UHIBBUKI

UHIBBUKI
Fourty Two



Fourty two


Happy Reading!!!


Sudah 3 minggu minggu berlalu. Selama 3 minggu ini aku sama sekali tidak kerumah Mama. Aku tidak berani bertemu dengan beliau, karna beliau pasti akan bertanya perihal Ela.


Dulu mungkin aku bisa berkata, karna setiap hari aku mengetahui kabar Ela dari pesan yang selalu dikirimnya. Tetapi tidak dengan sekarang, karna aku sama sekali tidak tau keadaan maupun keberadaan dirinya.


Hampir setiap hari aku selalu ke kontrakannya. Untuk mengetahui apa dia sudah pulang atau belum, tetapi tetap sama tidak ada keberadaanya, yang ada hanya tumpukan debu yang semakin menebal di kontrakan itu.


Aku juga sudah menghampiri kampusnya kembali, tetapi sama saja. Aku sama sekali tidak bertemu dengan wanita yang memberikan aku nomor sahabatnya. Jikapun aku memintanya tetap sama, Ela tidak sedang bersama sahabatnya. Karna aku menelpon Lifi kembali perihal Asti sahabat Ela yang satu lagi. apa dia bersama dengan Ela, tetapi sayangnya kata Lifi sahabatnya Asti tidak bersama Ela.


Aku membaringkan tubuhku diatas sofa panjang yang ada di ruang tamu apartemenku. Tiga minggu ini pikiranku dipenuhi oleh Ela. Membuatku malas untuk melakukan apapun.


Sementara ini juga, aku tidak memanggil orang untuk membersihkan rumahku yang sudah seperti kapal pecah ini.


Aku bingung kenapa aku bisa seperti ini. Seharusnya aku bahagia jika dia tidak ada. Membuatku tidak susah payah mengusirnya.


Kuhirup udara dalam-dalam lalu kuhembuskan dengan kasar. Kutatap langit-langit apartemen dengan kosong.


"Seandainya waktu dapat berputar, aku pasti akan menolak permainan itu!" gumamku.


'Ting tong' terdengar suara bel pintu apartemenku. Dengan langkah malas kuhampiri pintu itu.


Saat pintu kubuka. Tampak sosok wanita cantik yang sangat kukenal. "Mama!" batinku. Aku kaget melihat sosok mama yang saat ini ada didepan pintu apartemenku.


"Assalamualaikum!" ucap mama dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Kutelan slavinaku lalu membalas tatapan matanya.


"...walaikumsalam.."


Aku masih terdiam didepan pintu. Kaget dengan kehadiran mama yang tiba-tiba. Padahal hanya teman-temanku yang mengetahui alamat apartement ini.


"Rafiq tidak menyuruh mama masuk?" kata mama yang mengagetkanku. Dengan kesalahan tingkahku aku mempersilahkan mama masuk.


"..Hehe masuk Ma! Rafiq lupa.." kulihat mama masuk kedalam apartemenku. Dia melihat sekeliling apartemenku yang terlihat berantakan.


"Kok rumahmu berantakan sekali?" tanya Mama yang melihat ruang tamu yang diatas mejanya terdapat sisa makanan siap saji.


"..Hehehe iya ma.." kataku lalu buru-buru merapikan sisa makananku tadi pagi yang belum kurapikan lalu membuangnya.


Mama kemudian menghampiri sofa yang tadi kutiduri. Kulihat banyak rempah-rempah makanan yang tadi kumakan. Segera memaspasnya dengan kain sembarang yang aku temukan di dapur.


Setelah terlihat bersih aku mempersilahkan Mama duduk. Beliau lalu duduk dan meletakkan rantang makanan yang dibawanya keatas meja.


"Belum.." aku menyengir kearah mama, yang terlihat melotot.


"Yaudah sini! Temani mama makan siang!" ajaknya yang menyuruhku duduk disampingnya.


Aku lalu duduk bersampingan mama. Kutatap wajahnya yang sedang menata rantang yang berisi makanan diatas meja.


"Kok bengong aja, ayo makan.." aku mengangguki lerkataan mama. Lalu melahap masakan yang sangat kurindukan.


Disela-sela makanku. Kulihat Mama memperhatikanku yang makan dengan sangat lahap. Beliau kadang sesekali membersihkan makanan yang mengotori sekitar bibirku.


Usai makan, aku dan mama menonton acara televisi yang lucu. Membuat perutku sakit karna banyak tertawa. Begitu juga dengan mama yang sama tertawa denganku.


"Rifqi!" panggil Mama setelah acara yang kami tonton habis. Aku menengok kearah mama dengan masih memegang perutku yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.


"Iya ma.." kulihat raut wajahnya yang tadi tertawa berubah menjadi sendu. "Mama?" tanyaku melihat wajahnya yang menyayat hati.


"Rafiq, apa kamu sayang Mama?" tanyanya menatap mataku dalam.


"Tentu saja aku sayang Mama!" ungkapku tulus dalam hati.


"Kalau begitu, kamu harus jujur sama Mama.." ucapnya. Seketika dadaku terasa sesak mendengar perkataannya.


"Apa kamu mencitai Ela?" tanyanya. Sambaran petir seperti menyerang hati terdalamku. Aku seperti mengingat pertanyaan Mama yang sama saat aku ingin menikahi Ela.


Bedanya saat itu mama menanyakannya dengan tatapan tajam. Sedang sekarang beliau menanyakannya dengan tatapan sendu dan itu menusuk kedalam hatiku. Ketika melihat tatapannya.


Saat ini jika ada yang namanya mesin waktu. Aku akan membeli mesin itu untuk kembali kemasa lalu dan mengulang segalanya.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.