UHIBBUKI

UHIBBUKI
Wolks (jalan-jalan)



Happy reading!!!


"Tap! Tap!" suara langkah kakiku menuruni tangga memenuhi seisi rumah yang sepi.


Kuarahkan kakiku menuju dapur yang ternyata terdapat sosok wanita setengah baya yang sedang mengulek.


"Ibu lagi masak apa?" tanyaku yang saat ini sudah ada disampingnya.


"Astagfirullah! Ba Ela ngagetin aja! Saya fikir tadi siapa?"


"..Emang ibu ngiranya siapa? Suami tercinta ya!" godaku pada bu Ina yang awalnya muka ibu kaget berubah merona.


"Ahh ba Ela bisa aja! Jadi ingat sama ayang di kampung," katanya dengan lalu mulai mengulek kembali.


"Maaf ya bu," kataku lalu tersenyum melihat tingkah malu bu Ina.


"Iya ba, gak papa! Tapi untung saja ibu gak punya penyakit jantung kalau punya udah tepar ibu di lantai," katanya sampil mengarahkan ulekan dari batu yang dipegangnya kearahku.


"I.. iya bu, tapi ulekannya jangan arahin ke Ela. Takut kena muka Ela bu," kuambil benda itu dari tangan bu Ina lalu meletakkan kembali ketempat semula.


"Ini ibu mau masak apa?"


"Biasa ba, masak masakan kesukaan mas Azril. Gulai ikan sama sayur sop!" jawabnya kemudian melanjutkan mengulek.


Senyum gembira mengembang di wajahku ketika mendengar perkataan bu Ina, "Ela boleh bantuin bu!" pintaku padanya.


"Tentu saja boleh. Ibu malah senang!" bu Ina mengoper bumbu yang diuleknya kearahku.


Setidaknya aku sudah bisa sedikit memasak, karna sebelum maupun sesudah menikah dengan Rafiq aku berusaha masak, supaya suami betah di rumah. Sekarang malah aku yang masak ujung-ujungnya aku juga yang makan.


"Wih ba Ela jago juga masaknya!" seru bu Ina melihat gerakan cekatanku.


"Makasih bu!" balasku lalu tersenyum. "Tapi masih jagoan ibu Ina dong. Ela jadi belajar bumbu supaya masakan semakin lezat tanpa penyedap rasa," lanjutku. Aku mengikuti gerakan iklan membuat bu Ina tertawa.


"Ahhh ba Ela bisa aja! Bikin ibu terbang.." katanya sambil menepuk pundakku pelan. "Karna ba Ela anak baik. Ibu akan menagajarkan ba Ela cara membuat kue yang enak.."


Aku mengangukan kepalaku dengan semangat dan senyum mengembang di wajahku, "Siap cheff!"


Tarikan kecil terasa di kerudungku. Membuatku menoleh kesamping yang ternyata tidak ada seseorangpun.


"Bunda!" aku menyadari ternyata sosok itu ada di belakangku. Dia saat ini sedang mengucek-ngucek matanya yang masih setenga tertutup.


"Ini biar ibu aja yang ngelanjutin! kamu mandiin mas Azril dulu,"


"Oke bu!" kataku sambil memberikan tanda oke pada jariku. "Ini biar Ela aja yang bawa!" aku mengambil mangkuk yang sudah terisi penuh oleh sop kemudian meletakkannya diatas meja makan.


Kulihat jam yang berada di dalam kamar Azril menunjukan pukul 8 kurang. Pantas saja sejak tadi cacing yang berada di perutku memberontak. Mereka menuntut jatah makan pagi mereka.


Setelah bersih dan wangi aku mengajak Azril kemeja makan yang sudah tertata rapi dengan masakan tadi.


###


di Kontrakan


Dua hari ini bu Ina mengajarkan aku membuat aneka macam kue. Walaupun aku belum terlalu terampil setidaknya aku sudah mencatat semua resep yang di butuhkan dan juga tekniknya.


Hari ini aku mengajak Azril nginap di rumah kontrakan karna sudah 4 hari aku nginap di rumah Azril.


Bisa-bisa kalau di tinggalin terlalu lama datang penunggu baru lagi. Astagfirullah.


"Tok! Tok! Assalamualaikum!" aku mendengar suara panggilan dari arah luar. Segera kukenakan jilba (gamis) dan kerudungku menghampiri suara tersebut.


"Walaikumsalam!"


Azril mengikutiku dibelakang karna penasaran dengan sosok yang saat ini berada di balik pintu.


Saat membuka pintu terlihat sosok sejoli yang sangat kukenal.


"Mamiii! Papii!" suara teriakan Azril yang riang ketika mengetahui sosok tersebut.


Azril langsung memeluk kaki maminya dengan sangat erat lalu beralih pada papinya untuk minta di gendong.


"Masuk pak, bu.. maksudnya kak Qomar!" kataku terbata saat melihat maminya Azril mendelik padaku saat memanggilnya ibu.


"Makasih ba Ela! Tapi kita langsung pamit aja ba Ela!" tolaknya secara halus. "Ini Ela, oleh-oleh dari bandung!" maminya Azril memberikan 3 kotak kue yang terlihat sangat enak.


"Makasih kak Qomar sama papinya Azril,"


Papinya Azril izin pamit ke mobil terlebih dahulu karna melihat Azril yang sudah mulai mengantuk karna menguap sejak tadi.


"Ela besok ada acara?" tanya maminya Azril ketika papinya Azril sudah pergi.


"Memangnya kenapa kak?" tanyaku penasaran.


"Besok kakak sama papinya Azril mau ajak Azril jalan-jalan,"


Aku bingung dengan maminya Azril kalau dia mau ajak Azril kenapa tanya aku ada acara apa enggak.


"..Besok Ela ada acara kak," seketija wajah mamiya Azril terlihat cemberut saat aku mengatakan itu. "..Tapi acaranya sampai jam 10 kok kak," lanjutku membuat wajah wanita didepanku berubah menjadi ceria kembali.


"Yasudah besok kakak kabarin lagi ya kita kemana!"


"I.. Iya kak,"


Lalu maminya Azril izin pamit setelah mengucapkan salam.


Kulihat 3 bungkus makanan yang kupegang saat ini.


"..." setelah berfikir kuambil dua bolu dari pelastik lalu menaruhkannya kedalam kulkas.


Saat keluar pintu kebetulan aku berpapasan dengan bu Retno yang sedang memasuki rumah.


"Bu.. ini! Tadi maminya Azril ngasih kue," kataku sambil menyodorkan kantong yang kupegang.


"Wah terimakasih ya Ela. Memang ya.. rezeki anak sholehah gak kemana," katanya dengan senyum sambil menerima kantong yang kuberikan.


"Iya rezeki anak sholeha," ulangku sambil nyengir.


Kulihat raut wajah bu Retno yang terlihat berfikir sesuatu.


"Oh iya Ela. Ibu baru ingat! Kemaren sore Ibu ketemu sama suami kamu! Dia baik bangat, bantuin ibu angkatin galon dari teras kedalam rumah. Untuk aja ada suamimu kalau enggak roman-romannya ibu turun berok gara-gara ngangkat yang berat," cerita bu Retno dengan ekspresi.


Aku terdiam mendengar perkataan bu Retno saat mengatakan nama imamku.


"Jadi kemarin mas Rafiq kemari. Pantas tadi aku menemukan amplop di atas lemari. Seandainya kemarin aku pulang sore aku pasti bisa bertemu dengan mas Rafiq," gumamku dalam hati.


"Oh iya kemaren juga anak ibu sempat foto sama suaminya ba Ela," katanya.


"Bu saya mau fotonya," pintaku pada bu Retno sambil memberikan senyum manis.


"Oke nanti ibu kirimin. Sekarang ibu mau ngasih pesanan ayang ibu dulu," katanya sambil mengedipkan mata lalu masuk kedalam rumah begitu juga denganku.


Kulihat beberapa mainan dan pensil warna yang berserakan. Dengan cepat aku merapikannya Lalu kupelankan rekaman yang selalu kuputar ketika Azril ada maupun tidak ada di rumah.


"Dreet dreet" HP ku bergetar tanda pesan masuk. Dengan cepat kuraih dan kulihat foto yang dikirim bu Retno. Seketika aku hatiku berdebar melihat sosok yang sangat kurindukan.


Di foto ini Rafiq menggunakan kaos biri laut dengan jaket hitam dan celana hitam panjang. Dia terlihat sangat tampan difoto ini dan tentunya yang asli jauh lebih tampan.


"Seandainya sosok ini ada didepanku sekarang sudah kuterkam bagaikan singan melihat mangsa," gumamku pelan.


###


"Ini silakan!" kusodorkan bolu yang telah kupotong dan tertata rapi di piring Uni yang kuambil.


Biasanya kami mengaji di mesjid. Karna mesjidnya sedang di perbaikan kami beralih ke kosan Uni yang tidak jauh dari mesjid.


"Wih bolunya enak bangat!" seru Uni.


"Enak lah kan gratis," timpal Lifi dengan senyum yang di angguki Uni.


"Kalau beli juga.. tetap enak," balas Uni. "Gimana kak. Enakkan?" katanya meminta kepastian.


Aku menganggukan kepal paham atas perkataan kak Zahra begitu juga dengan Uni dan Lifi.


"Jadi gimana makanan ini?" tanya Uni kembali memastikan.


Kak Zahra tersenyum lalu berkata,"Iya enak! Tapi pake bangat," kak Zahra memberukan satu jempol dan kedipan.


"Pasti harganya mahal. Iya kan Ela?" tanyanya padaku.


"Enggak tau juga. Aku dikasih sama maminya Azril yang baru pulang dari bandung," jawabku.


"Oh pantas kamu gak ajak dia kemari," balas Lifi.


Saat berbincang-bincang seperti biasa kak Zahra pulang terlebih dahulu karna AA BB nya udah jemput.


Kuraih HP yang sedari tadi kumatikan internetnya. Ketika menyala pesanpun bermunculan.


Mama : Ela kapan kamu pulang?


Mam kangen sama kamu!


Kalau nanti pulang jangan


lupa ajak Rifqi ya!


Ini lah membuatku tidak bisa pulang. Setiap pulang bapak sama mama pasti nanya kenapa Rifqi gak ikut?


Rifqi juga di WA gak pernah sekalipun dia membaca pesanku. Di telpon dia marah. Mau ketemu gak tau caranya? Komunikasi aja gak bisa.


Aku : Iya ma. Kalau Ela udah gak


sibuk. Sekarang Ela lagi


persiapan untuk penelitian.


Kurim pesan yang kuketik. Lalu membuka pesan berikutnya dari maminya Azril.


Qomar : Ela kamu acaranya dimana?


Aku : Di XXX kak.


Setelah menunggu selang 5 menit kak Qomar membalas.


Qomar : Yaudah kita ketemuan di


XXX aja ya.


Aku : 👌oke kak.


"Kamu mau langsung pulang Ela?" tanya Uni ketika melihatku mengenakan kerudungku kembali.


"Iya," jawabku singkat.


"Tumben! Biasanya kita curcol dulu disini," kata Lifi yang saat ini sedang tiduran di kasur Uni sambil mendengarkan sesuatu di headsetnya sedang Uni bermain dengan HPnya.


"Maminya Azril ngajakin pergi,"


"Dikira mau ketemu sama AA BB mu," ledek Uni. Aku yang mendengarnya tentu merasa sedih, tapi sebisa mungkin kusembunyikan rasa sedihku.


"Eng.. Emang kenapa kalau aku mau ketemu sama Aa ku, kalian iri ya!" godaku pada mereka yang raut wajahnya mulai kesal.


"Udah gih sana pergi. Kita mah cuman jomblo yang menunggu imam yang cocok," Usir Uni padaku lalu menutupi wajahnya dengan HP yang di pegangnya.


"Makanya dong kenalin sama cowok biar kita cepat nyusul," balas Lifi.


"Ada! Tapi anak SMA. Mauu?" tawarku dengan cengiran.


"Boleh!" jawab Lifi dengan cengiran juga.


"Ihhh kalian ini. Kok deman sih sama brondong!" seru Uni sambil menatap aku dan Lifi bergantian.


"Brondong kan.. lebih freshh.." kataku dan Lifi berbarengan lalu tertawa sedang Uni terdiam melihat tingkah kami berdua yang tiba-tiba kompak.


Setelah itu aku pamit. Melanjutkan perjalanan ku ketempat selanjutnya.


###


Sampainya di XXX aku mengirim pesan pada maminya Azril. Sambil menunggu aku sholat dzhur di mesjid yang ada dekat sini.


Aku membuka HP setelah selesai berdoa. Sudah ada balasan dari maminya Azril.


Qomar : Ela saya nunggu di mesjid


yang ada di XXX yang


namanya mesjid


Darunnajah.


Aku : Aku lagi di dalam mesjid


Darunnajah kak.


Ku edarkan pandanganku kesekeliling ruangan dan mendapat sosok yang kucari.


"Bunda!!" panggil Azril lalu berlari kearahku.


"Azril sayang suaranya di pelanin. Kitakan lagi di rumah Allah. Nanti ganggu yang 'amah (tante) sama 'am (paman) nya," kataku memberi penjelas yang di angguki olehnya.


"Iya Bunda," katanya dengan sangat lucu lalu memelukku yang langsung kubalas.


"Azril udah sholat?" tanyaku yang di jawabnya dengan gelengan. "Ayo sini Bunda temenin ambil air wudhu," lanjutku mengajaknya berwudhu yang langsung ditahannya.


"Azril udah wudhu tadi sama mami bunda," katanya. "Ayo bunda Azril mau sholat dulu bareng mami," dia menarikku kearah maminya yang saat ini sedang menggunakan mukenah.


Mereka lalu sholat bersama. Azril mengikuti setiap gerakan maminya. Sesekali aku membenarkan gerakannya seperti rukuknya harus lurus serta bungkuknya 90 drajat. Sujud yang harus menempelkan telapak tangan, jari-jari kaki, lutut, dahi dan hidung. Dan rukun sholat lainnya.


Selesai sholat mereka mengajakku menuju mobil hitam yang selalu digunakan papinya Azril setiap bekerja.


"Kita mau kemana sebenarnya kak Qomar?" tanyaku setelah mobil keluar dari halaman mesjid.


"Ada dehh.." katanya membuat aku kepo abiss.


Sampai di tempat tujuan. Tentunya tempat yang sama sekali belum pernah kudatangi dan tempatnya begitu besar. Bagaikan orang-orang yang datang kesini horang-horang kayak semua karna rentetan mobil terpakir rapi di luar maupun di dalam mall.


Sampailah kami didepan ruang bioskop.


"Ela! Kakak sama papinya Azril mau nonton film itu," tunjuk maminya Azril pada film yang sedang laris-larisnya saat ini dibioskop.


"Jadi kamu temenin Azril ya nonton film itu," lanjutnya lalu menunjuk film lain yang untuk anak-anak.


Seketika aku diam. Bingung mau ngomong apa. Selama 22 eh maksudku 23 tahun setelah aku dilahirkan kedunia. Aku baru 3 kali masuk bioskop.


3 kali masuk bioskoo itupun karna di paksa oleh teman-teman sekelas saat kuliah. Mereka sangat ingin nonton comic 8 bareng-bareng.


"Kak gini aja. Kakak sama papinya Azril nonton di bioskop. Aku sama Azril akan pergi ke toko buku atau tempat bermain," tawarku pada kak Qomar. Kak Qomar mengangkat sebelah alisnya.


".. Yasudah kalau begitu!" tanda setuju kak Qomar. Dia lalu memberikan 4 lembar uang seratusan padaku. "Pakailah uang itu untuk membeli makan siang kalian," tambahnya.


Aku keluar bioskop bersama Azril.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Terimakasih.