
Happy reading!!!
"Mia, nenek mia sudah jemput!" seruku pada seorang anak prempuan yang sedang bermain masak-masakan dengan anak prempuan lain yang menunggu di jemput.
Segera anak prempuan itu berlari dengan lucunya kearah prempuan setengah abad itu.
Saat ingin pergi anak prempuan itu kembali berlari ke arahku. Dia lalu menjulurkan tanggannya kearahku dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Segera ku julurkan tanganku kearah tangannya. Segera anak berbadan mungil ini mencium tanganku dengan hidung dan bibir kecilnya.
Setelah mengucapkan salam dia berlari kembali kearah neneknya yang memperhatikan setiap gerakan anak prempuan lincah ini.
Akhirnya setelah menunggu beberapa saat semua anak pulang. Tinggallah aku, Azril dan guru lainnya yang bersiap pulang.
"Bunda Ela!" sapa prempuan berkerudung. Dia adalah Bunda Linda yang merupakan guru di pengajian ini juga.
"Iya Bunda,"
"Biasa! Mau bareng gak sampe depan," ajaknya.
"Mau dong!" sahutku senang.
Biasanya aku jalan kaki dari tempat pengajian sampai rumah. Kadang-kadang bareng bunda Linda kalau dia bawa motor. Kalau gak bawa motor biasanya dia di jemput suaminya.
Motor melewati setiap rumah-rumah mewah tanpa pagar. Dengan tatanan rumah yang mewah dan megah. Suasana terlihat sangat sepi di komplek ini tidak seperti di saerahku yang selalu rame oleh suara anak-anak yang bermain.
Hembusan angin sore menerpa diriuku sampai aku mersakan getaran disekitar pahaku yang ternyata bersal dari HP ku. Kulihat layar yang menampilkan nama mama. Segera aku mengangkatnya.
"Assalamualaikum ma,"
". . ."
"Ada apa ma?" tanyaku polos. Padahal aku tahu tujuan mama Menelpon.
". . ."
"Maaf ma Ela belum sempat ke tempat mama, karna masih sibuk penelitian. Nanti kalau ada waktu Ela ke tempat mama.." jawabku.
". . ."
"Kontrakan Ela jauh ma!" dalihku. "Terus Ela juga jarang di rumah. Mama kan tau Ela sekarang kerja juga.." tambahku untuk meyakinkan mama.
". . ."
"Maaf ya ma Ela lagi di jalan. Suaranya kurang kedengaran," jujurku.
Karna suara angin ketiaka mengendarai motor dan juga suara mesin motor akhirnya suara mama jadi kurang kedengaran.
Sampainya di tempat tujuan aku beterima kasih pada Bunda Linda lalu masuk kedalam gang rumah.
Persaan galau menerpaku saat ini.
"Sejujurnya aku sangat rindu pada mama dan bapak. Tapi kalau aku pulang, mama pasti akan menanyakan tetang Rafiq. Sedangkan jawabanku selalu sama karna Rafiq sibuk kuliah. Pasti lama-kelaman mama pasti curiga. Masa Rafiq sibuk kuliah terus.." keluhku dalam hati.
"Haahhhhh.." kuhembuskan nafas kasar karna pergulatan hatiku.
Kurasakan ada yang menarik ujung kerudungku pelan. "Bunda capek?" tanya Azril karna mungkin dia mendengar helaan nafas kasarku.
"Enggak kok.." jawabku dengan senyuman yang dibalas oleh senyuman manisnya.
@@@@@
Kulangkah kan kakiku dengan semangat membara melewati lorong kelas yang terlihat sepi.
"Ryan!" panggilku pada laki-laki yang sedang duduk di bangku pqnjqng yang ada di setiap depan kelas.
Orang yang di panggil sama sekali tidak menoleh. Dia masih tetap focus menundukan kepalanya. Padahal jarak antara aku dan dia hanya berjarak 7 meter mungkin karna suaraku kecil.
Azril yang jalannya berada didepanku segera berlari dengan kaki pendeknya kearah laki-laki itu. Dia berdiri tepat di depan laki-laki itu.
Kulihat Azril mendekatkan wajahnya pada Ryan yang masih terlihat menunduk dan tak berapa lama..
"Aaakh!!!" terdengar teriakan Ryan yang membuatku kaget.
"Ada apa? Kenapa kamu teriak?" tanyaku khawatir padanya yang saat ini muka terlihat shok.
Begitu juga Azril yang kaget mendengar teriakan Ryan. Dia lalu berlari memelukku.
Ryan menelan slavinanya secara kasar lalu dia melepas hadset yang terpasang di kupingnya.
"Pantas tadi di panggil kagak dengar. Orang dianya pake penyumbat telinga.." gumamku pelan.
Dia lalu menegok kearahku kemudian berkata dengan ekspresi yang masih terlihat kaget. "Ela! Anakmu tiba-tiba nongol didepan mukaku. Disini nih.." katanya meletakkan tangan didepan mukanya yang hanya berjarak 5 senti.
"Aku kira kamu sadar kehadiran Azril. Lagian tadi ngapain kok bisa kaget,"
"Tadi aku tuh lagi mejemin mata. Sambil dengerin sesuatu.." jelasnya. Ekspresinya sudah terlihat biasa saja begitu juga Azril.
Azril kemudian mendekati Ryan dengan malu-malu. "Om maafin Azril ya.." katanya dengan lucu.
Ryan meletakkan tangannya diatas kepala Azril lalu mengelusnya lembut. "Iya om maafin. Tapi jangan kayak begitu lagi ya.. untung om gak punya penyakit jantung. Kalau punya udah pingsan om sekarang.." balas Ryan dengan senyuman.
"Terus apa yang kamu dengar? Sampe merem gitu!"
"Ada deh, kepo bener!" serunya. "Udah gih sana ke kelas! Bentar lagi bel.." lanjutnya.
"Yaudah kalau gitu aku ke kelas dulu," balasku. "Azril dengerin kata om Ryan ya!" kataku mengingatkan Azril. Dia mengangguk aguk paham.
Selesai mengajar seperti biasa aku menuju kantin. Tempat biasa Azril jajan saat bosan menungguku.
Kantin saat ini tidak terlihat sepi seperti biasa. Ada beberapa anak yang terlihat makan.
"Tumben kantin rame jam segini!" seruku saat duduk di samping Azril.
"Biasa.. anak kelas 3 habis trayout. Jadi pulang cepat," jawabnya dengan mata yang masih focus menatap buku yang di pegangnya.
"Ohhh.."
"Bunda-bunda Azril pesan nasi goreng. Enak loh nasinya.." katanya mengacungkan kedua jempolnya.
"Iya.." balasku lembut. Aku melap mulutnya yang sedikit berminyak dengan tisu yang ada di atas meja.
"Kamu gak makan Ryan?"
"Makan! Nohh.." katanya menunjuk kearah bapak-bapak yang membawakan 2 mangko mie ayam beserta 2 teh manis hangat.
"Kok dua mangko? Satunya buat aku ya!! Aduh baek bangat sobatku ini.." kataku senang.
"Iya dong.." bangganya menaik turunkan alisnya.
Dengan sangat lahap aku memakan semangkok penuh mie ayam sampai bersih dan licin tak tersisa walaupun secuil mie pun.
Suasana dikantin sudah mulai terlihat sepi. Anak-anak yang jajan sudah tidak terlihat lagi.
Aku mengajak Azril untuk mencuci tangan tanpa sengaja mataku terfocus pada benda hitam tipis diatas meja belakangku yang di penuhi piring, mangkok dan gelas. Karna penasaran aku meraihnya. Ternyata benda itu adalah dompet tipis yang berisi beberapa ATM.
"Kamu ngambil apaan Ela?"
Aku membalikkan tubuhku sambil menunjukkan benda tipis yang kupegang.
"Aku nemu ini Ryan. Kamu tau gak ini punya siapa?"
"Mana ku tau Ela. Paling punya anak-anak yang tadi duduk dibelakangmu," jawabnya.
"Jadi gimana dong??" tanyaku bingung.
"Udah gih sana cuci tangan dulu bareng Azril. Dia nya nungguin noh!" Ryan menunjuk Azril yang sedang diam berdiri memperhatikanku.
Kembali mencuci tangan aku melihat Ryan dari kejauhan yang sedang melihat benda hitam itu.
"Gak ada kartu pelajar maupun tanda pengenal lainnya. Disini hanya 2 kartu ATM beserta 1 lembar uang seratusan dan 1 lembar uang limah puluhan.." Ryan memperlihatkan kartu beserta uangnya.
"Jadi gimana dong??" tanyaku bingung.
"Kita kasih ke guru aja! Lagi pula hanya kelas 3 saja yang berada di kantin tadi," usulnya yang aku angguki.
Setelah membayar makanan Azril. Aku melihat Ryan yang sedang bercakap-cakap dengan seorang gadis yang memakai seragam sekolah. Kulihat gadis itu terlihat senang dan memegang benda tipis itu ditangannya.
Beberapa saat kemudian gadis itu melihat kearahku yang semakin dekat berjalan kearahnya.
"Kakak makasih ya udah nemuin dompet temanku," katanya dengan senang.
"Ahh.. Iya.." kataku gagap karna kaget tiba-tiba bilang makasih.
Lalu dia ijin pergi dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Kok bisa kamu ketemu sama teman pemilik dompet?" tanyaku penasaran.
"Bukan aku yang nemuin orangnya tapi dia yang nyamperin aku tadi.." katanya yang ku angguki. "Yang tadi itu katanya dompet teman laki-lakinya. Dia minta tolong sama temannya yang masih di sekolah. Untuk membuatku yakin prempuan tadi menelpon pemilik dompet, Buat mastiin dompet itu punya dia. Pertama-tama aku tanya dulu apa aja yang didalam dompet. Ternyata tuh anak benar jawabnya. Yaudah deh makanya aku kasih.." ceritanya. Aku menganguk anggukan tanda paham.
Setidaknya aku tidak kepikiran lagi tu dompet punya siapa.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih.