
Seminggu kejadian tragis itu Anne merasa tidak ada semangat hidup. Apalagi mengingat dimana dengan tega Kaisar Abraxas memperkosanya sampai ia kehilangan mahkota berharga sebagai seorang perempuan.
Anne merasa lemah karena tidak bisa melawan Kaisar Abraxas. Bahkan selama seminggu terakhir dirinya lebih memilih mengurung di kamar tanpa mau berbicara atau bertatap muka kepada siapapun.
Tok...Tok...
" Anne, buka pintu nya Ibunda ingin mengatakan sesuatu." ucap Countess Reyes yang mengetuk pintu Anne sambil memanggil nya.
Anne yang sedang bersandar di jendela kamarnya melirik ke arah pintu sebelum kemudian menghela nafasnya. Berjalan menuju pintu.
Ceklek...
" Selamat pagi Ibunda." ucap Anne menyapa Countess Reyes.
Sedangkan di sisi lain Countess Reyes tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatir nya melihat wajah pucat anak perempuannya.
" Anne, apa Ibunda boleh masuk?" tanya Countess Reyes dengan lembut.
Anne yang mendengarnya menggangguk kepalanya sambil memberikan jalan untuk Countess Reyes masuk ke kamarnya.
Sampai di dalam kamarnya Countess Reyes duduk di sofa sambil menepuk bagian di sebelahnya.
" Duduklah nak." ucap Countess Reyes dengan nada memerintah.
Anne yang terlihat lemas berjalan menuju Countess Reyes dan duduk di sebelahnya.
Countess Reyes memegang tangan Anne seakan tahu bahwa ada masalah besar kepada puteri nya.
" Anne, Ibunda tahu dengan kejadian seminggu yang lalu antara kau dan Kaisar. Beliau datang dan mengakui semuanya tapi Ibunda ingin mendengar nya semuanya dari mu sayang. Tolong ceritakan semuanya." ucap Countess Reyes meminta Anne untuk bercerita.
Tiba-tiba saja Anne mendengar suara ayahnya dari balik pintu membuatnya mengalihkan perhatian nya.
" Benar, ayahanda ingin mendengar nya dari mulut mu puteri ku." ucap Count Reyes duduk di samping Anne membiarkan nya dirinya berada di tengah-tengah kedua orang tuanya.
Anne melihat kejujuran di balik mata kedua orang tuanya akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan semuanya.
Selesai Anne bercerita Count Reyes memukul meja di depannya dengan keras melampiaskan perasaan marah nya.
" SIALAN, APA MAU KAISAR BEDEBAH ITU BERANI MENGAMBIL MAHKOTA PUTERIKU. RASA NYA AKU INGIN MENGUNJUNGI ISTANANYA DAN MEMUKUL WAJAHNYA ATAU LEBIH BAIK MEMBUNUHNYA HAHAHAHA..." ucap Count Reyes sambil tertawa.
Membuat Anne dan Countess Reyes yang mendengarnya memperhatikannya.
" Tenanglah suamiku orang yang kita bicarakan merupakan Kaisar kau tidak bisa membunuhnya atau akan ada pemberontakan besar di kota." ucap Countess Reyes menenangkan Count Reyes.
Count Reyes yang mendengar ucapan isterinya berdecih sambil memilih kembali duduk di samping Anne.
Countess Reyes yang melihat kekanak-kanakan suaminya memutar bola matanya malas.
Sedangkan Anne yang melihat nya hanya tertawa pelan dengan tingkah kedua orang tuanya melupakan kesedihannya sejenak.
" Jika dia bukan Kaisar sudah pasti aku bunuh." umpat bukan Count Reyes yang mengatakannya melainkan Countess Reyes sambil mengepalkan tangannya merasa kesal dengan sikap Kaisar Abraxas.
" Apa dia tidak memikirkan bahwa beliau memiliki anak perempuan. Sekarang Anne apa yang ingin kamu lakukan menyetujui Kaisar Abraxas untuk bertanggung jawab atau memilih pilihan lain yaitu meninggalkan kekaisaran ini." ucap Countess Reyes menyuruh Anne membuat pilihan.
Membuat Anne tubuh nya membeku dirinya tidak tahu harus memilih yang mana. Di sisi lain....
Countine...