UHIBBUKI

UHIBBUKI
Twenty Nine



Happy Reading!!!


@@@@@


Abang, bapak dan kakakku telah pergi kerja sedangkan mamaku pergi membantu tetangga yang sedang hajatan. Tinggallah aku dan Rafiq di rumah.


Sejak pagi bibirku tidak henti-hentinya berhenti tersenyum.


Kusondokkan nasi kepiring kosongnya. Kutatap mukanya lekat-lekat. Kuperhatikan semua gerakannya dari menyendok, menyuap kemulutnya sampe-sampe saat menjilat jari-jarinya.


Rafiq yang sepertinya menyadari diriku yang sejak tadi memperhatikannya mulai merasa risih.


"Gak bosan apa lo, geliatin gua mulut?" tanya Rafiq heran setelah meyelesaikan makannya.


"Mana mungkin aku bosan ngeliatin suamiku," bakasku bahagia dengan mata masih setiap menatapnya.


Sejak Rafiq bangun tidur aku selalu didekatnya. Walaupun dia mengabaikannku, dengan berada disisinya saja sudah membuatku senang.


Kulihat Rafiq bangkit dari tempat duduknya yang telah didudukinya selama 2 jam.


"Mas mau kemana?" tanyaku sembari mengikuti arah tujuannya.


Rafiq tidak menjawab dia hanya diam. Dia masuk kedalam kamar lalu merapikan beberapa barangnya dan mulai memasukannya kedalam tas.


Rafiq lalu menolehkan kepalanya kearahku yang kubalas dengan senyuman.


"Mama mana?" tanyanya kalu mengalihkan kembali pandangannya kearah tasnya.


"Mama masih di luar bantuin tetangga yang lagi hajatan," jawabku lalu duduk disampingnya.


"Yaudah lo izinin ya ke mama kalau gua pulang duluan!" perintahnya.


"Aku akan izin sekarang ke mama!"seruku. "Tapi.. aku ikut mas ya sampe depan.." pintaku pada Rafiq dengan wajah yang dibuat-buat imut. Lalu aku berlari keluar rumah tentu setelah memakai kerudung dan jilbabku.


Kembalinya, aku ke rumah bersama mama. Rafiq sudah siap membawa tasnya ke ruang tamu.


Rafiq terlihat begitu tampan dengan setelah baju kaos abu-abu yang di kombinasi dengan jaket hitam dan celana abu-abu.


"Mama!" seru Rafiq saat melihat mama memasuki rumah.


"Wah kamu sudah sangat tampan sekali!" puji mama melihat penampilan Rafiq.


Begitu juga denganku yang tidak lepasnya memperhatikan wajah tampannya yang membuatku ketagihan.


"Ela kamu ngapain masih disini, sana cepat siap-siap!" perintah mama saat melihatku masih tetap dengan pakaian yang biasa kukenakan disekitar rumah.


Aku segera berlari kekamar membereskan Barang-barangku dan mengganti dengan pakain berpergian. Lalu menghampiri mereka yang menungguku.


"Ayo mas aku sudah siap!" seruku dengan senyum lebar.


Lalu kami sama-sama keluar rumah. Rafiq mengeluarkan motornya dari halaman rumah orang tuaku.


Sebelum menaiki motor aku mencium tangan dan pipi mama baru memeluknya. Sedang Ragiq hanya mencium tangan mama.


Sampainya di halte busway Rafiq memberhentikan motornya. Begitu juga aku yang sadar diri langsung turun dari motor.


"Makasih ya mas!" seruku lalu memberikan helem yang kupegang.


Rafiq tidak mengambil helem yang kuberikan. Pandangannya kedepan tanpa sedikitpun menoleh kearahku.


"Apa mas mau nganterin aku," godaku melihat tindakan Rafiq yang hanya diam.


"Mas?" kataku bingung melihat tindakan Rafiq yang diam bagaikan batu. Kulangkahkan kakiku ke depan motornya dan menatap wajahnya yang ditutupi helem.


"Kalau lo mau gua antar cepet naik! Sebelum gua berubah pikiran," katanya tiba-tiba.


Aku sungguh kaget mendengar ucapannya yang akan mengatarku, dengan cepat kukenakan kembali helemnya kemudian menaiki motornya.


"Inget! Jangan sentuh gua! Kalau mau pegangan kebelakang aja!" perintahnya yang kusahuti dengan riang.


Tanpa aba-aba Rafiq langsung melajukan motornya dengan cepat. Aku yang dibelakang terasa seperti dibawa angin.


Sayangnya jalan sepi tidak seramai tadi pagi. Andaikan jalanan sedikit lebih rame. Aku bisa menikmati sensasi dibonceng Rafiq.


Biasanya setiap perempuan yang menaiki motor ini akan memeluk perut yang memboncengnya tapi tidak denganku yang pegangan dengan jok belakang.


"Rasanya sangat menakutkan diboncengya. Tapi aku harus bisa tahan agar bisa berlama-lama dengan Rafiq," Kataku menyemangati diriku sendiri.


Semakin lama motor yang di kendarai Rafiq semakin kencang dan aku semakin mengeratkan pegangan ke sisi belakang. Sampai akhirnya aku melihat ada orang menyebrang jalan dari arah kejauhan.


"Mas didepan ada orang yang lagi nyebrang!" seruku dengan suara yang lumayan keras, tapi Rafiq tidak meresponnya.


Sampai akhirnya Rafiq yang berhenti mendadak membuatku panas dingin yang duduk dibelakangnya.


Kulepaskan genggaman tanganku dari jaket Rafiq yang tadi kucengkram karna takut oleh rem mendadaknya.


Tepat didepan gang rumah Rafiq menurunkanku dengan kerudung yang sudah sedikit berantakan karna terpaan angin. Aku masih merasakan gemetaran di tangan dan kakiku.


"Terima kasih ya mas!"seruku padanya dengan senyuman yang kupaksa diwajahku.


Rafiq tidak menanggapinya. Dia hanya mengambil helemnya kemudian melajukan motor meninggalkanku.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.