
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Valencia sedang duduk termenung di atas kasurnya sambil menatap ke arah jendela yang ia biarkan terbuka, karena saat ini ia membutuhkan angin segara untuk menjernihkan pikirannya.
Setelah makan malam tadi, Valencia memilih langsung pergi ke kamarnya dan tidak ikut duduk di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.
Pikiran Valencia kembali melayang saat kejadian tadi siang, dimana Felix seorang CEO Aldebaran Company menginginkan dirinya menjadi kekasih pria itu.
Setelah mendengar kalimat itu, dirinya langsung pergi meninggalkan taman belakang beserta Felix tanpa sepatah kata pun.
Seumur hidupnya Valencia tidak pernah membayangkan menjadi kekasih seorang CEO terlebih lagi dengan CEO di tempatnya magang.
Ia tidak habis pikir bisa-bisanya kalimat itu keluar dari mulut Felix, jika Felix berniat bercanda maka candaan itu sangat tidak lucu.
Lagi pula ia masih anak sekolah yang berumur 17 tahun, sangat tidak cocok kalau ia berpacaran dengan seorang pria yang umurnya sudah 27 tahun.
"Apa Felix salah memakan sesuatu hingga pria itu mengatakan kalimat melantur seperti itu padaku." Gumam Valencia yang masih menatap ke arah jendela.
Sepertinya dugaannya benar, kalau pria itu telah salah memakan sesuatu hingga membuat pria itu berbicara melantur, Valencia yakin pasti Felix menyesal karena telah melontarkan kalimat melantur itu padanya.
Valencia menarik napasnya kemudian ia menghembuskannya secara perlahan. "Ayo Valen, lupakan apa yang diucapkan oleh Felix siang tadi."
Tring...
Valencia langsung mencari ponselnya ketika ia mendengar ponselnya berbunyi, Valencia menemukan ponselnya yang tergeletak di atas nakas, langsung saja Valencia mengambil ponselnya dan melihat notif yang baru saja masuk tadi.
Valencia melihat satu notif pesan whatsapp dari nomor yang tidak dikenal, pengirim pesan itu juga tidak memajang foto profilnya sehingga itu membuat Valencia semakin penasaran siapa orang itu.
+6289998××××× : Hai.
Valencia mengernyit bingung ketika membaca isi pesan whatsapp itu, kalau nomor whatsapp itu adalah nomor seorang wanita rasanya tidak mungkin. Rasanya aneh saja, ketika seorang wanita mengucapkan selamat malam apalagi dengan orang yang tidak di kenal.
"Apa mungkin nomor itu milik seorang pria?" Tanya Valencia sambil menatap ke layar ponselnya.
Jika benar seorang pria, siapa pria itu, darimana pria itu mendapatkan nomor whatsappnya. Seingat Valencia, akhir-akhir ini ia tidak pernah memberikan nomor whatsapp pada pria mana pun.
"Dari pada terus penasaran lebih baik aku menanyakannya saja." Gumam Valencia, kemudian ia pun mengetikkan sesuatu di keyboard ponselnya.
Valencia : Siapa?
Tring...
1 balasan muncul di layar ponsel Valencia, ia pun membuka kembali aplikasi whatsappnya dan membaca balasan pesan itu.
+6289998××××× : Aku menunggu jawabanmu.
Valencia semakin bingung dengan balasan orang yang tidak di kenal itu, ia menanyakan siapa orang itu, tapi orang itu malah menjawab.
Valencia : Maaf, sepertinya anda salah kirim pesan, saya tidak mengenal anda.
+6289998××××× : Aku tidak salah mengirim pesan.
Valencia : Kau yakin tidak salah.
+6289998××××× : Ya.
Valencia : Jawab pertanyaanku, siapa kau?
+6289998××××× : Aku akan memberitahu kalau kau mau jadi kekasihku.
Valencia : Kau gila.
+6289998××××× : Aku gila karena kau.
Valencia yakin kalau nomor asing itu adalah nomor pria. Tapi siapa pria itu? Apa itu teman sekelasnya? Ya benar, sepertinya itu teman sekelasnya yang iseng mengerjainya pakai nomor baru.
Valencia : Kau teman sekelasku kan?
+6289998××××× : Bukan.
Valencia : Mencoba berbohong.
+6289998××××× : Tidak.
"Kalau bukan teman sekelas, lalu siapa?" Tanya Valencia sambil menatap layar ponselnya.
Valencia : Kalau kau tidak mau memberitahu, aku akan memblock nomor whatsappmu.
+6289998××××× : Felix.
Valencia : Jangan berbohong, cepat katakan namamu yang sebenarnya.
Layar yang semula menampilkan chat mereka berubah menjadi tampilan telepon, langsung saja Valencia mengangkat telepon tersebut.
"Hey kau pria asing, cepat katakan siapa namamu dan jangan mencoba berbohong padaku." Ujar Valencia dengan nada mengancam.
"Pria asing katamu, heh."
Deg...
Detak jantung Valencia langsung berdegup kencang ketika mendengar suara dari nomor yang tidak di kenal itu. Valencia mengenali suara itu, tapi yang menjadi pertanyaan saat ini, dari mana pria itu mendapatkan nomor ponselnya?
Valencia merutuki dirinya karena ia telah berbicara tidak sopan dengan CEO tempat ia magang.
"Maaf Pak, tadi saya berbicara tidak sopan pada Bapak." Ujar Valencia pada Felix.
"Tak apa." Balas Felix di sebrang sana.
"Bapak dapat dari mana nomor whatsapp saya?"
"Data magangmu." Jawab Felix singkat.
Valencia hampir lupa kalau di data magang ia telah mencantumkan nomor whatsappnya agar mudah dihubungi.
"Ada keperluan apa hingga Bapak mengirim pesan pada saya?" Tanya Valencia.
"Aku menunggu jawabanmu."
"Jawaban apa?"
"Apa aku harus mengulangi ucapanku yang tadi siang?"
Pikiran Valencia kembali melayang saat ia dan Felix duduk bersama di taman belakang, kemudian pria itu mengatakan kalimat yang melantur.
Valencia menggeleng pelan mencoba mengenyahkan kejadian tadi siang. "Bapak bercanda kan."
"Aku serius."
"Saya yakin Bapak sedang bercanda, lagi pula saya masih anak sekolah. Jadi, rasanya mustahil kalau Bapak ingin menjadikan saya sebagai kekasih." Balas Valencia.
"Apa nada bicaraku terdengar bercanda?"
Valencia tahu tidak ada nada bercanda dalam ucapan Felix, tapi kenapa harus dirinya, harusnya Felix mencari wanita yang seumuran dengannya bukan dengan wanita yang masih sekolah seperti dirinya.
Walaupun ini hanya permainan tapi kenapa harus dirinya, kenapa tidak orang lain, ia tidak ingin terlibat atau pun di jadikan mainan oleh pria itu.
"Maaf Pak, sepertinya saya harus tidur."
"Mencoba menghindar."
Valencia menghela napas sejenak. "Maaf Pak, saya tidak ingin di jadikan mainan atau pun terlibat di dalamnya."
"Ini bukan permainan."
"Lalu apa?"
"Aku serius ingin kau menjadi kekasihku."
"Tapi kenapa harus saya, kenapa tidak orang lain saja?" Tanya Valencia dengan nada tinggi.
"Yang ku mau hanya kau, bukan orang lain."
"Ucapan Bapak semakin melantur, maaf saya tutup teleponnya." Tanpa menunggu jawaban dari Felix, Valencia pun langsung menutup sambungan teleponnya, kemudian ia memblock nomor Felix agar pria itu tidak dapat menghubungi dirinya lagi.
Valencia meletakkan ponselnya ke atas nakas, kemudian ia merebahkan dirinya dan menatap ke arah langit kamar.
Valencia memejamkan matanya sambil menghela napas, terlibat masalah dengan Helena saja sudah membuatnya pusing, apalagi sampai terlibat masalah dengan Felix seorang CEO Aldebaran Company mungkin ia akan kehilangan nyawanya.
"Baru hampir 1 bulan magang sudah dikelilingi banyak masalah." Dumel Valencia sendirian.
Entah kenapa saat magang 1 bulan berjalan begitu lambat, tapi ketika di sekolah jangan kan 1 bulan 1 tahun saja rasanya berlalu begitu cepat.
Seketika Valencia rindu suasana saat di sekolah, dimana ia dapat dengan mudah berkumpul dengan temannya tidak seperti sekarang, ia dan temannya susah mengatur waktu untuk berkumpul. Ia juga rindu saat jam kosong, dimana mereka akan maraton film di dalam kelas.
"Magang cepatlah berakhir, aku ingin segera berkumpul dengan teman sekelasku." Harap Valencia.
Valencia mencari posisi yang nyaman, ketika telah menemukannya, Valencia pun langsung memejamkan matanya dan mulai menjelajahi alam mimpi.
...🍁🍁🍁...