
Happy Reading!!!
Sehabis penelitian. Aku disibukkan dengan menyusun Bab 4 dan 5 skripsiku.
Hampir setiap hari aku bolak balik kampus hanya untuk bimbingan dengan Pak Ali. Tentu aku juga membawa serta Azril bersamaku.
Yang membuatku bingung saat bimbingan denga Pak Ali. Sebagian besar waktunya bermain dengan Azril yang duduk di kursi disampingnya. Sedang aku dianggurkan.
"Akhirnya selesai juga!" kututup mataku beberapa saat lalu membukanya kembali untuk menghilangkan rasa lelah.
Seandainya mata bisa berkata mereka pasti sudah demo, karna di tengah malam mataku masih terjaga membaca lembar demi lembar tumpukan kertas ketikanku.
Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Aku berguling-guling di kasur bagai anak kecil mencari yang kesenangan baru.
Sebenarnya mataku sudah sangat ngantuk tapi aku enggan untuk menutupnya, karna jam sudah menunjukan pukul 3 pagi yang menandakan sebentar lagi kumpulan anak-anak akan lewat untuk membangunkan warganya yang masih terlelap.
Sudah seminggu ini aku menjalankan puasa ramadhan yang merupakan kewajiban setiap muslim.
Selama seminggu, aku selalu sahur dan berbuka sendiri di rumah. Bagaikan seorang jomblo, sedang Rafiq bagai bang Toyib yang gak pulang-pulang.
Saat aku merasa, Rafiq menghindariku. Karna 2 kali aku ke rumah mama Ika, dia tidak pernah ada. Sampai-sampai mama Ika menanyai kabar Rafiq padaku karna dia tidak pernah datang selama sebulan. Tentu aku bingung menjawabnya. Aku saja tidak tinggal serumah dengannya.
Kuhentikan aktivitasku yang berguling-guling karna merasa palaku pusing mendadak karna hal tersebut. Aku termenung sambil mengeratkan pelukan ditanganku.
"Haahhhhh..." kuhembuhkan nafas beratku, tentu bukan karna deg deg akan sidang besok tapi karna merindukan zauji (suamiku).
Kulirik HP ku yang berada di lantai. Lekas aku mengambil lalu membuka album. Kutekan gambar pertama di foto albumku.
"Engggg. Aku kangen sama kamu Rafiq!" gumamku pilu. Kupandangi foto Rafiq yang tampak sedang memejamkan mata.
Kemarin saat di rumah. Aku diam-diam mengambil beberapa foto Rafiq. Sebagai pengobat rasa rinduku yang jarang bertemunya. Seandainya dia tau aku mengabil fotonya dia pasti akan menghapusnya lalu menatapku tajam dengan wajah dinginnya.
Kugeser kembali layar HP yang menampakkan Rafiq yang sedang tersenyum gembira saat melihat sirkus di taman safari.
"Kamu ganteng bangat sih Rafiq. Apalagi pas kamu senyum kayak gini.." senyumku mengembang memperhatikan slide demi slide gambar wajahnya.
Tapi.. itu tidak menyembuhkan rasa rinduku padanya. Apalagi sudah 2 setengah bulan aku tidak bertemu dengannya.
Tanpa sadar tanganku menuju ke WA Rafiq yang terlihat online. Segera aku duduk lalu mengetik pesan padanya.
Ela : Assalamualaikum mas.
Ayo mas bangun, waktunya sahur!
Lalu kukirim pesan dengan terukir senyum diwajahku. Setelah menunggu 3 menit tidak ada balasan dari Rafiq, lalu aku mengetik kembali.
Ela: Bagaimana kabar Mas Rafiq?
Kalau Ela, alhamdulillah sehat.
Mas, Ela rindu sama mas Rafiq!
Setelah mengirim pesan. Tetap saja tidak ada balasan dari Rafiq. Sedangkan WA nya masih terlihat kata online.
Mataku melirik gambar telpon diatas. Kutetapkan hatiku untuk menekannya. Walaupun akhirnya Rafiq nanti akan mengomeliku karna menelponnya. Tapi aku siap, asal bisa mendengar suaranya.
Seandainya wajahku sekarang tidak terlihat kusam dan tidak enak di pandang aku akan vidio call dengannya, walaupun sedikit kemungkinan dia mengangkatnya.
Setelah 5 nada akhirnya telpon diangkat oleh orang sebrang.
Dengan pelan akau berkata.
"Assalamualaikum!" kataku gugup karna ini kali kedua aku menelponnya.
"...walaikumsalam," balas suara disebrang dengan lembut.
Aku terdiam mendengar suara yang menyambutku bukanlah suara yang kuharapkan. Melainkan suara seorang wanita.
"Maaf ini siapa? Apa Rafiqnya ada?" tanyaku pada wanita disebrang.
"Maaf Ba Rafiq nya lagi tidur. Saya pacarnya," jawabnya yang terdengar lembut ditelingaku. "Ba ada perlu apa?" tanyanya kembali padaku.
Aku diam mendengar kata wanita disebrang. Tanpa sadar aku mematikan sambungan telpon.
" Pacar!" ucapku sedih. Aku sudah melelehkan butiran-butiran benih yang membasahi pipiku.
Aku terisak sampil memeluk lututku. Entah mengapa hati ini begitu sakit saat mengetahui di tengah malam begini dia yang hanya posisinya sebagai pacar, bisa satu atap dengan Rafiq. Apa lagi dengan mudahnya dia memainkan HP Rafiq yang merukan privasi yang sama sekali gak boleh aku sentuh.
@@@
Paginya..
Dengan lemas dan perasaan sedih aku melangkahlan kakiku ke kampus untuk mengikuti sidang skripsi. Langkah terakhir yang kujalanani setelah kuliah selama 4 tahun.
Keadaanku saat ini berbanding terbalik dengan Azril yang sangat ceria dan bersemangat.
Hari ini aku mengenakan gamis hitam, kemeja putih, krudung senada dengan kemeja, dan sepatu pantopel senada dengan gamis. Itulah pakaianku layaknya wanita SPG yang baru melamar kerja.
Sampainya di kampus. Pertama-tama semua mahasiswa yang akan mengikuti sidang berkumpul untuk diberi arahan. Setelah itu baru mahasiswa pergi ke ruangan sidang sesuai dengan jurusan masing-masing.
Ruang sidangku ternyata bersebelahan dengan ruang sidang Lifi dan Uni. Dosen penguji mereka adalah Pak Ali yang terkenal akan keganasannya saat menguji dan 2 dosen lainnya. Sedang aku... Pak Syahrul kembali yang tidak kalah ganasnya.
"Lemas bangat kamu Ela. Kayak orang puasa," kata Uni saat melewati bangku yang kududuki.
"Emang lagi puasa keles," balas Lifi yang juga lewat. Uni lalu duduk di bangku sebelahku sedang Lifi disebelah Azril.
"Nape lemas bangat, kalah nih sama sih Azril.." kata Uni memedokkan bicaranya. Dia menunjuk Azril yang saat ini mencoret-coret bukunya denga sangat ceria.
Aku menarik nafas lalu berkata. "Biasa... dosen pengujiku dosen pembimbing kalian yang killer!"
"Hahaha.. Pak Syahrul! Pantesan mukamu jadi begini!" sahut Uni bahagia.
"Syutt... Uni orang lagi sedih malah senang lagi!" seru Lifi. "Kamu jangan senang dulu. Tau gak siapa dosen pengujimu?" timpal Lifi menatap tajam mata Uni, sedang Uni menggeleng kepala.
Dia lalu berjalan kearah kertas yang di tempel di masing-masing pintu kelas. Setelah melihatnya Uni datang dengan wajah tak kalah lesunya.
"Nah kan... habis ketawa terbitlah sedih. Makanya jangan ketawa diatas kesedihan orang lain!" Lifi lalu tersenyum kearahku yang keangguki.
"Maaf ya La!"
"Iya.." kataku. "Tapi hati-hati ya sama Pak Ali! Soalnya beliau biasanya cecer RPP muridnya!" kataku menakuti. Kulihat ekspresinya yang tambah gugup. "Hehehe slow aja. Kalau RPP mu benar. Itu aman!" timpalku kembali dengan senyum jahil.
Kami lalu focus kembali membaca lembaran kertas kami yang telah di jilid. Membaca dan mengulang lembaran demi lembaran. Agar kami bisa menjawab semua pertanyaan dari dosen tercinta kami.
Sampailah saatnya aku masuk.
"Azril! Bunda mau masuk kedalam ruangan. Kamu tunggu sini ya, sama Ammah Lifi dan Uni. Kalau haus atau lapar makan aja, ambil di tas Bunda. Habis itu, nanti lanjut lagi puasa. Biar puasanya semagat, Okeee!" kataku lembut didekat wajahnya. Azril mengangguki kepalanya paham.
Sejak tadi kuperhatikan Azril mulai terlihat lemas dan bibirnya kering-kering karna sejak pagi sampai jam setengah sebelas ini dia belum makan apapun. Padahal aku sudah menyuruhnya makan tapi dia bilang nanti aja.
Setelah menenangkan debaran jantung aku mengetuk pintu ruangan sebelum masuk tentu mengucapkan salam. Setelah itu aku memperkenalkan diri lalu menjelaskan skripsiku dari awal sampai akhir.
"Huufff.. Alhamdulillah!" batinku selesai mempresentasikan penelitianku. Tampak dosen terkagum-kagum oleh penjelasanku yang sangat bersemangat. Setelah itu datanglah hal yang di tunggu-tunggu yaitu pertanyaan.
Dadaku berdegup sangat kecang saat menjawab pertanyaan dan mendengar pernyataan (masukan) dari dosen penguji yang kedua dan ketika. Sampai akhirnya Pak Syahrul membuka mulut memberikan hal-hal yang menggaljal hati dan pikirannya.
Dengan sangat lancar dan yakin kujawab semua pertanyaan Pak Syahrul yang begitu banyak. Aku sampai bingung dari mana aja itu pertanyaan?
Selesai menjawab semua pertanyaannya terlihat wajah pak Sayahrul yang begitu puas dengan semua jawabanku. Begitu juga dua dosen tadi yang hanya manggut-mangut diam ketika di pasangankan menguji dengan Pak Syahrul.
Selesai itu aku menutup dan mengucapkan terima kasih.
Aku keluar ruangan dengan nafas lega dan seketika rasa lemasku hilang. Orang-orang yang sejak tadi menunggu di luar melihatku dengan tatapan Iba yang tak kupahami.
Aku menghampiri Uni dan Lifi yang menungguku.
"Betah bener didalam Ela!" seru Uni saat aku sudah duduk disampingnya.
"Bukan betah Pak Syahrul ngasih pertanyaannya gak nanggung-nanggung," balasku ekpresif menampilkan wajahku yang kewalahan atas pertanyaannya.
"Kamu satu jam lebih loh didalam.." kata Lifi yang ku kageti karna tidak menyadarinya. "Sampe dikira anak-anak lain kamu lagi nangis didalam soalnya beberapa kali kamu melap sesuatu di wajahmu.."
"Ohh.. kalau itu aku lagi lap keringat. Gak tau didalam ruangan aku malah keringatan padahal AC nya pas masuk dingin bener.." jelasku.
"Gugup kali kamu di liatin Pak Syahrul!" ledek Uni yang kutatap tajam dan orangnya malah nyengir.
"Terus gimana kamu udah maju?"
"Udah dong!" jawabnya senang.
"Terus gimana Pak Ali baekkan.."
"Iya baek bangat. Saking baeknya RPP ku detail bangat dicecernya untung aku punya jawaban sehingga Pak Ali nerima RPP ku walau ada beberapa revisi.." jelasnya.
Selesai semua mahasiswa di sidang. Kami dikumpulkan kembali di aula untuk memberikan nilai yang kami dapatkan.
Jantungku berdetak begitu kencang. Harap-harap cemat kurasakan saat menunggu-nunggu Pak Syahrul mengumunkan nilai jurusanku.
Sampai akhirnya giliranku. "Alula Zahra Misel, A dengan nilai 8,5!" aku mendengarnya seketika dia mematung karna tidak percaya aku medapatkan A. Dari kejauhan kulihat Pak Syahrul tersenyum, membuat semua mahasiswi kelepek-kelepek.
"Wihh Ela gak nyangka kamu dapat A. Soalnya anak lain yang sekelas sama kamu gak ada yang dapat A.." bisik Uni dan Lifi salut dari bangku sebelah.
Sedang aku hanya tersenyum karna masih kaget akan skor yang kuterima. Padahal aku mengiranya akan mendapatkan B.
Selesai mengumumkan nilai. Masuklah ketahap revisi yang diberikan waktu oleh kampus selama 2 minggu. Jika lebih dari dua minggu masih belum merevisi dan mendapat tanda tangan dosen penguji maunpun pembimbing. Maka bersiap-siapalah sidang ulang.
Ketika mendengar itu entah mengapa aku merasa seram dan merinding. Membayangkan akan di uji kembali oleh Pak Syahrul.
Sore harinya aku dan Lifi pergi ke rumah Uni untuk berbuka puasa bersama.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih.