
Happy Reading!!!
Di halaman luas rumah mama. Aku menghentikan mobil lalu masuk kedalam rumah mencari sosok Rifqi.
Di kamarnya tampak Rifqi sedang bercakap-cakap dengan seseorang disebrang telpon. Dari gaya bicaranya yang menggoda pasti dia sedang telponan dengan Hajar, pacarnya.
Aku langsung merebahkan tubuhku disampingnya. Kuberikan tatapan menusuk kearahnya supaya dia cepat menyelesaikan percakapannya yang membuat kupingku gatel.
Rafiq menyadari akan tatapanku yang membuatnya kesal. "Sayang udah dulu ya. Nanti kita telponan lagi ya.." Rifqi mematikan HPnya lalu menatapku.
"Apasih lo mas. Gangguin gua lagi pacaran aja.."
"Sorry! Gua sedikit geli aja dengar gombalan lo.." balasku.
"Terus ada apa?" tanyanya. Dia lalu mengangkat tubuhnya yang berbaring lalu duduk di kursi.
"...gua masih belum ketemu sama Ela!" kataku menatap langit-langit kamar.
"Yaudah tinggal telpon! Gampangkan!" katanya yang terdengar menyepelekan.
Kududkan tubuhku lalu kualihkan pandanganku arah Rifqi. Kutatap wajahnya yang terlihat malas dengan kesal.
"Gua udah telpon sebanyak 30 kali tapi sambungan mengatakan telpon diluar jangkauan. Gua juga udah cari sosmednya di IG, facebook, dan media sosial lainnya. Tapi namanya gak ada.."
Rifqi mendekatiku. Dia tersenyum ramah bagaikan reseler yang sedang menawarkan barang. "Jangan marah mas! Nanti gantengnya ilang loh.."
"Gua gak marah kok hanya karna hal sepele itu. Yang membuat gua kesal sekarang adalah keberadaan wanita itu.." kataku membaringkan tubuh kembali menatap langit-langit.
"Mas tau gak teman-teman kak Ela?" tanyanya. "Mungkin sekarang dia lagi bareng temannya.." kekesalanku seketika bertambah karna perkataannya.
"Gua gak tau sama sekali tentang dia!" seruku dengan jelas menekan kata perkata.
Tampak muka Rifqi yang juga terlihat bingung. Begitu juga denganku. Karna memang benar aku sama sekali gak tau apa-apa tentangnya.
"...Rifqi!" panggilku melihat kearahnya. Dia melihat kearahku bingung. "Mama ngabarin kamu gak kapan pulangnya?"
"..iya mama bilang ke aku. Katanya mama pulang seminggu lagi. Memang kenapa Mas?"
"Tidak. Gua gak pengen mama tau tentang hilangnya Ela. Bisa-bisa mama memberi tau ke Papi.." kataku sedikit frustasi membayangkannya.
"Jadi gimana Mas?" tanyanya melihat kearahku.
"Besok lo harus temanin gua ke kampusnya!" perintaku yang di anggukinya.
@@@
Walaupun aku tidak mengetahui tentangnya. Tetapi aku sangat ingat kampusnya. Karna kampusnya merupakan satu-satunya kampus swasta biasa yang bisa masuk untuk PPL di sekolahku. Biasanya sekolahku selalu menerima anak PPL dari kampu ternama.
"Mas maaf ya nunggu. Tadi panggilan alam!" cengirnya kearahku.
"Udah cebok belum!" kataku sinis.
"Udah dong. Cium nih, wangikan!" katanya menyodorkan tangan kirinya yang kutepis.
"Cepat naik! Sebelum gua suruh lo naik angkutan umum!" perintahku yang langsung dilakukannya.
Jarak yang ditempuh lumayan. Dari Google Maps jarak kampusnya tidak jauh denga rumah mertuaku.
Akhirnya aku sampai di halaman kampus yang benar-benar kecil dan gedung yang hanya terlihat 2 lantai. Tidak sebanding dengan halaman kampusku yang sangat luas disertai bangunan-banguna besar yang berisi beberapa lantai.
Aku segera memarkirkan motor. Kuperhatikan sekitar parkiran yang tampak sepi.
Kuedarkan pandangan yang mendapati seorang Bapak yang menyapu daun-daun yang sedang berguguran. Kuhampiri dia, meninggalkan Rifqi yang masih nemplok ditempat boncengan.
"Pak!" sapaku sopan pada Bapak itu.
"Iya bisa Bapak bantu.." balasnya dengan senyum ramah.
"Bapak tau gak dimana ruang prodi Bahasa Inggris?"
"Maaf mas, kalau itu saya gak tau. Mending mas tanya langsung aja ke dalam, tapi kampus lagi tutup karna liburan. Baru buka 3 hari lagi. Itu pun hanya untuk para staff dan dosen yang memiliki jabatan. Kalau mahasiswa masuk ketika ajaran baru, sekitar sebulan lagi.." jawabnya.
"...makasih ya Pak.." kataku. Bapak itu menganggukan kepala sambil tersenyum. Lalu kuhampiri Rifqi yang masih duduk diatas motor.
"Gimana Mas?" tanyanya tanpa mengalihkan matanya dari HPnya.
"Kampusnya tutup.." jawabku lalu menyuruhnya turun dari motor agar aku bisa duduk ditempatnya.
3 hari kemudian
Selama tiga hari ini. Tak henti-hentinya aku menghubungi nomor Ela. Tetapi selalu sama.
Sisa 4 hari sebelum kepulangan mama. Kalau sampai hari itu aku gak mengetahui tentang keberadaan Ela bisa-bisa aku dapat masalah besar.
"Turun! Betah bener gua goncengin.." perintahku saat melihat Rifqi yang masih neplok diatas bangku motor.
"Hehehe udah sampe ya.."
Kulihat sekeliling parkiran. Dari samping parkiran terdapat mesjid berukuran sedang. Dari dalam terdengar suara iqomah untuk memulai sholat.
"Rifqi kita sholat asar dulu ya!" ajakku yang dianggukinya.
Keluar parkiran kuarahkan kakiku menuju arah mesjid berwarna coklat yang dibangun dengan kayu yang mengelilingi dinding mesjid. Tampak mesjid terlihat Bagus dan bersih.
Selesai wudhu aku segera berlari menuju barisan sholat. Agar tidak ketinggalan sholat berjamaah.
Sebenarnya ini tumben-tumbennya aku ke mesjid dan sholat berjamaah. Biasanya aku sholat di rumah dan juga sendiri.
Selesai sholat aku menyalami sebelahku dan juga tidak lupa berdoa.
Setelah itu aku kembali kehalaman mesjid untuk memakai kaos kaki dan sepatuku.
"Mas!" sapaku. "Maaf boleh nanya? Dimana ruang prodi Bahasa Inggris kampus ini?" izinku sopan.
Pria itu terdiam. Dia memperhatikanku dengan seksama. "Tau! Mari ikut saya.." ajaknya.
Setelah Pria itu dan Rifqi mengenakan sepatu. Aku mengikutinya kearah pintu masuk kampus yang ternyata ada 2. Dari depan dan samping. Pria itu juga menjelaskan jika ruang prodi lebih dekat lewat pintu samping.
"Disini ruang prodinya!" Pria itu menunjuk pintu berwarna coklat tua.
"Terima kasih ya!" kataku lalu memasuki pintu itu. Pria itu lalu menuju ketempat lain yang tak kuketahui.
Saat memasuki ruangan. Hembusan AC yang tidak begitu dingin menyambutku. Didalam terdapat satu ruangan, didepan ruangan terdapat meja dan bangku yang sedang diduduki seorang wanita berumur tiga puluhan lebih berkerudung panjang. Didepan wanita itu ada seorang wanita juga yang jauh lebih muda yang berpakaian seperti Ela.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu ketika aku memasuki ruangan.
Wanita berumur itu terlihat memperhatikan wajahku. "Anak baru ya! Soalnya Ibu enggak pernah lohat mukamu.." katanya. Dia tersenyum ramah.
Wanita itu melirik kearah wanita didepannya yang langsung berdiri di samping meja setelah mendapat lirikan.
"Silahkan duduk!"
Aku dan Rifqi lalu menduduki kursi yang kosong. Kulirik prempuan yang sedang berdiri disamping meja. Dia tersenyum tipis ketika mata kami tak sengaja bertemu.
"Maaf Bu saya ingin bertanya apa Ela murid bahasa Inggris disini!" kataku asal karna gugup oleh tatapan wanita itu yang memperhatikanku dengan seksama.
Wanita itu terlihat menyipitkan mata. Dia menatapku dengan menyelidik. "Maaf anda ini mahasiswa baru atau tidak. Mengapa anda menanyakan mahasiswa yang bernama Ela.."
"Mas kok ngomongnya gitu. Kitakan udah tau kalau Kak Ela jurusan Bahasa Inggris disini. Kenapa tanya lagi?" bisik Rifqi yang membuat kedua wanita itu semakin curiga.
"Hemm..gini Bu. Saya sebenarnya...suaminya Ela.." jawabku gugup. Kulihat wajah Ibu didepanku tidak percaya.
"...Oohhh rupanya kamu suaminya Ela!" seru wanita yang sejak tadi berdiri disamping meja. Dia terlihat membulatkan mulit melihat kearahku.
Ibu itu lalu melihat kearah wanita yang berdiri itu. "Emang Ela udah nikah?" tanya Ibu itu pada wanita disamping.
"Iya Bu. Ela udah nikah tapi teman sekelas gak ada yang tau wajah suaminya.." jawab wanita itu. "Sampai Lifi maupun Asti yang teman dekat Ela aja gak tau wajah suaminya.." ceritanya.
"Aku tidak menyangka jika dia benar-benar tidak memberitau sahabatnya tentang wajahku.." batinku.
"Kalau kamu suaminya kamu punya bukti?" pinta Ibu itu. Dia terlihat masih tak percaya.
Aku kembali bingung, karna tidak membawa apapun sebagai bukti. Tapi seketika aku mengingat satu bukti yang ada di HPku. Itu adalah fotoku dan keluarganya saat jalan-jalan.
"Ini Bu!" unjukku pada sebuah foto keluarga. Disana tampak aku sedang memeluk pinggang Ela.
Ibu itu dan juga wanita itu memperhatikan foto yang kuunjukan.
"Benar Bu ini pasti suaminya. Ela gak mungkin foto sama orang yang bukan mukhrimnya. Apalagi sampai peluk pinggang gitu," Ibu itu mengiyakannya. Begitu juga denganku yang mengangukan kepala mengiyakan perkataan wanita itu.
"Jadi suaminya Ela mau nanya apa?"
"Gini Bu. Tujuan saya kesini ingin menanyakan kontak HP sahabat Ela karna Ela pergi dengan sahabatnya. Saat mau ngehubungin, HPnya tidak aktif.." jelasku.
Ibu itu terlihat melihat kearah wanita disebelahnya yang paham maksud perkataanku.
"Ohh maksud kamu nomornya Lifi sama Asti(Nama Asli Uni)" timbal wanita disebelah. Aku hanya mengangukan kepala karna tidak mengetahui nama sahabat Ela.
"Yaudah kamu aja yang kasih tau Anti!" perintah Ibu itu yang diangguki oleh wanita itu.
Saat ingin berdiri. Dari arah pintu, masuk seorang Pria yang tadi mengantarku. Kulihat wanita didepanku mengangukan kepala kearah oria itu. Aku lalu ikut menganggukan kepala kemudian mengikuti wanita itu menuju kearah pintu.
Samar-samar aku mendengar pembicaraan Ibu itu dan Pria tadi.
"Anak Baru Bu Ati?"
"Bukan Pak. Tapi suaminya Ela, anak semester 8 yang udah sidang! Bapak kenalkan!"
Setelah itu aku tidak mendengar percakapan mereka lagi karna sudah keluar pintu. Aku mengikuti wanita itu yang duduk di bangku yang ada di depan ruang prodi.
"Namanya dengan Mas siapa?" tanyanya menunjuk kearahku dengan jempolnya.
"Rafiq!" jawabku.
"Ini Rafiq nomor Lifi dan juga Asti!" tunjuknya yang langsung aku salin ke HPku.
"Terima kasih ya dengan?"
"Saya Anti teman sekelas Ela!" jawabnya.
Saat berpisah aku kembali bertatap muka dengan Pria yang mengantarku.
"Mas!" sapaku ramah. Dia hanya diam sambil menganggukan kepalanya pelan. Pria itu tampak berbeda. Dia tidak seramah saat mengantarku. Tapi aku tidak memikirkannya.
Aku kembali keparkiran mengambil motorku. Saat ingin meninggalkan parkiran, aku kembali melewati Pria tadi yang saat ini menatapku. Dia juga sama denganku mengenakan motor sport.
Selama perjalanan aku terus bergumam dalam hati. Wajah pria tadi tampak tak asing sejak pertama kali aku melihatnya.
(Jangan Lupa VOTE dan Rating ya...)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih