UHIBBUKI

UHIBBUKI
Fourt Six



Fourty Seven


Happy Reading!!!


Kutegakkan dudukku. Kutundukan kepalaku, mengingat kejadian barusan yang tanpa sadar aku ingin mencium Ela. Tapi dalam hati terdalam, aku sedikit kesal karna tak jadi menciumnya padahal hanya tinggal beberapa senti lagi.


Kualihkan kepalaku kearah Ela yang masih duduk diam. Tampak wajahnya merah merona. Tanpa kusadari kedua sudut bibirku terangkat.


"Kenapa muka lo, merah gitu?" ledekku pada Ela yang masih terdiam. Kulihat dia mengedipkan mata sekali lalu membalas melihat kearahku sejenak, kemudian mengalihkan matanya kearah bawah kembali.


"Ti..tidak apa-apa. Hanya saja, aku menyayangi Mas tidak jadi menciumku.." ungkapnya sambil memegang bibir bawahnya.


Saat itu, tanpa seizinku jantungku berdegup kencang melihat tindakannya yang menurutku menggoda. Apalagi saat dia menyentuh bibirnya itu... Kutelan slavinaku dengan susah melihatnya.


Segeraku mengalihkan kepalaku kearah depan lalu beranjak dari tempat tidur. "Ayo makan siang!" ajakku tanpa melihat kearahnya. Lalu aku pergi meninggalkannya.


'Dag dig dug' jantungku serasa berdetak lebih cepat dari biasanya.


Didepan pintu kamarnya aku memegang dadaku. "Jika tadi gua tidak langsung pergi, ingin rasanya saat itu juga gua..." langsung kuhilangkan angan-anganku.


"Apa yang sedang gua pikirkan!" batinku.


"Mas, lo ngapain berdiri disitu? Muka lo kenapa merah?" tanya Rifqi yang saat ini melewati pintu kamar Ela. Tampaknya dia baru dari kamar mandi.


"Gua gak ngapa-ngapain! Muka gua merah! Lo salah liat kali!" ucapku lalu meninggalkan Rifqi menunju kamar mandi.


Didalam kamar mandi aku mencuci mukaku berkali-kali agar tak sepanas tadi.


Usai dari kamar mandi. Aku melangkah kearah ruang tamu. Disana Makan siang sudah siang di meja ruang tamu.


Mataku langsung tertuju pada Ela yang sudah duduk di kursi. Aku lalu menghampirinya lalu duduk disampingnya.


"Ayo kita mulai makan siangnya!" ajak Mama mertua.


Yang lain lalu mulai menuangkan nasi kepiring masing-masing. Sedangkan piringku dituangkan oleh Ela dari nasi sampai lauk.


###


Usai makan makan. Para the Mama mengatakan akan pergi belanja. Rifqi yang saat itu sedang asik memainkan HPnya di paksa Mama mengatarkan beliau-beliau.


Tinggallah aku dan Ela di rumah sendiri. Dia merapikan beberapa piring kotor bekas makan tadi. Lalu mengangkatnya kearah dapur.


Aku pun membantunya memgangkat beberapa piring yang tersisa. Saat berpapasan di dapur Ela yang melihatku mengangkat piring langsung mengambil alihnya.


"Biar Ela aja Mas!" ucapnya. Aku mengambil kembali piring yang telah direbutnya.


"Gua aja! Gua bisa kok!" ucapku lalu meninggalkannya di ruang tamu.


Saat kembali ke ruang tamu. Tampak meja sudah terlihat bersih. Kulihat Ela sedang menyapu bawah kolong meja dan kursi yang tampak beberapa makanan yang jatuh ke lantai.


Ela yang sudah selesai menyapu. Melihat kearahku, tampak dia tersenyum manis lalu menghampiriku.


"Mas istirahat saja!" ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku pelan.


Dia lalu merendahkan tubuhnya, lalu duduk bersimpuh. "Apa Mas..mau aku temani istirahat.." ucapnya kembali. Aku menelan slavinaku melihat wajahnya yang begitu dekat.


Ku tolehkan kepalaku kearah lain. "Lebih baik lo cuci piring gih!" perintahku. Kulihat Ela tersenyum tipis lalu dia mulai berdiri.


"Ngomong-ngomong Bapak, Bang Baim sama Kak Aina dimana?" tanyaku agar diriku tak terlalu grogi. Ela yang awalnya ingin berdiri kembali duduk.


"Bapak lagi pergi keacara nikahan anak teman Bapak. Sedang Bang Baim tentu jadi supir Bapak. Kalau Kak Aina sedang menginap ke rumah temannya sejak kemarin.." jawabnya.


"Kok duduk lagi, bukannya tadi lo pengen cuci piring!" seruku seperti mengusirnya.


"Kufikir, Mas ingin bertanya lagi.."


"Gua gak pengen nanya lagi. Cuci piring gih!" usirku. Dia lalu kembali berdiri kemudian berjalan menuju kearah dapur.


Seperginya Ela. Aku melangkah ke kamarnya. Aku memainkan HPku sambil tiduran diatas tempat tidurnya. Walaupun sebenarnya baru makan, aku tak menghiraukan hal tersebut. Tapi tak papalah.


Mataku yang awalnya terbuka full, kelama-lamaan menyipit karna rasa kantuk akibat seliwiran angin dari kipas ditambah perut kenyang.


Aku yang saat ini sedang memejamkan mata. Tidak benar-benar tidur pulas, jadi masih bisa mendengar suara pintu yang di buka.


'Cklek'


"...Mas Rafiq ketiduran ya!" seru suara tersebut tak lain adalah Ela.


Tak lama kurasakan sesuatu menyeliputi tubuhku. Aku juga merasakan ada sesuatu yang mendekat kearah wajahku.


"Mas.." ucap suara tersebut. Dia menyingkapkan rambut yang jatuh ke wajahku.


"Aku sangan merindukanmu Mas!" ucapnya kembali. Dia mulai membelai wajahku lembut. Elusannyapun beralih ke bibirku. Dia mengelus bibi bawahku pelan.


Kurasakan hembusan nafas yang dekat di daerah wajahku tak berapa lama sesuatu yang lembut menempel di bibirku. Setelah beberapa saat susuatu yang tak lain itu menjauh kembali.


"Maaf kan aku menciummu tanpa seizinmu, Mas.." ucapnya. Lalu dia menjauhkan tangannya dari wajahku.


"M..Mas.." ketika Ela ingin menjauhkan tubuhnya. Aku langsung menahannya dengan tangan kananku.


"Kenapa lo sekaget itu?" ucapku datar tanpa ekspresi.


"Maaf.." Ela terlihat ketakutan. Dia menundukan kepalanya membuat rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya.


Kulepaskan tanganku dari tubuhnya. Kududukan tubuhku kemudian kuperhatikan dirinya yang saat ini sudah memakai mini dress.


Lengan putih mulusnya yang terpampang jelas. Ditambah kerah lehernya yang terlalu turun, memperlihatkan belahan disana. Itu sungguh menggoda.


"Kenapa lo pake baju itu?" tanyaku memperhatikannya. Ela mengangkat kepalanya melihat kearahku yang menatapnya tajam. Seketika dia menundukan kepalanya.


"Ba..bajuku tadi basah Mas. Jika Mas tidak suka aku menggunakan ini, aku akan menggantinya.." ucapnya. Dia lalu beranjak dari posisi duduk bersimpuhnya. Saat sudah berdiri aku menariknya, membuat tubuhnya duduk di pangkuanku.


Entah mengapa aku berbuat seperti ini. Saat ini yang terpenting aku sangat tergoda untuk menyentuhnya. Ku singkirkan rambut panjangnya yang menutupi punggungnya. Kucium lehernya yang mulus, sensasi manis tercium dari lehernya saat hidungku menyentuh kulitnya.


Kujauhkan kembali bibirku dari lehernya. "Apa lo baru selesai mandi?" tanyaku menatap kearah wajahnya yang sedang memerah. Ela hanya memganggukan kepala pelan.


Aku tersenyum mendapatkan anggukannya. "Sepertinya lo emang niat buat goda gua?" kekehku. Ekspresi malu-malunya berubah sedih.


"...Apa aku salah... jika menggoda suamiku sendiri.." balasnya. Dia lalu menggelayutkan tangannya di leherku. "Aku seperti ini hanya hanya didepanmu Mas.." katanya lalu menempelkan bibirnya dengan bibirku lembut.


Saat ini aku tak bisa lagi menahan nafsuku tanpa aba-aba aku langsung... Ya... tau lah... Apa yang terjadi... Hehehe.


###


"Mas, bangun Mas!"


Kubuka mataku yang berat. Kudapati wajah Ela dengan rambut basahnya yang jatuh kebawah.


"Jam berapa sekarang?" tanyaku, aku menggeliatkan tubuhku mendekatkan diriku kearah Ela lalu kupeluk pinggangnya.


"Sekarang udah jam setengah lima, Mas harus sholat!" ucapnya kembali. Dia mengelus rambutku lembutku.


"Ela kalau suamimu gak bangun siram aja pake air!" ucap seseorang yang suaranya sangat kukenal. Suara tersebut yang tak lain adalah Mama.


Aku segera bangun, melihat kearah Mama yang sedang duduk didepan sebuah meja belajar. Beliau terlihat tersenyum kearahku. Aku bangun bukan karna takut disiram melainkan malu dengan sikap manjaku pada Ela barusan.


"Cepatlah bangun! Lalu sholat!" perintah Mama lalu meninggalkan aku dan Ela di kamar.


Aku tatap Ela yang masih duduk disampingku dengan tajam. "Kenapa lo gak bilang kalau Mama disini?"


Dia hanya tersenyum lalu berkata. "Memang kenapa Mas? Kamu malu jika ketahuan bermanja!" Ela lalu menyentuh hidungku kemudian menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajahku.


Setelah itu dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Maaf ya.. jika ada siapapun aku akan mengatakannya padamu.." ucapnya lalu mencium jidatku lembut.


"Mandilah Mas, setelah itu sholat. Bapak sudah pulang, ingin bertemu Mas.." Ela lalu menarikku berdiri. Setelah memakai kembali pakaianku aku keluar kamar dengan membawa handuk yang telah diberikannya.


Flashback on


Setelah aku mencium bibirnya. Kutatap wajahnya lekat-lekat. Begitu juga Ela yang menatapku dalam dengan kedua matanya.


"Mas, aku mencintaimu!" ungkapnya. Dia mengelus wajahku lembut.


Aku terdiam mendengar ucapannya. Kata-kata Mama kembali terngiang di telingaku, tentang aku yang harus berusaha mencintai Wanita yang saat ini ada hadapanku.


"Mungkin saat ini aku belum mencintaimu.." ucapku. Kuperhatikan wajah Ela yang tampak sedih.


"Tapi...aku akan mencoba mencintaimu.." lanjutku. Seketika ekspresinya berubah senang.


"Dengan syarat kamu harus menerima apapun sifatku. Aku juga tidak suka wanita yang bermanja padaku, karna aku suka bermanja pada wanita.." ucapku menatap matanya.


Ela menjulurkan tangannya kearahku. Dia tampak tersenyum lebar dengan buliran air mata yang sudah membasahi sudut matanya.


"Aku akan menerima semua sifatmu. Walapun sebenarnya ingin rasanya bermanja, tetapi jika Mas tidak suka. Aku akan menjadi wanita yang mandiri. Soal Mas yang suka bermanja, aku sangat suka jika Mas bermanja padaku.." ucapnya.


Flashback off


Tamat


Terima kasih sudah membaca cerita ini. sampai episode sekarang. Terima kasih juga dengan like, commentnya. Love you all.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih