UHIBBUKI

UHIBBUKI
Job (pekerjaan)



Happy reading!!!



Aku terhanyut dalam mimpi. Mimpi tentang rekaan ulang kejadian sebulan yang lalu. Membuatku yang hampir melupakan rasa sakitnya kembali sakit. Layaknya luka yang sudah sembuh dibuat kembali dengan luka baru.



Ini sungguh menyiksaku. Aku berharap agar terbangun dari mimpi ini atau seseorang segera membangunkanku.



Terasa seseorang sedang menggoyangkan tubuhku dengan keras. Dengan senang hati aku membuka kelopak mataku yang sangat berat dan terasa lengket. Kukerjapkan mataku 3 kali agar pandanganku focus ke depan.



Terlihat tatapan khawatir Lifi melihatku. Aku menatapnya bingung lalu bertanya padanya dengan mata masih sedikit menerawang ke depan. "Kenapa Lifi?"



Dia berjulurkan tangannya ke arah wajahku lalu menghapus tetesan air yang ada di pipi dan pinggir wajahku. "Kamu nangis?"



Dengan cepat aku memegang pinggir wajahku yang memang sedikit basah dan mataku juga terasa basah dan lengket.



"Iya aku nangis!" kataku dengan sedih lalu melihat ekspresi sedih Lifi yang memang orangnya gampang terbawa perasaan. "Hahaha kamu percaya Lifi! Ya kali aku nangis! Ini biasa kalau aku tidur suka berair matanya," raut wajahnya terlihat kesal lalu memukul pelan pahaku dengan bantal yang ada di dekatnya.



"Cepat gih bangun terus ambil air wudhu!" Perintahnya yang mulai berdiri dari posisinya yang tadi duduk disampingku.



Dengan gaya manja aku mengulurkan kedua tanganku kearah Lifi. Lifi yang menyadari maksudku berkata, "Bangun sendiri! Jangan mager!"



Ku kerucutkan bibirku karena perkataannya lalu ku bangunkan badanku kemudian berdiri. "Baper yaaaa," ledekku padanya yang saat ini sedang mengenakan mukenah.



"Aku mah gak kayak kamu! Cepat gih wudhu! Biar kita sholat asar bareng," dia mendorongku pelan ke arah pintu agar ke kamar mandi.



Setelah wudhu aku melaksanakan shalat asar yang di imami oleh Lifi. Sedangkan Uni sedang mengumpulkan nyawanya dengan cara memainkan HPnya, dia tidak ikut sholat karena sedang M. Selesai shalat kami izin pulang karena udah sore.



Biasanya Lifi akan pulang sehabis magrib tapi karena ada murid lesnya saat malam hari, dia pulang sekarang. Sedangkan aku ikutan Lifi pulang karena aku juga ingin cepat sampai rumah terus istirahat.



Biasanya sehabis ngaji aku akan ke rumah mama dan bapak tapi untuk hari ini tidak. Kenapa? Karena setiap aku ke sana mama atau bapak pasti nanyain kenapa Rafiq gak ikut. Selama ini aku hanya menjawab bahwa Rafiq sibuk kuliah jadi gak sempat kesini. Untung saja mama atau bapak gak pernah minta ke rumahku ataupun menginap, jika iya! Entah apa yang harus aku katakan pada mereka? Jika mereka mengetahui bahwasannya anak dan menantunya sudah tidak berhubungan selama sebulan!



Tanpa sadar aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.



"Gatel?"



"Enggak Uni," cengirku.



Kemudian kami pamit pada Uni. "Hati-hati ya di jalan! Kalau ada yang gangguin panggil nama Uni tiga kali," katanya senyum.



"Kalau di panggil datang gak?" tanya Lifi.



"Ya enggak lah. Lagian siapa yang mau gangguin kalian berdua," ledek Uni.



"Bener El gak ada yang mau gangguin kita soalnya kita terlalu alim buat mereka," kata Lifi dengan pedenya.



" Yaudah sana pulang. Princess mau lanjutin nyuci baju dulu," usir Uni bercanda.



"Yaudah kita Pulang. Saya dan sobat saya gak akan nginjak kosanmu lagi," kata Lifi pura-pura ngambek.



"Assalmualaikum," kata Ela senyum sedangkan Lifi cembetut.



"Walaikumsalam. Jangan baper nanti laper Lif," ledek Uni dari balik pintu kosannya.



Kami berjalan Sampai di mesjid depan jalan raya tempat tadi kami ngaji. Lifi melirik kearahku lalu bertanya, "Kamu langsung pulang El?"



"Iya Lif. Kamu mau mampir ke rumah? Ada abangku lagi gak kerja noh!" ledekku pada Lifi.



"Enggak deh El! Nanti abangmu naksir bidadari kayak aku. Kalau naksir repot soalnya yang ngantri panjang," jawabnya berlagak sombong sambil mengerakkan kedua tangannya menjauh.



"Wahhh keren, kalau aku juga mau ngatri. Nomor urut berapa?" kataku mengikuti candaannya.



"Kalau kamu nomor 1564," jawab Lifi mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum jahil.



"Ahhh lama bener keburu bau tanah itu mah," aku menggeleng-geleng dengan muka nyengir.



" Hahaha! Kamu bisa aja," dia menutup mulutnya dengan tangan karena tawanya.



Dari kejauhan aku dan Lifi melihat angkot yang akan dinaiki oleh Lifi yang arahnya menuju halte busway. "Yaudah sampai sini kita pisah ya. Angkot arah halte udah datang. Dada assalamualaikum" kata Lifi senyum sambil melambaikan tangan.



"Walaikumsalam, hati-hati ya!" balasku.



Sebenarnya aku juga seharusnya naik angkot tersebut. Tapi karena ada Lifi aku urungkan niatku. Bisa-bisa bertubi-tubi pertanyaan yang dia tanyakan padaku.



"Jika dia tau aku udah ngontrak dia dan Uni pasti akan main ke kontrakanku lalu dia akan bertanya tentang Rafiq kemudian..." gumamku pelan. Memikirkannya entah mengapa membuat kepalaku pusing.



Setelah sepeninggalnya Lifi aku menunggu angkot selanjutnya yang datang lumayan lama.



***###***



Deretan bangunan berjajar di sepanjang jalan. Terdapat bangku di sepanjang terotoar. Aku memilih bangku yang ada dibawah pohon agar matahari yang menyengat tidak mengenaiku. Kuselonjorkan kakiku karna rasa lelah di daerah betis.



Butiran keringat tampak jelas membasahi wajah dan tubuhku saat ini. Aku bergumam dengan suara pelan, "Lebih baik aku merasakan panasnya dunia! Dari pada panasnya api neraka!"



Kutengadahkan wajahku keatas menatap langit biru yang cerah. Kupejamkan mataku sekejap untuk menghilangkan rasa pusing akibat terik matahari.



Aku sudah keluar sejak pagu untuk mencari pekerjaan yang hasilnya nihil. Daerah kontrakanku merupakan tempat perkantoran tentunya banyak gedung dan juga resto, mingkun saja salah satu dari tempat itu akan menampungku bekerja disana. Sayangnya tidak mereka semua menolakku karena pakaianku.



Apasalahnya dengan pakain yang aku gunakan. Apakah mereka takit aku membawa bom ke gedung dan resto yang mewah itu? Ya kali aku ngebom! Mending uang buat ngerakit bomnya untuk orang-orang yang membutuhkan.



Sekalinya ada yang menerimaku bekerja. Tapi aku harus menanggalkan jilbab (gamis) dan hijab (kerudung) ku. Tentu aku menolaknya.



Satu liter air mineral yang kubawa dari rumah sudah tandas sejak 1 jam yang lalu. Mataku melihat sekeliling mencari penjual minuman yang biasanya ada sepanjang jalan.



Mataku berhenti ketika menemukan sorang ibu-ibu sedang mendorong gerobak ke arahku. Ketika ibu itu sudah sampai didepanku. Aku memanggilanya membuat gerakan ibu itu terhenti.



"Bu saya mau beli air mineral yang tanggung, berapa harganya bu?"



"Harganya 5 ribu ba,"



Aku menyerahkan uang lima ribuan pada ibu itu. Lalu mengambil air yang dipajang didepan.



"Ba gak mau yang dingin?"



"Tidak bu," aku tersenyum pada ibu tersebut yang dibalasnya. Kemudian ibu itu pergi sedangkan aku kembali ketempat dudukku semula.



Kubuka segel minum tersebut lalu meminumnya sampai setengah botol. "Hahhhh akhirnya minum juga,"



Kugosokkan baju lengan dalamku ke arah mulutku untuk menghilangkan air yang meneteh di luar daerah bibirku.



Mataku menatap kosong ke depan pada setiap kendaraan yang lalu lalang melewatiku. Perasaan sedih yang kini kurasakan dan kecewa pada suamiku yang sudah tidak pulang lebih dari sebulan. Dan juga melupakan tanggung jawabnya menafkahiku.



Dia hanya memberiku uang sejuta sejak pertama datang kekontrakan. Uang itu hanya bertahan kurang lebih 3 minggu, itupun aku sudah ngirit-ngirit. Sisanya aku hidup dengan uang simpananku yang aku simpan sebelum menikah.



Sejak awal seharusnya aku mencari pekerjaan. Tidak mengarapkan pemberian Rafiq yang tidak tau kabarnya. Jika saja malam itu Ibu Fitri pemilik kontrakanku tidak menagih mungkin aku masih lehai-lehai tidak mencari pekerjaan.




"Tok tok. Assalamualaiku,"



Aku yang saat itu selesai mengaji mendengar suara pintu rumahku di ketok.



"Walaikumsalam," kuhampiri arah suara tersebut dengan masih menggunakan mukena.



Terlihat seorang ibu cantik berkerudung langsungan berwarna biru tua dengan gamis berwarna senada berdiri didepan dengan wajah ramahnya.



"Maaf ba Ela ganggu malam-malam,"



"Iya bu Retno tidak apa-apa," kataku ramah dan tidak kalah senyum. Dia adalah bu Retno tetangga rumahku yang sama-sama mengotrak.



"Saya menanyakan pembayaran kontrakan untuk bulan ini,"



Aku sontak kaget karena lupa tentang pembayaran rumah yang sudah ku tempati padahal bu Retno sudah mengingatkannya padaku untuk membayar padanya.



"Maaf Bu saya lupa," kataku dengan malu. "Memangnya berapa bu bayarannya?"



"Sebulan satu juta ba,"



Tanpa sadar aku menelan ludah. Aku sudah mengiranya akan semahal itu. Walaupun kontrakan ini di perkampungan tetapi daerahnya tempat perkantoran dan testaurant yang tentu pasti untuk kontrakan maupun kosan pasti mahal.



"Bu saya akan mengambilnya di ATM terlebih dahulu. Setelah mengambilnya saya akan langsung memberikannya pada bu Retno,"



"Haha tidak masalah ba!" serunya dengan tawa. Begitulah bu Retno yang selalu apa adanya dengan sikap ramah, baik dan murah senyum.



Aku kemudian bersiap-siap pergi. Setelah mengambil uangnya aku menyerahkan pada bu Retno.



Sebenarnya ini kontrakan teman bu Retno yang bernama bu Fitri. Beliau mengamanatkan pembayaran kontrakan melalui bu Retno yang sudah lama tinggal mengontrak disini.



Malam itu juga aku langsung mengirim pesanku yang tidak pernah sekalipun dibaca oleh Rafiq.



Ela: Assalmualaikum Mas Rafiq.


Maaf Ela ganggu malam-malam.


Ela hanya ingin memberitahu mas


Rafiq kalau uang yang pernah mas


Rafiq berikan sudah habis.


Tadi Ibu Fitri pemilik kontrakan


yang saya tempati meminta


pembayaran kontrakan.


Ela hanya ingin meminta uang


untuk kontrakan dan kebutuhan


Ela sesuai dengan kemampuan


yang dapat mas Rafiq berikan.


Terima kasih Mas.



Tidak lupa di setiap pesanku selalu aku selipkan kata uhibbuka yang artinya aku mencintaimu.



Flashback off



Hari sudah sore, rasa letih di kakiku sudah mulai terasa sejak tadi. Aku mengakhiri acara jalan-jalan0 ini dan akan melanjutkannya pada hari senin ataupun saptu sehabis pulang mengaji.



Sampainya di kontrakan aku melihat ibu Retno sedang mengangkat jemuran di teras rumahnya.



"Assalmualaikum bu," sapaku ramah pada ibu beranak dua yang berumur sekitar 35 tahunan dengan senyum.



"Walaikumsakam ba Ela," jawabnya dengan senyuman yang tidak kalah ramah.



"Ba Ela baru pulang kuliah?"



"Tidak bu saya habis mencari pekerjaan," aku lalu duduk di atas tembok pembatas yang rendah antara rumahku dan bu Retno.



"Bukannya ba Ela masih kuliah?" tanyanya yang duduk di sampingku dengan pakain menumpuk di tangannya.



"Bu taruh dulu pakaiannya takut jatuh nanti!" seruku mengingatkan karena melihat beberapa baju yang hampir menyentuh lantai terasnya.



"Tunggu ya! Nanti kita lanjutin lagi obrolannya," dia melangkahkan kaki kedalam rumah dan tidak beberapa saat di sudah kembali keluar. "Terus kenapa kamu nyari kerjaan padahal masih kuliah,"



"Biasa bu!" jawaku dengan cengiran yang pasti dimengerti bu Retno sebagai ibu rumah tangga.



"Terus kamu dapat kerjaannya?" aku menggeleng kepala tanda jawaban atas bertanyaannya.



Terlihat bu Retno diam sejenak seperti sedang mengingat sesuatu sampai akhirnya dia melihat ke arahku dengan senyum mengembang.



"Kamu suka anak-anak gak?" tanyanya.



"Biasa saja bu,"



"Kalau kamu suka. Ibu punya tempat kerja yang gajinya lumayan untuk nambah-nambahlah,"



"Memangnya pekerjaannya apaan Bu?" tanyaku penasaran.



"Mengajar ngaji anak-anak perumahan. Itung-itung belajar jadi seorang ibu,"



"Memangnya tempatnya ada dimana bu?"



"Kalau keluar gang kamu lihat tembok besarkan! Itu perumahannya!" Mengarahkan tangannya kearah perumahan tersebut. "Sebenarnya dekat dari tempat kita, tapi kalo temboknya kita jebol" candanya membuatku tertawa pelan.



"Memangnya gurunya tidak ada Bu?"



"Sebenarnya ada! Tapi baru cuti kemarin karena ingin mengikuti suaminya," "Kalau kamu minat nanti ibu kabarin Bu Fatimah. Kemudian ibu akan mengajakmu kesana," tawar bu Retno.



"Iya bu. Saya minat,"



Tidak salahnya aku mencoba. Jika memang ini jalan yang terbaik untukku.






############################################################



Maaf ya jika banyak typo...



Jangan lupa comment dan like ya supaya saya semangat menulisnya.



Dan tinggalkan tanda hati.



Terimakasih.