
Anne duduk di pinggiran air mancur sambil membuka suaranya sebelum kemudian dirinya membalikan badannya melihat seseorang berdiri di belakangnya.
" Kaisar." ucap Anne sambil membungkuk hormat.
Sedangkan Kaisar Abraxas berjalan mendekati Anne dengan ekspresi datar di wajahnya.
Anne yang masih membungkuk hanya diam saja dirinya tidak tahu harus mengatakan apa.
Sampai dimana Kaisar Abraxas berdiri di depannya dengan tangannya menarik dagu nya memaksa Anne untuk melihatnya.
" Saya menyerah." ucap Kaisar Abraxas dengan pelan.
Meskipun suara itu pelan tapi mampu membuat Anne terkejut.
" Apa maksudnya menyerah saya tidak mengerti, Yang Mulia?" tanya Anne pelan juga sambil menatap mata Kaisar Abraxas.
Melihat tatapan matanya membuat Anne merasa kerinduan yang sangat besar pada sosok dicintainya selama ini. Jujur saja Anne belum bisa melupakan Kaisar Abraxas meskipun sudah beratus-ratus tahun tapi perasaan nya masih ada sampai sekarang.
" Saya mencintai mu Anne." ucap Kaisar Abraxas mengungkapkan perasaannya kepada Anne.
Anne yang mendengarnya lagi-lagi dibuat terkejut karena untuk kedua kalinya Kaisar Abraxas menyatakan perasaannya.
Perasaannya merasa berlabuh tinggi seakan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Apalagi tidak lama setelahnya Anne merasakan sesuatu benda kenyal yang menempel di bibir nya.
Ternyata Kaisar Abraxas mencium bibir Anne dengan lembut dan penuh perasaan.
Anne merasakan langsung memejamkan matanya menikmati ciuman Kaisar Abraxas.
" Ingat saya mau mempunyai anak laki-laki dan kau hanya bisa memberikan ku anak perempuan."
" Lagi-lagi kau membunuh bayi dalam kandungan mu karena kecerobohan mu Annelise."
" Sebentar lagi saya akan menikahi Lady Tania dan saya harap kita bisa berpisah dalam keadaan baik."
" Berani sekali kau mencoba membunuh tunangan ku. Mulai hari ini kau bukan isteriku lagi dan posisi mu sebagai ratu saya cabut. Penjaga bawa dia ke penjara sampai jadwal eksekusi mu ada."
Mendengar ucapan Kaisar Abraxas yang sangat menyakiti hatinya di masa lalu. Membuat Anne tersadar bahwa ini tidak bisa dilanjutkan seberapa besar cintanya Kaisar Abraxas. Tapi tetap saja Kaisar Abraxas sangat menginginkan anak laki-laki. Yaitu tidak bisa berasal darinya.
Dengan sekuat tenaga Anne melepaskan ciuman Kaisar Abraxas. Nafasnya masih tersengal-sengal Anne menatap Kaisar Abraxas yang tampak terkejut dengan aksinya.
" Kita tidak bisa bersama." ucap Anne akhirnya mengeluarkan suaranya dengan lirih dan air mata jatuh di pipinya.
Kaisar Abraxas yang mendengarnya mengepalkan tangannya menatap Anne.
" MENGAPA TIDAK BISA, KITA SALING MENCINTAI. BERSAMA-SAMA KITA AKAN BAHAGIA MEMIMPIN KEKAISARAN SEBAGAI PASANGAN SUAMI ISTERI." ucap Kaisar Abraxas dengan suara frustasi karena Anne terus menolak perasaan nya.
Lagi-lagi dengan keras kepala Anne menggeleng kepalanya membantah semua perkataan Kaisar Abraxas.
" Saya menolak nya, Yang Mulia. Karena saya tahu bahwa anda mendekati ku hanya sebab bangsawan memaksa mu untuk menikah lagi untuk mendapatkan ahli waris laki-laki. Akhirnya anda memilih saya untuk di tipu dengan di janjikan sebagai ratu. Mungkin kalau para lady lain akan senang tapi saya tidak." ucap Anne berjalan mendekat Kaisar Abraxas dengan ekspresi marah.
" Karena anda dan semua anak buah mu memaksa saya untuk melahirkan terus-menerus sampai mendapatkan anak laki-laki. Seperti anda melakukannya kepada mendiang ratu Catherine." ucap Anne menatap sekali lagi Kaisar Abraxas sebelum beranjak pergi.
Tetapi...
Countine...