
" Mama merindukan mu Sofia. Jika saja Mama tidak bodoh mungkin kita akan berpisah begitu cepat." ucap Anne sambil menangis menyentuh lukisan puterinya di masa lalu.
Setelah menghabiskan waktu untuk merindukan puteri kecilnya. Annelise segera kembali ke kamarnya untuk segera bersiap-siap pergi menuju ke kota.
Ada yang harus di urus oleh Annelise ke sana sudah waktunya dia menunjukkan bakatnya di masa depan dulu. Untuk hari ini Annelise mengenakan kemeja berwarna putih dengan pita yang di pasangkan ke kerahnya serta rok berwarna ungu tua dan jaket berwarna sama dengan rok nya. Rambutnya yang berwarna cokelat ia gerai dengan kepang kecil di kedua sisinya di hiasi oleh pita ungu.
Annelise berjalan begitu percaya diri sesekali menyapa para pelayan yang berlalu lalang di lorong. Memang setelah kejadian tersebut Annelise sudah mulai akrab dengan para pelayan beserta pekerja istana mulai memperlakukan nya dengan baik.
Tapi sebelum Annelise pergi dirinya harus meminta izin kepada Count Reyes atau akan terjadi pencarian besar-besaran karena menyadari bahwa dirinya tidak ada. Kejadian pertama dialami ketika berusia 9 tahun yang saat itu sedang pergi ke kota bersama ibunya tanpa memberitahu ayahnya terlebih dahulu ketika mereka pulang. Tentu saja banyak prajurit yang di kerahkan oleh ayahnya untuk mencari keberadaan mereka berdua.
Akhirnya setelah kejadian tersebut Annelise harus mendapatkan izin ayahandanya untuk pergi ke kota.
Ceklek...
Sampai di ruang kerja ayahnya Annelise langsung membuka pintunya dan melihat ayahnya yang sedang mengerjakan kertas-kertas pekerjaannya. Dengan kacamata di wajahnya membuat ayahnya terlihat tampan diusianya hampir berkepala lima.
" Hai Ayah sepertinya sedang sibuk?" tanya Anne sambil berjalan mendekat.
Count Reyes yang mendengar suara Puterinya langsung menghentikan pekerjaannya sejenak. Sebelum memandang lembut Annelise salah satu orang yang berharga baginya.
Memang bagi keluarga bangsawan memiliki anak perempuan merupakan sebuah aib. Sebab anak perempuan lemah tidak bisa melakukan hal seperti seorang anak laki-laki terutama menjadi pemimpin ahli waris keluarga.
Tapi bagi Count Reyes senang malah sangat bahagia telah di berkati kedua anak perempuan yang membuat hidup nya semakin berwarna. Jika bagi orang anak perempuan hanya di jadikan alat untuk perjanjian kontrak. Tidak bagi Count Reyes yang lebih mementingkan kebahagiaan anak-anaknya.
" Tidak ada sesuatu yang penting Lizzy cuma mau meminta izin untuk pergi ke kota." ucap Anne sambil tersenyum.
Alis Count Reyes terangkat sebelah menatap Annelise dengan pandangan horor nya.
" Jangan bilang kau akan berkencan?" tanya Count Reyes seperti orang yang ketakutan ketika anak perempuan berkencan dengan seorang pria.
Count Reyes masih tidak bisa melepaskan puteri berharga nya kepada pria lain. Apalagi sampai menikah begitu juga terjadi pada kakak Annelise yaitu Annete yang saat ini sedang hamil 5 bulan.
Annelise yang melihat sikap posesif ayahnya mulia muncul memutar bola matanya malas. Terkadang Annelise merasa tidak suka dengan sikap berlebihan ayah nya.
Tapi tidak di pungkiri Annelise merindukan saat-saat seperti ini.
" Tidak ayah, Lizzy akan menghadiri acara opera sudah lama sekali Lizzy tidak ke sana." ucap Anne menjawab.
Count Reyes yang mendengarnya bernafas lega setidaknya puterinya masih ada berada di sisi nya.
Sedangkan Annelise menatap Count Reyes penuh berharap bisa di izinkan ke kota.
" Semoga di izinkan atau semua rencana yang sudah aku susun hancur." batin Anne gelisah.
Countine...