalkan namanya.


Mama kemudian mengajakku kearah dapur untuk memasak. Sedang Azril menunggu di ruang menonton TV sambil menonton nusa dan rara.


Selesai memasak beberapa menu. Aku menyiapkannya di meja makan. Kualihkan padanganku ke ruang menonton TV yang ternyata Azril sudah tak ada disana.


Tapi aku mendengar suara tawa dari lantai atas. Kuhampiri suara tawa yang ternyata terdapat dari kamar Rifqi yang pintunya terbuka lebar.


Seketika tawa mereka berhenti ketika menyadari kehadiranku. Begitu juga dengan Azril yang menoleh kearah pintu.


"Bunda..." teriaknya lalu turun dari tempat tidur dibantu oleh Rifqi. Dia lalu memeluk pahaku.


Kulihat Rifqi yang saat ini tersenyum melihat tingkah Azril. Senyumnya sungguh mahal, karan ini pertama kalinya aku melihatnya.


"Rifqi, kata mama sebentar lagi buka puasa. Kamu di suruh turun," kataku dari abang pintu yang dianggukinya.


Sebenarnya ini kedua kalinya aku berbicara dengan Rifqi. Entah mengapa Rafiq maupun Rifqi susah sekali di ajak bicara tidak seperti mama Ika yang ramah.


Aku segera menggandeng tangan Azril lalu membawanya menuruni tangga.


Selesai berbuka puasa dengan segelas air dan kurma. Kami sholat terlebih dahulu, setelah itu menyantap makanan yang telah aku dan mama masak.


"Ela sayang, kamu pulang?" kata mama membuka percakapan. Aku mengerutkan dahi bingung dengan perkataan mama.


"..pulang??"


"Iya.. mama dengar dari Rafiq. Katanya kamu ikut keluargamu pulang kampung," aku semakin bingung dengan perkataan mama.


"Pulang kampung? Memang benar keluargaku pulang kampung! Tapi mereka sudah berangkat kemarin malam. Tapi dari mana Rafiq tau mereka pulang kampung?" gumamku dalam hati dengan sedikit kebingungan.


Seketika raut wajah bingungku berubah sedih ketika mengingat telepon Rafiq untuk pertama kalinya tadi pagi.


Rafiq mengatakan padaku untuk ikut orang tuaku pulang kampung, karna untuk saat ini dia tidak ingin bertemu denganku.


"Sayang sekali! Padahal mama ingin mengajakmu ke Bali!" serunya kembali.


"Iya ma... sayang sekali!!"


kugigit bibir bawahku. Rasanya aku ingin mengatakan kalau aku tidak ikut orang tuaku, tetapi aku ingin ikut mama ke Bali. Tapi sayangnya keinginan itu tidak keluar dari mulutku.


Falashback off


Kuarahkan kakiku menuju rumah kontrakanku. Sesekali aku menengok ke rumah tetangga yang terlihat kumpulnya anggota keluarga yang sedang makan bersama.


"Hemmm.. Sepertinya hari ini aku hanya akan makan sendiri!" gumamku sedih.


Sampainya di rumah aku langsung merebahkan diriku diatas kasur memandang langit-langit kamar yang nampak kosong.


Rasa lapar yang sejak tadi meluap seketika menguap karna persaan perih ini. Inilah lebaran yang tersepi dan tersedih yang kurasakan selama ini.


Kuraih HP ku yang berada tak jauh dari kasur lalu memandangi satu-persatu foto lebaran yang telah lalu.


Tidak terasa air mata yang sejak malam membasahi pipiku kini lolos kembali. Tidak kuasa hati ini menahan rasa sakit di dada yang tak tertahankan.


Akhirnya sampailah mataku ke foto pernikahanku dengan Rafiq. Kutatap wajahnya nanar dengan bibir bergetar.


"Rafiq! Kenapa kamu jahat sama aku!" gumamku lirih memandang fotonya.


Tidak berapa lama aku tertidur, sebagai pelampias rasa sedih yang saat ini kurasakan.


@@@@@


Author POV


Pagi-pagi Ela sudah tampak cantik bersiap-siap akan pergi. Dilihatnya sekeliling kamarnya yang sudah terlihat rapi, bersih dan wangi.


Di arahkan kakinya menuju pintu keluar lalu menguncinya. Setelah mengunci pintua diliriknya pintu rumah Bu Damar yang terlihat masih sepi.


"Sepertinya belum pulang.." gumamnya pelan sambil tersenyum tipis.


Dia lalu menggendong tasnya dan memegang kopernya.


"Aku pergi! Assalamualaikum!" serunya saat akan melangkahkan kakinya dari teras rumah.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.


Baca juga novel kedua saya FRIENDS AFTER MARRIAGE.