UHIBBUKI

UHIBBUKI
Money



Happy Reading!!!





"Cklek!" terdengar suara pintu rumah yang di buka. Aku langsung memasuki rumah kemudian menghempaskan tubuhku keatas kasur.



Tak henti-hentinya senyum mengembang di wajahku sejak siang. Fikiranku kembali mengingat tentang kejadian tadi. Walaupun hanya sebentar melihatnya tetapi itu sudah membuatku bahagia.



Tidak terasa terdengar suara adzan dari mesjid yang berjarak 50 meter dari rumah. Segera aku bergegas membersihkan diri lalu berwudhu untuk melaksanakan sholat magrib.



Selesai sholat, seperti biasanya aku akan selalu mengaji sampai mendekati waktu isya.



Itulah rutinitasku setiap hari sejak kecil. Jika suatu saat aku sedang dalam perjalan atau pergi sehabis magrib. Sebisa mungkin aku menyempatkan mengaji. Walaupun rasa lelah menyeliputi diriku aku tetap melaksanakannya. Saat sakitpun aku tetap melakukannya, selama penyakit tersebut tidak mumbuatku tumbang. Karna saat mengaji entah mengapa membuat hati yang gunda gulana menjadi tenang dan damai.



Mukena putih polos dan sajadah yang kugunakan untuk sholat isya sudah tergantung rapi.



Saat ini aku sudah merebahkan tubuku diatas kasur sambil bertanya-tanya kenapa Rafiq kemari.



"Tadi Rafiq kenapa kesini ya?" gumamku pelan dengan senyum-senyum malu. Dua detik kemudian senyumku menghilang dan mataku melebar.



"Oh iya kan ada tugas dari Sir Roni!" seruku. Lalu bergegas mengambil buku di tas yang ada di atas kasur.



Saat sedang mengangkat tas, terlihat amplop putih tertiban dibawahnya. "Amplop siapa ini?"



Aku bertanya-tanya kenapa bisa ada amplop di atas tempat tidurku. Karna rasa penasaran kulihat isi amplop tersebut, yang ternyata berisi beberapa lembar uang seratus ribuan dan secarik kertas.



Kuraih kertas itu kemudian kubaca pelan.



Ini uang belanja untuk bulan ini. Jika kurang kamu harus mencarinya sendiri. Bersyukurlah aku masih mau membiayai wanita yang sudah TIDAK PERAWAN sepertimu.



Ingat!!! Jangan mengirim pesan sampah yang memenuhi HPku.



Setelah membacanya rasa sesak kurasakan di daerah dadaku. Kuletakan kembali surat tersebut kedalam amplop lalu meletakkannya ketempat semula tanpa menghitung berapa jumlah uang yang diberikan Rafiq.



Saat ini aku lebih memilih membaringkan tubuhku dari pada mengerjakan tugas itu. Kutaruh lengan bawahku untuk menutup mataku yang mulai mendung. Isakan demi isakan kecil mulai terdengar di ruangan yang hening ini.



Kufikir Rafiq sudah memaafkanku atas kebohonganku. Tetapi dia masih marah.




Lagipula aku tidak perawan bukan karena tidur atau bersenang-senang dengan laki-laki lain. Itu murni karena kecerobohanku yang buru-buru turun dari atas ranjang yang tinggi.



Jika saja aku dapat mengembalikan waktu aku ingin kembali kemasa itu. Tapi itu tidak mungkin dan untuk apa kusesali hal yang sudah terjadi.



"Lo gak jauh berbeda dengan prempuan cabe-cabean diluar sana yang menjual tubuhnya demi uang.."



Itulah perkataan Rafiq yang kembali terngiang dikepalaku. Dia beranggapan aku wanita cabe-cabean yang menjual tubuh demi uang.



Jika terfikir! Untuk apa aku melakukan hal yang di murkai Allah hanya untuk uang atau kepuasan semata.



Sejak kecil sampai sekarang tidak pernah aku memakai yang namanya pakaian minim yang memperlihatkan tubuhku. Pakaian tebal dan longgar selalu terbalut membungkus tubuhku yang tentu tidak membuat laki-laki sedikitpun melirik padaku.



Bagaimana aku bisa bersenang-senang dengan laki-laki. Setiap berbicara saja aku selalu memberikan ekspresi dingin di wajah dan tatapanku membuat orang tersebut ingin cepat-cepat menyelesaikan percakapan yang hanya terkait tentang pelajaran jika teman sekelasku, perdagangan jika belanja ke warung, dan kesehatan jika berobat. Hanya seputar itu saja.



Masih terbayang olehku semua sentuhanmu seperti saat menciumku, memelukku, dan melakukan layaknya yang dilakukan pasangan halal. Semua hal itu merupakan pengalaman pertamaku.



Tapi... Mengapa kamu beranggapan lain??





############################################################



Maaf ya jika banyak typo...



Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.



Dan tinggalkan tanda hati.



Terimakasih.