
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Valencia menatap ke arah sekeliling taman yang begitu sepi, Sedari tadi yang ada di taman ini hanya ada dirinya dan juga Felix, tidak ada orang lain lagi di taman ini.
Valencia juga tidak melihat tanda-tanda kalau ada orang yang akan datang ke taman belakang ini.
Apa para tamu tidak menyadari, kalau Aldebaran Company mempunyai taman belakang seindah ini, hingga Valencia tidak melihat adanya tamu yang datang ke taman belakang ini.
Tapi, disatu sisi Valencia bersyukur tidak ada tamu yang datang ke taman ini, jika ada tamu yang datang lalu melihat dirinya sedang duduk berdua saja dengan Felix, Valencia jamin pasti tamu itu akan membuat kehebohan dan dirinya pun bisa mendapat masalah besar.
Sesekali Valencia mencuri pandang ke arah Felix yang sedang sibuk dengan pemandangan yang ada didepannya. Sepertinya pria itu tidak ada niatan untuk pergi dari sini dan itu membuat Valencia kesal.
Valencia ingin kembali masuk ke dalam aula, tapi ketika mengingat ancaman gila Felix membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk kembali ke dalam.
"Mencuri pandang, heh."
Seakan tersadar kalau kalimat itu ditujukan untuknya, Valencia pun segera mengalihkan tatapan matanya ke arah air mancur, Valencia merasa malu karena ketahuan mencuri pandang pada Felix.
"Saya tidak mencuri pandang ke arah Pak Felix." Bohong Valencia pada Felix.
Felix hanya diam tidak membalas ucapan Valencia dan itu membuat Valencia dapat bernapas lega, karena Felix tidak memperpanjang masalah mencuri pandang itu.
"Apa Pak Felix tidak ada niatan untuk kembali ke dalam aula, untuk menyapa para tamu dan juga kolega?" Tanya Valencia pada Felix.
Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Valencia, membuat Felix menoleh ke arah wanita itu. "Tidak, aku lebih suka disini dari pada menyapa para tamu dan juga kolega didalam." Jawab Felix pada pertanyaan Valencia.
"Pak Felix tidak boleh seperti itu, sebagai CEO yang baik, Pak Felix harus menyapa para tamu dan juga kolega, apalagi Pak Felix adalah CEO baru jadi Pak Felix harus memberikan kesan pertama yang baik untuk para tamu dan juga kolega." Ujar Valencia panjang lebar pada Felix.
"Kau berani mengaturku." Balas Felix sambil menatap dingin ke arah Valencia.
Melihat tatapan dingin itu membuat Valencia menunduk dan juga merutuki mulutnya yang begitu jujur menyuarakan pendapatnya pada Pak Felix CEO tempat ia magang.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud untuk mengatur Pak Felix, saya hanya menyuarakan pendapat saya saja."
Suasana kembali hening tidak ada yang berbicara lagi, Felix kembali sibuk dengan pemandangannya sedangkan Valencia sibuk dengan pikirannya.
Valencia saat ini bingung memikirkan alasan apa lagi, agar dapat membuat Felix mau kembali ke dalam. Tiba-tiba satu alasan muncul dalam pikiran Valencia, ia berharap semoga alasan ini dapat membuat Pak Felix mau kembali kedalam.
"Pak, boleh saya memberi saran?" Tanya Valencia berhati-hati.
"Saya tidak membutuhkan saran darimu." Jawab Felix pada pertanyaan Valencia.
Mendengar jawaban Felix membuat amarah langsung meluap dalam diri Valencia, andai saja Felix bukan CEO di tempat ia magang, mungkin Valencia akan meninju Felix untuk melampiasakan amarahnya.
Valencia mengatur napasnya untuk meredam amarah yang hampir berada dipuncaknya. "Tahan amarahmu Valen, ingat dia CEO di tempatmu magang, jadi kau harus bisa sabar dengan sikapnya."
"Saran saya, sebaiknya Pak Felix segera kembali kedalam, siapa tahu Pak Hero saat ini sedang mencari Pak Felix." Valencia mengatakan sarannya dan mengabaikan ucapan Felix barusan.
"Sejak kapan orang itu perduli padaku." Jawab Felix dengan tatapan lurus ke depan.
Apa Valencia tidak salah dengar kalau Felix menyebut Ayah nya dengan sebutan orang itu bukan Ayah. Apa Felix dan juga Ayah nya memiliki hubungan yang tidak baik, hingga Felix menyebut Ayah nya sendiri dengan sebutan orang itu.
Valencia menggeleng pelan, kenapa ia harus repot memikirkan apakah hubungan antara Felix dan juga Ayah nya baik atau tidak. Lagipula itu bukan urusannya, biarkan itu menjadi urusan pribadi Felix, dirinya tidak perlu ikut campur dalam masalah itu.
"Lagi pula aku lebih suka duduk bersamamu disini." Tambah Felix lagi.
Valencia hanya bisa memutar mata pelan ketika mendengar kalimat bualan yang dilontarkan Felix padanya, sayang sekali Valencia tidak terpengaruh dengan kalimat bualan Felix tersebut.
Karena Valencia tahu, pasti Felix sudah sering mengatakan kalimat bualan seperti itu pada wanita lain bukan pada dirinya saja.
Tring...
Ponsel milik Valencia berdering, dengan terburu-buru Valencia mengambil ponsel miliknya dalam dompet, ternyata itu telepon dari Luna, tanpa membuang waktu lagi Valencia pun segera mengangkat telepon tersebut.
"Valen, kenapa kau lama sekali di toilet. Kau tidak membohongiku bukan." Sahut Luna disebrang sana.
Valencia meringis pelan ketika mendengar ucapan Luna. "Maaf Kak, tadi setelah dari toilet, Valen memutuskan ingin jalan-jalan sebentar."
"Oh begitu rupanya, aku rasa acaranya sudah mulai membosankan. Jadi, lebih baik kita pulang saja sekarang."
Mendengar Luna ingin pulang, senyum sumringah langsung terbit dibibirnya. Valencia senang, akhirnya ia bisa terbebas dari Felix dan juga Rafael.
Jadi Valencia tidak perlu repot lagi mencari alasan agar dapat pergi dari Felix atau pun mencari tempat persembunyian agar dapat menghindar dari Rafael.
Melihat ekspresi senang yang tercetak jelas di wajah Valencia membuat Felix mengernyit heran, sepertinya seseorang disebrang sana mengatakan sesuatu yang membuat Valencia merasa senang seperti itu.
"Baiklah, Valen akan menunggu Kak Luna di mobil." Balas Valencia pada Luna.
"Aku tutup telponnya." Setelah mengatakan itu Luna pun mematikan sambungan telponnyaa. Valencia pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam dompetnya.
"Kau begitu senang setelah menerima telepon dari seseorang." Sahut Felix yang masih menatap Valencia.
Sepertinya ekspresi senang di wajahnya tercetak jelas hingga Felix dapat menyadarinya. "Maaf Pak, sepertinya saya harus pulang sekarang, karena teman saya menyuruh saya untuk pulang bersamanya."
Mata Felix menyipit. "Apa kau mencoba membohongiku?"
Valencia refleks menggeleng pelan. "Saya tidak membohongi Pak Felix, saya memang harus pulang sekarang, jika tidak Ibu saya bisa memarahi saya jika tidak pulang sekarang."
Felix diam mencari kebohongan di mata Valencia, tapi sayang sekali Felix tidak menemukan kebohongan di mata wanita itu, sepertinya ia harus merelakan wanita itu pulang ke rumah.
"Baiklah, kau boleh pulang sekarang."
Senyum sumringah Valencia semakin lebar ketika mendengar Felix membolehkannya untuk pulang. "Terima kasih Pak, saya akan pulang sekarang."
Valencia langsung beranjak dari kursinya, ketika Valencia ingin melangkahkan kakinya ke luar taman, Felix memegang pergelangan tangan Valencia dan itu membuat langkah Valencia terhenti.
"Ada apa lagi Pak?" Tanya Valencia sambil melihat ke arah pergelangan tangannya yang dipegang oleh Felix.
"Hati-hati di jalan." Setelah mengatakan itu Felix pun melepas pegangannya pada pergelangan tangan Valencia.
Valencia mengangguk pelan dan tersenyum ke arah Feli. "Iya Pak, Valen akan hati-hati." Setelah mengatakan itu Valencia pun kembali melanjutkan langkahnya untuk ke luar dari taman dan menuju parkiran.
...🍁🍁🍁...