
Kaisar Abraxas tidak menjawabnya. Sampai kemudian ia mendekatkan wajahnya ke Annelise hendak menciumnya.
Tapi sayangnya Annelise kali ini tidak akan membiarkannya. Jadi menahan bibir Kaisar Abraxas dengan telapak tangannya. Kali ini Kaisar Abraxas hanya bisa mencium tangan Annelise.
Membuat Annelise tersenyum senang merasa bangga telah berhasil menghindari ciuman dari Kaisar mesum di depannya. Sayangnya Kaisar Abraxas yang memiliki pemikiran licik malah mencium dan menjilati tangan Annelise.
Arrgh...
Melihat itu semuanya Annelise secara refleks berteriak kencang dan melompat menjauh dari Kaisar Abraxas.
" Kau mesum." ucap Anne sambil menunjuk Kaisar Abraxas.
Bukannya tersinggung Kaisar Abraxas malah menunjukkan seringai liciknya dia merasa senang dengan sikap Annelise yang perlahan mulai terbuka kepadanya.
" Selamat malam my Lady." ucap Kaisar Abraxas yang kemudian membalikan badannya dan pergi. Seolah-olah melupakan semua kemarahannya tadi.
Annelise yang di tinggalkan sendiri langsung memiringkan kepalanya bingung dengan sikap aneh Kaisar Abraxas.
" Sebenarnya dia kenapa?" tanya Anne kepada dirinya sendiri.
...****************...
Keesokan harinya Annelise yang sudah kembali dari istana saat ini sedang sarapan bersama ayah dan ibunya. Sedangkan kakak dan kakak iparnya sudah pulang.
Annelise merasa heran kali ini melihat ibunya yang senyum-senyum sendiri sejak tadi berbeda sekali dengan wajah masam ayahnya.
" Ayah mengapa wajah mu masam begitu, apa terjadi sesuatu?" tanya Annelise khawatir bahwa sebenarnya ayahnya sedang sakit.
" Ayah mu cuma kesal karena sejak kejadian perburuan kemarin. Kau menerima surat lamaran pertunangan. Ayah mu tidak menerimanya dan langsung membakar surat-surat itu. Katanya ' puteriku masih terlalu kecil untuk menjadi isteri' kemudian ayahmu membalas semua surat penolakan kepada mereka semua hahaha..." ucap Countess sambil tertawa terbahak-bahak mengingat sikap konyol suaminya.
Annelise yang awalnya khawatir berusaha menahan tawanya mendengar jawaban dari ibunya. Melihat wajah malu ayahnya Annelise segera berdiri dari kursinya dan memeluk leher ayahnya.
" Tenanglah ayah sekarang Lizzy belum tertarik dengan pertunangan. Karena Lizzy ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama ayah. Jadi jangan khawatir Lizzy akan selalu menjadi Puteri ayah." ucap Anne menenangkan ayahnya dengan menggunakan nama panggilan yang di berikan oleh sang ayah.
Count Reyes yang mendengarnya matanya berkaca-kaca merasa terharu bahwa Puterinya sangat menyayangi nya. Countess yang melihatnya tidak bisa lebih bahagia lagi setelah kejadian itu Annelise nya berubah dan mampu membuat kecerahan di keluarga ini lagi.
" Sekarang lanjutkan makannya keburu dingin dan suamiku tolong jangan menjadi cengeng." ucap Countess dengan marah atau lebih tepatnya berpura-pura.
Annelise dan Count Reyes melirik satu sama lain sebelum kemudian tertawa.
Menurutnya kehidupannya kali ini sangat membahagiakan bagi Annelise meskipun ada yang kurang. Seperti kehadiran Sofia yang membuatnya sedikit merindukan puterinya dulu.
Selesai sarapan Annelise berjalan kembali ke kamar dan mengurung dirinya dia membutuhkan waktu untuk sendiri. Setelah memastikan pintu terkunci Annelise memasuki lemari pakaiannya di sana terdapat sebuah lukisan kuno. Annelise menggesernya dan terbukalah sebuah pintu rahasia yang baru saja dia temukan baru-baru ini.
Annelise terus berjalan sampai di sebuah taman dalam ruangan yang terdapat banyak bunga bermekaran. Awalnya taman ini sudah rusak tapi dengan kerja keras Annelise memperbaikinya.
Pandangan Annelise tertuju ke sebuah lukisan anak kecil yang sedang memegang bunga di tangannya sambil menunjukkan senyumannya. Air mata Annelise mengalir deras di wajahnya.
" Mama merindukan mu Sofia...
Countine...