UHIBBUKI

UHIBBUKI
Flashback Begin



Fourty Four


Happy Reading!!!


Pagi ini saat aku menuruni tangga, kulihat Mama dan Rifqi. Mereka sudah ada di meja makan. Dengan semangat aku menghampiri mereka.


"Selamat pagi Ma.." ucapku melebarkan senyum pada Mama. Mama membalas senyumanku dengan senyum hangatnya.


"Selamat pagi, sayang.."


Aku lalu duduk didepan Mama. Kulihat Rifqi yang sedang menyantap sarapan paginya.


"Tumben lo diam. Biasanya banyak cerotehnya.." kataku meledek Rifqi yang terlihat diam sejak tadi.


"Rafiq. Kamu makan dulu sarapanmu.." tegur Mama. Aku lalu menyengir.


Aku menyantap makananku dengan nikmat.


"Ma, Rifqi udah selesai makannya. Rifqi jalan dulu ya.." izinnya pada Mama yang masih menyantap makan paginya.


"Iya, hati-hati di jalan. Belajar yang rajin!" ingat Mama. Rifqi lalu mencium punggung tangan Mama.


Setelah itu dia melirik kearahku. "Mas, Rifqi jalan dulu ya. Assalamualaikum.." ucap Rifqi yang terdengar kaku ditelingaku.


"Walaikumsalam.." jawabku dengan melambaikan tangan kearahnya.


Aku lalu kembali menyantap nasi goreng dipiringku yang masih sisa setengah. Kulirik Mama yang juga masih menyantap nasi gorengnya.


Selesai makan. Aku merebahkan tubuhku di sandaran kursi meja makan. "Ma tadi malam tumben pulangnya lama?" tanyaku memecahkan keheningan sejak tadi.


"Iya, mama sedang ada urusan bisnis.." jawab Mama dengan senyum tipis. Aku membulatkan mulutku mendengarnya.


Keheningan kembali menyeliputi kami. Aku merasa hari ini Mama berbeda. Tidak seperti tidak biasanya yang selalu banyak bicara.


"Apa Mama sedang sakit?" tanyaku memperhatikan wajahnya yang tanpa make up. Pagi ini wajah Mama benar-benar polos tanpa make up. Tidak seperti Mama yang biasanya yang setiap pagi wajahnya sudah dibaluti make up.


"Mama tidak apa-apa.." jawabnya dengan tatapan menuju kearah teh hijau yang sejak tadi di aduknya dengan sendok.


Aku menganggukan kepala paham lalu kembali menyenderkan tubuhku yang tadi sempat mencondong kearah Mama yang ada di sebrang meja makan.


"Rafiq.." ucap Mama pelan. Tatapannya mulai berganti kearahku.


"...Sudah lama kamu tidak bercerita pada Mama. Apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan atau beritahu Mama?" ujar Mama. Aku terdiam mendengarnya lalu dengan wajah yang kubuat sepolos mungkin aku menggeleng pelan kepalaku.


"...Tidak ada Ma, memang kenapa?"


Mata Mama diam sesaat menatapku kemudian matanya kembali menunduk kebawah mendengar perkataanku.


"...Rafiq apa kamu ingin mendengar sebuah kisah.." kata Mama tanpa melihat kearahku. Kuperhatika wajah Mama yang ekspresinya tak kupahami.


"Kisah tentang apa?" tanyaku memperhatikan wajah Mama.


Mama kemudian menaikkan pelan wajahnya lalu menatap kearahku. "Kisah yang berjul 'Menikah karna permainan'" ucap Mama. Sontak aku yang mendengar membulatkan penuh mataku. Kutatap mata Mama yang menyorotkan kekecewaan kearahku.


Aku kembali memasang muka fakeku didepan Mama. "Hahaha keren ya ada judul cerita begitu. Kayak FTV aja.." candaku agar mencairkan suasana yang saat ini sungguh tegang. Tapi sayangnya candaanku tentu tidak mempan pada Mama. Mungkin bisa dibilang sangat garing di dengar.


"..Bagaimana apa kamu ingin mendengarnya?" tanya Mama kembali.


Aku terdiam. Yang ada dibenakku saat ini 'Apa Mama sudah mengetahui yang sebenarnya?' tapi jika Mama benar-benar sudah mengetahui. Beliau pasti enggan untuk berbicara denganku. Tentu saat ini Mama pasti akan mendiamkanku tapi kali ini tidak.


"Memang bagaimana ceritanya Ma? Rafiq jadi pengentau.." kataku dengan sedikit kekehan dan kepo. 'Sungguh bukan sikapku jika seperti ini'


"Kisah ini bercerita tentang 2 insan. Yang dimana saat itu Pria yang sedang ingin mengambil ijazah kelulusannya tak sengaja berada ditempat yang sama dengan wanita yang saat itu sedang makan siang di kantin.." cerita Mama dengan mata masih melekat menatapku.


Saat ini juga dapat diputuskan Mama sudah mengetahui perihal tentangku dan juga Ela.


Flashback On


Di kantin sekolah SMA


Aku kembali datang ke sekolahku. Tempatku menuntut ilmu selama 6 tahun. Tempat menumpuk kenangan masa-masa sekolah yang menyenangkan dengan para sahabat.


"Rifqi, gak papa lo nongkrong disini?" tanyaku pada lelaki disampingku.


"Gak papa lah! Orang guru di kelas gua lagi gak masuk.." jawabnya santai.setelah menelan makanan yang dikunyahnya.


Aku menganggukan kepala. Kuedarkan pandanganku keseliling kantin yang kosong. Seketika pandanganku tertuju pada seseorang yang baru saja datang ke kantin. Seorang prempuan yang pakaiannya layak ibu-ibu gamis dan kerudung besar dan seorang pria yang menggunakan kemeja dan celana hitam.


"Itu orang tu murid.." kataku menunjuk dengan kepalaku kearah sejoli yang baru masuk kantin dan sedang memesan makanan. Tapi setelah memesan mereka bukannya duduk di meja yang sama melainkan di meja yang berbeda.


"yang mana?" tanya Rifqi yang mencari sosok yang tadi ku tunjuk.


Aku memperhatikan Rifqi yang bertanya tapi matanya kearah piring pecel ayam yang dimakannya. "Matamu ke mana? Orangnya duduk disana.." kataku sedikit kesal melihat tingkah gajenya. Dia pun terkekeh lalu melihat kearah orang yang ku tunjuk.


"Oh.. itu!" jawab Rifqi yang sepertinya mengetahui perihal orang tersebut. "Gua gak tau Mas," lanjutnya yang membuatku menoyor kepalanya.


"Gaya lo, gua kira tau!" kataku kesal. Sedang Rifqi mengaduh kesakitan.


Kuarahkan kembali mataku ke orang tersebut yang saat ini sedang menengok kebelakang. Dia diam sejenak kemudian melihat kembali kearah depan.


"Sakit tau Mas, Mas mukulnya kecang bangat. Nanti kepintaran gua berkurang gimana?" kata Rifqi yang masih mempermasalahkan kejadian tadi.


"Lagian si lo, orang nanya serius malah jawabnya begitu.." kataku santai seperti tak bersalah memukul kepalanya.


"Emang kenapa sih Mas, nanya tu orang. Gak kayak biasanya Mas kepo sama orang lain?" kata Rifqi yang kubenarkan. Memang tidak biasanya aku pengen tau orang. Hanya saja wanita didepan itu menarik perhatianku.


"Gua gak tau mereka siapa? Tapi gua dengar-dengar katanya anak kelas satu diajar oleh mahasiswa PPL. Dan salah satu mahasiswa PPL itu memakai pakaian seperti wanita didepan itu.." jelasnya aku hanya ber 'oh' dengan mata masih menatap punggungnya.


Kuarahkan tatapanku kearah Rifqi yang mulai terdiam. "Gua suka sama dia. Ya enggaklah. Kalaupun dia satu-satunya wanita di dunia gua bakal pikir-pikir serubu kali dulu.." jawabku.


"Iya iya. Tau dah yang seleranya selefel sama Kak Via.." ucapnya.


"Oh iya Mas. Kita main yok. Gua bosan nih. Di kelas tadi gua main permainan. Hukumannya buat yang kalah harus nurutin yang menang.." ajak Rifqi. Aku pun mengikutinya, sebagi hitung-hitung mengingat masa sekolah dan menghabiskan waktu senggang.


###


"Yey gua menang.." serunya dengan sorak gembira. Kuperhatikan wajah senangnya dengan kesal.


"Udah cepat ngomong! Lo mau gua ngapain.." kataku kesal melihat ekspresi yang baru saja menang.


"Emmm tunggu gua mikir dulu. Gua mau nyuruh lo sesuatu yang asik.." katanya sok soan memegang dagungnya. "Ahaa..gua tau Mas.."


Rifqi menyuruhku mendekat kearahnya agar dia dapat berbisik. "Gua mau lo pacaran sama cewe itu!" perintahnya menunjuk kearah wanita tadi.


"Lo gila ya. Gua gak mau!" bantahku menjauhkan diri dari Rifqi.


"Maksud gua Mas. Lo cuman harus tembak dia sekarang. Setelah dia jawab 'iya' abis itu lo langsung putusin. Bereskan gitu doang. Masa cemen sih! Gitu doang gak bisa, Mas Rafiq kan terkenal suka membuat para Wanita pata hati. Masa gak bisa dapatin prempuan kayak gitu.." ucapnya yang memanas manasiku. Sebenarnya bisa aja aku tidak menuruti keinginannya. Tapi aku gak bisa terima dia mengatakan aku cemen.


Akupun menginyakan hukuman yang kuterima. Saat melihat kearah tempat duduk wanita tadi. Aku sama sekali tak melihat siapapun disana.


"Kemana orangnya?" tanyaku pada Rifqi yang sudah asik menyeruput jusnya sehabis berceloteh.


"Udah pergi!" jawabnya santai dengan jari telunjuknya menunjuk kearah wanita itu pergi.


"Aishhh.." kataku lalu mengejar kearah yang di tunjuk Rifqi.


"Semangat Mas.." serunya dengan wajah senang.


Aku lalu berlari mengejar kearahnya yang saat ini sedang berjalan ke parkiran. Karna gak tau namanya aku hanya menyebutnya emba.


"Ba!" panggilku pada wanita didepan yang memakai pakaian berwarna ungu.


"Ba!" panggilku kembali dengan menaikkan sedikit oktaf suaraku.


"Itu kuping apa bukan sih. Masa gak dengar gua panggil!" seruku sedikit kesal. Lalu mempercepat lariku dan mendahuluinya kemudian berhenti tepat didepannya.


Aku menarik nafasku perlahan yang ngos-ngosan karna berlari. Setelah stabil kutegakkan tubuhku melihat kearah wajahnya yang ternyata bulat bagaikan bakpau.


"Kok gua panggil gak dengar sih?" tanyaku padanya dengan sedikit ngos-ngosan. Saat ini wanita didepanku menatapku dengan tajam dengan alis naik sebelah.


"Anda manggil saya?" tanyanya kembali membuatku mengerutkan dahi.


"Iya lah gua manggil Ba. Gua kan berhenti didepan embanya.." kataku.


"Besok-besok kalau mau manggil orang yang gak tau namanya sebut warna bajunya, karna emba-emba itu banyak. Bukan saya doang.." ucap Wanita didepanku yang terlihat ketus.


"Jadi ada perlu apa ngejar saya?" tanyanya lalu dia terlihat memperhatikan wajahku.


"Sepertinya dia juga terpesona dengan wajah tampanku!" seruku dalam hati dengan pedenya.


"Bukannya kamu yang tadi di kantin ya!" serunya.


"I Iya Ba. Tadi saya yang di kantin.." jawabku yang merasa malu akan rasa ledeku yang tinggi.


"Jadi ada apa?" tanyanya kembali.


"...Gua.." kataku yang tiba-tiba gugup. Sedang wanita itu terus melihat kearahku dengan mata tajamnya.


"...Gua mau Kakak jadi pacar gua!" seruku dengan tegasnya kearah wanita didepanku.


Wanita iti terlihat diam sesaat, setelah itu dia tertawa. "Hahaha. Jangan bercanda dek! Saya ini jauh lebih tua dari kamu. Kamu itu pantasnya jadi adek saya. Kalaupun kamu lebih tua dari saya. Saya gak ada niatan pacaran, kecuali kamu mau jadi suami saya!" serunya dengan nada santai.


"Ela, maaf ya lama nunggu.." ucap seorang Pria dari arah belakang Wanita didepanku.


Wanita yang didepanku yang ternyata bernama Ela lalu membalikkan tubuhnya melihat kebelakang. "Gak lama kok.." jawabnya dengan wajah yang sudah berubah santai, bagaikan tak terjadi apa-apa.


Pria itu lalu menengok kearahku yang ada di belakang Wanita ini. "Siapa dia?" tanya Pria itu melihat kearah Wanita itu.


"Anak murid sini! Gimana udah legakan. Kita pulang sekarang aja ya.." kata Wanita itu lalu meninggalkan pria itu dan juga aku.


Pria yang tadi bersama wanita itu melirik sekilas kearahku. Kemudian dia pergi menuju kearah tempat parkir motor mengikuti wanita itu.


Dari kejauhan kulihat mereka menggunakan motor yang berbeda. "Kufikir Wanita itu akan di gonceng!" gumamku.


Setelah itu aku kembali lagi ke kantin.


"Gimana Mas?" tanyanya dengan wajah kemenangan.


"Gua gak nemu orangnya!" bohongku. Lalu mengambil alih minumanku yang sudah mencair es batunya.


"Masa sih Mas gak bisa ngejar. Padahal Mas larinya kencang.." gumamnya.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.