
Happy reading!!!
Sekolah Assalam
"Anaknya pules bangat neng!" sapa bapak sapam saat aku melewati pagar.
"Iya pak.." balasku dengan cengiran.
"Drap drap drap," Anak-anak berseragam sekolah berhamburan dari kelasnya.
Kulangkahkan kakiku menuju tempat yang saat ini di tuju oleh anak-anak berseragam itu.
Tampaklah bangunan besar bernuansa hijau tua dengan kubah besar diatasnya. Tempat itu berhalaman luas di sisi kanan maupun kirinya yang berisi laki-laki maupun prempuan. Terdapat juga rumput-rumput halus dan injak-injakan batu di lapangan mesjid.
Terdengar suara panggilan dari speaker mesjid membuat anak-anak yang awalnya jalan santai buru-buru berlari menuju tempat wudhu maupun kamar mandi.
Pelan-pelan aku duduk di halaman mesjis bagian prempuan. Kupandangi bocah yang masih tertidur nyenyak dalam dekapanku. Kuseka keringatnya yang bercucuran di dahi maupun lehernya yang berlipat dengan tisu kering yang kuambil dari tas.
Ela: Assalamualaikum Ryan.
Kamu dimana?
Aku udah sampai disekolah!
Sekarang aku lagi di mesjid nunggu
sholat dzuhur.
Terlihat ceklis dua saat pesan terkirim. Kutaruh kembali HP ku kedalam tas lalu kuselonjorkan kakiku sambil sesekali tanganku mengibas-ngibas tangan agar keluar angin untuk membuat anak sedikit lebih sejuk.
Sejak didalam busway Azril sudah tertidur di pelukanku. Badannya yang gembul sungguh membuat tanganku pegal.
Perjalanan untukku sampai ke sekolah ini tidak butuh waktu lama. Hanya memerlukan waktu satu jam karna tidak macet. Sekolah ini juga tidak jauh dari rumah.
Usai suara panggilan, terdengar kembali suara anak-anak laki-laki bersholawat. Sholawatnya terdengar menyejukan hati bersamaan dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang mulai terasa.
Seorang anak kecil bermukena putih berumbai-rumbai berlari menuju kearahku lalu dia berhenti melihat kearah anak yang kupeluk.
"Adeknya lucu bangat tante!" seru anak itu yang sepertinya masih SD
"Makasih," senyumku pada gadis lucu didepanku.
"Tante adeknya tidur pulas bener!" tangan mungilnya memegang pipi Azril yang sedikit memerah.
"Iya.."
Anak itu menengok kearah mesjid lalu kembali melihatku. "Tante aku sholat dulu ya. Dadah dedek lucu," anak itu pergi dengan berlari kecil meninggalkanku setelah mendengar suara komat dari dalam mesjid.
Begitu juga anak-anak yang baru selesai berwudhu lari terburu-buru ketika mendengarnya.
Sekolah ini selalu membiasakan muridnya sholat berjamaah saat dzuhur maupun asar. 15 sebelum masuk waktu sholat semua murid dari SD sampai SMA akan diarahkan oleh guru mereka untuk pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Beberapa guru juga memeriksa kelas, toilet maupun kantin supaya tidak ada yang bolos sholat berjamaah.
Suara larian terdengar dari dalam mesjid menuju luar mesjid setelah doa selesai. Aku hanya mengembangkan senyum melihat anak SD ini berlari-lari di halaman mesjid usai selesai sholat.
Terdengar suara nada dering dari HP.
"..."
"Aku di halaman mesjid bagian prempuan,"
"..."
"Aku belum sholat Ryan,"
"..."
"Ryang kamu dimana?"
"..."
"Kamu tunggu disitu ya! Aku kesana!"
Aku langsung mematikan HP lalu membenarkan gendonganku pada Azril yang saat ini tubuhnya kubuat menopang pada dadaku. Tangan kiriku memegang tas dan menahan gendongan sedangkan tangan kananku menahan punggung dan kepalanya.
Mataku mengedar ke halaman mesjid bagian laki-laki. Anak-anak SMA masih banyak yang baru keluar dari dalam mesjid membuatku susah melihat orang yang kucari. Sampai akhirnya mataku menemukan sosok itu.
"Ryan!" panggilku dengar suara pelan saat sudah mendekatinya.
Segera kuserahkan Azril kepulukannya yang langsung diterima olehnya dengan wajah bingung.
"Tolong jagain ya! Aku kebelat dari tadi terus juga mau sholat," pintaku lalu meninggalkannya yang masih terdiam.
Tergesa-gesa aku berlari menuju kamar mandi yang mulai sepi.
Keluar kamar mandi aku merilekskan otot-otot tanganku yang tadi sangat kaku. Setelah itu aku berwudhu lalu sholat kedalam mesjid. Selesai sholat aku berbaring di lantai mesjid yang di lapisi karpet merah.
"Aaaaaa.... Bunda.. Bunda.." indra pendengaranku menangkap suara tangisan. Aku segera berdiri lalu merapikan kembali mukena ketempat semula kemudian berjalan terburu-buru menuju sumber suara.
Segera dia menghampiriku lalu mengalihkan gendongannya padaku. Lalu si anak langsung diam dalam seketika.
"Maaf ya," cenyengirku.
"Iya gak papa! Cuman malu aja diliatin sama tuh anak-anak," katanya menunjuk dengan arahan kepala pada sekumpulan anak SD, SMP maupun SMA yang memperhatikan kami saat ini.
"Namanya mereka punya mata ya ngeliatin lah," candaku. Ryan lalu memberikan ekpresi datar padaku dengan mata yang tajam.
"Sory bercanda," kataku kembali dengan cengiran.
Kulihat Azril yang masih terisak di pelukanku.
"Anak Bunda kan jagoan. Kok nangis sih," kuhapus tetesan air mata dari pipinya
"Azril mau pipis.." jawabnya dengan isakan.
"Ehh.. sabar ya! Tahan dulu.." aku segera berlari menuju kamar mandi.
Sampai kamar mandi aku segera melepas celanya dengan cepat.
Untung saja Azril masih bisa tahan kalau enggak roman-romannya aku bakalan ganti baju.
########
"Maaf ya lama! Tadi sekalian sholat dulu," Ryan mengalihkan pandangannya dari HP kearahku.
"Bukannya kamu udah sholat?"
"Iya udah,"
"Terus siapa yang sholat lagi?"
"Ini!" tunjukku pada Azril yang berdiri dibelakangku.
"Ohhh. Anakmu!" serunya datar lalu melihat kerah HP nya kembali.
"Bunda Azril lapar!" katanya sambil menarik ujung kerudungku yang menjuntai kebawah.
Ryan mematika memasukan HP nya kedalam saku kemudian berdiri mengambil tasnya dan juga tasku. "Ayo makan! Baru ketemu sama Bu Anna (guru bahasa inggris SMA)," ajak Ryan yang kuangguki.
Sampainya di kantin SMA. Terlihat tempat sangat penuh. Sampai akhirnya Ryan menunjuk bangku meja kosong di pojok kantin.
"Meja ini biasanya selalu sepi. Sedikit yang duduk di meja ini karna jauh dari tempat makanan maupun minuman," jelasnya. Aku mengangukan kepala tanda paham.
"Terus kalian mau makan apa?" tanyanya melihat kearahku maupun Azril yang duduk di sampingku.
"Makan ayam penyet sama kremes aja," jawabku. "Azril makan ayam kremes ya!" kualihkan padanganku ke arah Azril yang diangguki olehnya.
"Iya itu aja," kataku pasti.
"Tunggu ya," Ryan lalu pergi kearah penjual yang tempatnya lumayan jauh dari tempat duduk kami.
Sekitar 20 menit menunggu akhirnya Ryan datang membawa pesananku, azril dan makanannya. Dibantu seorang mas-mas yang membawa 2 gelas jus jeruk dan satu piring yang berisi ayam penyet.
Sebelum makan aku membatu Azril berdoa terlebih dahulu. Selesai berdia Azril memakan lahap begitu juga denganku.
Azril makan sendiri menggunakan tangannya yang tadi di cuci di keran yang ada di dekat kami.
Kusuirkan ayam keatas piringnya agar Azril lebih mudah memakannya. Sesekali ku lap mulutnya yang belepotan dengan nasi.
Piringku dan Ryang mengkilat kecuali piring Azril dan sekitarnya yang berserakan dengan nasi. Kutaruh nasi yang berceceran kembali kedalam piring lalu sisanya kuberikan pada kucing yang sudah lewat meja kami beberapa kali. Setelah itu baru kulap pipi dan bibirnya dengan air.
"Ela anakmu umurnya berapa?" tanya Ryan ketika aku duduk.
Aku mengehela nafas kasar lalu berkata, "Empat tahun.."
"Ngomong-ngomong kapan kamu nikah? kok tiba-tiba punya anak udah segede ini aja," tanyanya kembali dengan penasaran.
"Ryaaann.." tampangku sungguh BT kali ini mendengar pertanyaan yang serupa kembali.
Akupun menjelaskan kembali panjang kali lebar kali tinggi pada Ryan. Terlihatlah wajah mengertinya yang tersenyum.
"Pasti setelah ini Bu anna akan menanyakan kembali kapan aku nikah!" gumamku pelan yang di angguki oleh Ryan dengan semangat.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Berikan saran dan kritiknya ya....
Dan tinggalkan tanda hati...
Terimakasih.