
Happy Reading!!!
Setelah kejadian itu. Eli kembali kesifatnya aslinya. Dia tidak terlihat sedih. Kelakuan dan sifatnya padaku juga masih sama.
Tetapi perkataannya masih terngiang di kepalaku. Tentang aku harus membuka hatiku untuk istriku, Ela.
Tidak pernah sekalipun aku berfikiran akan menikah dengan wanita seperti Ela. Yang pakaiannya layaknya emak-emak (kalah model dengan mama yang modis), yang umurnya jauh lebih tua (walaupun hanya berbeda 3 tahun) dan bertubuh gemuk. "Tapi bodinya boleh juga.." gumamku mesum. Mengingat kejadian saat menikmati tubuhnya.
"Aishh.." kataku pelan. Aku kesal kenapa disaat keperti ini. Aku malah membayangkan kejadian itu.
Aku kembali keingatan saat malam pertama dikontrakan. Yang membuat rasa benciku bertambah karna dia sudah tidak perawan. Jika mengingat itu, sungguh membuatku kesal.
Setidaknya aku yang perjaka ini, mendapatkan seorang perawan tetapi malah sebaliknya. Alasannyapun karna jatuh dari sepeda.
"...nagapain gua jadi mikirin wanita itu.." batinki. Ku buang fikiranku jauh-jauh tentang Ela. Kunikmati terlebih dahulu liburanku dengan sahabat-sahabatku terutama dengan wanita yang sudah lama tak berjumpa.
Selama di vila aku menghabiskan waktu dengan barbekque, bercerita, dan lainnya. Tapi aku memproritaskan mendekati Eli.
Tanpa terasa kami sudah 5 hari di puncak. Mengharuskan kami kembali ke Jakarta.
Rasa malas menggrogotiku saat tau akan pulang. Ingin rasanya aku menghabiskan waktu di puncak. Agar terus bersama Eli.
###
Di Jakarta
Sampai di Jakarta aku berpisah dengan rombongan mobil. Pertama-tama kuarahkan mobil menuju kearah rumah Hajar, baru kearah rumah mama untuk mengantar Rifqi. Setelah itu aku baru mengantarnya Eli ke rumahnya, yang selalu kudatangi ketika menjemput atau mengantarnya pulang saat SMA.
Mobilku akhirnya sampai di depan rumah berpagar putih. Aku lalu turun dari mobil, melangkah ke pintu sebelah untuk membukakannya pintu. Setelah itu aku membuka bagasi belakang untuk mengambil kopernya.
"Makasih ya udah nganterin gua.."
"Itu kan kewajiban gua sebagai pacar lo.." balasku dengan senyum. Kuperhatikan raut wajahnya yang mulai berubah.
"Nif..bukan pacar! Tapi teman! Ingat janji lo!" Eli melototkan mata marah kearahku. Aku tersenyum melihat tingkah marahnya yang terlihat lucu di mataku.
"Iya, iya.." balasku mengikuti kemaunnya. "Lo balik ke kesana, masih lamakan?" tanyaku. Menatap iris matanya yang di alihkan kearah lain.
"..gua balik ke sana, besok lusa.." aku terkaget kembali, karna ucapannya.
"Cepat bangat baliknya! Gak bisa minggu depan?" tanyaku. Dia menggeleng pelan kepalanya melihatku sekilas.
"Kalau gitu besok gua kesini lagi ya. Kita jalan bareng!" ajakku.
"Enggak deh Nif. Gua cape. Terus besok gua mesti beberes pakaian," tolaknya.
"Kalau begitu, besok lusa gua kesini. Buat nganterin kamu ke bandara!" pintaku kembali.
"...yasudah!" jawabnya dengan senyum tipis.
Aku lalu pamit pulang dengan senyum mengembang di wajahku.
Lusapun datang. Dari apartemen aku ke rumah mama untuk mengganti motorku dengan mobilku. Setelah itu aku melajukannya kearah rumah Eli.
Tepat di halaman luasnya. Aku memperhatikan mobil yang sangat ku kenal. Pria pemilik mobil itu sedang mengangkat koper dan tas untuk di masukkan kebagasi mobilnya.
Aku segera menghentikan mobilku disamping mobil itu. Lalu keluar menghampri pria yang sedang menutup bagasi mobilnya.
"Hei..lo disini juga!" sapaku menepuk bahu kanannya pelan.
"Iya dong! Sahabat gua pulang, masa enggak gua antar.."
"Yang lain pada kemana?"
"Itu mereka!" tunjuk reza pada sahabatnya yang sedang menghampiri ke mobil.
"Karna orang yang di tunggu udah dateng. Ayo berangkat!" seru Eli. Semua membalasnya dengan anggukan dan senyuman.
Kulihat Devi dan Bunga mendorong Eli agar masuk kedalam mobilku. Sedang mereka memasuki mobil Reza. Aku merasa bersyukur pada dua sahabatku itu, yang sangat peka.
Dalam perjalanan tak ada percakapan. Keheningan memenuhi mobil ini. Sesekali aku melirik kearah Eli yang menatap keluar jendela.
"Aku iri!" seruku memecahkan keheningan. Kulirik Eli yang mulai menengok kearahku.
"Iri sama siapa?" tanyanya tak paham.
"Iri sama pemandangan yang kamu tatap!" seruku. Kulihat dia tersenyum.
"Bisa aja lo. Belajar dari mana lo, nomong kayak gitu.."
"Belajar dari lo!" godaku mengedipkan sebelah mata. Eli hanya terlihat tertawa.
Sampainya di Bandara Eli pertama-tama berpisah terlebih dahulu pada yang lain setelah itu dia menghampiriku dan menarik tanganku menjauhi yang lain.
"Nif, jangan lupa janji lo ya!" katanya mengingatkanku pada perkataan yang dikatakannya.
Sekarang gantian Eli terdiam. Dia menunduk. Setelah beberapa saat matanya menatapku kembali, ekspresi jahil terpasang di wajahnya. "Enggak janji ya! Siapa tau disana gua udah nemu laki-laki yang lebih oke dari lo.." balasnya.
Setelah itu aku melihatnya memasuki pintu pemeriksaan tiket. Dia terlihat melambaikan tangan dengan senyum mengembang.
Aku lalu izin kembali pulang. Karna aku pulangnya ke apartemen. Sekalian saja aku mengantar Bunga dan juga Davin yang searah denganku.
"Makasih ya Bro, udah nganterin gua.." kata Davin menepuk bahu kiriku.
"Gak masalah. Oh iya mobil lo mana kok tumben gak keliatan?" tanyaku, karna 2 kali bertemu si oppa-oppa Korea ini tidak menggunakan mobil Cepernya.
Kulihat raut wajah betenya. "Biasa Bokap gua nyita mobil gua, karna gua sering pulang malam.." jawabnya. Aku menyengir mendengar jawabannya.
"Wah para lo. Teman lagi kesusahan malah diketawain. Gua kan gak kayak lo yang tinggal sendiri.." katanya saat melihat ekpresiku.
"Maaf. Udah gih masuk. Nanti malah ATM lo yang disita," ledekku yang membuatnya menatapku tajam.
Dia lalu turun dari mobil kemudian memasuki pagar tingginya yang menutupi rumahnya.
Aku segera mengendarai mobil menuju ke apartemenku.
Suara HPku suaranya di load speakerter dengar memenuhi mobil ini. Segera aku menghentikannya di pinggir jalan.
Kulihat telpon dari nomor tak dikenal. Kugeser telepon dan menyambungkan dengan telepon asing itu.
"Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam, ini siapa ya?" tanyaku sopan pada suara wanita di sebrang sana.
"Ini Bu Damar. Tetangga sebelah kontrakan!" seru suara disebra telpon lembut. Aku membulatkan mulutku karna mengetahui siapa yang menelpon.
"Iya ada apa Bu?"
"Maaf ya Rafiq. Ibu cuman mau menyampaikan amanat dari Bu Fitri pemilik kontrakan. Bulan ini Rafiq belum bayar kontrakan soalnya udah telat hampir 3 minggu. Ibu udah hubungin nomor Ba Ela tetapi tidak aktif. Jadi ibu ngehubungin Rafiq.." jelasnya.
Aku terpaku dengan perkataan bu Damar. Telat 3 minggu. Berarti Ela belum pulang-pulang sampai sekarang. Beberapa hari ini aku sama sekali tidak memikirkan keberadaannya.
"Baik Bu terimakasih telah mengingatkan saya," balasku sopan lalu menutup panggil setelah mengucapkan salam.
Aku segera mengarahkan mobilku kearah kontrakan yang jaraknya lumayan jauh dari tempatku berada saat ini.
Seperti biasa aku memarkirkannya di depan alfamart atau indomart lalu berjalan kaki ke kontrakan.
Keadaan depan kontrakan masih sama. Lampu teras yang setia menyala walaupun keadaan masih terang.
"Cklek!" Bu Damar membuka pintu rumahnya.
"Bu!" panggilku. Beliau lalu menengok dan terlibat tersenyum membalas senyum tipismu.
"Rafiq, aduh jadi repot ya. Padahal gak perlu hari ini juga kesini.." katanya merasa tak enak.
"Gak papa Bu.."
Bu damar memperhatikanku yang datang seorang diri. "Rafiq enggak bareng Ba Ela?"
"Iya Bu," jawabku. Lalu segera mengeluarkan uang yang tadi telah di ambil di ATM. "Oh iya Bu ini uang kontrakan Bulan ini dan bulan depan! Silahkan di cek kembali Bu" kuberikan uang lembarang seratusan. Bu Damar menerimanya lalu menghitungnya kembali.
"Makasih ya, Rafiq.." ucapnya setelah menghitung jumlah uang yang pas.
"Justru saya yang makasih Bu. Saya izin masuk dulu ya Bu" aku lalu masuk kedalam rumah. Menghindari pertanyaan Bu Damar yang akan mengungkit prihal Ela.
Keadaan didalam rumah masih sama seperti 1 minggu lalu. Kain yang menutupi tempat tidur dengan Al-quran diatas, lampu tengah yang menyala, dan debu yang mulai memenuhi area.
Kubuka lemari pakaiaannya yang menampakkan pakaiannya yang masih ada.
Kubuka HP lalu melihat tidak ada satupun pesan darinya. Tidak seperti biasanya selama sebulan ini dia tak sekalipin mengirim pesan padaku. Dengan pelan kuketik pesan lalu mengirim ke nomornya yang terlihat ceklis satu.
Dengan ragu kutekan nomor telepon pada kontak telepon. Setelah menunggu terdengar jika nomor yang kutelpon berada di luar jangkauan. Aku diam memperhatihan kontak namanya.
"Dimana kamu Ela?"
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih.