Third Life

Third Life
Reputasi Semakin Buruk



Sampai di dekat Kaisar Abraxas tiba-tiba saja. Tubuh Annelise di tarik dan menciumi bibirnya.


Membuat Annelise yang melihatnya terkejut dengan mata nya membulat sempurna. Dirinya hanya diam tanpa membalasnya.


Kaisar Abraxas yang melihatnya segera membawa tangannya ke arah gunung kembarnya dan meremasnya pelan. Membuat Annelise secara refleks mengerang dan membuka mulutnya memberikan kesempatan Kaisar Abraxas memasukan lidahnya ke dalam mulutnya.


Annelise hanya meremas jubah yang digunakan oleh Kaisar Abraxas sambil menikmati ciumannya.


Tiba-tiba bayangan dimana dia menikahi Kaisar Abraxas, melahirkan Puterinya Sofia, penghianatan Kaisar, dan hukuman itu. Terekam sempurna di otaknya.


Membuat Annelise secara refleks mendorong kasar tubuh Kaisar Abraxas hingga ciumannya terlepas.


Kaisar Abraxas yang merasa tiba-tiba Annelise melepaskan ciumannya dibuat terheran.


Annelise tersadar dengan sikap tidak sopan nya kepada Kaisar Abraxas yang mendorongnya.


" Maafkan saya, Yang Mulia. saya mohon izin untuk pergi." ucap Anne yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari tenda.


Meninggalkan Kaisar Abraxas dengan beberapa pertanyaan tertanam di pikirannya.


Setelah keluar dari tenda tubuh Annelise seketika melemas dan melihat ke arah langit yang sudah berubah menjadi jingga menandakan sekarang sudah senja. Annelise menempelkan tubuhnya bersandar di bawah pohon sambil memejamkan mata nya memikirkan apa yang dilakukannya tadi. Bagaimana dia bisa dengan lancang menerima ciuman Kaisar Abraxas begitu saja.


Membuat Annelise semakin bimbang dengan pilihannya.


" Apa aku harus menerima tawaran dari ibu." ucap Annelise dengan pelan.


Tanpa menyadari Annelise sejak tadi di perhatikan nya dari jauh dan memandangi nya dengan tatapan sulit.


" Aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahan ku di masa lalu." ucap nya sebelum pergi meninggalkan Annelise.


...****************...


Annelise yang sedang duduk bersama para wanita bangsawan sambil memperhatikan para laki-laki kelas atas, bangsawan, hingga pemimpin negeri orang-orang penting berkumpul.


Pandangan Annelise tertuju ke arah Tania yang saat ini sedang berada di seberangnya dengan wajahnya di tutup oleh sehelai kain, gaunnya yang berwarna hitam membuat mendapatkan tawaan dari wanita bangsawan lain.


Saya dengar Lady Tania orang yang menyebabkan Kaisar terluka...


Apa yang dilakukannya di situ ini bukan tempat yang pantas bagi wanita itu....


Dia tidak punya malu...


Annelise yang mendengar cemoohan orang-orang kepada Tania membuat senyumannya terbit di balik kipas yang digunakannya.


Mata Annelise menyipit licik menatap angkuh Tania yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


" Rasakan ini yang kau lakukan kepadaku di masa lalu." batin Anne sambil tersenyum miring merasa puas.


Memang sengaja Annelise meninggalkan Tania di dalam hutan. Karena tahu wanita itu tidak mungkin sendirian pastinya dia membawa prajurit dan pelayan mengingat gelar orang tuanya yang berada di atas keluarganya. Tapi Annelise tidak akan menyerah membalas dendamnya. Sesuai dugaannya pastinya Puteri Maria yang mengetahui kejadian semalam memarahi Tania setelah kembali di depan semua orang.


Membuat Tania dalam reputasi yang buruk begitu juga dengan orang tuanya. Pandangan Annelise melihat ke arah Kaisar Abraxas yang datang bersama Raja Rorand di sampingnya.


" Selamat pagi semuanya saya akan mengumumkan pemenang dari perburuhan semalam. Orang itu adalah salah satu ksatria bernama James." ucap Kaisar Abraxas yang mengumumkan pemenangnya.


Annelise bertepuk tangan nya dan melihat pria yang perlahan maju di hadapan Kaisar Abraxas. Entah mengapa pria itu tidak asing dari pandangannya.


" Siapa dia....


Countine...