UHIBBUKI

UHIBBUKI
Title



Happy reading!!!



Ini sudah sebulan sejak Rafiq pergi. Tidak ada kabar sama sekali, boro-boro memberi kabar untuk membalas pesanku saja dia tidak.



Dari luar aku terlihat seperti biasa dengan sikap iseng dan kekananakan jika bertemu dengan kedua sahabatku dan orang tuaku. Tetapi jika aku sendiri aku akan menangis sambil berdoa agar Rafiq memaafkanku dan mulai membangun rumah tangga yang baru.



Entah mengapa untuk saat ini aku ingin melupakan tentang kesedikanku sejenak karena sekarang ada yang lebih harus aku fikirkan untuk kelangsungan kuliahku yang hanya tinggal setahun lagi karena aku ingin lulus tepat waktu.



Aku memandang selembar kertas yang kugenggam. Kepalaku mumet melihat kertas ini. Rasa ragu Yang kurasakan saat ini Meraja lela menguasai pikiranku. Apakah Aku harus menulisnya atau tidak? Jika aku menulisnya aku takut di tolak, kalau tidak menulisnya...



"Ahhhh palaku pusing," gerutuku pelan Sambil memegang kepalaku dengan tangan kiri sedang tangan kanan memegang selembar kertas yang bagaikan sumber kemumetanku.



"Kenapa El? Mukamu kusut bangat. Kayak baju belum disetrika!" ledek Lifi padaku yang baru memasuki kelas. Dia melihat ke teman lainnya yang ternyata wajahnua kusut sepertiku.



"Kok Lifi nanya? Bukannya Kamu juga tau kalau hari ini, hari terakhir kita harus mengajukan judul skripsi!" jawabku lesu yang di tanggapinya dengan wajah santai.



"Oh ya! Tapi... Aku udah mengajukannya kemarin," jawabnya santai seperti bersantai di pinggir pantai dengan payung yang setia melindunginya dari terik matahari.



"Kamu jahat ngajuin judul enggak ajak-ajak saya," terlihat wajah Uni sedih yang dibuat-buat ke arahku maupun Lifi.



Lifi yang mendengarnya terlihat sedikit kesal. "Situ yang ngajak saya, saya yang di bilang jahat pintar ya! Yang ngajarin siapa?" kata Lifi membela diri.



"Maaf Broo cuman bercanda," Uni menunjukan jari telunjuk dan tengah kearah Lifi yang kesal dengan cengiran sedang aku hanya memandang kedua sahabatku dengan tatapan bingung.



Lifi yang melihatku bingung lalu menjelaskan denganku perihal tersebut.



"Jadi gini El.  Kemarin Uni minta temenin ngajuin judul. Saya sebagai teman yang baik menemaninya dengan senang hati. Tetapi sesampainya disana Pak Syahrul menyuruh saya mengajukan judul juga. Untung saja saya sudah mencari beberapa judul yang menarik perhatian saya. Alhasil judul yang saya ajuin diterima," jelas Lifi panjang lebar.



Sekarang aku melirik kearah Uni dengan tatapan santai karena memang itu haknya untuk mengajukan judul. Jadi untuk apa aku baper. Lagi pula aku malah bahagia melihatnya sudah mengajukannya.



"Maaf ya El. Aku kira Pak Syahrul enggak akan menerima judul saya, ternyata beliau langsung menerimanya. Saya aja kaget!" jelas Uni karena merasa tidak enak denganku.



"Iya gak papa. Santai aja!" kuberikan senyum tipis kearahnya. "Sebenarnya aku sudah menemukan beberapa judul, tapi aku ragu dengan judul tersebut," ku perlihatkan wajah bimbangku.



"Mending kamu jangan ragu!" seru Uni. "Awalnya aku juga ragu! Ternyata yang aku ragukan itu malah yang diterima," sarannya.



"Bener El! Yang penting kamu percaya diri menjelaskan alasanmu memilih judul tersebut," tambah Lifi.



"Iya contohnya kayak saya percaya diri!" kata Uni bangga sambil mengangkat kedua alisnya berbarengan dengan tangan dikedua pinggangnya.



"Iya in aja El! Biar Uni senang," kata Lifi mengangkat sebelah alisnya.



Aku merasa bernyukur mempunyai sahabat seperti mereka yang setia membantu di kala susah maupun senang.



Setelah pulang kampus aku mendatangi ruangan prodi yang telah berkumpul mahasiswa dengan tujuan yang sama. Yang tidak lain dan tidak bukan mengajukan judul skripsi pada pak Syahrul yang merupakan ketua prodi jurusan Bahasa Inggris.




Saat ditanya alasan memilih judul itu. Aku menjelaskan beberapa alasan dengan sangat percaya diri. Membuat Pak Syahrul yang termaksud Dosen killer menerima judul itu.



Pak Syahrul sebenarnya dosen yang humoris dan gaul tapi di lain suasana. Sedangkan saat sidang maupun belajar beliau sangatlah serius.



Setelah keluar ruangan Uni dan Lifi melihat wajahku yang lesu. Mereka khawatir jangan-jangan judul skripsiku di tolak. Tapi tidak berapa lama mengembang senyum di wajahku sambil menunjukan kertas yang sudah ditandatangani oleh Pak Syahrul.



"Tuh kan... Pasti di terima sama pak Syahrul!" seru Uni dengan pede.



"Alhamdulillah," kata Lifi dengan senyum mengembang sedang aku memandang medua sahabatku dengan bahagia.



"Terus kalian sudah tau siapa dosen pembimbing kalian?" tanyaku penasaran memandang wajah mereka berdua.



"Kalau aku Pak Sayahrul," jawab Lifi. Lalu aku memalingkan wajahku ke arah Uni meminta jawaban.



"Kalau aku..." Uni memotong perkataannya. Dia terlihat sedih membuatku bingung.



"Alahh Uni akting mulu kamu," celetuk Lifi. "Dia juga Pak Sayhrul kayak aku," jawab Lifi menggantikan Uni yang saat ini sudah terlihat nyengir.



"Dia lagi belajar acting biar keterima di youtobe usroh fordasi yang berisi film-film muslim," jelas Lifi yang di angguki Uni.



"Benar!! Wah keren benar kamu Uni!" seruku bahagia mendengar perkataan Lifi.



Mereka tertawa entah mengapa membuatku bingung. Aku mengerutkan dahi melihat kedua sahabatku yang kompak ini entah dalam hal tempat PPL yang sama maupun dosen pembimbing yang sama.



"Kamu percaya aja Ela perkataan Lifi. Ya kali aja aku acting! Nahan ketawa aja gak bisa kalau liah yang lucu,"



Aku memandang mereka dengan tajam Membuat mereka cengar-cengir kearahku.




############################################################



Maaf ya jika banyak typo...



Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.



Dan tinggalkan tanda hati.



Terimakasih.