The Problem

The Problem
The Problem - Sembilan



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Akhirnya jam istirahat pun telah tiba dan itu membuat perasaan Valencia semakin gelisah, pasalnya istirahat ini ia akan ke sekolah karena dipanggil oleh Ibu Emy.


Pesan pribadi dari Ibu Emy sukses menghantui pikiran Valencia, dirinya yang saat itu sedang menikmati makanan pemberian Helena langsung berubah menjadi tidak berselera padahal makanan itu tersisa masih lumayan banyak tapi Valencia memilih untuk tidak memakannya.


Saat kembali mengerjakan tugasnya pun pikiran Valencia malah semakin kalut, Valencia juga tidak fokus dalam mengerjakan tugasnya tersebut.


Masih menjadi tanda tanya besar mengapa Ibu Emy menyuruhnya untuk datang ke sekolah, apalagi mengingat Ibu Emy adalah ketua magang itu membuat perasaan Valencia menjadi tidak enak. Sebelumnya Valencia belum pernah berurusan dengan guru apalagi dipanggil secara pribadi seperti itu.


Valencia hanya bisa berharap semoga Ibu Emy menyuruhnya ke sekolah untuk bertanya masalah laporan magang atau bisa saja Ibu Emy ingin memberitahu agar dirinya segera menyerahkan MOU yang harus ditanda tangani oleh CEO, Valencia memang belum menyerahkan MOU tersebut pada CEO karena CEO perusahaan ini masih ada diluar negeri.


Tapi Valencia baru dua hari magang rasanya tidak mungkin kalau Ibu Emy ingin mengatakan itu padanya, kepala Valencia terasa pusing oleh asumsi dirinya sendiri.


Dari pada ia dipusingkan oleh asumsinya sendiri, lebih baik ia sekarang segera pergi ke sekolah untuk mengetahui apa yang ingin Ibu Emy sampaikan padanya.


Sebelum pergi ke sekolah, Valencia merapikan mejanya terlebih dahulu serta alat tulisnya setelah itu ia memakai tas ranselnya.


Valencia menuju ke arah meja Helena untuk meminta izin keluar, disini ia hanya mengenal Helena dan Luna tapi karena Luna tidak masuk jadi ia meminta izin pada Helena saja.


"Permisi Kak, saya izin mau pergi ke sekolah sebentar. Takutnya nanti saya kembali kesini agak terlambat, karena ada yang harus saya urus di sekolah." Jelas Valencia jujur.


Helena mengangguk tanda mengiyakan. "Baik, nanti aku akan mengatakan izinmu pada ketua bidang arsip."


"Terima kasih Kak, saya pamit pergi dulu." Valencia berpamitan.


"Hati-hati dijalan Valen." Peringat Helena untuk Valencia.


Valencia mengangguk pelan sambil tersenyum setelah itu baru ia beranjak pergi dari ruangan dan langsung menuju ke sekolah.


Tanpa Valencia tahu sedari tadi Helena menatap kepergian Valencia sampai Valencia menghilang dibalik pintu, tidak lupa ia menampilkan senyum penuh artinya.


"Ternyata mudah sekali menjebak anak magang itu." Ujar Helena menampilkan smirknya.


Hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk Valencia sampai ke sekolah menggunakan motor beat miliknya. Valencia duduk sebentar diatas motornya sebelum menuju ke ruangan Ibu Emy.


Jujur saja saat ini Valencia merasa gugup bahkan tangannya pun berkeringat dingin, perasaannya juga semakin gelisah dan dirinya juga seperti ingin menangis.


Valencia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan parkiran dan menuju ke ruangan Ibu Emy. Ditengah perjalanan menuju ruangan Ibu Emy, Valencia melihat suasana sekolah yang begitu ramai mengingat ini masih jam istirahat.


Dilapangan ada Kakak serta Adik kelasnya sedang bermain bola, padahal cuaca hari ini sangat panas tapi itu tidak membuat semangat mereka luntur dalam bermain bola.


Ruangan Ibu Emy pun semakin dekat dan itu membuat jantung Valencia semakin berpacu cepat, keringat dingin pun semakin membanjiri tangannya.


Sampailah Valencia berada didepan pintu ruangan Ibu Emy, sebelum masuk kedalam ia mengatur napasnya terlebih dahulu untuk menetralkan detak jantungnya serta rasa gugup yang melanda dirinya saat ini.


Valencia mulai mengetuk pintu pelan. "Permisi Bu, saya Valencia Floryna."


"Silahkan masuk." Ujar Ibu Emy.


Mendengar Ibu Emy yang menyuruhnya masuk barulah Valencia masuk kedalam ruangan.


"Silahkan duduk."


Valencia pun duduk dihadapan Ibu Emy dengan jantung yang masih berdetak kencang.


"Apa kau sudah tahu mengapa kau Ibu panggil kemari?" Tanya Ibu Emy dengan ekspresi serius.


"Hari ini, Ibu mendapat laporan dari perusahaan tempat kau magang." Ujar Ibu Emy memberitahu.


Valencia mengernyit bingung laporan apa yang diterima Ibu Emy dari perusahaan tempat ia magang. "Kalau boleh tahu, laporan apa yang Ibu dapat dari perusahaan tempat saya magang?"


"Kau telah membuat kesalahan yang fatal."


Mendengar itu membuat Valencia bingung, kesalahan fatal apa yang dirinya buat, Valencia sangat yakin selama tiga hari magang ia tidak pernah melakukan kesalahan, ia telah mengerjakan tugasnya dengan baik, dirinya juga tidak pernah menolak ketika ada orang yang meminta bantuan padanya.


"Kesalahan apa yang telah saya perbuat?" Tanya Valencia penasaran.


"Selama magang kau sering bermalas malasan, kau sering memainkan ponsel dan itu membuat para karyawan yang satu ruangan denganmu sulit untuk meminta bantuan padamu. Satu lagi, kau juga melanggar peraturan perusahaan kalau tidak ada yang boleh makan sebelum jam istirahat."


Mendengar jawaban Ibu Emy membuat Valencia menganga tidak percaya, laporan itu tidak semuanya benar, Valencia mengaku kalau dirinya makan sebelum jam istirahat, itu karena ia tidak tahu kalau di perusahaan tempat ia magang tidak mengizinkan makan sebelum jam istirahat.


Tapi, ada dua hal yang membuat dirinya geram, dirinya difitnah bermalas-malasan, ia selama tiga hari ini sibuk mencatat surat masuk ke jurnal dan itu dikatakan hanya bermalas-malasan.


Dirinya juga difitnah sering memainkan ponsel, bahkan dirinya baru hari ini memainkan ponsel itu pun hanya melihat chat grup whatsapp dan juga memastikan kalau diruangannya tersedia wifi.


Yang menjadi pertanyaan Valencia saat ini siapa yang tega melaporkan hal yang tidak benar itu pada ketua magangnya.


"Orang itu juga melapor pada Ibu Lea, padahal Ibu Lea bukan guru pembimbingmu." Tambah Ibu Emy lagi.


Valencia harus membela diri ia tidak ingin dirinya difitnah yang tidak benar seperti ini


"Maaf Bu, sepertinya laporan itu sedikit dilebihkan, selama tiga hari magang saya sibuk mengerjakan surat masuk hingga saya jarang membuka ponsel. Saya akui jika saya melanggar satu peraturan yaitu makan sebelum jam istirahat, tapi itu karena saya tidak tahu kalau di perusahaan itu telah membuat peraturan kalau tidak boleh makan sebelum jam istirahat."


Ibu Emy menatap lurus ke arah Valencia. "Tapi Ibu mempunyai bukti kalau kau sedang bermain ponsel pada saat jam kerja." Ibu Emy mencari bukti tersebut kemudian ia memperlihatkannya pada Valencia.


Valencia melihat foto dirinya sedang memainkan ponsel dan juga foto saat dirinya tengah memakan nasi goreng dengan begitu lahap. Valencia tahu siapa orang yang telah melaporkannya dan itu membuat rahang Valencia mengeras.


Setelah memperlihatkan foto tersebut pada Valencia, Ibu Emy kembali meletakkan ponselnya diatas meja. "Ibu, mempunyai bukti yang kuat jadi kau tidak bisa mengelak lagi."


Valencia tidak menyangka kalau Helana telah melaporkan tentang dirinya yang tidak benar, apa wanita itu sengaja mengerjainya sampai membuatnya terkena masalah seperti ini. Valencia menyesal karena telah berpikir kalau Helena adalah wanita yang baik ternyata wanita itu adalah wanita ular yang sangat berbahaya.


Dirinya bahkan baru hari ini kenal dengan Helena dan ia juga tidak pernah mencari masalah dengan wanita itu, tapi kenapa Helena begitu tega memfitnah dirinya seperti ini.


"Ibu tidak menyangka, kau begitu berani membuat masalah di perusahaan besar, padahal kau baru tiga hari menjalani magang. Ibu cukup kecewa mendengarnya." Ibu Emy menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "Kesalahanmu ini bisa berdampak buruk pada nilaimu dan juga kau bisa terancam tidak naik kelas."


Mendengar itu membuat mata Valencia berkaca-kaca, ia tidak bisa membayangkan betapa kecewanya orang tuanya jika Valencia sampai tidak naik kelas.


"Berikan saya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan saya." Mohon Valencia pada Ibu Emy.


"Kau yakin tidak akan mengulangi kesalahanmu lagi."


Valencia mengangguk yakin. "Iya Bu, saya janji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi."


"Baiklah, Ibu akan memberimu kesempatan sekali lagi, jika kau masih mengulangi kesalahanmu kembali maka Ibu tidak dapat menolong lagi dan kau pasti akan dinyatakan tidak naik kelas."


Itu terdengar berat bagi Valencia, tapi ia harus bisa menyanggupinya. "Terima kasih Ibu telah memberikan saya satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya, saya janji akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin dan tiidak akan mengecewakan Ibu lagi."


"Bagus, kau harus menepati janjimu itu. Kau bisa kembali ke tempat magangmu." Ujar Ibu Emy.


"Saya pamit Bu." Valencia beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan Ibu Emy.


Valencia pasti akan menepati janjinya, kali ini ia tidak akan dibodohi lagi, ia harus lebih rajin lagi mengerjakan tugasnya agar tidak ada celah untuk para karyawan melaporkannya kembali.


...🍁🍁🍁...