UHIBBUKI

UHIBBUKI
Go home (pulang)



"Happy Reading!!"



Go home



Seperti yang di katakan bu Retno hari senin ini beliau mengajakku ke tempat pengajian tersebut. Jalannya lumayan jauh dari kontrakan. Kalau berjalan kaki sekitar 20 menit, Karena kita menggunakan motor punya bu Retno kita hanya menempuh 5 menit.



Pengajiannya di bangun didalam komplek perumahan oleh bu Fatimah teman bu Retno yang juga tinggak di komplek ini.



Tujuannya supaya anak-anak komplek saling kenal satu sama lain dan terjalin hubungan sesama tetangga komplek. Dan berbagai keuntungan lainnya seperti jika ingin mengaji tidak perlu keluar daerah kompek ataupun lainnya.



Jarak antara tempat pengajian dari pintu gerbang yang di jaga ketat oleh satpam karena sampai isi tas yang aku bawa juga di periksa, lumayan jauh. Yaaa hitung-hitung olahraga. Siapa tau turun beberapa kilo. Kalau aku keterima kerja.



Saat memasuki daerah perkomplekan banyak bangunan rumah yang berjajar rapi dengan disind yang berbeda-beda yang pasti mahal, karena Adanya pilar-pilar penyanggah rumah mereka.



"Bu rumahnya besar-besar ya!" seruku yang saat ini mengendarai sepeda motor, sedangkan bu Retno kugonceng dibelakang.



"Tentu ba Ela! Orang yang memiliki rumah disini semuanya kebanyakan pembisnis dan pengusaha. Rumah yang paling murah saja berharga 5 M,"



"Tapi... Senyamannya rumah besar lebih nyaman rumah kecil yang kita tempati sekarang karena berisi kebersamaan keluarga dan canda tawa anak-anak," lanjutnya yang sekarang suaranya terdengar sedih.



"Maksudnya bu?" tidak ada jawaban dari bu Retno.



Sampainya di tempat tujuanpun dia hanya berkata "Kamu akan mengerti maksudku setelah bekerja disini," aku mengangukan kepala tanda paham walaupun masih bingung apa maksud perkataan bu Retno.



Tampak tempatnya lumayan besar. Rumahnya gampang dikenali karena cat warna hijaunya yang mencelok dan juga sepanduk yang di gantung di atas.



Saat ini suasana sepi, mungkin karena belum waktunya mengaji. Kuikuti bu Retno yang saat ini mulai membuka pagar rumah tersebut. Terpampang banyak permainan anak dan taman kecil yang di tubuhi rumput halus.



Sampai di depan pintu Bu Fatimah sudah membuka pintu menyambut kami dengan senyum ramahnya.



Ketika memasuki rumah, aku disambut hasil karya yang di tempelan di setiap jengkal tembok.



Diatas meja sudah tersuguhi segelas teh dan cemilan. Kami di persilangkan duduk oleh pemilik tempat.



"Silahkan di minum terlebih dahulu!" serunya sangat ramah.



Bu Retno yang menyadari tatapanku menganggukan kepala. Ia lalu mengambil segelas teh begitu juga aku. Setelah meminumnya tiga tegukan. Aku meletakkannya kembali begitu juga bu Retno yang sudah meletakkan minum tersebut.



"Saya sudah mendengarnya dari bu Retno kalau kamu ingin bekerja disini. saya akan menerimamu asalkan kamu bisa mengaji dan menyayangi anak-anak!"



"Insyaallah saya bisa mengaji dan saya akan berusaha menyayangi anak-anak,"



"Saya menerimamu! Mulai besok kamu sudah mulai bisa bekerja!"



"Terima kasih bu,"



Setelah itu bu Retno dan bu Fika bercakap-cakap di ruangan tadi sedang aku di izinkan bu Fatimah melihat sekeliling.



Kuperhatiak setiap gambar gbar yang ditempel di tembok. Sampai aku melihat banyaknya permainan anak yang bermanfaat. Ada 4 ruangan didalam rumah ini. Setia ruangan terdapat tempelan huruf hijaiyah beserta gambar yang bertulisan bahasa arab dan inggris, AC, papan tulis, dan keperluan belajar mengajar lainnya.



"Sepertinya anak-anak belajar duduk di atas lantai. Tidak ada satupun kursi di setiap kelas yang ada hanya meja kecil kayu," gumamku pelan di ruangan kelas terakhir yang ku tempati saat ini.



Ada juga 2 kamar mandi, musholla kecil, dapur dan juga ruangan kantor bu Fatimah.



Setelah selesai melihat-lihat aku kembali ke ruangan depan. Melihat mereka yang masih asik ngobrol. Rasa tidak enak yang kurasakan jika mengganggu mereka. Lalu aku memilih untuk ke taman bermain depan duduk diatas ayunan kuat yang sudah lama tidak kunaiki.



Setelah itu bu Retno melambaikan tangan padaku untuk ke arahnya. Kemudian kami izin pamit pada bu Fatimah.



***###***



"Iya Lifi, hari ini merupakan hari pertama saya mengajar," jawabku senyum.


"Yahhh kita gak bisa nongki-nonki sambil cuci mata dong di mall," keluh Uni.


Kampus kami memang dekat dengan Mall rakyat menengah kebawah, hanya membutuhkan waktu lima menit untuk berjalan, dua menit untuk berlari, dan 15 menit untuk ngesot.



"Uni lupa kalo kita ada PR merangkum untuk besok!" kataku mengingatkannya yang sering lupa.



"Ohhh iya!" jawab Uni dan Lifi berbarengan.



"Yaudah aku pulang duluan ya assalamu'alaikum," kataku setelah menjabat kedua tanga sahabatku.



"Walaikumsalam," jawab Lifi senyum.



"Walaikumsalam hati-hati di jalan ya El, kalau ada yang ganggu kamu bilang saya. Nati saya kasih ceramah," kata uni yang dibalasku dengan jari berbentuk o.



Hari ini aku pulang cepat karena dosennya izin tidak masuk. Kesempatan ini kugunakan untuk pulang ke kontrakan mengambil ijazah SMAku yang diminta bu Fatimah sebagai biodata diri.



Sampainya di dekat kontrakan aku melihat ada motor terparkir di depan rumahku.



"Motor siapa itu? Bagus bangat motornya!" gumamku pelan memperhatikan motor sport yang tempat duduk penumpangnya sangat sedikit.



Motor ini berwarna merah terang. Sampai-sampai terlihat menyilaukan karena terpantul sinar matahari.



Mataku mengarah pada suara pintu yang dibuka. Ku lihat sosok pria yang sangat ku kenal keluar pintu tersebut.



Rasa bahagia meliputi seluruh diriku saat ini. Ingin rasanya aku berlari lalu memeluk dirinya dengan erat.



Diriku seperti patung memperhatikan sosok tersebut yang mulai menyadari keberadaanku sekarang.



Terpasang wajah dingin mengihiasi wajah tampannya. Saat mendekatiku sayang dia mengabaikanku lalu melewatiku begitu saja. Seperti menganggapku tidak ada.



"Rafiq udah mau pergi? Apa Kamu udah makan? Kalau belum aku akan menyiapkannya untukmu?" tanyaku bertubi-tupi dengan senyum manis menghiasi wajahku.



Sayangnya Pria itu tidak menggubris pertanyaanku. Dia mengacuhkanku begitu saja dengan wajah dingin masih terpasang di wajahnya.



Walaupun itu sangat menyedihkan karena pertanyaannya di abaikan, tetapi itu terhapuskan karena melihat sosok pria didepanku yang sangat aku rindukan.



Rafiq mulai menyalakan mesin motor, saat hendak menjalakannya aku buru-buru mengampiri dan memegang kaca spion motor tersebut.



"Rafiq hati-hati di jalan ya!" seruku senyum memandang wajahnya menatap iris matanya.



Rafiq masih tetap dengan pendiriannya mengabaikanku. Matanya menatap lurus ke arah lain. Kulepaskan tanganku dari kaca spionnya. Dia langsung melajukan motor meninggalkanku yang masih tersenyum memandanginya dari belakang.



Ketika motor sudah tidak terlihat. Aku melihat waktu yang ada di HP menunjukan jam setengah dua, sedangkan aku mulai mengajar jam setengah tiga. Segera aku bergegas masuk kedalam rumah lalu mengambil ijazah yang tertinggal.



Awalnya aku merutuki ke cerobohanku meninggalkan ijazah yang sudah kusiapkan di atas tempat tidur. Tapi ternyata Allah memiliki maksud lain atas kelupaanku. Jika saja tadi aku tidak lupa pasti aku tidak akan bertemu dengan Rafiq.




############################################################



Maaf ya jika banyak typo...



Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.



Dan tinggalkan tanda hati.



Terimakasih.