UHIBBUKI

UHIBBUKI
Become Mother



Happy reading!!!


"Setelah memperbaikinya kamu bisa mulai penelitianmu!" seru pak Ali membuatku senang.


"Terima kasih pak.." aku mengembangkan senyum.


"Akhirnya penelitian juga setelah beberapa kali revisi RPP, lembar observasi, maupun penilaian," sorakku gembira dalam hati.


Saat ingin berpamitan, mataku tertuju pada pak Ali yang saat sedang memperhatikan bocah yang sedang bermain dengan pesawatnya disampingku.


"Bunda.. aku lapar!" serunya dengan nada imut.


Azril menarik pelan kerudungku. Dia menampilkan ekspresi yang sungguh menggemaskan.


Kulirik pak Ali yang saat ini bibirnya sedang membentuk "o" kecil sambil menganggukan kepalanya.


Tentu saja saat ini beliau pasti berfikir anak gembul berpipi cabi disamping ku adalah anakku karna muka kami yang sama bulatnya.


"Ayo Azril salim dulu sama pak Dosennya," kataku menuntunnya mendekati pak Ali yang saat ini menyambutnya dengan senyuman yang jarang beliau berikan pada mahasiswanya.


"Much," keluar suara dari bibir Azril saat mencium tangan pak Ali.


"Berapa umur anakmu Ela?" tanya pak Ali yang saat ini menatapku lalu mengalihkan pandangannya kembali kearah Azril lalu memegang pipinya yang tumpah.


"..empat tahun pak," jawabku gugup.


"Nah kan benar! Beliau nganggap Azril anakku. Ni juga bocah udah disuruh manggilnya kakak masihh.. aja tetap bunda. Ya.. mau bagaimana lagi sudah kebiasaan saat di pengajian memanggilku bunda," kata0ku dalam hati.


Setelah pamit kedua kalinya aku keluar bersama Azril. Aku langkahkan kakiku bersama bocah ini menuju warung untuk membeli biskuit.


Di rumah Azril


Kupandangi bocah lucu disampingku yang sedang memeluk guling yang tingginya melebihi tubuhnya.


Hari ini aku menginap di rumahnya karna orang tuanya yang sedang dinas keluar kota.


Terlihat pesan masuk saat aku sedang memegang Hp ku. Ku buka pesan tersebut yang ternyata dari nomor yang tidak ku kenal.


No name: Assalamualaikum Ela!


Ini aku Riyan.


Aku dengar dari pak Ali,


katanya beliau sudah memberi


izin kamu penelitian.


Bagaimana kalau besok kita ke


Assalam? Untuk izin penelitian


dan juga menentukan harinya!


Aku: Walaikumsalam.


Iya Ryan tadi pak Ali sudah


mengizinkan aku penelitian.


Boleh kok. Tapi habis dzuhur ya


kita ketemuan disana. Soalnya


besok aku kuliah.


Ryan: Iya sampai ketemu besok ya!


Kuanggkat tubuhku yang berbaring. Dengan berat kulangkahkan kaki menuju tasku yang saat ini berada di meja belajar Azril yang kecil.


Kuraih laptopku yang sudah sengaja kubawa untuk merevisi coretan yang pak Ali berikan saat bimbingan tadi.


Tidak butuh lama bagiku untuk memperbaikinya. Setelah cukup puas membaca ulang ketikanku, aku mematikan laptop lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mengambil air wudhu sebelum tidur.


Pagi harinya aku di bangunkan oleh Azril untuk sholat subuh. Tampaknya dia bangun karna mendengar alaram yang kunyalakan. Setelah mematikan alaram di HPku bergegas aku mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat subuh bersama Azril yang saat ini terlihat mengantuk-ngantuk.


Sebelum berangkat ke kampus aku terlebih dahulu kembali ke rumah untuk menaruh baju kotor.


Tidak lain dan tidak bukan karna aku membawa bocah gembul ini di gendonganku.


Dia meminta gendong karna cape jalan. Mau tidak mau aku menggendongnya.


Di kampus


"Cieee new mother!" goda Uni saat aku baru memasuki kelas.


Semua perhatian tertuju pada anak yang saat ini kupegang tangannya.


"Anak siapa Ela?" tanya Asipah. Dia menghampiriku lalu membongkok melihat Azril yang pipinya sungguh menggoda.


"Bunda.." Azril ngumpet kebelakangku ketika Asipah ingin menyentuh pipinya.


"Azril sayang, ayo salim sama tante Asipah!" bujukku sambil membawanya kedepan mendekati Asipah.


"Ela ini benar anak kamu?"


"Kapan kamu lahiran?"


"Bukannya baru nikah ya 3 bulan yang lalu?"


"Gemas bangat pipinya, kayak kue cubit! Jadi pengen cubit deh,"


Teman-temanku saat ini langsung menyerbuku. Membuat Azril ketakutan dan langsung memeluk pahaku dengan sangat erat.


Kuperhatikan satu persatu teman didepanku yang terlihat sangan kepo ini.


Kulirik Uni lalu kuberikan wajah memelas. Agar dia segera menolongku.


"Eyyyy.. kasihan tuh bocah ketakutan kalian kerubungin," Uni menyuruh mereka memberi jalan padaku dan Azril agar bisa lewat kemudian dia menjelaskan siapa Azril sebenarnya pada mereka.


Saptu kemari saat mengaji. Aku membawa serta Azril. Dia awalnya juga gak percaya karna keakrabanku dengan bocah ini. Sampai akhirnya dia percaya setelah tanya langsung sama bocahnya.


Setelah paham mereka melambaikan tangan pada Azril yang dibalas oleh Azril dengan senyum mautnya yang meluluhkan.


"Ahhhhh.. manisnya!!" kata mereka berbarengan. Sedang anak disampingku ini malah focus kembali dengan mainan mobilan mininya yang tadi kubawa.


"Azril kakak mau ke kamar mandi dulu ya! Kamu sama Amma (tante) Lifi dulu ya," aku buru-buru meninggalkan kelas menuju kamar mandi.


"Ahhh leganya!" seruku pelan saat keluar kamar mandi. "Tumben bangat kamar mandi yang ada di dekat perpus rame padahal biasanya sepi," gumamku kembali.


Saat membuka pintu kelas aku di kagetkan oleh teman sekelas yang saat ini sedang melihat kearahku. Termasuk pak Syahrul yang duduk diantara deretan mahasiswi.


"Misi pak!" seruku sambil membungkukkan sedikit badan saat melewatinya.


"Uni kok tumben pak Syahrul duduk di sana biasanya beliau duduk dibangkunya.." saat melihat siapa yang duduk di bangku dosen aku langsung terdiam.


Dengan tenangnya bocah gembul ini duduk di bangku dosen sambil bermain Dengan mobil-mobilanya yang ada di meja.


Langsung kuhampiri dia dan mengendongnya kearah bangkuku kembali lalu kududukkan ke bangku kosong yang ada disampingku.


"Maaf pak!!" kataku malu. Teman-teman menahan tawa karna melihat tingkah polos Azril sedang pak Syarul tanpa ekspresi.


Setelah memberi tugas pak Syakrul keluar kelas karna jamnya sudah habis.


"Hahaha salut aku sama nih bocah," tawa Lifi seketika lepas ketika pak Syahrul keluar kelas.


"Benar ya rupanya. Kalau anak kecil apa yang pengen diungkapin langsung di katakan," tambah Uni yang tidak kalah dengan tawa Lifi.


"Benar-benar dengan polosnya ni anak ngomong, "Bunda.. bunda. Kok omnya nyeremin. Gak pernah senyum,"" kata Uni meniru perkataan Azril tadi.


"Paling lucunya pak Syahrul tiba-tiba langsung senyum terus nih anak malang ngomong, "Bunda om nya kalau senyum nyeremin. Azril takut!" kata Lifi yang juga menirukan Azril.


Sedangkan anak yang sedang di bahas malah asik memakan malkis.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Terimakasih.