UHIBBUKI

UHIBBUKI
Thirty One



Happy Reading!!!


@@@


Datanglah hari yang di tunggu-tunggu mengejar dosen pembimbing dan penguji yang bagaikan artis top yang sering show.


Rasa kesal yang saat ini aku rasakan. Aku merasa ketika tidak dicari pasti selalu bertemu. Ketika dicari susahnya bangat ketemunya. Saat ketemu minta tanda tangan, ehhh ternyata orangnya gak mau tanda tangan. Rasanya 😡😡😡 astagfirullah sabar Ela.


Sudah sejak pagi aku berada di kampis menunggu Pak Syahrul yang tak kunjung datang. Tidak seperti biasanya beliau belum datang jam segini. Padahal biasanya beliau jam 8 pagi sudah standby di ruangannya dan sebelum jam 4 sore beliau pasti belum pulang. Tapi nyatanya sekarang udah hampir jam 3 sore beliau masih belum datang.


"Sudah kuduga pasti beliau yang paling susah untuk diminta tandatangannya!" gumamku kesal.


"Bunda! Bunda kenapa? Kok keliatan marah," tanya Azril. Dia memperhatikan wajahku yang mulai muncul gurat-gurat kesal yang terlihat dari picingan mata dan ekspresi wajahku.


"Enggak kok Azril. Bunda cuman lagi sedikit kesal doang," jawabku senyum.


"Kan lagi puasa gak boleh marah. Kata Bunda kalau marah nanti puasanya gak dapat pahala. Malah yang didapat hanya lapar dan haus aja," katanya dengan lucu dan menggemaskan.


"Deg.." seketika perkataan Azril mengena ke hatiku.


"Oh iya. Bunda gak jadi kesal deh. Liat! Muka Bunda udah senyum lagikan.." kataku mengekpresikan wajah dengan senyum mengembang.


"Ela ngapain kamu disitu?" tanya seseorang yang saat ini sudah berdiri didepan aku dan Azril.


"Lagi pacaran!" jawabku asal.


"Ihhh masa pacaran di kampus sih sama anak kecil lagi. Pedofil nih!" ledeknya. Yang tanpa tahu situasi saat ini.


"Seandainya sekarang bukan bulan puasa udah kusemekdon nih anak," batinku.


"Aku lagi nunggu dosen tercinta yang belum datang-datang," kataku sabar.


"Siapa? Pak Syahrul?" tanyanya yang kuangguki.


"Hahaha.. Sampai besok nungguin juga gak ketemu. Soalnya Pak Syahrul lagi pergi!" kata Ryan denga tawa memenuhi lobi kampus yang untung saat ini sedang sepi.


"Yahhh... Tau gitu hari ini gak ke kampus," kata Uni yang tak sengaja mendengar perkataan Ryan. Dia berjalan bersama Lifi menghampiri kami lalu duduk disamping Azril.


"Uni sama Lifi juga nyariin Pak Syahrul?" katanya kaget ketika melihat sosok Uni dan Lifi turun dari arah tangga.


"Iya.." jawab mereka berbarengan.


"Gimana ya? Besok lagi terakhir revisi. Kalau gak nyerahin tandatangan sama revisian bisa-bisa sidang ulang. Terus bayar lagi deh..." keluh Uni. Dia kembali memegang perutnya karna mules, dan semakin mules karna Pak Syahrul tidak ada.


"Kamu tau dari mana kalau Pak Syahrul besok gak ada?" tanya Lifi menyelidik. Siapa tau si Ryan lagi tipu-tipu.


"Ya dari orangnya lah. Ya kali dari Mang Hasan (penjaga perpus)!"


"Iya kok bisa tau dari orangnya. Emang kamu siapanya?" tanyaku, Uni dan Lifi berbarengan, karna greget dengan pria didepan kami ini.


"Aku siapanya!! Ihh kepo bener!!" pancing Ryan yang membuat kami bertiga esmosi.


"Ela, Lifi, Azril udah yuk pergi! Ngomong sama ni anak bisa bikin naik pitam.." ajak Uni yang lekas berdiri.


"Hehehe jangan marah dong! Bercanda bro!" tahannya saat kami hendak berdiri.


"Jadi gini, aku tuh ponakannya. Tapi diam-diam ya!" bisiknya yang kita sahuti dengan tawa.


"Hahaha mana mungkin Pak Syahrul punya ponakan kayak kamu yang suka tebar pesona sama prempuan. Beliau aja dinginnya nauzu kalau liat prempuan," kata Uni yang aku dan Lifi angguki. "Coba kamu bilang simpanannya baru kami percaya," ledek Uni yang mendapat tepokan bahu dari Lifi dan diriku. Sedangkan Ryan menatapnya.


"Enak aja simpanan. Ya kali aku jeruk makan jeruk. Mending sama kamu aja!" godanya pada Uni. Uni lalu membalas dengan tatapan tajam. "Kalau masih gak percaya. Yaudah sini ikut aku. Habis ini aku mau ketemu sama Pak Syahrul di XXX," ajak Ryan karna tak terima dianggap bohong.


"Yaudah!" kata Uni setelah menerima anggukan dariku maupun Lifi.


Sebelum berangkat kami terlebih dahulu sholat asar baru pergi ketempat tujuan menaiki mobil Ryan.


Sampai sana kami pukul 6 kurang, yang artinya sebentar lagi masuk waktu magrib.


"Pak Syahrul masih di jalan. Kita sekarang cari tempat untuk makan dulu aja, bagaimana?" tanya Ryan meminta jawaban.


"Entar aja abis sholat magrib cari makannya. Lagi pula sekarang penuh karna banyak yang lagi buka puasa bareng," saranku.


"Iya benar.." sahut Uni dan Lifi berbarengan.


Kami lalu pergi ke arah mesjid. Sampai sana kami segera membatalkan puasa kami dengan takjil yang diberikan di mesjid, karna kumandang adzan telah terdengar.


Selesai sholat berjamaah aku keluar telebih dahulu bergantian dengan wanita lain yang ingin sholat.


Diluar sudah nampak Ryan yang sedang duduk memakai kaos kakinya.


"Gimana Pak Syahrul udah sampe?" tanyaku ketika mendekatinya diselasar mesjid.


"Sudah. Tadi dia sedang berwudhu, mungkin sekarang sudah sholat.." sahutnya.


Setelah kurang lebih menunggu 5 menit akhirnya Pak Syahrul keluar. Penampilannya sungguh berbeda ketika berada di luar dan di kampus.


"Assalamualaikum Pak!" sahut kami berbarengan yang membuat Pak Syahrul kaget.


Pak Syahrul menatap kami satu persatu. "Kok kalian bisa disini?" tanyanya dengan wajah bingung.


"Kami disini diajak oleh Ryan Pak!" seru kami kembali berbarengan sambil mengarahkan jempol kami kearah Ryan yang sedang nyengir.


"Pak, ini Pak!" kami segera menunjukan lembaran kertas yang merupakan tujuan kami datang.


"Ohhh... kalian minta tanda tangan!" serunya lalu duduk disamping Ryan memakai sepatu layaknya anak muda.


"Iya Pak!" kami tersenyum bagai anak kecil lalu menyodorkan kembali kertas ditangan kami masing-masing.


Mata Pak Syahrul melihat kami satu persatu sampailah matanya kearahku. Beliau menatapku lama lalu kembali mengalihkan tatapannya.


"Saya mau tanda tangan tapi... Saya lagi lapar gimana ya? Takutnya pas tanda tangan salah lagi..." katanya memandangi kami satu persatu.


"Tenang aja saya bayar sendiri kok makanannya!" seru Pak Syahrul karna menyadari tatapan tajam kami kearah keponakannya.


Kami lalu pergi sama-sama ke Resto yang dari luar saja sudah kelihatan harga makanannya pasti mahal dengan enggan kami bertiga memasuki Resto.


Setelah duduk, tiba-tiba perut Uni kembali mules. Pergilah Lifi menemani Uni sedang Ryan mengantar mereka ke kamar mandi. Tinggal lah aku, Azril dan Pak Syahrul yang terdiam.


Seperginya mereka pelayan berpakaian biru muda menghampiri kami. Dia memberikan menu. Kulihat Pak Syahrul berbicara dengan pelayan sambil menunjuk tulisan yang ada di menu. Ketika pelayan pergi keheningan menyambut kami kembali sampai suara bocah disampingku menyahut.


"Bunda Azril lapar!" serunya memanyunkan sedikit bibirnya kedepan.


"Iya sabar ya. Makanannya lagi di masak," kataku lembut lalu memberikan lembaran biskuit.


Kulihat Pak.Syahrul mematikan HP nya lalu mendekati Azril. "Memangnya Azril puasa?" tanyanya terdengar meledek. Seketika Azril langsung memanyunkan bibirnya kembali dan mengembungkan mulutnya.


"Sayang itu Om Dosennya nanya Azril puasa apa enggak. Kok malah manyun sih," kusentuh pipi kembungnya lalu menekannya agar angin didalam keluar. "Azril kan puasa kenapa harus marah?" lanjutku kembali lalu mengelus kepalanya lembut.


Azril lalu menatap Pak Syahrul, kemudian berkata. "Azril puasa Om Dosen. Tapi setengah hari karna Azril masih kecil," jawabnya sangat lucu membuatku gemes seketika. Kutangkup wajahnya lalu mencium pipi kanannya. Setelah menciumnya kuliat Pak Syahrul yang sedang mengelus puncak kepala Azril sambil tersenyum yang sangat mempesona.


"Pak! Kenapa Bapak jarang senyum di kampus," tanyaku basa-basi. Dari pada diam-diaman nanti dikira suami istri lagi berantem.


"Kenapa memangnya?" tanyanya kembali melihat kearahku sedang aku menatap kearah lain.


"Soalnya banyak mahasiswi yang bilang kalau Bapak pas senyum ganteng bangat,"


"Menurutmu juga begitu?" tanyanya kembali. Kulihat kearah wajahnya yang saat ini matanya menatapku tajam.


"Hahaha Bapak ganteng tapi masih gantengan someone specialku," jawabku dengan senyum tipis tapi tidak membalas tatapan matanya.


Dari kejauhan kulihat Ryan datang dengan Lifi dan Uni.


"Hei maaf ya lama. Maklum Uni nongkrong lama bener dikamar mandi," kata Ryan yang di pelototi oleh Uni.


"Iya gak papa," jawabku.


Tidak berapa lama makanan datang menghampiri kami. Tidak butuh waktu lama kami meludeskan makanan bagai orang kelaparan.


Selesai makan, kami mengeluarkan kembali kertas kami yang langsung ditandatangani oleh Pak Syahrul tanpa ba bi bu.


Alhamdulillahnya kami makan dibayari oleh Pak Syahrul yang membuat kami bertiga senyum-senyum gembira dapat makan gratis.


"Tau di bayarin mah. Mesennya sekalian banyak biar bisa buat sahur," bisik kami bertiga. Sedang 2 pria dewasa ini menatap bingung.


Setelah itu kami izin pulang, yang dianter oleh Ryan sampe halte busway.


Karna sampai sekarang kedua sahabatku ini tidak tau tempat tinggal baruku. Aku menyuruh mereka naik busway duluan, sedang aku menuju kearah mesjid didekat daerah itu.


Selesai menjalankan ibadah dan juga sholat tarawih 8 rakaat. Aku dan Azril pulang.


Pertama-tama aku mengantar Azril ke rumahnya terlebih dahulu baru kembali ke rumah.


Sampainya didepan rumah. Aku merasa ada hal aneh. Karna lampu terasku menyala dan juga terparkir motor yang sangat ku kenal.


Segera aku membuka pintu yang tidak di kunci. Aku segera berjalan masuk dan mendapat sosok Rafiq yang sedang menatapku sambil tiduran diatas kasur. Setengah tubuh bagian atas di kasur, sedangkan kakinya menginjak lantai.


Tanpa kurasa seketika dadaku berdegup kencang. Rasa senang tak bisaku bendung. Aku segera menghampirinya lalu memeluk sosok yang kurindukan.


"Mas.. Ela kangen sama mas!" Ucapku senduh. Aku terisak memeluk tubuhnya yang tidak membalas pelukanku.


Tanpa basa-basi Rafiq ataupun lepas rindu. Rafiq langsung menanyakan alasanku pulang telat.


"Lo dari mana? Kenapa baru pulang jam setengah 10 malam?" Ucapnya membuka suara.


"Aku dari XXX mas. Minta tanda tangan dosen," kataku tanpa melepas pelukan darinya.


Rafiq yang sepertinya sudah merasa risih denganku mendorongku kasar hingga pelukanku lepas.


Dia lalu duduk di pinggir kasur sedang aku duduk di lantai memandangi wajahnya dengan senyum dan tangis bahagia diraut mukaku.


"Dosen! Apa lo pernah tidur bareng dosen lo. Biar bisa dapat nilai bagus..." desisnya. Aku yang mendengar perkataan langsung kaget.


"Maksud mas apa? Ela cuman tidur dengan suami Ela! Apa mas masih gak percaya kalau Ela cuman tidur bareng mas?" kutatap mata tajamnya dengan sendu.


"Bagaimana bisa percaya. Lo aja pulang jam segini. Apa jangan-jangan setiap hari lo sering pulang pagi," cibirnya terkekeh meledek.


"Mas... Ela pulang jam segini karna jalanan macet dan Ela harus mengantar Azril pulang ke rumahnya. Makanya Ela telat pulang," jelasku yang diabaikan olehnya.


Terlihat sekali, saat ini Rafiq menatap rendah diriku.


"Azril! Jadi itu nama anak dari laki-laki yang tidur bareng lo!" ucapnya kembali yang membuatku tercengang.


"Bu..."


"Diam! ...Gua gak nyangka selama ini gua nikahin wanita murahan macem lo! Di luar aja tampilan lo kayak orang alim, aslinya lebih rendah dari wanita yang ngejual dirinya.."


Tatapan tajam dan dingin matanya, seperti menampak kejijiannya padaku. Dan Perkataannya bagaikan sayatan pisau yang menggoreskan luka baru di luka yang hampir sembuh.


Setelah mengatakan itu Rafiq pergi meninggalkanku yang menangis memandang cincin nikahnya yang di buang tempat didepan wajahku sebelum dia meninggalkan rumah.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terima kasih 😁😁😁