
Happy reading!!!!
"Ahhh... akhirnya sampe rumah!"
"Pukk..." aku menghempaskan tubuhku keatas kasur dengan seprai bermotif lingkaran.
Kupandangi atap kamarku yang berwarna putih bersih dengan tatapan menerawang.
"Ahhh," kuhembuskan kembali nafas beratku.
"Apa aku gak semenarik itu menurutnya?" tanyaku pada diriku sendiri. Mengingat kejadian semalam yang dimana Rafiq tidak terpancing oleh godaanku.
"Padahal aku sudah memakai pakaian seksi. Tapi sedikitpun ia tidak terangsang padaku," keluhku.
Segera aku duduk di pinggir kasur sambil mengingat kejadian tadi saat ingin pulang.
Flashback on
"Kalian pulang cepat bangat? Mama masih kangen sama mantu cantik mama!" serunya sambil memegang dagu lancipku.
"Besok Rafiq ada kelas pagi ma! Makanya kami pulang sekarang," balasnya untuk meyakinkan mama.
"Biasanya juga kamu pulangnya malam kalau enggak besok pagi!" sanggah mama.
Rafiq hanya terdiam mendengar perkataan mamanya. Yang menurutku pasti membuatnya bungkam. Dia kemudian menyenggol pelan lenganku yang tentu dapat kupahami apa maksudnya.
"... besok Ela juga mau mulai penelitian, makanya sekarang Ela harus nyiapin pelajaran yang harus Ela bahas besok. Insyaallah Ela main lagi kesini mama," kataku meyakinkan mama.
"Kalau begitu kalian kirim alamat kalian. Biar mama bisa main kesana!"
Aku melirik kearah Rafiq untuk meminta jawaban.
"Ehmm.. ma! Bukannya Rafiq enggak mau ngasih alamat ke mama tapi... Rafiq sama Ela masih mau berdua-duan. Takutnya... pas kita lagi itu.... mama ganggu kita lagi.." balasnya tanpa tau malu. Dia lalu mencolek lenganku dengan senyum mesumnya di wajah tampannya. "Iya kan sayang!" serunya dengan tatapan genit.
Kubalas senyumannya dengan senyuman manisku. Lalu mengandengan lengannya. "Iya mas," balasku meyakinkan.
"Aihh ini pasangan mesra benar, jadi sedih deh mama yang jomblo ini. Yaudah kalau begitu. Jaga diri kalian ya! Hati-hati di jalan!" kata mama menyerah mendengar alasan-alasan kami.
Rafiq kemudian menyalakan motor sportnya yang berbangku pelit. Bagaimana aku tidak mengatakan pelit. Ini motor mahal, tapi buat bangku penumpang aja sedikit bangat. Jadi kalau duduk gak puas gitu. Apalagi jok penumpangnya tinggi lagi.
Segera aku naik dengan tanganku bertopang pada pundak Rafiq. Setelah mengucapkan salim dan mengucapkan salam, Rafiq menancap motornya meninggalkan halaman rumah.
Flashback off
Kutopang daguku dengan telapak kananku. Aku menyengir ketika mengingat saat pertama kalinya Rafiq memboncengku dengan motornya. Dan itu merupakan kali pertama aku menaiki motor model seperti itu. Apalagi sensasi saat aku memeluk erat pinggangnya. Aihhh senangnya.
Tapi seketika bibirku mengerucut. Mengingat kejadian selanjutnya. Rafiq yang menurunkanku di tempat yang lumayan jauh dari daerah perumahan mama.
"Suatu saat pasti kamu akan cinta sama aku mas! Tentunya cinta karna Allah," kataku yakin.
@@@@@@@
"Bunda!!" teriak seorang anak kecil dari deretan meja yang berada didekat ibu penjual bakso.
Aku menghampiri anak itu lalu duduk disebelahnya. Anak itu lalu mengeser mangkuk dihadapanya kearahku.
"Bunda mau.." tawarnya dengan mulut yang penuh dengan bakso.
"Sayang... baksonya di makan dulu baru ngomong," balasku lalu melap mulutnya yang belepotan dengan kuah bakso.
Anak itu mengangguk-angguk kemudian kembali mengunyah.
"Emak-emak satu ini. Apa gak sadar apa ada orang didepannya," sindir laki-laki yang sejak tadi duduk didepan bocah satu ini.
"Aamiin," jawabku senang. Bagaimana tidak senang, siapa sih prempuan yang enggak mau punya anak. "Makasih ya udah jaga Azril!" seruku kembali dengan tulus.
"Untung aja tu bocah mandiri dan pintar. Kalau enggak aku udah gedor-gedor pintu kelasmu untuk meyerahkannya," katanya lalu mengelus lembut kepala Azril.
"Wihh Azril dibilang pintar sama om Ryan," gumamku senang pada Azril yang sedang meminum air mineralnya.
Azril terlihat menyengir lalu berkata. "Bunda tadi Azril dengerin kata om Ryan dan pas Azril mau pipis Azril bilang sama om," ceritanya dengan nada lucu.
"Wahh anak bunda pintar," balasku mengelus rambut mangkuknya.
"Ngomong-ngomong gimana kalau tadi kamu gak ketemu aku pas masuk kelas?" tanyanya setelah menyeruput juh buahnya yang berwarna merah muda.
"Kalau tadi gak ketemu kamu mah... aku bakal bawa Azril masuk kedalam kelas," jelasku.
"Tapi... untungnya ketemu sama aku kan..." katanya bangga.
"Iya untung ada kamu. Tentunya dengan seizin Allah. Kalau enggak... seizin Allah aku pasti gak ketemu kamu," jawabku senang.
Selesai makan Ryan pamit telebih dahulu karna harus pergi kesuatu tempat setelah itu baru aku dan Azril pulang, lebih tepatnya ke tempat pengajian.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Terimakasih.