The Problem

The Problem
The Problem - Dua Puluh



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Hari ini Valencia memutuskan untuk izin tidak dapat masuk magang karena ia sedang sakit, mungkin karena efek terlalu lelah hingga menyebabkan dirinya sakit seperti ini.


Untung saja ia sudah bertukar nomor whatsapp dengan Luna, jadi ia bisa memberitahu Luna kalau hari ini ia tidak bisa masuk lantaran sedang sakit.


Sedari tadi Valencia hanya berbaring diatas kasur sambil memainkan ponselnya. Jujur saja, saat ini Valencia merasa bosan karena hanya berbaring di kamar tidak melakukan apapun.


Ia juga selalu diberi peringatan oleh Ibu nya agar tetap berbaring diatas kasur dan jangan keluar kamar, jika ia keluar kamar Valencia yakin dirinya pasti akan diceramahi oleh Ibu nya.


Walaupun Valencia tahu kalau Ibu nya bermaksud baik, agar dirinya fokus beristirahat tapi menurut Valencia itu terlalu berlebihan pasalnya ia hanya sakit biasa bukan sakit parah.


Valencia melirik ke arah jam di dindingnya yang menunjukkan pukul 12.10, biasanya jam segini Valencia sedang makan siang diluar bersama Luna.


"Aku sangat bosan." Gumam Valencia sambil menatap layar ponselnya.


"Apa yang harus ku lakukan untuk menghilangkan rasa bosan ini." Gumam Valencia lagi.


Valencia benci sakit, ketika sakit melanda dirinya, maka dirinya tidak bisa menjalani aktivitas seperti biasanya.


Valencia melihat grup chat whatsapp begitu sepi, biasanya grup chat selalu ramai terutama grup chat khusus anak magang, kadang beberapa siswa atau siswi banyak bercerita mengenai keseharian mereka saat melaksanakan magang.


Tapi hari ini, Valencia tidak melihat salah satu siswa atau siswi menceritakan kegiatan mereka ataupun mengirim foto mereka saat melaksanakan tugas magang.


Valencia membuka grup chat ia bersama sahabatnya, terakhir kali grup mereka ramai malam tadi, Valencia pun mulai mengetikkan sesuatu pada papan keyboardnya setelah itu ia menekan tanda kirim.


Valencia : Halo, apa kalian sedang sibuk?


Valencia : Aku sangat bosan.


Valencia : Ayo, ramaikan grup.


Valencia : Sepertinya kalian sedang sibuk.


Valencia masih setia menatap layar ponselnya menunggu para sahabatnya akan merespon chat darinya. Tapi setelah beberapa menit menunggu, chat Valencia masih tidak mendapat respon oleh sahabatnya.


"Sepertinya mereka memang sedang sibuk." Ujar Valencia sambil menatap lesu ke arah layar ponselnya.


Mungkin sahabatnya saat ini sedang sibuk menikmati makan siang mereka, atau juga mereka sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Jadi, mereka tidak mempunyai waktu untuk memainkan ponsel dan merespon chat darinya.


Tring...


Mendengar ponselnya berbunyi, Valencia pun kembali menatap layar ponselnya dan ia melihat satu notif dari grup whatsapp girl squad.


Bella : Tidak biasanya kau aktif jam segini.


Valencia : Hari ini aku tidak masuk magang, makanya aku bisa aktif jam segini.


Joana : Kenapa kau tidak masuk?


Valencia : Aku sedang sakit.


Clara : Kau sakit apa?


Valencia : Hanya kelelahan.


Joana : Astaga Valen, kau sedang sakit, kau harus istirahat biar lekas sembuh.


Bella : Benar Valen, kau harus istirahat jangan melakukan aktivitas dulu.


Clara : Bagaimana kalau nanti malam kita ke rumah Valen?


Joana : Aku setuju, nanti malam kita harus ke rumah Valen.


Valencia : Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan kalian.


Bella : Kita sahabat Valen, jadi kami tidak merasa direpotkan.


Clara : Kau tunggu saja kedatangan kami.


Joana : Bella dan Clara kalian kumpul di rumahku dulu, baru setelah itu kita berangkat bersama ke rumah Valen.


Bella : Baik, aku akan ke rumahmu jam 7 malam.


Clara : Oke, kita akan ke rumah Joe terlebih dahulu baru ke rumah Valen.


Joana : Valen, lebih baik kau sekarang istirahat.


Bella : Semoga cepat sembuh Valen.


Clara : Jangan lupa minum obat.


Valencia : Baiklah, aku akan istirahat, semangat kalian.


Setelah mengirim itu di grup whatsapp, Valencia menutup aplikasi whatsapp nya. Lagi dan lagi dirinya merasa beruntung telah memiliki sahabat seperti mereka, bahkan sahabatnya itu dengan senang hati meluangkan waktu untuk menjenguk dirinya tanpa ia suruh.


Valencia pun beralih membuka aplikasi instagram, siapa tahu ia menemukan info terbaru.


Valencia melihat instagram miliknya seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, pasalnya ia tidak memajang foto profil dan ia juga tidak mengunggah apapun di feed instagramnya.


Valencia memang sengaja melakukan itu, agar seseorang tidak dapat dengan mudah mengtahui informasi dirinya atau pun mencari tahu apa saja yang ia lakukan. Walaupun Valencia tahu bahwa tidak akan ada orang juga yang berniat untuk mencari tahu tentangnya, tapi tidak salahnya berjaga-jaga terlebih dahulu.


Entah kenapa tangan Valencia refleks mengetik nama Rafael dipencarian, ia bersyukur kalau Rafael tidak menyadari kalau ia telah mengikuti instagram pria itu.


Tapi, walaupun Rafael menyadari, pria itu tidak mungkin akan mengikuti instagramnya balik.


"Apa yang kau harapkan Valen, tidak mungkin bukan seorang anak CEO ditempatmu magang mengikuti balik instagram milikmu." Gumam Valencia sambil menatap layar ponselnya.


Lagi pula instagram miliknya tidak mempunyai foto profil. Jadi, rasanya tidak mungkin kalau Rafael menyadari itu instagram miliknya.


Valencia melihat Rafael mengunggah satu foto baru di feed instagramnya, tapi Rafael tidak sendiri ada seseorang dibelakang Rafael tapi sayang sekali hanya postur tubuhnya saja yang terlihat, wajahnya tidak.


Diunggahan tersebut tidak ada caption yang menjelaskan tentang unggahan foto tersebut. Valencia mencoba memperbesar foto tersebut dan melihatnya lebih teliti, entah kenapa postur tubuh itu terasa familiar, apa itu postur tubuh Ayah Rafael atau itu postur tubuh orang lain.


Tapi menurut Valencia itu bukan postur tubuh Ayah Rafael, seingatnya postur tubuh Ayah nya Rafael agak berisi sedangkan postur tubuh itu terlihat gagah dan berotot.


Valencia menggeleng pelan, siapapun yang dibelakang Rafael itu bukan urusannya juga bukan, Valencia menutup aplikasi instagram nya dan meletakkan ponsel itu diatas nakas.


Lebih baik ia tidur siang saja sekarang, setidaknya dengan tidur dapat membuat waktu berlalu dengan cepat. Valencia pun mencari posisi yang nyaman setelah itu ia pun mulai memejamkan mata dan tidur.


Tidak terasa malam pun tiba, Valencia sudah membersihkan dirinya dan telah mengganti pakaiannya menjadi piyama tidur, setelah mengganti pakaian Valencia kembali merebahakan dirinya diatas kasur.


Valencia bersyukur demamnya sudah turun dan tubuhnya terasa lebih enakan dibandingkan tadi pagi. Valencia melirik ke arah jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 19.15, sepertinya sebentar lagi sahabatnya akan sampai ke rumah nya.


Tring...


Joana Agnesia


Valen, kami akan segera sampai.


Valencia Floryna


Baiklah, aku akan menunggu kedatangan kalian.


Benar saja tak lama kemudian ketiga sahabatnya itu muncul dibalik pintu kamar nya dengan senyum sumringah dan Valencia juga ikut menyunggingkan senyumnya ketika melihat kedatangan ketiga sahabatnya.


"Valen, kami datang." Seru Bella girang sambil duduk dipinggir kasur Valencia.


"Ternyata kau memang benar sakit." Timpal Joana.


"Kau mengira Valen berbohong." Balas Clara pada Joana.


"Tidak, aku hanya kaget saja karena Valen bisa sakit." Joana menyengir pada Clara dan menampilkan jejeran giginya yang putih.


"Aku juga manusia Joe, jadi aku bisa sakit." Sahut Valencia dengan senyum yang masih melekat dibibirnya.


"Kami membawa sesuatu untukmu." Ujar Bella sambil menunjukkan keranjang buah yang ada ditangannya.


Valencia menatap ke arah keranjang buah yang ada ditangan Bella. "Astaga, padahal tidak perlu membawa sesuatu kesini."


"Rasanya tidak enak kalau datang dengan tangan kosong tidak membawa apapun, jadi kami memutuskan untuk membawa buah-buahan." Jelas Joana pada Valencia.


Valencia tersenyum. "Terima kasih."


"Aku letakkan keranjang buah itu disini." Ujar Bella meletakkan keranjang buah diatas nakas.


"Kau mengerjakan apa hingga jadi kelelahan seperti ini?" Tanya Clara.


"Aku hanya mengerjakan surat." Jawab Valencia jujur pada Clara.


"Mungkin suratnya sangat banyak hingga Valen menjadi kelelahan seperti ini." Sahut Joana sambil menatap ke arah Valencia.


"Aku cuma memilah mana surat yang penting dan mana yang tidak, itu pun aku dibantu oleh salah satu karyawan." Jelas Valencia pada sahabatnya.


"Apa dia pria?" Tebak Bella sambil tersenyum penuh arti.


Valencia mengangguk mengiyakan. "Iya, dia pria."


"Siapa namanya? Apa dia tampan? Umurnya berapa?" Tanya Joana beruntun pada Valencia.


"Namanya Gavin Dirgantara, umurnya mungkin sekitar 23, dia lumayan tampan." Valencia menjawab pertanyaan Joana.


"Kalian mengerjakan surat itu hanya berdua." Clara ikut nimbrung pembicaraan mereka.


Valencia kembali mengangguk. "Iya, hanya kami berdua."


"Astaga, kau beruntung sekali memilah surat bersama orang tampan." Seru Bella girang.


"Apa kau punya nomor whatsapp nya?" Tanya Joana.


"Aku tidak punya." Jawab Valencia jujur.


Mendengar itu senyum sumringah yang melekat dibibir Joana menjadi luntur digantikan dengan ekspresi kecewa. "Sayang sekali, kau harus bertukar nomor whatsapp dengan pria itu." Suruh Joana.


"Benar, jika kau sudah mendapatkannya jangan lupa beritahu kami." Timpal Bella bersemangat.


Valencia mengangguk pelan. "Iya, kalau aku tidak lupa."


Joana dan Bella refleks bertos ria ketika mendengar jawaban Valencia. Clara dan Valencia hanya bisa menggeleng pelan ketika melihat tingkah laku kedua sahabatnya itu.


"Tidak bisakah kalian berhenti untuk mencoba mendekati pria tampan." Seru Clara pada Bella dan Joana.


Joana dan Bella serempak menggeleng pelan dan itu membuat Valencia ingin tertawa.


"Tidak, karena mendekati pria tampan ada tantangan tersendiri, apalagi kalau pria itu tampan, cool, manly, hanya setia pada satu wanita. Kriteria seperti itu idaman sekali." Jelas Joana sambil membayangkan seorang pria dengan kriteria yang ia sebutkan barusan.


Ketika Joana menyebutkan kriteria pria idamannya membuat Valencia teringat dengan seorang pria yang datang ke kedai Ayah nya tempo lalu. Kriteria yang disebutkan oleh Joana itu hampir ada pada pria itu, kecuali setia pada satu wanita.


"Kau benar Joe, kriteria pria seperti itu sangat idaman tapi susah juga ditemukan, kebanyakan pria tampan sekarang hobi berganti wanita." Bella ikut menimpali ucapan Joana.


"Sudahlah berhenti membahas pria." Ujar Clara yang terlihat jengah.


"Bagaimana magang kalian hari ini?" Tanya Valencia pada ketiga sahabatnya.


"Seperti biasa hanya mengerjakan tugas dan tidak ada hal yang istimewa untuk diceritakan." Jawab Joana.


"Aku senang karena kalian mau meluangkan waktu untuk menjengukku. Rasanya kita sudah lama tidak berkumpul dan mengobrol seperti ini."


Clara menyunggingkan senyumnya. "Sama-sama, itulah alasanku kesini, selain untuk menjenguk mu aku juga ingin kita bisa berkumpul dan mengobrol seperti ini.


Valencia bersama ketiga sahabatnya pun mengobrol sambil sesekali tertawa karena obrolan mereka.


Tidak terasa 2 jam telah berlalu dan tidak terasa sudah 2 jam Joana, Bella dan Clara berada di rumah Valencia.


"Valen, sepertinya kami harus pulang karena sebentar lagi akan larut malam." Ujar Joana pada Valencia.


Valencia mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih sudah datang kesini."


Joana membalas senyuman Valencia. "Sama-sama Valen, kami pulang dulu selamat malam."


"Selamat malam Valen." Sahut Bella.


"Selamat beristirahat." Clara ikut menyahut.


"Kalian hati-hati dijalan." Ujar Valencia pada ketiga sahabatnya.


Joana, Bella dan Clara serempak mengangguk, mereka pun melambaikan tangan sambil berjalan menuju pintu keluar kamar Valencia dan Valencia membalas lambaian tangan mereka dengan senyum yang masih melekat pada bibirnya.


Tring...


Mendengar ponselnya berbunyi Valencia pun segera mengambil ponselnya yang ada disamping bantal, mata Valencia sukses melebar dengan mulut ternganga ketika melihat notif yang tertera pada layar ponselnya.


Rafael Aldebaran mengikuti anda.


...🍁🍁🍁...