
Setelah kejadian sebulan kemarin Annelise tidak kembali berkunjung ke istana. Mengingat dia sekarang sedang sibuk untuk mempersiapkan debut nya yang sudah mendekat.
Terutama ibunya yang sudah mulai memasang dekorasi untuk merayakan hari debutnya. Meski debutnya tidak seperti anggota bangsawan sekelas Duke. Tapi Annelise tetap senang asalkan bersama keluarganya.
Annelise mengingat bagaimana dulu di kehidupan keduanya yang merayakan ulang tahunnya sendirian di apartemen nya selama sisa hidupnya. Sesuatu hal yang tidak ingin dia rasakan kembali.
" Selamat pagi Lady." ucap Lilian sambil membungkuk.
Annelise yang berada di meja belajarnya baru saja selesai menulis cerita. Memang ada terlintas di otaknya untuk membuat cerita dan menjadikannya buku.
" Selamat pagi Lilian, apa anda membawa cokelat panas beserta marshmallow." ucap Anne sambil tersenyum.
" Iya Lady silahkan." ucap Lilian sambil menaruh nampan yang berisi cokelat panas dan Marshmallow.
Annelise tentu saja senang mendapatkan minuman di pagi hari kesukaan nya. Memang saat itu Annelise sedang bosan memasuki dapur dan mencoba memasak Marshmallow beserta cokelat panas. Mengingat dulu dia sangat suka memasak memang dia sudah bisa melakukan nya ketika masih kecil. Sebab panti asuhan tempatnya di besarkan mewajibkan semua anak-anak terkhususnya perempuan untuk bisa memasak. Panti asuhan yang saat itu tidak mempunyai cukup dana untuk menyewa koki atau ahli masak.
Annelise yang saat itu sedikit mengalami kesulitan mengetahui bagaimana kehidupan pertamanya di manjakan sebagai Puteri dan Ratu membuatnya tidak perlu belajar memasak. Tapi kelamaan Annelise menyukainya dan menjadikannya hobi.
" Terima kasih Lilian. Sekarang kau bisa pergi aku membutuhkan waktu sendiri dulu." ucap Anne sambil mengambil cangkir cokelat panas itu.
" Sama-sama Lady dan saya membawa surat dari Puteri Maria." ucap Lilian sambil menyerahkan sebuah amplop yang berstempel kekaisaran.
Annelise menggangguk kepalanya sebelum melihat Lilian pergi. Annelise membuka amplop tersebut dan membacanya.
Annelise Elizabeth Von de Ramos...
Saya ingin mengundang anda untuk acara minum teh di istana siang ini...
Annelise yang membacanya dibuat terggangga saat melihat isi surat singkat dari Puteri Maria. Dia sama sekali tidak menyangka bawa Puteri yang berusia hampir 11 tahun itu memiliki sikap yang kaku. Mengingat di kehidupan sebelumnya Puteri Maria selalu bermulut pedas suka menghinanya.
Apalagi acara ini akan di adakan siang nanti jadi kemungkinan Annelise harus berangkat dalam sejam lagi untuk bisa sampai di istana tepat waktu.
Annelise meletakkan kepalanya berbaring di atas meja sambil menggeram.
" Sialan..." ucap Anne dengan suara terendam.
Annelise kembali menegakkan kepalanya lagi melihat ke arah jendela dimana matahari sudah terbit. Sebenarnya Annelise ingin menolak acara tersebut tapi dia merasa tidak enak karena di sini sangat tidak sopan menolak undangan dari anggota kekaisaran.
...****************...
Akhirnya dengan pertimbangan yang panjang Annelise memutuskan untuk memenuhi undangan Puteri Maria. Setelah menghabiskan waktu sekitar 1 jam dia mempersiapkan dirinya. Saat ini Annelise mengenakan gaun biru muda dengan bermotif bunga-bunga di pinggangnya dan di atas kepalanya terdapat sebuah bando bunga yang serasi dengan gaunnya.
Entah sudah berapa lama Annelise melamun sampai tidak menyadari bawa sudah berada di istana.
" My Lady kita sudah sampai." ucap kusir sambil membukakan pintu kuda.
Annelise hanya memberikan senyum kecilnya sebelum kemudian turun dengan hati-hati dari kereta kuda. Tanpa sengaja Annelise menginjak gaunnya hingga hampir tergelincir jika saja tidak ada seseorang yang menahan tubuhnya.
" Sepertinya anda adalah orang yang ceroboh my lady....
Countine...