
Happy reading!!!
Suasana hening menyeliputi ruangan ini. Tidak ada percakapan sama sekali, semua diam.
Begitu juga denganku. Walaupun saat ini ekspresiku terlihat biasa saja. Tetapi sebenarnya hatiku sedang jingkrak-jingkrak kesenangan.
"Kok diam aja kalian? Ayo makan! Mama sama Ela udah masak buat kalian loh," kata mama Ika memecahkan keheningan dalam seketika. "Khususnya kamu Rafiq! Ela udah masak makanan kesukaanmu," tunjuk mama pada opor ayam yang ada dihadapan Rafiq. Sedang Rafiq hanya tersenyum canggung membalas senyuman dan perkataan mamanya.
Dengan sigap aku mengisi piring Rafiq yang kosong dengan 2 centongan nasi kemudian meletakkan opor yang kumasak di atasnya beserta lauk lainnya.
Lalu aku menoleh pada anak laki-laki disebelah Rafiq sambil tersenyum simple. Sepertinya dia sebaya dengan Rafiq atau mungkin lebih muda.
"Mau aku ambilin juga?" tawarku lembut padanya.
"Eng.. enggak usah kak! Aku ambil sendiri aja," tolaknya lembut sambil menggeleng kecil kepalanya.
Setelah itu kami makan tanpa ada sedikit percakapan. Yang terdengar hanya bunyi sendok. Walaupun sesekali aku mencuri pandangan pada imamku yang sedang makan.
Flashback on
Saat ini aku ada di mesjid. Aku beristirahat di mesjid sehabis sholat bersama Azril yang saat ini sedang melihat-lihat gambar di buku yang tadi di beli di Gramedia. Sambil sesekali membuat oretan di kertas yang tadi dia minta padaku.
Aku sungguh gelisah. Ini sudah ke sepuluh kalinya aku melihat jam di HP ku. Belum ada tanda-tanda orang yang di tunggu muncul.
"Kemana mami sama papinya Azril? Katanya film selesai jam 3, tapi ini udah jam 4 belum ada tanda-tanda mereka datang. Untung saja Azril anteng tidak minta ketemu maminya kalau iya bingung mau cari dimana," keluhku pelan. "Telepon gak di angkat. WA gak di balas..." aku melihat HP yang sedang menelpon maminya Azril.
"Bunda.. Bunda!" panggil Azril sambil menarik pelan kerudungku. "Ini gambar apa!" tanyanya lalu menunjukan gambar pada lembaran yang di pegangnya.
"Itu gambar..." kuperhatikan lembaran yang di pegang Azril dengan seksama "Panda?" tebakku pada gambar yang di tunjuk Azril.
"Salahh.. ini bukan gambar panda. Ini gambar tikus.." katanya dengan nada riang karna aku tidak bisa menebak gambarnya.
Bagaimana aku bisa menebak. Setahuku yang punya lingkaran mata hitam itu panda. Seperti halnya gambar yang di buatnya.
"Bunda kira panda.. soalnya lingkaran matanyanya hitam," aku menunjuk mata pada gambar itu.
"Itu mata tikus Bunda! Kan mata tikus gede.. terus warna hitam," dia memperagakannya dengan sangat lucu membuatku tesenyum.
"Oke oke," balasku sambik mengelus lembut kepalanya.
Terdengar bunyi dring telepon HPku. Senyum mengembang di wajahku karna melihat layar yang tertulis di HP.
Akhirnya setelah menunggu, maminya Azril menghubungi kami dan memberitahu posisi mereka yang saat ini sedang berada tempat perbelanjaan bahan makanan yang berada di lantai dasar.
"Mamii..." panggil Azril saat dia melihat maminya yang sedang memilih buah-buahan.
"Mesra bener nih!!" seruku saat sudah berada di dekat mereka.
Mereka yang awalnya saling bergandengan tangan langsung melepasnya ketika mendengar panggilan Azril.
"Hahaha.." balas maminya Azril sambil menyengir. Sedang papinya Azril menggendong Azril juga membalas tertawa kecil.
"Tadi ib.. Kak Qomar kemana? Kok lama bangat nonton bioskopnya! Di telpon gak angkat di WA gak balas!" kataku sedikit kesal tetapi masih terlihat sopan padanya yang saat ini hanya tersenyum.
"Biasa laa.. ngedet dulu bentar," jawabnyanya tersenyum malu.
"Kalau kak Qomar mau ngeded, harusnya bilang sama Ela! Biar Ela jaga Azril hari ini," kataku ketika mengetahui kebenarannya.
Sebenarnya ada rasa cemburu pada pasangan ini yang begitu sweet, tidak seperti aku dan Rafiq yang garing bagaikan eresan rengginang. Masih mending rengginang masih enak di pandang. Boro-boro kalau aku sama dia mandangnya aja iba bener.
"Yaudah besok-besok kalau kakak mau berdua-duaan lagi sama papinya Azril. Boleh ya tinggal calling kamu!" katanya senang.
"Bo.. Leh.. tapi kalau aku lagi gak sibuk," balasku sok sibuk. Melihat tingkahku yang sok sibuk maminya Azril memukul pelan lenganku.
Entah mengapa aku merasa kasihan pada Azril. Waktu orang tuanya kerja Azril bersama pengasuh. Sedangkan ketika mereka libur, Azril tetap bersama pengasuh karna mereka ingin berduaan. Jadi kapan waktu Azril bersama kedua orang tuanya.
"Oh iya Ela, kakak mau belanja kebutuhan bulanan yang udah habis. Kamu boleh ambil apa aja yang kamu butuhin buat rumahmu," kata maminya Azril membuat bibirku tersenyum bahagia.
"Benar nih kak! Boleh ngambil apa aja?" kataku memastikan.
"Iyaaa! Asal harganya manusiawi ya!" balas maminya Azril yang kuangguki. Kemuduan aku izin ketempat lain untuk mencari keperluan yang habis.
Ku lajukan kakiku ke tempat yang kuincar tak lain dan tak bukan yaitu pewangi ruangan.
"Alhamdulillah dibayarin. Itung-itung irit uang bulanan," gumamku dalam hati.
Aku mencari pewangi ruangan yang sering kupai. Saat ingin berbalik setelah mengambil pewangi incaranku, aku berpapasan dengan wanita setengan baya cantik yang sangat ku kenal.
"Mama!? Seruku pelan.
Wanita itu berhenti lalu menoleh kearahku.
"Ela!" kagetnya ketika menyadari ternyata aku yang memanggilnya.
Mama lalu mengahampiriku kemudian memelukku erat.
"Ela kangen bangat sama mama!" kataku ketika kami melepas pelukan.
"Mama juga kangen sama Ela. Kok gak pernah main sih. Padahal Rafiq sering ke rumah loh?" katanya sedih.
Begitu juga denganku yang sedih. Saat tau Rafiq sering mengunjungi orang tuanya tanpa mengajakku.
"Setiap ke rumah dia selalu bilang kalau kamu lagi sibuk bikin skrisi! Makanya gak bisa ke rumah mama," cerintanya.
"Rafiq benar ma! Ela lagi bikin skripsi. Tapi enggak sesibuk itu kok," balasku dengan senyum.
"Mumpung ketemu, kalau begitu sekarang aja ke rumah mama!" ajaknya dengan semangat.
"A.. tapi Ela.."
"Udah jangan tapi-tapian! Sekarang mama mau bayar belanjaan mama dulu.." katanya lalu melihat bawaan yang kupegang. "Ini biar mama aja yang bawa sekarang kamu tunggu ya di depan kasir!" perintahnya yang kuangguki.
Aku pergi mencari keluarga kecil itu yang saat ini sedang berada di tempat makanan beku.
Setelah izin aku pergi ketempat yang tadi di katakan oleh mama.
Selesai membayar mama mengajakku kearah parkiran untuk mengambil mobil kijangnya yang berwarna hitam.
Selang setengah jam akhirnya aku sampai di rumah mewah berwarna ungun tua dan pink.
Ada taman yang di tumbuhi rumput kecil dan juga ring basket yang menggantung di halaman tempat parkiran yang bisa di masuki 3 mobil.
Masuk didalam rumah mama sudah di sambut dengan bibi yang sepertinya seumuran dengan mama mertuaku.
Rumah ini sudah seperti rumah-rumah artis yang sering aku lihat di youtobe. Terlihat begitu mewah.
"Mama ganti baju dulu ya! Kamu lihat-lihat dulu rumah mama," kata mama mengagetkanku yang saat ini memperhatikan sekeliling ruangan.
Kemudia mama pergi memasuki kamar yang ada di ruangan yang berisi sofa dan tv berukuran besar yang disebelahnya tangga.
"Non mau minum apa?" tanya bibi ramah.
"Saya minum apa aja bi," balasku ramah. Lalu bibi pergi meninggalkanku di ruang menonton TV menuju dapur.
Aku lalu duduk di sofa empuk yang besar. Kuperhatikan sekeliling rumah yang begitu bagus dan tertata rapi.
Tidak butuh waktu lama bibi membuat 2 gelas teh hijau.
Mama lalu keluar kamar dengan penampilan yang berbeda. Menggunakan kaos dan celana pendek selutut.
"Dug dug dug" Suara pukulan beduk terdengar melalui siaran televisi.
Segera kami menunaikan sholat magrib berjamaah. Kemudian beliau mengajakku memasak di dapur.
"Mama mau masak apa?" tanyaku saat sedang mencuci ayam yang tadi di beli.
"Mau masak opor ayam, tumis sayur, perkedel sama sambal,"
"Wahh banyak bener ma!"
"Iya dong!!" kedip mama padaku.
Setelah mencuci ayam aku lalu mengupas kentang kemudian mencucinya setelah itu merebusnya.
Aku bisa merasakan kalau mama memperhatikan setiap gerakanku sampai akhirnya dia berkata, "Kamu cekatan juga ya Ela," puji mama melihat gerakanku yang cepat.
"Bagaimana kalau khusus opor kamu yang masak! Mama pengen tau rasa opor buatan menantu mama," kata mama yang saat ini sedang membuat bumbu untuk sayur asem.
"Itu makanan kesukaan Rafiq loh.." lanjut mama yang membuatku reflek menengok. "Bagaimana?" tanya mama lalu kuangguki dengan senang.
Tanpa sadar masakan selesai betepantan dengan masuknya waktu isya. Selesai menjalankan ibadah aku sempatkan mengaji.
Setelah itu aku kembali ke dapur untuk mengambil masakan yang telah di pindahkan bibi ke mangkok lalu menarunya ke meja makan.
Saat menaruh makanan aku mendengar suara laki-laki mengucap salam dari arah ruang tamu.
Dadaku berasa berdetak begitu cepat. Aku berharap semoga dia yang datang. Sampai akhirnya tampaklah 2 sosok laki-laki memasuki ruang TV yang dekat dengan ruang makan.
Dari salah satu laki-laki itu terdapat Rafiq yang saat ini sedang merangkul laki-laki yang disebelahnya. Dia tertawa begitu lepas saat lelaki disebelah berkata sesuatu yang tidak kudengar karna suaranya pelan.
Aku terus memperhatikan Rafiq sampai akhirnya tawa Rafiq berhenti ketika melihatku. Dia seketika diam bersama dengan laki-laki disebelahnya. Sangat tampak wajah terkejutnya ketika melihatku.
Kami bertatapan cukup lama sampai akhirnya mama keluar kamar memerintahkan pada mereka untuk membersihkan diri.
Flashback off
Begitulah awalnya aku bertemu dengannya. Walaupun kemarin saat Rafiq ke rumah, aku tidak bertemu. Mungkin ini yang disebut di balik suatu kejadian ada maknanya.
Mataku tidak henti-hentinya melepaskan pandanganku dari Rafiq. Apalagi sehabis mandi, Rafiq jadi bertambah tampan apalagi dengan pakaian tanpa lengan yang memperlihatkan otot di lengannya yang mulai ada.
Kulih putih bersihnya, harum wangi tubuhnya, apalagi wajah tampannya yang begitu menggoda membuatku GREGETTTT.
Bisa-bisa ngences aku kalau ngeliatin dia mulu.
"Elaaa! Kamu ngeliatin Rafiq terus, padahal dirumah kamu sudah sering melihatnya!" seru mama saat kami sudah selesai makan.
Sontak aku yang mendengar perkataan mama langsung mengalihkan pandanganku kesisi lain. Lalu kembali melihat Rafiq yang saat ini sedang lurus melihat kearahku sambil tersenyum manis.
"Aaaihhh.... Manisnya senyummu Rafiq!" gumamku dalam hati melihat senyumnya yang begitu menggoda membuat hatiku berbunga-bunga. "Kalau dia permen udah kumakan.." tanpa sadar aku menjilat bibirku.
"Mama aku keatas dulu ya istirahat!" izinnya. Tapi pandangannya tetap diarahkan padaku.
"Kalau ngomong yang sopan! Lihat ke mama," balas mama mengeleng kepala.
Lalu Rafiq dan laki-laki di sebelahnya pergi menaiki tangga dengan mataku yang masih setia memandanginya yang mulai tidak terlihat.
"Cek, cek..iri deh sama pengantin muda," goda mama yang membuatku malu.
Kemudian aku merapikan meja makan. Lalu menaru piring yang telah digunakan ke dapur.
Saat ingin mencucinya bibi menepuk bahuku, "Non Ela biar bibi aja yang cuci! Non dicari sama ibu di ruang TV," kata bibi yang kuangguki.
Kuhampiri mama yang sedang duduk di sofa sambil menonton komedi.
"Mama nyari ela," kataku saat sudah duduk di samping mama.
"Iya mama mau ngobrol-ngobrol sama kamu," balas mama senyum lalu memelankan suara TV yang di tonton.
"Ela mau ma! Tapi udah malam," kataku sedih.
"Yaudah kamu nginap aja disini!" usul mama.
"Tapi Ela enggak bawa baju ma," alasanku.
"Kalau soal itu kamu tenang aja," senyum mama.
Akhirnya kami bercerita cukup lama. Selama ini mama ingin mengunjungi aku tapi Rafiq tidak pernah sekalipun memberikan alamatnya pada mama. Setiap ditanya kenapa Rafi tidak pernah mengajakku jawabannya selalu sama karna aku sibuk skripsi.
Mama juga bercerita tentang laki-laki yang tadi duduk disebelah Rafiq yang ternyata adalah adiknya yang masih kelas 3 SMA namanya Rifqi. Tapi aku bingung muka adiknya tidak seperti Rafiq! Malah mirip sekali dengan mama Ika. Mungkin Rafiq mirip bapaknya sedang adiknya mirip mamanya.
"Wahh udah gak terasa ya kita cerita-cerita sampai jam 10," kata mama setelah melihat jam yang terpajang di dinding.
"Iya ma. Saking asiknya.." cengirku.
"Yaudah mama ambil dulu ya baju mu," katanya lalu berdiri kemudian pergi ke kamarnya.
Saat menunggu kulihat Rafiq menuruni tangga sambil melihat kearahku dengan tatapan tajamnya.
Dia lalu duduk di sebelahku. Dia mengangkat sebelah kakinya keatas sofa lalu mengarahkan tubuhnya menghadapku.
"Kok lo bisa disini sih?" tanyanya dingin. Dia menatapku tajam dengan kedua iris matanya yang berwarna coklat terang.
Kubalas tatapan tajamnya dengan lembut dan senyuman. "Tadi aku gak sengaja ketemu sama mama di XXX,"
"Ngapain lo disana?"
"Temenin kak Qomar salah satu ibu tempatku mengajar," jujurku.
Rafiq lalu mengubah duduknya melihat kearah saluran TV, "Ohhh begitu," gumamnya pelan tapi masih bisa kutangkap dengan pendengaranku.
Ku geser tubuhku mendekati tubuhnya yang terasa begitu wangi memabukkanku.
"Aku sangat merindukanmu mas," ucapku mendayu di dekat telinganya.
Dia lalu refkeks memalingkan wajahnya membuat jarak antara wajah kami menjadi dekat.
Saat ini wajah kami hanya berjarak 20 cm. Tidak ada pergerakan dari Rafiq. Dia hanya membalas tajam pandangan mataku.
Kumiringkan sedikit kepalaku agar aku bisa menyentuh bibir marunnya yang merekah.
"Ckrek," suara pintu dibuka membuatku reflek mengalihkan kepalaku arah TV. Lalu memberi jarak antaraku maupun Rafiq.
Mama menghampiriku sambil membawa pakian di tangannya.
"Ini sayang bajunya. Kalau buat pakaian dalam ini masih baru tapi sudah di cuci jadi kamu tinggal pakai saja," mama menyerahkan pakaian yang dia berikan padaku tanpa tau kejadian barusan.
Mungkin saat ini mukaku sangatlah merah karna tindakan beraniku barusan.
Aku melirik ke sampingku yang sudah tidak ada sosok laki-laki itu.
"Rafiq!" panggil mama saat melihat Rafiq melewati ruang makan sambil membawa beberapa cemilan. "Tolong antar Ela ke kamarmu!" pinta mama.
Dia berhenti sejenak lalu berkata kearahku, "Ayo," ajaknya dengan lembut.
Aku mengikutinya kelantai dua yang ternyata terdapat ruang menonton TV juga dan 3 kamar.
Rafiq berhenti di ruang menonton yang dimana kamar yang saling berhadapan. "Itu kamar gua!" tunjuknya pada pintu sebrang. Dia lalu memasuki kamar yang ada didepan kamarnya yang bertulisan Rifqi.
Aku dekati pintu kamar Rafiq lalu membukanya. Wangi ruangan menyambutku ketika membuka pintu. Dinding kamar yang begitu bersih dengan walpaper berwarna biru laut begitu juga dengan seprai dan horden.
Segera aku mendekati kasur lalu merebahkan tubuhku diatasnya. Badanku begitu lengket dan letih. Segeraku bangun lalu membawa baju yang dikasih mama kedalam kamar mandi.
Selesai mandi kusisihkan baju kotorku lalu memakain pakaian yang diberikan mama.
Tadi mama memberikan pakaian dalam, baju luaran dan pakaian tidur.
Selesai memakainya aku keluar kamar kembali ingin mencuci pakaianku.
Setelah mencuci dan menjemurnya aku kembali ke kamar untuk beristirahat.
Sampai di kamar aku segera membuka kerudungku dan jilbabku (gamis) lalu meletakkannya di pinggir ranjang.
Aku memperhatikan dress tidurku yang begitu seksi. Tali braku saja bisa terlihat karna tipisnya pakaian yang kugunakan.
"Ini baju seksi benar. Aku sebenarnya gak betah pake pakaian seperti ini. Lebih enak daster yang longgar apalagi daster kesayanganku yang robek.." gumamku memperhatikan dress tidur yang kugunakan.
Saat berbalik badan aku kaget melihat Rafiq yang berdiri didepan pintu kamar mandi.
Ku berikan senyumku padanya yang terlihat begong menatapku. Ku kembangkan senyum genit ketika mengetahui apa yang saat ini membuat Rafiq mematung.
"Mas kenapa?" aku menghampirinya yang masih diam mematung.
Kukesampingkan semua rambutku yang sepinggang memperlihatkan leher putihku yang terlihat ramping dan juga tali bra merah yang kugunakan.
"Mas mau tidur?" tanyaku kembali.
Saat ku sentuh pundaknya seketika Rafiq sadar lalu memundurkan tubuhnya menjauhiku.
"I.. Iya gua mau tidur.. di kamar Rifqi," katanya terbata.
Dengan sengaja aku kembali mendekat Pada Rafiq untuk menggodanya.
"Aku fikir.. Mas mau tidur denganku," godaku lalu menyentuh bibir bawahku kemudian mengelusnya.
Kulihat Rafiq yang susah menelan slavinanya dan mukanya yang mulai memerah.
Aku semakin mendekatinya dan memojokannya ke tembok. Saat aku ingin menyentuh wajahnya, Rafiq langsung menepis tanganku. Wajahnya sudah berubah menjadi dingin dan iris coklat terangnya menatapku tajam.
"Minggir! Sebelum gua berbuat kasar sama lo," katanya lalu mendorong tubuhku kesamping lalu pergi meninggalkanku.
Ku tatap punggungnya nanar saat menjauh. Tangisku lepas seketika.
"Apa aku gak semenarik itu untumu mas.. atau semenjijikan itukan diriku sampai kamu tidak ingin aku sentuh.." isakku
Karna tidak ingin didengar. Aku segera masuk kamar mandi lalu menyalakan keran untuk menyamarkan tangisanku yang meraung-raung bagai anak kecil.
Puas menangis, segera aku keluar kamar mandi menunju kasur yang empuk. Dalam sekejap alam mimpi sudah menyambutku.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Terimakasih.