
Happy read!!
Aku melihat jam menandakan pukul 2 malam. Rasa kantuk sudah menyerangku tetapi mataku enggan untuk tertutup.
Aku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat tahajud yang biasa kukerjakan saat malam hari.
Kupanjatkan doa untuk kelancaran acara besok dan juga kelancaran rumah tanggaku yang akan kujalani sekitar 7 jam lagi yang dimana statusku akan berubah.
Ketika besok statusku berubah menjadi istri maka ketika pagi yang kutemukan adalah wajah suamiku bukan lagi ibuku yang selalu menemaniku tidur setiap malam.
Mungkin biasanya suami istri akan tidur bersama. Lain halnya dengan bapak dan mamaku. Mereka selalu pisah ranjam, itu bukan karena mereka bertengkah atau mereka tidak suka tidur bersama. Tetapi.. Karena mamaku kasian dengan bapakku ketika tidur dengannya. Bapakku selalu tidak pulas ketika tidur disamping mamaku karena suara dengkurannya yang lumayan keras. Ya karena itu mereka tidak tidur bersama. Tapi kadang aku suka mendapatkan hal dimana mama suka tidur dengan bapakku ya kalian taulah..
Kurebahkan kembali tubuhku diatas kasur. Kupejamkan kembali mataku yang mulai berat tak berapa lama mataku kubuka kembali dan ku raih HP ku yang berada di rak buku. Aku mengetik kemudian kukirim pesan tersebut pada sahabatku dan juga shohibku Lifi dan Uni.
Ela : "Assalamualaikum Lifi/Uni, besok
aku akan menikah jam 9.30 di
mesjid dekat rumahku At-Taqwa.
Jangan lupa datang ya...
PS : Aku tunggu hadiahnya
Tanda ceklis satu tertera di kedua pesan yang aku kirim. Aku sangat tau kebiasaan dua sahabatku terutama Lifi. Jika mengirim pesan sekarang kemungkinan dibalas entar malam kalau tidak nanti pagi kemungkinan yang paling menyakitkan dia tidak akan pernah membaca pesan kita karena tertumpuk oleh pesan-pesan lainnya. Dia sangat sibuk ketika hari libur tiba. Saking sibuknya dia tidak sempat membuka HP apa lagi WA kesibukannya melebihi artis kejar tanyang yang ada di TV. Entah untuk membatu ibunya membuat kue pesanan ataupun mengajar anak-anak lesnya. Lain halnya dengan Uni yang selalu online ketika ada internet dan offline ketika tidak ada uang untuk membeli internet.
Saat subuh ibu langsung membangunkanku yang sedang tertidur dengan sangat pulasnya. Mataku masih enggan terbuka tetapi aku paksakan terbuka supaya bisa melaksanaka sholat subuh berjamaah bersama ibu dan kakakku.
Ketika selesai sholat aku bergegas melanjutkan tidurku tetapi dicegah mamaku yang menarik baju dasterku.
"Kamu mau tidur?"
"Iya ma. Tadi malam Ela hanya tertidur 2 jam. Mata Ela ngantuk banget. Boleh ya tidur barang 1 jam aja?" melasku pada mama.
"Yasudah tidurlah," mama langsung melepas baju dasterku kemudian aku menuju kasur nyamanku untuk tidur. Tidak berapa lama aku tertidur.
Tepat pukul 7 mama membangunkanku. Aku bangun dengan mata yang masih setengah terbuka. Aku mengambil anduk yang ada di jemuran. Saat aku ingin memasuki kamar mandi mama menyodorkanku luluran yang kukenakan selama 2 minggu ini.
"Inget mandinya jangan lima menit. Gosok badan kamu pake ini biar semua dakinya keluar," saran mama yang aku angguki lalu aku masuk kedalam kamar mandi.
Di kamar mandi aku lumayan lama karena sehabis luluran aku berendam di dalam ember yang sangat besar yang mamaku beli.
"Mungkin ini yang dirasakan orang kayak ketika berendam," benakku membayangkan.
Saat enak-enaknya berendam sambil memejamkan mata ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi.
"El kamu masih lama? Ini udah satu jam kamu di kamar mandi. Cepat keluar ada panggilan alam abang gak kuat lagi,"
"Ela masih lama bang... kata mama Ela mandinya yang lama,"
"Satu jam udah lama El!! Cepetan abang udah gak kuat!! Kalau kamar mandi sebelah ada WCnya abang udah kesebelah," karena merasa kasian dengan abangku dengan berat hati aku keluar dari bak rendamanku. Ku keringkan tubuhku kemudian aku mengenakan dasterku kembali.
Saatku baru membuka pintu abangku langsung masuk dan mendorongku keluar. Aku tersenyum melihat wajahnya yang sudah memerah karena menahannya.
Rumahku sudah sangat ramai oleh Ibu-ibu Bidadari surga yang ada di grub mamaku. Mereka membantu mamaku membereskan bangku yang akan diduduki dan menyiapkan makanan untuk disantap selesai pernikahan.
Awalnya mamaku dan bapakku tidak setuju memisahkan prempuan dan laki-laki hanya untuk menyantap makanan. Tetapi setelah ku jelaskan dengan sangat lembut dan sopan bahwa laki-laki dan prempuan tidak boleh bercampur baur alhasil mereka luluh dan menerimanya.
Untuk daerah ruang tamu dijadikan tempat makan untuk prempuan. Sedangkan untuk warung mamaku yang telah tutup di jadikan tempat makan untuk laki-laki. Aku juga meminta pada bapak dan mama untuk membuat tirai pemisah di teras rumah.
Ibu menarikku ke kamar dan menyuruhku siap-siap karena mempelai pria akan segera sampai.
Sebelum dihias aku menyempatkan diriku wudhu dan shalat duha dua rakaat. Pasti kalian tau keutamaan sholat dhuha dari (HR. Muslim no. 720). “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at”
Setelah shalat dua rakaat aku baru mengenakan baju rumahku terlebih dahulu baru setelah itu aku mengenakan kebayaku putihku yang kelonggaran ketubuhku yang masih berisi.
Kerja kerasku selama dua minggu menurunkan berat badan sukses walau hanya turun 6 kg tetapi tetap saja bentuk tubuhku sama saja. Tetapi keuntungannya aku merasa jauh lebih sehat.
Bu Kifti perias yang mamaku panggil mulai menghiasku dengan beberapa makeup yang dibawanya. Aku meminta Bu Kifti menghiasku dengan natural karena aku tidak terlalu suka makeup tebal seperti adonan yang menempel diwajahku. Lagipula kecantikanku hanya untuk suamiku bukan untuk yang lain.
Jujur ini ke 3 kalinya aku dihias selama 21 satu tahun hidupku. Pertama saat hari kartinian kelas 3 SD kemudian saat lulusan SMA dan yang ketiga sekarang.
Saat bu Kifti menghiasku terdengar suara berisik dari arah depan rumah. Kemudian mama Gita menghampiri mamaku yang sedang melihatku di dandani.
"Mama Baim (panggilan terkenal untuk mamaku) mempelai prianya sudah datang," katanya setelah mengetuk pintu kamarku.
"Oh iya mama Gita, makasih ya.." kemudian mamaku keluar untuk menghampiri tamu yang ditunggu-tunggu.
Mama Gita masih tetap di depan pintu kamarku memperhatikan diriku yang sedang dihias kemudian dia berkata, "Kamu cantik bangat Ela. Coba kamu sering dandan seperti ini,"
Aku hanya membalas dengan senyuman manis di wajahku.
"Selesai," kata Ibu Kifti membanggakan diri dengan karya seninya.
Memang tidak dipungkiri wajahku terlihat cantik di cermin. Makeup yang natural memang yang terbaik untukku yang tidak pernah dandan.
"Ela kamu sudah siapkan! Ayo ke mesjid! Rafiq sudah menunggumu disana!" kata mama lalu membantuku berdiri.
Sebelum aku menuju mesjid aku mengambil HP yang ada di rak buku. Lalu menuju mesjid At-Taqwa yang ada di dekat rumahku bersama keluargaku dan tetanggaku yang membawa beberapa bingkisan ditangan mereka.
Selama perjalanan aku hanya menunduk. Sampainya didepan mesjid Ibu membawaku duduk ke bagian prempuan yang telah dibatasi dengan laki-laki. Sedangkan Rafiq duduk di depan ustad Zainald dan bapakku.
Aku membuka HP ku dan menyalakan internetku tampak banyak pesan ke WA ku.
"Ela selamat ya."
"Semoga SAMAWA Ela"
"Cepat-cepat bikin ponakan ya,"
"Kok mendadak Ela,"
Dan berbagai pesan lainnya yang masuk termasuk Uni dan Lifi yang membuat grup WA dadakan.
Grub nikah Ela yang dadakan
Uni : "Benaran kamu nikah Ela?"
Uni : "Kok anaknya gak jawab-jawab
sih?"
Lifi : " Namanya juga lagi nikah pasti
gak sempat buka HP Uni,"
Uni : " Iya juga ya,"
"Gima kamu Lifi kaget gak dapat
kabar Ela yang tiba-tiba nikah?"
Lifi : " Kaget juga Uni. Antara percaya
dan gak percaya. Kamu tau
sendirikan si Ela kadang-kadang
suka usil boongin kita?"
Uni : "Iya itu masalahnya. Takutnya
nanti aku kerumahnya, dia
enggak nikah malah lagi tidur,"
Lifi : "Hahaha benar. Biasanya Ela jam
segini masih tidur,"
Saat aku sedang membaca WA kedua sahabatku. Mamaku mengambil HP ku dan menyuruhku mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh pembuka acara pernikahan hari ini. Aku hanya tersenyum membalas tidakan mamaku.
Setelah dikasih beberapa nasehat sebelum pernikahan dari Pak Ustad Zainald di daerah rumahku seperti, "Pahamilah bahwa pasangan hidupmu itu adalah ketetapan Allah Subhanahu Wa Taala.."
"Waja'ala baina litaskunu ilaiha. Allah menciptakan dia supaya menjadi ketenangan bagimu.."
"Kalian berdua mahluk yang berbeda. Perbedaan yang luar biasa mulai dari fisik, mental, bawaan, suku, bahasa. Maka kalian disatukan dengan satu tujuan ingin membina rumah tangga, ingin mencari ketenangan bathin. Yang paling penting adalah ingin melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah.."
"Hari ini kalian sedang menyatukan dua keluarga besar. Pernikahan kalian bukan sekedar kalian berdua yang menikah.Keluarga besar ini disatukan. Hormati keluarga yang besar ini, sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi keluargamu. Jangan sampai ada caci maki sumpah serapah. Tak masuk surga orang yang memutus tali silaturahim. Dipahami bahwa pernikahan adalah menyambung silaturahim keluarga yang besar.."
Dan beberapa pesan lainnya yang sering kudengar beberapa hari ini.
Setelah pak Ustad Zainald memberikan nasihat. Rafiq di persilahkan mengaji ayat suci Al-Qur'an surat Al-Kahfi seperti yang kuminta.
Saat aku mendengar dia mengaji tiba-tiba tubuhku bergetar, air mataku jatuh tanpa seizinku. Ini bukanlah kebiasaanku. Ini seperti buka aku. Aku yang terkenal berhati keras karena setiap menonton film sedih teman-temanku menangis sedangkan aku sedikitpun tidak (kecuali film perjuangan islam aku pasti menangis). Apakah ini karena surat yang kusuka atau karena Rafiq membacanya sangat merdu dan mengena keqolbuku.
Alasanku memilih surat ini karena banyak makna yang aku dapat ketika kita membaca surat ini dari Kekuatan dan keberanian masa Muda, membudayakan infak, sedekah, zakat, wakaf, dll. Kekuatan Ilmu untuk mengenali, meluaskan, dan menerapkan kebenaran di setiap lini kehidupan masyarakat. Penerapan hukum-hukum yang sejalan dengan prinsip Islam, dan ketegasan di dalam menindaki setiap oknum yang bersalah tanpa pandang bulu. Kekuatan Iman berupa fitrah Islam atau aqidah atau tauhid yang menjadi kekuatan mutlak. Bukankah sangat indah.
Mama menyodorkan tisu padaku untuk menghapus air mataku supaya makeup yang kugunakan tidak luntur.
Kupandang ibu-ibu yang menghadiri pernikahanku mereka sama denganku menetekkan air mata juga.
Setelah membaca surat Al-Kahfi acara dimulai dengan ijab qobul.
"Saya nikahkan dan kawinkan anak kandung saya Alula Zahra Misel binti Handan Martis dengan Rafiq Hanim Pramata bin Hamzah Pramata dengan mas kawin sebesar 15 gram dibayar tunai," kata bapakku dengan lantang.
Aku sungguh merasa cemas. Apakah Rafiq akan lancar mengucapkannya atau tidak tapi aku tepis rasa cemas itu ketika mendengar suara lantang dan tengasnya yang bergema di mesjid ini.
"Saya terima dan kawinnya Alula Zahra Misel binti Handan Martis dengan mas kawin sebesar 7 gram dibayar tunai," katanya dengan satu tarikan nafas.
"Sah para hadirin!" seru unstad Zainald.
"Sah!!" seru para hadirin dengan gembira.
Saat itu juga statusku berubah menjadi istri Rafiq Hanim Pramata. Yang awalnya Aku merasa kesal aku ubah rasa kesalku menjadi Hub (cinta). Kuberikan semua cinta dan kasih sayangku semua untunya.
Selesai pak ustad berdoa. Mama dan Ibu Ika membawaku duduk di samping suami tercintaku. Dia menjulurkan punggung tanggannya untuk kusalami. Tanpa rasa malu kuraih tangannya dan kucium punggung tangannya, kuhirup sela-sela jari suamiku yang ternyata tercium wangi maskulinnya.
Sungguh jika ditanya apakah aku pernah memegang tangan laki-laki selain abang dan bapakku, aku tentu menjawab iya. Tapi tujuanku memegang tangan mereka tidak lain dan tidak bukan hsnya untuk menyalami mereka yang sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri. Tapi saat Rafiq menjulurkan tanggannya aku tidak merasa malu sedikitpun untuk menyentuh tangannya yang besar. Buat apa malu lagipula dia mahromku/suami halalku sekarang. Tetapi hal yang mengagetkanki kulit tanggannya terasa sangat halus untuk ukuran seorang laki-laki.
Aku angkat kembali kepalaku dan kupandang wajah tampannya dengan seksama. Seperti yang mamaku bilang Rafiq benar-benar sangat tampan. Aku tidak pernah menyadarinya selama ini.
Kutatap matanya yang saat ini menatapku sangat intens. Aku berikan senyum tipisku di hadapan suami dan para hadirin yang menyaksikan kami.
Ingin sekali kuberikan senyuman manisku untuk suami tercintaku tetapi tidak dapatku lakukan karena disini banyak orang. Aku hanya ingin suamiku dan keluargaku yang melihat senyumanku.
Jika di tanya adat apa yang aku gunakan saat pernikahan? Maka aku menjawab tidak mengunakan adat apapun. Karena baju yang aku maupun Rafiq gunakan bukanlah khas dari daerah kami masing-masing.
Di rumah, aku dan Rafiq bergantian sungkeman pada orang tua kita. Saat sungkeman aku menangis membuat Rafiq mengetawaiku, tanpa sadar aku memasang wajah dinginku padanya membuat dia seketika berhenti tertawa.
Mungkin saat ini aku belum bisa mengontrol mimik wajahku supaya tidak terlihat dingin olehnya. Tapi tadi aku sungguh tidak sengaja memberikan wajah dinginku.
Saat aku sedang menyelonjorkan kakiku yang kesemutan karena terlalu lama duduk bersimpuh saat sungkeman. Mama menyuruhku mengambilkan nasi untuk suamiku karena dia belum makan.
Dengan senang hati aku mengambilkannya. Lagi pula ini termasuk ladang pahala untukku.
Aku mengambilnya lumayan banyak karena tidak tau porsi makannya. Siapa tau dia makannya banyak walaupun badannya kecil seperti Uni.
"Rafiq, kata mama Rafiq belum makan sejak pagi. Ini makan dulu!" kataku lembut sambil menyodorkan nasi yang kupegang.
Rafiq yang sedang memainkan HP nya langsung menengok ke arahku lalu memberikan senyuman mautnya membuat jantungku berdegup kencang.
"Aku mau makan tapi kalo kamu yang suapi," godanya sambil memegang daguku yang lancip. Sentuhannya membuat mukaku memerah yang disadari olehnya.
"Cklik!" suara jepretan foto yang di ambil oleh abangku Ibrahim membuatku mukaku seperti kepiting merah yang sudah matang.
Maaf ya jika ada salah penulisan maupun kata.
Jangan lupa comment dan like ya supa saya semanga menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Terimakasih.