
Sedangkan Kaisar Abraxas sedang berdiskusi dengan Baron Shafiq tentang masalah pemasokan makanan sambil berjalan di taman.
" Yang Mulia, Bagaimana jika anda bisa mempercayai saya dalam mengurus makanan bagi rakyat dan anda hanya perlu memberikan dana kepada saya. Lagipula saya pemimpin di sini dan pastinya saya sangat mengenal orang-orang yang tinggal." tawar Baron Shafiq sambil tersenyum
Kaisar Abraxas yang mendengarnya melirik sekilas Baron Shafiq sebelum kemudian tersenyum sinis.
" Memang siapa anda yang bisa memberikan perintah kepada saya?" tanya Kaisar Abraxas membalikan badannya sambil memandang langsung Baron Shafiq.
Bisa Kaisar Abraxas ketahui ada jejak keserakahan di mata Baron Shafiq. Hal itu sama sekali tidak membuat Kaisar Abraxas mempercayai nya.
Sedangkan di sisi lain ekspresi wajah Baron Shafiq langsung dibuat pucat pasi.
" Ti...dak seperti itu, Yang Mulia. Saya hanya memberikan saran yang baik untuk kemajuan daerah sini." jawab Baron Shafiq sambil berbicara tergagap.
Kaisar Abraxas yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak seakan ucapan Baron Shafiq lucu baginya. Sedangkan Baron Shafiq yang melihat Kaisar Abraxas menertawakan nya hanya menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangan nya dengan kencang merasa terhina dengan ini.
Kaisar Abraxas yang sedang berhenti tertawa bisa melihat bahwa Baron Shafiq memiliki ekspresi malu bercampur amarah.
" Ini akan semakin menarik sudah lama sekali aku tidak bermain dengan bangsawan." batin Kaisar Abraxas sambil menyeringai.
Sedangkan tubuh Anne sudah berkeringat dingin ketika kereta kuda yang membawanya dan Sofia sudah memasuki wilayah kediaman.
Sofia yang tidak biasa melihat sikap Anne sedikit aneh bertanya.
" Mommy, apa baik-baik saja?" tanya Sofia dengan tampang polos nya.
Anne melihat tingkah polos Sofia tapi dalam dirinya merasa menjerit karena takut bertemu dengan Kaisar Abraxas.
Sofia yang mendengar jawaban dari Anne sebenarnya tidak yakin. Sofia merasa bahwa Anne menyembunyikan sesuatu dari nya termasuk siapa ayah kandung nya. Meskipun Sofia tidak bertanya tentang ayah nya karena tak mau membuat Anne sedih. Tapi Sofia penasaran siapa ayah nya dan dimana dia sekarang. Apa dia membuang mereka pikir Sofia.
Berbeda dengan Sofia malah Anne sedang memikirkan 1000 macam cara untuk berusaha terlihat oleh Kaisar Abraxas.
Sepasang ibu dan anaknya sedang sibuk memikirkan sesuatu sampai tidak menyadari bahwa Peter yang membawa mereka berdua mengetuk pintu kereta.
" Permisi Lady kita sudah sampai." ucap Peter sambil mengetuk pintu kereta kuda.
Anne dan Sofia langsung tersadar dari lamunannya.
" Baiklah, Ayo Sofia kita tidak bisa membuat Baron Shafiq menunggu." ucap Anne kepada Sofia.
Sofia hanya menggangguk kepalanya sebelum kemudian turun dari kereta kuda dengan di bantu Peter.
Setelah itu baru Anne yang turun dari kereta kuda ekspresi wajahnya sudah menunjukkan kegelisahan. Tapi Anne harus bisa bertahan dan berusaha menghindari Kaisar Abraxas.
" Mari, ikut saya Lady Lizzy dan nona kecil." ucap Peter yang menuntun Anne dan Sofia memasuki kediaman Baron.
Tidak seperti kediaman Anne dulu yang dimana-mana serta putih dan hitam mengingat keluarga Count Reyes sangat kedu warna itu. Kediaman Baron Shafiq terlihat sangat megah dan besar membuat Sofia kagum.
Berbeda dengan Anne yang merasa curiga dengan Baron Shafiq. Tapi kecurigaan itu tidak lama karena ketika dirinya dan Sofia sampai taman mereka melihat sesosok laki-laki yang berusaha ia hindari selama 5 tahun.
" Sialan." umpat Anne sambil mengepalkan tangannya.
Countine...