
KEBIJAKAN PARA PEMBACA
KHUSUS YANG SUDAH MENIKAH!!!
Happy reading!!!
Aku berjalan kearah pintu dengan air mata sudah mengambang di mataku. Ku kenakan gamisku. Sebelum keluar kamar aku menghapus air mataku terlebih dahulu lalu mengembangkan senyuman.
Suasana sepi sudah terlihat sejak aku keluar kamar tadi. Hanya ada satu atau dua ibu-ibu di ruang tamu sedang menyendokkan makanan kekeresek untuk dibawa pulang.
Aku lebih memilih duduk di ruang TV menonton sinetron yang sedang diputar. Tetapi pikiranku berkecambuk. Memikirkan apa yang di katakan Rafiq tadi.
"Ela kamu belum tidur? Sekarang sudah jam 9 loh masa suaminya di tinggal sendiri di kamar," seru mama saat melewati ruang TV. Mama datang menghampiriku. Lalu duduk di sampingku.
"Udah pada pulang ma tamu cowoknya?"
"Sudah sejak tadi,"
Aku langsung melepas kerudung yang kugunakan. Lalu mendekapnya dalam pelukanku.
"Gih temanin suamimu! Masa langsung di tinggal sih baru aja nikah!" mama menyenggol pundakku lembut dengan cengiran di wajahnya.
Aku hanya tersenyum tipis, lalu melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi untuk bersiap-siap tidur.
Saat membuka kamar, aku melihat sosok Rafiq yang sudar tertidur pulas. Aku masuk kedalam kamar lalu menutup pintu tidak lupa menguncinya. Ku ambil selimut yang ada di sampingnya lalu kuselimuti sebagian tubuhnya.
Di kamarku memang hanya ada satu kasur single. Biasanya itu di tiduri oleh mamaku sedangkan aku tidur di kasur yang lain yang ada di bawah ranjang tempat tidur ini.
Aku menarik kasur yang ada di bawah tempat tidur. Sebelum tidur biasanya aku selalu memaspas kasurku agar debu atau eres-resan apapun yang ada di kasur bersih. Kupas-pas dengan pelan supaya Rafiq tidak terganggu oleh debu maupun keberisikan yang aku buat.
Kuperhatikan wajah tidurnya yang sangat tenang. Senyum tersungging di wajahku. Aku singkirkan rambut yang ada di dahinya lalu kucium lembut dahinya dengan kecupan singkat. "Selamat tidur sayang.."
Sebelum merebahkan tubuhku di kasur. Aku mematikan lampu terlebih dahulu. Itu kebiasaan yang kulakukan sejak kecil. Setiap tidur selalu dalam keadaan gelap.
Aku menatap kosong langit-langit gelap kamarku. Sedikit cahaya masuk dari bagian atap pintu kamarku. Aku temenung memikirkan perkataan Rafiq tapi karena rasa kantukku lebih besar karena acara hari ini tak berapa lama aku tertidur.
Aku merasa sesak saat bernafas. Entah mengapa terasa berat seperti ada yang meniban tubuhku. Aku merasakan ada seseorang menciumku.
Selelap apapun aku tidur pasti aku selalu terbangun ketika ada seseorang menciumku. Seperti sekarang aku terbangun oleh ciuman di wajahku, ingin rasanya aku marah karena di ganggu saat tidur tapi mataku enggan terbuka karena rasa kantukku.
Biasanya bapakku yang menciumku saat aku tidur. Tapi sekarang aku merasakan ada seseorang yang menempelkan bibirnya dengan bibirku. Mana mungkinkan bapakku. Aku buka mataku perlahan untuk melihat sosok yang saat ini menciumku yang ternyata adalah Rafiq
Saat ini dia berada diatas tubuhku. Kedua kakinya mengapit tubuh gemukku. Tangannya kirinya berada di sebelah sisi kuping kananku sedangkan tangan kanannya berada di puncak kepalaku.
Dia mengecup bibirku dengan sangat kasar. Sesekali dia menggit bibir bawahku. Saat dia melepaskan ciumannya, mata kami menatap satu sama lain. Dia masih mengatur nafasnya agar stabil ketika aku membuka sedikit bibirku ingin mengucapkan sesuatu. Dia menciumku kembali.
Rafiq mulai memasukkan sesuatu kedalam rongga mulutku. Matanya saat ini tidak tertutup. Matanya terbuka menatap mataku tajam. Seperti ada makna tersembunyi di balik tatapannya yang tidak aku ketahui.
Tangannya kanannya yang tadi berada di puncak kepalaku mulai mulai indah ke daerah tubuhku. Saat dia hendak melepaskan pakaianku aku menahan gerakannya tangannya. Rafiq melepaskan ciumannya dari bibir dengan nafas yang memburu sama seperti diriku.
"Lo nolak ngelayanin suami lo," tanyanya dengan nada kesal.
"Aku tidak menolak! Hanya saja sebelum kita melakukan hubungan suami istri. Kita harus sholat 2 rokaat terlebih dahulu.." jelasku.
"Itu merepotkan! Nanti saja sholatnya setelah kita melakukannya.." Rafiq mulai menaikkan dressku yang kucegat dengan kedua tanganku.
"Tidak bisa Rafiq sholatnya dilakukan sebelum..." Rafiq mengangkat tubuhnya menjauhi diriku. Dia balik ke ranjangnya dengan wajah kesal yang terlihat saat dia menjauhkan tubuhnya dariku sinar lampu yang dari celas atas pintu menerpa wajahnya. Dia lalu tidur memunggungiku.
Aku menggigit bibir bawahku. Bukan maksudku menolaknya tetapi ini memang hal yang harus di lakukan suami istri sebelum berhubungan.
Aku duduk dikasurku melihat Rafiq yang memunggungiku. Ku topang diriku dengan lututku yang menempel di kasur lalu tanganku mengelus punggung Rafiq.
"Rafiq hanya sebentar saja kita sholat! Setelah itu kita..." perkataanku di potong oleh Rafiq.
"Aku sudah tidak minat lagi!" katanya lalu menepis tanganku dari punggungnya.
Aku hanya terdiam di tempatku menatap sedih punggung Rafiq. Apakah aku berdoa telah menolak ajakan suamiku? Apakah seharusnya tadi aku tidak menolaknya tetapi terus melanjutkannya? Tetapi.....
Aku bingung harus bagaimana. Sebelumnya aku pernah mendengar ceramah yang dimana ustad mengatakan hendaklah pasangan suami istri sholat sunah dua rakaatterlebih dahulu. Kemudian sebelum berhubungan harus berdoa telebih dahulu agar terlindung dari syetan “Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkan kami dari syetan dan lindungi kami dari syetan agar tidak mengganggu apa yang Engkau rezekikan (anak) pada kami”. (HR Bukhari dan Muslim). Doa ini dibaca oleh kedua belah pihak (suami dan istri) sebelum melakukan hubungan suami istri.
Kuraih ponselku yang berada di rak. Waktu penunjukan jam setengah 4. Aku berdiri lalu keluar kamar untuk berwudhu setelah memakai gamisku terlebih dahulu.
Aku menuju ruang TV untuk melaksanakan sholat tahajut setelah itu membaca al-qur'an sambil menunggu waktu subuh.
Selang beberapa waktu azan subuh berkumanda. Membangunkan setiap insan yang masih tertidur pulas di kasurnya. Begitu juga setan terus menggoda manusia agar lalai dalam sholat.
Aku membangunkan Rafiq untuk menyuruhnya sholat subuh di mesjid.
"Rafiq bangun! Udah subuh!" kataku lembuh sambil menggoyangkan tubuhnya. Sedangkan dia tidak merepon apa-apa.
Setelahku panggil berkali-kali akhirnya Rafiq merespon dia memasang muka kesal karena tidurnya diganggu. Apalah dayaku tidak mungkin berani aku menyiram suamiku dengan air agar dia bangun jadi aku meminta tolong bapakku yang melewati kamarku.
"Rafiq bangun! Waktunya sholat subuh! Ayo ke mesjid bareng bapak! Kalau gak bangun bapak sirem kamu ya!" kata bapakku dengan suara keras lalu Rafiq langsung mebuka matanya dan buru-buru bangkit dari kasur.
Akhirnya bangun juga. Entah karena suara bapakku yang kecang atau karena takut disiram air.
Keluar dari kamar mandi aku langsung memberikan baju koko dan sarung padanya untuk di gunakan. Dia menerimanya lalu menggunakannya. Setelah itu aku sholat bersama saudara dan ibuku.
Aku saat ini sedang membuka HP yang sudah lama tidak ku pegang sejak kemaren. Terlihat banyak WA yang menumpuk di layak HP ku yang mengucapkan selamat.
Aku tertuju pada grub baru yang di buat sahabatku kemarin.
Grub dadakan nikahan Ela.
Uni : "Ini anak ngilang lama bener. Masa dia seharian enggak buka HP sama sekali." katanya menunjukan emote kesal.
Lifi : "Namanya juga orang nikah. Sibuk nyalamin tamu!"
Uni : Bisa-bisa aku nyamperin nihh. Tapi takutnya aku ketemu bapaknya. Nanti ngomongnya pake bahasa Inggris lagi. Akukan orang indo bukan orang inggris! Iya kan Lifi!"
Lifi : "Hahaha gak papa kali biar tambah pintar ngomongnya.." kata Lifi menunjukkan emote ketawa.
Aku tertawa membaca pesan dari mereka. Memang sejak dulu bapakku mempunyai kebiasaan ngomong bahasa inggris dengan temanku. Maka sejak itu temanku-temanku takut datang kerumah. Kalaupun mau ke rumah mereka nanya terlebih dahulu ada bapakku atau tidak.
Baru saja ku kirim sudah ada balasan yang masuk dari Uni.
Uni : "Ela kemana aja kamu? Kok gak buka-buka HP? Takut ketawan bohongan nikahnya yaa!" serunya dengan emote kesal, sedih, nangis, dan curiga.
Ela : "Heiii Ba! Nanya satu-satu kaliii.."
Lifi yang biasanya jarang aktive tumben-tumbennya aktive WA nya.
Lifi : "Iya Ela kamu kemana aja? Uni berkoar-koar di WA ku katanya greget sama kamu yang gak buka-buka HP.."
Ela : "Hahaha iya-iya sorry ya maklum artis lagi sibuk kejar tayang.."
Uni : "Masih bisa bercanda aja lagi nihh. Jadi gimana kamu beneran nikah atau enggak atau hanya ingin pelagiat seperti artis yang lagi hit sekarang.." tanyanya kepo.
Saat Mengetik gerakan tanganku terhenti karena melihat Rafiq membuka pintu kamar. Dia langsung melepas baju kokonya dan sarungnya terlihatlah kaosnya dan celana boxser uang di pakenya tadi kemudian menaruhnya di pinggir ranjang.
Rafiq melewatiku yang saat ini duduk di atas kasurku. Lalu dia duduk di pinggir ranjang berhadapan menghadapku.
Dia mengambil HPnya lalu menunjukan tulisan di layar HP nya ke depan wajahku. Yang tertulis di layar HP "PERJANJIAN PERNIKAHAN"
Terlihat saat ini Rafiq sedang menatapku. Aku membalas tatapannya dengan ke tidak pahaman.
"Aku ingin kamu mengikuti semua perjanjian ini tanpa pengecualian!" perintahnya padaku.
Kubaca satu persatu pernjajian di HP nya yang tertulis.
1. Tidak boleh ada yang tau hubungan suami istri kita kecuali keluarga kita.
2. Kita tidak boleh mencampuri hubungan masing-masing dalam kehidupan kita.
3. Sebagai istri Ela wajib memberikan hak suami, tetapi suami tidak wajib memberikan hak istri.
4. Pernikahan ini tidak ada batas waktunya. Tetapi jika istri tidak kuat dan meminta cerai dengan senang hati suami menurutinya.
5. Keluarga tidak boleh tau tentang perjanjian ini.
6. Perjanjian lainnya akan menyusul setelah pernikahan.
Membaca perjanjian ini membuat kepalaku yang tidak pusing tiba-tiba menjadi pusing. Apa coba maksudnya perjanjian nomor 3.
"Rafiq maksudmu apa?" aku menahan kesabaran saat ini walaupun sebenarnya kesal.
"Emang kakak gak bisa baca apa. Udah jelas tertulis disitu," katanya santai dengan menunjuk layar HP nya.
"Aku paham apa yang tertulis di layar HP mu. Yang tidak aku pahami kita ini suami istri untuk apa perjanjian ini?" aku menatap tajam mata suamiku yang di balasnya dengan kecuekannya.
Rafiq mengubah gaya duduk yang awalnya kaki kirinya menopang kaki kanannya sekarang mengangkang dan kedua tangannya dia taruh di atas pahanya dan badannya condong kedepan ke arahku.
"Alasannya yang pertama gua gak pengen orang lain tau kalau kakak istri gua dan kakak juga gak boleh memberitau teman kakak tentang pernikahan ini . Kedua gua juga gak suka kakak ikut campur sama urusan pribasi gua. Ketiga mumpung udah nikah gua butuh kakak buat nyalurin hasrat gua dan tentu kakak tidak berhak untuk melakikan sebaliknya," tatapnya tajam padaku. "Gua tetap akan mempertahankan pernikahan ini tapi tidak dengan kakak yang mungkin.... Tau lah," lanjutnya lalu melihat kearah lain. "Intinya sebagai istri kakak hanya wajib mengikuti perintah suami selama itu baik, bukankah seperti itu. Bukankah sudah ku katakan aku tidak meminta PENGECUALIAN!" tatapan tajam dia berikan dari matanya yang berwarna coklat terang.
Aku hanya menunduk mendapat tatapan tajam darinya. Rasanya aku ingin membantah tapi tidak bisa karena tatapanya begitu menampakkan ke tidak sukaannya padaku. Jika aku membalasnya bisa-bisa rasa tidak sukanya padaku bertambah.
Aku terkenal dengan ketidak mau dalam mengalah jika berdebat. Saat aku berdebat dengan Uni kami berdua sama ngototnya. Berpendirian kuat dengan opini kami masing-masing. Yang menjadi penengah tentu saja Lifi dengan kesabarannya dan mengalahnya.
Tapi kali ini lain hal. Yang aku hadapi bukanlah orang lain maupun Uni tetapi suamiku sendiri. Terlihat jelas jika dia tidak ingin di bantah.
Oke lah aku setuju dengan perjanjian ini tapi kenapa aku tidak boleh meminta hakku sebagai istri. Enak di dia enggak enak di aku. Bukankah istri juga berhak atas suami.
Hening tanpa suara saat ini. Aku bergelut dengan pikiranku sedangkan Rafiq menunggu anggukanku.
"Lama bener jawabnya!" katanya menyadarkanku dari pikiranku. Aku kembali menatap ke arah wajahnya.
"Iya aku setuju! Tapi kamu juga harus ikut persyaratanku juga.." mintaku yang di angguki olehnya.
"Memangnya apa persyaratanmu? Asalkan tidak melanggar perjanjian tadi!" seru Rafiq lalu mengalihkan matanya ke arah lain.
"Persyaratannya biarkan aku melakukan tugasku sebagai istri dan aku ingin kamu selalu sholat lima waktu berjamaah di mesjid" jawabku serius memandang kearah mata yang sekarang sedang menatapku. Kemudian kualihkan mataku ke sisi sebelah kanan karen tidak kuat dengan tatapan menekannya.
Dia mengerutkan dahi memandangku. "Yang pertama tidak masalah asal perjanjian nomor 3 tidak di langgar. Tapi kenapa harus sholat berjama'ah di mesjid?" tanyanya lalu menegakkan kembali punggungnya tangannya dilipet di depan dadanya yang entah bidang atau tidak karena aku belum pernah melihatnya.
"Alasannya karena itu permintaan yang aku ajukan sebelum menikah," jawabku lalu melirik ke arahnya yang saat ini menatapku.
Rafiq terlihat berfikir terkebih dahulu kemudian dia menjulurkan tangannya kearahku lalu berkata, "Sepakat!"
Ku genggam tangannya lalu ku katakan, "Sepakat!"
Seharusnya suami istri tidak ada persyaratan maupun perjanjian sehabis menikah adanya sebelum menikah. Setidaknya aku memiliki kesempatan untuk membuat Rafiq mencintaiku dan membatalkan semua perjanjian yang dia buat.
Aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini walaupun akan banyak hal yang akan ku alami. Selama hidup aku hanya ingin menikah sekali. Walaupun hidup yang akan aku jalank itu pahit ataupun manis. Bukankah seperti itu kehidupan.
Lagi pula Allah tidak akan pernah menguji hambanya sampai melampaui batas hambanya sendiri.
Aku menikahinya karena kepercayaanku padanya yang dapat membimbing aku atau bersama-sama menuju ke ridhoan Allah.
Tapi aku percaya kalau hatinya pasti dapat berubah, karena Allah lah pemilik hati setiap insan di dunia. Jika Allah sudah berkata kun fayakun, terjadi maka terjadilah sesuatu yang di hendaki Allah.
Jangan lupa comment dan like ya supa saya semanga menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Teri