
Happy reading!!!
Di Al Ilmu
Saat ini aku bagaikan pianis yang memainkan piano tanpa melirik not ketika memainkan musik.
Terdengar suara ketikan memenuhi ruang tamu ini. Setelah melirik jam yang ada di leptop, gerakan tanganku semakin cepat.
Sebenarnya masih sekitar 30 menit lagi sampai anak-anak diantar ke tempat ini. Tapi karna pasti ada saja yang mengantar lebih cepat dari waktu yang ditentukan tentu membuatku terburu-buru.
Sampai akhirnya gerakanku terhenti ketika mendengar suara tangisan anak dari arah luar. Segera mungkin aku langsung save (menyimpan) tulisan yang kutulis lalu menghampiri sumber suara tersebut.
Saat membuka pintu terlihat seorang anak yang meronta-ronta tidak ingin keluar dari dalam mobil. Sampai akhirnya dia dipaksa keluar sambil digendong oleh wanita cantik berkerudung dan berbaju modis itu.
Kulangkahkan kakiku menghampiri wanita cantik itu untuk membantunya menggendong anak laki-laki yang terlihat gembul itu. Bagaimana tidak kewalahan wanita itu sangatlah mungil tidak sebanding dengan bocah yang digendongnya.
"Mari saya bantu gendong Azril Ba!" tawarku pada wanita cantik itu yang mulai kewalahan karna tindakan anak yang di gendongnya terus meronta-ronta.
Wanita itu segera memberikan Azril untuk aku gendong. Sampailah Azril dipelukanku yang kutahan sekuat tenaga dengan kedua tanganku.
Untung saja aku memiliki tenaga yang cukup kuat. Saat ini Aku sungguh berterima kasih pada bapakku yang sering meminta tolong untuk mengangkat air galon maupun air kamar mandi.
"Baru gendong bentar aja udah pegal nih tangan," gumamku dalam hati, tidak lupa kuberikan senyuman kecil pada wanita didepanku ini.
"Ba saya titip Azril ya! Nanti di jemput sama Bu Nia, Saya buru-buru mau pergi. Makasih ya ba," kata wanita itu tergesa-gesa lalu pergi meninggalkanku dengan Azril yang saat ini meronta-ronta dalam gendonganku.
Ketika mobil itu keluar dari halaman rumah ini Azril semakin meronta-ronta dan menangis sampai akhirnya dia lepas dari gendonganku lalu berlari ke luar halaman.
Aku langsung mengejarnya lalu memeluknya dengan sekuat tenaga. Untuk saja saat ini jalan didepan rumah masih sepi. Walaupun sebenarnya memang selalu sepi. Sesepi hatiku ini ðŸ˜.
Kulihat anak ini yang masih termenung dengan isakan yang mulai memelan. Dia melihat jalanan yang hanya menyisakan jejak mobil yang dikendarai wanita berbaju hijau tadi.
Miris hatiku melihat anak ini menangis. Bagaimana tidak! Dia tidak seperti biasanya jika diantar mengaji tersenyum layaknya anak kecil lainnya.
"Azril masuk yu..!" ajakku dengan lembut padanya yang masih terisak. Dia masih diam berdiri menatap jalanan yang sepi.
Aku mengubah posisiku yang dibelakangi lalu mengadapnya. Mata Azril terlihat sedikit membengkak karna tangisan yang sepertinya sudah sejak tadi.
"Azril sayang masuk yuk.. diluar panas loh," lanjutku membujuknya yang masih setia dengan diamnya.
Kuhapus tetesan air mata yang jatuh ke pipinya. Azril mulai mengalihkan pandangannya ke arahku ketika aku memegang kedua pipinya yang bagaikan bakpau.
"Bunda.. Bunda..." katanya dengan isakan yang mulai terdengar kembali dan air matanya kembali jatuh ke pipinya yang saat ini masih kupegang.
Kedua tangannya memelukku yang lebih tepatnya hanya memeluk leherku yang saat ini memang sejajar dengan tinggi badannya. Dengan lembut aku membalas pelukannya lalu menggendongnya memasuki rumah.
Keceriaannya yang biasa seakan hilang. Beberapa kali anak yang seusia dengannya maupun yang lebih tua darinya mengajaknya bermain dia tidak menanggapinya.
Setelah melewati beberapa jam bermain sambil belajar bersama anak-anak. Akhirnya pukul setengah enam pas mereka pulang. Termasuk Azril yang saat ini dijemput oleh Bu Ani orang yang bekerja di rumah Azril.
3 hari kemudian
"Bunda aku mau bikin lumah-lumahan dong!" kata bocah berbadan gembul dan berpipi cabi yang saat ini sedang membangun rumah dari tumpukan mainan balok yang ada di box.
"Wah bunda ikutan dong," kataku lalu mengambil beberapa balok lalu menumpuknya. Layaknya roti lapis.
Azril bermain dengan sangat asik begitu juga denganku yang ikut-ikutan dengannya.
Kulihat gerakan tangan Azril terhenti, dia lalu berlari dengan lucunya ke arah ruang tamu.
Aku langsung mengikuti anak itu yang ternyata sudah keluar pintu rumah. Dia mendekati mobil merah besar yang sudah terparkir di halaman.
"Mami.. mami.." dia melompat-lompat kecil kegirangan menunggu seseorang yang keluar dari mobil itu.
Wanita itu melihatku lalu membawa Azril kearahku yang saat ini berdiri memandangi mereka.
"Ba! Bu Fatimahnya Ada?" tanya wanita itu yang ternyata maminya Azril dengan lembut.
"...ee ada bu! Mari silahkan masuk," jawabku lembut lalu membalas senyumannya.
Setelah mengantar maminya Azril pada Bunda yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya, aku kembali ke ruangan tempat bermain tadi bersama Azril.
Aku membantunya merapikan mainan. Azril tampak terlihat sangat senang. Aku yang memperhatikannya jadi gemas dan langsung mencubit pipi gembul itu.
Disini kami membiasakan sehabis bermain anak-anak harus merapikan kembali mainan ke tempat semula. Agar anak memiliki sikap tanggung jawab terhadap apa yang di mainkannya.
Selesai merapikannya, sebenarnya aku ingin langsung pulang tanpa izin terlebih dahulu pada bunda maupun maminya Azril karna tidak enak menggangu pembicaraan mereka. Tapi karna itu terlihat tidak sopan makanya aku memberanikan diri menghampiri mereka lalu izin pamit pulang.
Saat ingin menyalami maminya Azril, beliau menahan tanganku yang saat ini digenggang olehnya.
Aku menampakkan wajah bingung melihat tindakan maminya Azril.
Akhirnya dia melepas genggaman tangannya lalu membuka mulutnya. "Apa kamu sibuk setelah ini Ela? Saya ingin berbicara denganmu," katanya lembut. Saat ini aku bisa melihat dengan jelas guratan lelah di wajah wanita ini.
"Kamu kenal Bu Ina kan?" tanyanya padaku seketika.
"Iya Bu saya kenal. Beliau yang biasanya menjemput Azril maupun mengantar Azril kemari,"
"Beliau saat ini sedang sakit karna faktor usianya yang mulai lanjut. Anak-anaknya tidak mengizinkan Bu Ina kembali ke Jakarta. Oleh karena itu Bu Ani yang bertugas membersihkan rumah maupun memasak, menjaga Azril 3 hari ini. Sampai akhirnya Bu Ani kewalahan menjaga Azril sekaligus mengerjakan pekerjaannya," lanjutnya. Aku mendengarkan perkataan maminya Azril dengan seksama.
"Jadi saya.. ingin minta tolong pada ba Ela, untuk menjaga Azril beberapa waktu ini. Sampai saya menemukan babysister baru!" serunya.
Aku diam mendengarnya. Karna posisinya aku belum pernah sekalipun menjaga anak-anak seusia Azril. Kadang-kadang saja aku bisa emosi saat mengajar, karna tingkah mereka yang tidak mendengarkaku saat menyampaikan materi.
Aku tau focus anak-anak seusia Azril hanya sebatas sekitar 5 sampai 15 menit. Tapi baru saja satu menit belajar, mereka sudah bermain dengan temannya.
Yaa.. mungkin juga karna cara mengajarku yang membosankan dan tidak seru.
"Bagaimana Ba Ela?" terlihat serpersik harapan dari wajah wanita didepanku ini. Sedang aku masih diam berfikir.
Aku bingung harus menerimanya atau tidak, soalnya saat ini aku sedang focus untuk membuat materi pembelajaran untuk penelitian dan kuliah. Tapi aku juga membutuhkan uang untuk banyaran semester 8 ini dan juga beberapa bayaran lainnya seperti sidang dan wisuda yang harus mulai kukumpulkan dari sekarang.
"Bu.. kalau untuk beberapa waktu.. saya tidak masalah," jawabku sedikit bimbang. "Tapi apa maminya Azril tidak masalah saya membawa Azril ke kampus ataupun ketempat lain jika saya sedang keluar?" lanjutku.
"Tentu saja tidak masalah Ba Ela. Mulai besok tolong ya ba jaga Azril," katanya dengan muka yang senang sedang bunda Fatimah yang mendengarkan pembicaraan kami sejak tadi juga tersenyum.
Pulang dari tempat bunda Fatimah. Maminya Azril menawarkan diri mengantarku pulang. Awalnya aku menolaknya karna tidak enak. Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya untuk mengantarku, aku pun setuju.
"Ba Ela besok saya antar Azril jam 6 ya. Terima kasih atas bersedianya ba Ela menjaga Azril," katanya dengan senyum manis.
"Iya bu,"
"Jangan panggil ibuu.. panggil aja kak Qomar," pintanya padaku.
"I.. iya kak.. Qomar" jawabku terbata dan menahan senyum karna lucu melihat tindakannya dan ekspresi wajahnya yang tidak ingin di panggil ibu.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Terimakasih.