UHIBBUKI

UHIBBUKI
SEMPROP



Happy reading!!!



Tidak terasa sudah 2 bulan berlalu dan waktu liburanpun tiba. Mahasiswa menyambut liburan dengan hangout bersama teman, mudik atau berdiam diri di rumah.



Seperti aku yang saat ini berdiam diri di rumah sambil berkutik dengan laptop. Tangan masih setia menari sejak 3 jam yang lalu. Jika dilihat kamarku saat ini seperti tempat daur ulang kertas karena lembaran kertas yang tercecer dimana-mana.



Kucolokkan flesdish kedalam laptop lalu memindahkan data yang kukerjakan kedalam flesh dish.



"Ahhhhh akhirnya selesai juga!" seruku setelah memindahkan datanya dengan sukses.



Kurilekkan tangan, kaki, dan tubuh. Kukerjapkan mataku yang sedari tadi menatap layar leptop.



"Benar-benar pak Ali! Gak tanggung-tanggung coretannya," kuraih kertas yang berceceran satu persatu sambil melihat coretan berbentuk silang maupun horizontal.



"Tapi gak papa akhirnya setelah 2 bulan mengerjakan bab 1 sampai 3 selesai juga," senyum bahagia menghiasi wajah bulatku.



Waktu sudah menunjukan jam 12 malam. Segera aku membersihkan diri lalu tidur.



Besok pagi aku berniat bimbingan sekaligus meminta tandatangan persetujuan seminar proposal. Itu sihh... kalau pak Ali mau tandatangan? Kalau tidak... aku akan menunda kembali seminarnya.



Jika pak Ali menanda tangan surat persetujuan tersebut. Aku berniat akan langsung daftar seminar hari itu juga.



***###***



Lembaran kertas telah tersusun rapi di tanganku. Rasa khawatir akan penolakan pak Ali karena ketika bimbingan kemarin aku masih banyak kesalahan akan kosakata, theori dan footnote.



Kutepiskan rasa khawatir tersebut dan kulangkahkan kakiku keruangan pak Ali yang satu ruangan dengan pak syahrul yang merupakan ketua prodi sedang pak Ali menjabat sebagai sekretaris prodi.



Disana pak Ali sedang duduk sambil membaca buku yang tidak aku ketahui. Sebelum masuk aku mengucapkan salam terlebih dahulu yang di jawabnya. Beliau lalu menutup buku yang dibacanya.



Kuletakan tumpukan kertas yang kupegang keatas meja yang diambil oleh beliau.



Tinta merah mulai tergambar di kertas putih bertinta hitam tersebut. Saat ini beliau terlihat focus saat mengoreksi proposalku. Sesekali dia mengatakan kesalahanku.



Setelah mengoreksinya beliau memberikan kembali tumpukan kertas tersebut yang sudah di penuhi coretannya padaku.



"Kertasnya!"



"Kertas apa pak?"



"Kertas persetujuan semprop! Bukannya kamu mau minta tanda tangan saya kan?"



Aku paham yang beliau katakan barusan tapi karena ingin memastikan aku kembali bertanya, "Memangnya boleh pak? Saya kan masih banyak yang salah!"



"Tidak apa-apa! Setidaknya sekarang jauh lebih baik dari pada saat kamu bimbingan pertama kali! Jadi sudah kamu siapkan kertasnya?"



"Sudah pak!" ku ambil 2 lembar kertas dari dalam tasku lalu memberikan pada beliau.



Rasa syukur dan senang kurasakan. Allah mengabulkan doaku agar dipermudah dalam hal bimbingan.



Setelah itu aku izin pamit dari ruangan beliau. Biasanya kalau sama dosen prempuan aku akan mencium punggung tangannya tapi karena pak Ali laki-laki aku hanya menempelkan kedua telapak tanganku.



Kulirikkan mataku kesebelah menangkap sosok seseorang yang awalnya tadi tidak ada. Tanpa kusadari ternyata pak Sayahrul yang awalnya tidak ada di ruangan sekarang sudah duduk sambil memegang HP ditangannya.



Sebenarnya ingin langsung keluar ruangan ini tanpa salim pada pak Syahrul. Tapi kupaksakan kaki ini melangkah ke arahnya.



"Permisi pak!" beliau mengalihkan pandangannya dari layar HP nya kearahku. Lalu kutempelkan kedua telapak tanganku mengarah pada pak Syahrul yang lalu di balas olehnya.



Pak sayahrul merupakan ketua prodi. Dia dosen muda berumur 31 tahun dan terpenting masih single. Beliau merupakan incaran mahasiswi yang masih JOMBLO. Setiap mahasiswi ingin sekali di bimbing skripsi olehnya. Tetapi ketika mereka mendapat pembimbingnya beliau, kelarlah hidup mereka yang niat awalnya hanya untuk pedekate dengan beliau.



Pak Syahtul merupakan dosen yang terkenal kiler layaknya pak Ali, bisa dibilang sebelas dua belaslah bedanya.



Sedangkan pembimbingku sendiri pak Ali, merupakan sekretaris prodi berumur 50 tahun dan tentu sudah menikah.



Keluar ruangan aku bertemu dengan Nova teman satu bimbingan dan juga teman sekelasku.



"Ela kamu bimbingan lama bener?" sahutnya pelan karena kita masih di ruang prodi.



"Bukannya biasa, bimbingan sampai setengah jam di ruangan pak Ali.."



"Kamu tuh didalam udah satu jam!" serunya sambil melirik ke arah jam yang mengantung di ruangan itu



Aku kaget! Kufikir hanya setengah jam ternyata sudah satu jam aku di ruangan pak Ali. Aku hanya tersenyum pada Nova yang terlihat cemberut.



"Maaf ya namanya juga bimbingan. Aku kan gak bisa bilang cepetan buat ngoreksi kertasku," kataku lembut.



Terlihat Nova tersenyum kemudian berkata, "Gimana pak Ali moodnya lagi bagus apa enggak?"



"Lagi bagus! Sepertinya? Soalnya aku yang masih banyak salah saja, beliau mau menandatangani kertas ini," kutunjukan kertas yang di tandatangani pak Ali.



Nova terlihat kaget. Karna tidak biasanya pak Ali gampang diminta tandatangan, apa lagi soal tandatangan persetujuan proposal.



"Kok bisa? Kemarin aku minta tandatangan beliau. Tapi beliau tidak mau," katanya tidak terima. Dia masih mengatakan dengan suara pelan yang merupakan khasnya.




Setelah bercakap-cakap yang cukup lama. Nova lalu masuk kedalam ruangan pak Ali sedang aku menuju perpus untuk memperbaiki proposalku. Setelah itu, aku mengeprintnya kemudian mengopinya menjadi dua rangkap. Setelah selesai aku mendaftar ke kasir untuk mengikuti seminar proposal.



Untuk mengikuti seminar tidaklah gratis tetapi bayar sekitar tiga ratus lima puluh ribu. Namanya juga kampus, semua serba bayar. Tentu aku sudah menyiapkannya dengan menyisihkannya dari uang gajianku.



Setelah itu baru aku pulang sehabis sholat asar.



Sampai di rumah aku melihat bu Retno sedang duduk menjaga kedua anaknya yang sedang bermain.



"Assalamualaikum bu,"



"Walaikumsalam ba Ela,"



Aku menghampiri mereka yang sedang duduk diteras.



"Riki! Nia! Lagi bikin apa?" sahutku ramah mendekati mereka yang sedang bermain balok.



"Lagi bikin rumah Amma (Tante)," sahut mereka berbarengan.



Mereka adalah anak bu Retno. Si sulung bernama Riki usianya delapan tahun. Sedangkan si bungsu bernama Nia yang saat ini berusia lima tahun. Mereka kakak adik yang akrab.



"Kamu tidak mengajar hari ini?" tanya bu Retno. Aku lalu melihat kearah bu Retno kemudian duduk disampingnya.



"Tidak bu. Tadi izin ke kampus,"



"Oh iya! Ibu mau tanya! Bagaimana mengajar disana menyenangkan bukan?"



"Menyenangkan Bu! Guru yang ada disana ramah. Tapi.." aku memutus perkataanku berfikir.



"Tapi kenapa!"



"...aku tidak pernah sekalipun melihat orang tua menjemput anak-anak, pembantu ataupun baby sisternya yang selalu menjemput.." kataku menatap mata bu Retno yang mendengar ceritaku dengan seksama.



"Yang tidak pernah terlupakan olehku adalah saat pertama kali mengajar. Aku melihat seorang anak meminjam penggaris pada teman sebelahnya, tetapi anak yang dipinjam tidak mau meminjamkan penggarisnya. Saatku tanya mengapa tidak mau meminjamkan penggarisnya dia menjawab, "Mamaku saja tidak mau meminjamkan leptopnya pada ayah, kenapa aku harus meminjamkan penggarisku padanya?" sontak itu membuatku kaget. Lalu aku memberikan pengertian padanya alhasil dia akhirnya mau meminjamkannya," kulihat bu Retno yang hanya terdiam mendengar ceritaku terlihat raut wajah sedihnya.



"Itulah yang sampai sekarang menjadi topik permasalahan. Di tempat mengaji kita sudah mendidik dan memberi contoh baik pada anak. Tapi pas sampai rumah dia mendapat contoh sebaliknya. Tentu kita yang hanya bertemu dengannya sebentar hanya akan masuk beberapa persen sisanya dia akan mencontoh tidakan orang di rumahnya entah itu ibu, bapak, pembantu, pengasuh dan lainnya. Jadi kamu sudah pahamkan maksud perkataan ibu saat itu!"



"Iya bu aku paham!" sahutku mengingat kejadian dua bulan yang lalu.



"Terus tindakan apa yang kamu lakukan?" tanya Bu Ratno yang terlihat penasaran.



"Aku selalu memberikan pengertian pada mereka dan memberikan contoh perbuatan yang sebaiknya ditiru. Aku berfikir jika mereka mengulang-ngulang perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan. Walaupun ada anak yang tidak mau mendengarkan,"



Tentu masih saja ada anak yang tidak mendengarkan. Tetapi aku akan tetap berusaha. Bukankah itu termasuk amal jariyahku jika bisa memberi contoh yang baik, hitung-hitung berlatih mengenal psikolog anak.



Setelah bercerita dan mendapat nasihat, tentang bagaimana cara mengetahui characteristik anak dari bu Retno. Aku berterima kasih lalu kami masuk ke rumah masing-masing karena sebentar lagi akan masuk waktu magrib.



Rasa tidak sabar kurasakan saat ingin mengandung dan membesarkan anak. Aku tau itu tidak mudah dan butuh perjuangan. Tapi disitulah sisi pahalah terbesarnya jika kita bisa membesarkan anak yang sholeh dan sholeha.




"Tapi... Bagaimana bisa hamil. Sedangkan Rafiq saja masih tetap mengabaikanku. Bagaimana bisa aku menyentuhnya. Saat melihatku saja, dia sudah terlihat jijik," gumamku pelan dengan raut wajah yang sedih.



"Ela! Saat ini kamu fikirkan yang didepan mata terlebih dahulu. Semprop tinggal tiga hari lagi, kamu harus belajar dengan giat supaya mengerti dan dapat menjawab pertanyaan yang nanti di ajukan oleh teman maupun dosen. Semangat Ela!" kataku mengalihkan fikiran dan menyemangati diri sendiri.



***###***



Tak terasa waktu berperangpun tiba. Dengan semangat empat lima aku menjelaskan proposal yang kubuat dengan baik dan benar. Beberapa teman, adek tingkat dan dosen penguji mengajukan beberapa pertanyaan yang kubisa jawab dengan lancar.



Saat ini ruangan seminarku sangatlah penuh. Tidak seperti hari kemarin ketika Lifi dan Uni seminar. Aku taulah tujuan utama mereka tidak lain dan tidak bukan hanya untuk melihat dosen ganteng yang saat ini sedang menguji proposalku.



Pertanyaan yang beliau berikan padaku lebih banyak dua kali lipat dari pertanyaan dosen penguji disebelanya yang bernama Bu Lina.



Terlihat pak Syahrul terpuaskan akan jawaban yang kuberikan. Setidaknya aku berterimakasih pada pak Ali yang sering bertanya tentang tulisanku.



Selesai seminar aku langsung pulang karena rasa lelah dan kantuk yang kutahan sejak kemarin.





############################################################



Maaf ya jika banyak typo...



Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.



Dan tinggalkan tanda hati.



Terimakasih.