The Problem

The Problem
The Problem - Dua Puluh Satu



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Valencia bersyukur keadaannya sudah pulih dan sehat, jadi hari ini ia dapat masuk magang kembali seperti biasanya.


Seperti biasa ia akan membersihkan ruangan ketika tiba ditempat magang, tidak lupa juga ia merapikan meja para karyawan yang terlihat berantakan.


Saat ini Valencia sedang sibuk memilah surat di gudang, tentunya ia tidak sendirian, ia memilah surat bersama Gavin.


Valencia memang sudah menduganya kalau memilah semua surat itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, paling tidak seminggu baru selesai.


Setidaknya lebih mending memilah surat dari pada mencatat surat kedalam jurnal, karena mencatat akan membuat tangannya terasa pegal apalagi kalau banyak surat yang harus ia catat.


Sedari tadi Valencia tidak fokus memilah surat, karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada notif tadi malam kalau Rafael Aldebaran mengikuti balik instagramnya.


Valencia mengira kalau Rafael tidak sengaja menekan tanda follback pada akun instagram miliknya, tapi sampai saat ini Rafael masih tetap memfollback akun nya tidak ada tanda-tanda kalau Rafael akan mengunfoll akun instagram miliknya.


Tapi, bisa saja Rafael lupa untuk mengunfoll akun miliknya kembali, atau mungkin Rafael sedang sibuk jadi ia tidak mempunyai waktu untuk membuka akun instagramnya.


Valencia berharap kalau Rafael tidak mengetahui kalau itu instagram miliknya dan Rafael memang tidak sengaja menekan tanda follback.


Valencia tahu Rafael memfollback akun miliknya bukanlah hal penting, tapi entah kenapa hal tersebut malah membuat pikiran Valencia tidak tenang.


"Valen, apa kau masih sakit?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Valencia tersadar dari pikirannya dan menatap ke arah sumber suara.


"Tidak Kak, saya sudah sehat." Jawab Valen menampilkan senyum meyakinkannya.


Orang yang barusan bertanya itu adalah Gavin, sedari tadi ia melihat ekspresi gelisah melekat pada wajah Valencia, ia takut kalau wanita itu masih sakit jadi ia menanyakannya.


"Syukurlah, tapi kalau kau tiba-tiba merasa kurang sehat kau bisa beristirahat sebentar." Saran Gavin pada Valencia.


"Valencia mengangguk pelan. "Baik, Kak." Setelah mengucapkan itu Valencia kembali fokus untuk memilah surat yang menumpuk diatas meja.


Gavin sesekali mencuri pandang kepada Valencia, apa Valencia tidak menyadari kalau sedari tadi dirinya suka mencuri pandang pada wanita itu.


Mungkin jika Valencia pertama kali datang kesini tidak menggunakan seragam SMA dan hanya memakai pakaian biasa, Gavin akan mengira kalau Valencia hanya bocah SMP.


Pasalnya Valencia mempunyai tubuh yang pendek dan tidak seperti siswi SMA pada umumnya yang memiliki tubuh yang tinggi, Gavin dapat menebak kalau tubuh tinggi Valencia sekitar 145.


Menurut Gavin Valencia mempunyai wajah yang standar, tidak seperti karyawan wanita di ruangan nya yang memiliki kecantikan diatas rata-rata. Tapi, entah kenapa Valencia memiliki daya tarik tersendiri untuk memikat seseorang.


Valencia juga berbeda dari anak sekolah pada umumnya, Gavin sering menemui wanita seusia Valencia tapi sikap mereka selalu bar-bar dan suka merayu. Tidak seperti Valencia, wanita itu sedikit pemalu, ia akan berbicara pada orang yang lebih dulu mengajaknya bicara entah itu wanita atau pun pria, jika tidak ada yang mengajaknya bicara maka Valencia memilih diam dan sibuk mengerjakan tugasnya.


Melihat Valencia yang begitu rajin mengerjakan tugasnya membuat senyum kecil terbit dibibirnya, bahkan para karyawan tidak ada yang serajin anak magang itu, Gavin rasa Valencia berhak mendapat nilai yang tinggi atas kerja kerasnya.


Valencia bukan hanya rajin ditempat magang, tapi wanita itu juga rajin saat libur magang contohnya membantu Ayah nya bekerja di kedai.


Andai saja wanita itu seumuran dengannya atau mungkin Valencia sudah kuliah mungkin Gavin sudah menggaet wanita itu untuk menjadi pacarnya. Tapi, sayang sekali Valencia masih begitu muda dan juga masih anak sekolah.


Gavin menggeleng pelan ketika sadar dengan apa yang dipikirkannya, semenjak Valencia magang disini, wanita itu sering memenuhi pikirannya.


Gavin melirik ke arah jam tangan miliknya yang menunjukkan pukul 11.40, sebentar lagi waktu istirahat akan tiba.


"Sepertinya waktu istirahat akan tiba." Gumam Gavin yang dapat didengar jelas oleh Valencia.


Valencia pun ikut melirik ke arah jam tangan miliknya untuk memastikan apakah ucapan Gavin benar atau tidak. Ternyata memang benar kalau sebentar lagi istirahat akan tiba dan itu membuat Valencia tersenyum sumringah.


"Sebaiknya, kita sudahi dulu memilah surat ini, kita kerjakan kembali saat jam istirahat selesai." Gavin memberitahu Valencia.


Valencia menatap ragu Gavin, pasalnya ia takut kalau ia berhenti mengerjakan tugas ini Ibu Alison akan marah. "Apa tidak masalah kalau kita berhenti memilah surat ini."


Gavin tersenyum meyakinkan. "Tidak masalah, sebentar lagi juga istirahat akan tiba. Ayo keluar ini ruangan ini bersama-sama." Ajak Gavin pada Valencia.


Karena langkah Gavin yang cepat ia lebih dulu masuk kedalam ruang arsip sedangkan Valencia masih tertinggal dibelakang. Ketika Valencia membuka pintu dan ingin masuk kedalam, matanya otomatis membelalak lebar karena ia melihat seseorang sedang duduk berhadapan dengan Helena.


Langsung saja Valencia menutup pintu itu kembali dengan hati-hati agar tidak ketahuan, Valencia pun membalikkan tubuhnya dan jadilah posisinya kini sedang membelakangi pintu.


Orang yang duduk dihadapan Helena itu adalah Rafael Aldebaran, Valencia tidak menyangka kalau dirinya akan bertemu lagi dengan Rafael, ia juga baru mengetahui fakta kalau Rafael sepertinya saling mengenal dengan Helena.


Entah kenapa detak jantung Valencia menjadi tidak beraturan. Valencia pun menghela napas sambil memejamkan matanya untuk menetralkan detak jantungnya.


Merasa detak jantungnya mulai normal Valencia pun berbalik membuka pintu ruangan, ia pun melangkahkan kakinya menuju meja miliknya dengan tatapan lurus ke arah mejanya dan tidak menengok kiri ataupun kanan.


Valencia dapat bernapas dengan lega ketika ia sudah sampai dimejanya, Valencia melihat kalau Rafael masih sibuk mengobrol dengan Helena dan itu membuat Valencia bersyukur kalau Rafael tidak menyadari dirinya yang baru saja masuk kedalam.


Valencia duduk dikursinya sambil bertopang dagu dan memainkan pulpennya, karena sebentar lagi istirahat jadi ia memutuskan hanya duduk dan tidak melakukan tugas apapun.


Tangan Valencia gatal ingin mencoret meja miliknya, tapi ia sadar, kalau ia mencoret meja ini bisa-bisa Ibu Alison akan memarahinya, Valencia juga dapat menebak kalau meja ini pasti harganya mahal.


Valencia menatap ke arah jam tangan miliknya waktu istirahat tinggal 10 menit lagi tapi entah kenapa waktu rasanya terlalu lama berlalu.


Valencia menatap bosan ke arah pulpennya menunggu 10 menit berlalu seperti menunggu 10 abad, Valencia membersihkan mejanya yang tak kotor dan merapikan barang miliknya yang sebenarnya masih tertata rapi.


Valencia menelungkupkan wajahnya pada meja, entah kenapa rasa kantuk datang melanda dirinya, tapi ketika ia mengingat Helena bisa saja diam-diam mengambil gambarnya ketika posisinya seperti sedang tidur begini.


Otomatis Valencia duduk tegak dan matanya langsung bersitatap dengan mata milik Rafael yang saat ini tengah duduk dihadapannya dengan senyum penuh arti.


Ekspresi terkejut tercetak jelas diwajah Valencia, banyak pertanyaan yang hinggap dikepala wanita itu. Seperti sejak kapan Rafael duduk disini, kenapa Rafael malah duduk disini.


"Kita bertemu lagi." Sahut Rafael dengan senyum penuh arti yang masih melekat pada bibirnya.


Valencia diam masih menatap Rafael dan berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang kembali berdegup kencang.


"Sepertinya kau begitu kaget melihat kedatanganku kesini." Sahut Rafael lagi sambil bersidekap.


"Ada apa kau kemari?" Tanya Valencia spontan.


"Tentu saja untuk menemuimu, cantik." Jawab Rafael menampilkan smirknya.


Valencia mendengus pelan ketika mendengar kalimat akhir Rafael, pria itu memang perayu ulung. Pantas saja Valencia tadi melihat pipi Helena merona saat berbicara dengan Rafael tadi, rupanya pria itu juga melemparkan rayuannya pada Helena.


"Aku tahu kau sedang menemui orang lain." Balas Valencia dengan ekspresi datar.


"Apa kau cemburu kalau aku mengatakan iya?" Rafael bertanya dengan alis terangkat.


Valencia tidak habis pikir dengan pertanyaan Rafael, selain perayu ulung pria itu juga memiliki percaya diri yang tinggi.


"Untuk apa aku cemburu, kau tidak ada hubungannya denganku." Balas Valencia sarkas.


Rafael pun mendekatkan wajahnya pada Valanecia dan itu membuat Valencia memundurkan kursinya.


"Lalu kau ingin kita memiliki hubungan." Ujar Rafael dengan seringainya.


Membayangkan dirinya dan dan Rafael memiliki hubungan membuat Valencia bergedik ngeri, Valencia melirik ke arah jam tangannya dan waktu telah menunjukkan pukul 12.10 artinya waktu istirahat telah tiba.


"Sepertinya aku harus keluar makan siang." Valencia memberitahu dan beranjak dari kursinya.


"Kebetulan sekali, kau makan siang saja bersamaku." Balas Rafael pada ucapan Valencia.


Belum sempat Valencia mengeluarkan kalimat penolakannya, Rafael lebih dulu menarik pergelangan tangan Valencia dan membawa Valencia berjalan keluar ruangan, para karyawan yang melihat itu hanya bisa menampilkan ekspresi penuh tanda tanya.


Sedangkan Helena ia menatap punggung Valencia yang telah tertelan oleh pintu dengan tatapan bencinya.


...🍁🍁🍁...