The Problem

The Problem
The Problem - Sebelas



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Tak terasa malam pun tiba, saat ini Valencia sedang duduk termenung diatas sofa yang ada di ruang tamu. Setelah selesai makan malam dan membantu Ibu nya membereskan peralatan makan, Valencia memilih untuk ke ruang tamu dan duduk disana seorang diri.


Ayah serta kedua Kakak nya belum pulang ke rumah, jadi hanya Valencia dan Ibu nya yang makan malam di rumah. Mungkin Ayah nya sedang sibuk di kedai hingga sampai saat ini belum pulang, sedangkan kedua Kakak nya sedang pergi keluar untuk hangout bersama temannya.


Jam menunjukkan pukul 20.15 dan rasanya masih terlalu dini untuk tidur. Valencia menghela napas sejenak sambil memejamkan matanya.


Hari ini terasa berat bagi Valencia, pertama ia dijebak oleh Helena, kedua jebakan Helena membuat dirinya terkena masalah sampai dirinya terancam tidak naik kelas, ketiga Valencia malu karena siswa dan siswi kelas XI semua jurusan tahu kalau dirinya membuat masalah dan dipanggil ke sekolah.


Padahal dirinya baru tiga hari menjalani magang tapi ia sudah mendapat banyak masalah. Ia sudah bersikap baik, bekerja dengan giat, tapi masih saja ada orang yang tega menjebak dirinya agar dapat masalah.


Ini semua salahnya karena percaya begitu saja dengan Helena, mungkin jika ia hanya fokus mengerjakan tugasnya dan mengacuhkan keberadaan Helena mungkin ia tidak akan dapat masalah seperti ini.


Lain kali Valencia harus lebih hati-hati jangan langsung percaya pada orang, orang yang dikira baik bisa saja menusuk dari belakang, apalagi kalau orang itu adalah orang baru dikenal, seperti Helena misalnya.


Saat di kantor tadi, perasaan sedih Valencia sempat memudar karena pujian Ibu Alison atas hasil kerjanya, tapi ketika sampai di rumah dan melihat grup whatsapp khusus siswa dan siswi kelas XI yang melaksanakan magang, itu membuat perasaan sedih kembali lagi bersarang dihatinya.


Valencia frustasi karena para siswa dan siswi heboh sedang membicarakannya, bahkan whatsapp nya saat ini banyak nomor baru yang masuk dan menanyakan apakah benar dirinya membuat masalah dihari ketiga magang.


Ingin rasanya Valencia berteriak memberitahu mereka kalau dirinya dijebak agar terlihat seperti membuat masalah. Tapi percuma saja karena Valencia sudah tahu jawabannya kalau mereka pasti tidak akan mempercayai ucapan Valencia, bahkan Ibu Emy saja tidak percaya padanya apalagi para siswa dan siswi.


Valencia cukup kecewa, karena Ibu Emy lah yang memberitahu digrup whatsapp kalau dirinya membuat masalah, ia mengira kalau ibu akan merahasiakan masalah itu ternyata tidak, bahkan Ibu Emy lebih dulu memberitahu digrup daripada memberitahu dirinya kalau ia dipanggil karena membuat masalah.


Tidak terasa air mata Valencia menetes ia tidak dapat lagi menahan air matanya yang sedari tadi ingin keluar. Valencia berusaha agar dirinya tidak terlibat masalah ataupun membuat masalah. Tapi, malah ada saja orang yang mendatangkan masalah padanya.


"Valen kau kenapa? Ibu lihat saat makan malam tadi wajahmu begitu murung." Ujar Risa yang tiba-tiba datang dan duduk disebelah Valencia.


Buru-buru Valencia menghapus air matanya, jangan sampai Ibu nya tahu kalau dirinya sedang menangis. "Aku hanya lelah, karena pekerjaan ditempat magang begitu banyak." Bohong Valencia.


"Benarkah."


Valencia mengangguk meyakinkan. "Iya Ibu, aku hanya lelah."


Risa tahu kalau Valencia membohonginya, mungkin mulut putrinya itu bisa berbohong tapi ekspresi serta matanya tidak dapat berbohong, bahkan Risa dapat melihat kalau Valencia sepertinya habis menangis.


Sepertinya Valencia sedang mempunyai masalah cuma putrinya itu tidak mau memberitahunya. "Ibu tahu kau berbohong, coba ceritakan masalahmu pada Ibu."


Valencia diam sambil menunduk, ia tahu kalau ia tidak menutupi masalah dirinya pada Ibu nya. Ia bingung ingin memulai ceritanya dari mana karena masalah yang ia alami hari ini begitu banyak.


"Aku bingung Ibu, ingin memulai ceritanya dari mana." Ujar Valencia jujur.


Risa tersenyum sambil mengusap lembut rambut Valencia. "Ceritakan yang menurutmu mudah terlebih dahulu."


Valencia menghela napas sejenak sebelum menceritakan masalahnya pada Ibu nya. "Saat aku sedang sibuk mencatat surat kedalam jurnal, seorang wanita datang menghampiriku."


"Kemudian wanita itu mengajakmu berkenalan." Tebak Risa.


Valencia mengangguk pelan. "Iya Bu, dia memberitahu kalau namanya adalah Helena Oktavia."


"Lalu, setelah berkenalan kau dan Helena menjadi teman."


Valencia ingin tertawa ketika Ibu nya menyebut kalau ia dan Helena adalah teman. "Awalnya aku menganggap dirinya teman tapi sekarang tidak."


"Dia menjebakku dalam masalah besar, Ibu." Valencia menjawab.


Risa semakin bingung dengan jawaban Valencia yang seperti teka teki. "Menjebakmu dalam masalah apa?"


"Sebelum aku tahu kalau dia wanita ular, aku sempat mengira wanita itu adalah wanita yang baik. Ia memberitahuku kalau diruangan tersedia wifi, ia juga mengatakan kalau tidak masalah kalau memainkan ponsel sebentar sambil menikati wifi yang telah tersedi. Helena juga membelikan aku makanan dan minuman, ia menyuruhku untuk memakannya terlebih dahulu sebelum kembali mengerjakan tugas padahal itu belum jam istirahat." Valencia kembali menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya, "Helena sempat mengambil gambarku saat sedang memainkan ponsel dan aku sempat bertanya alasan Helena mengambil gambarku dan ia menjawab ia hanya mencoba kamera pada ponsel yang baru saja ia beli dan kedua ternyata ia juga mengambil gambar ku yang sedang makan, tapi saat itu aku tidak menyadarinya karena terlalu fokus makan."


"Untuk apa Helena mengambil gambarmu?" Tanya Risa lagi.


"Ia mengambil gambarku untuk melaporkan pada ketua magang, ia bilang pada Ibu Emy kalau aku selalu memainkan ponsel dan bermalas-malsan, ia juga mengatakan kalau aku telah melanggar peraturan perusahaan yang tidak membolehkan makan sebelum jam istirahat yang telah ditentukan." Jawab Valencia membuat air matanya kembali menetes.


Risa memeluk Valencia sambil mengusap rambut Valencia pelan, "Dunia kerja memang begitu, ada saja orang yang ingin menjebak kita dalam masalah. Tapi, Ibu tidak habis pikir mengapa wanita itu begitu tega melakukan ini padamu padahal kau hanya anak magang bukan karyawan tetap di perusahaan itu."


"Aku juga tidak mengerti Bu, padahal aku sudah bersikap baik dan bekerja semampuku tapi masih saja ada orang yang tidak menyukaiku dan membuatku terjebak dalam masalah seperti ini." Ujar Valencia yang masih berada dipelukan Ibu nya.


"Apa tanggapan Ibu Emy mengenai laporan dari Helena?" Tanya Risa.


"Ibu Emy mempercayai laporan Helena dan aku hampir terancam tidak naik kelas, Bu." Valencia memberitahu pada Ibu nya.


Mendengar itu membuat Risa ingin memarahi wanita bernama Helena itu, karena wanita itu putri kesayangannya terancam tidak naik kelas. "Sepertinya Ibu harus bertemu dengan wanita yang bernama Helena itu, kelakuannya itu sudah keterlaluan."


Valencia langsung menggeleng. "Jangan Bu, aku tidak ingin Ibu akan terkena masalah ketika menemui Helena."


"Ibu hanya ingin memberikan dia pelajaran, agar ia tidak menyeretmu dalam masalah lagi." Ujar Risa pada Valencia.


Valencia melepaskan pelukannya. "Tidak perlu Bu, aku akan membalas Helena dengan caraku sendiri."


"Kau harus berhati-hati melawan wanita itu, dari yang Ibu dengar dari ceritamu, Ibu sudah bisa menebak kalai wanita itu begitu licik." Peringat Risa pada Valencia.


"Tentu saja Bu, kali ini aku tidak akan membiarkan Helena menjebakku lagi."


Risa kembali mengusap pucuk kepala Valencia. "Ibu senang kau mau membagi masalahmu dengan Ibu, jika kau ada masalah ceritakan saja jangan dipendam sendirian nanti malah menjadi beban."


Valencia mengangguk patuh dengan ucapan Risa. "Iya Bu, aku akan selalu membagi masalahku dengan Ibu."


"Kau jangan sedih lagi, kau harus kuat jangan lemah, musuhmu akan senang jika dia tahu lawannya lemah."


Yang dikatakan Ibu nya benar kalau musuh akan senang jika lawannya lemah. Valencia tidak akan sedih lagi, ia harus terlihat kuat agar ia mudah mengecoh musuhnya.


Ia juga harus lebih rajin lagi dalam mengerjakan tugas dan selalu bersikap baik agar Helena atau siapapun itu tidak punya celah untuk melaporkannya.


Setelah menceritakan masalah yang sedang ia alami hari ini pada Ibu nya itu sedikit mengangkat beban pikirannya, walaupun tidak semua masalahnya ia ceritakan pada Ibu nya.


Risa menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 22.30, ternyata sudah dua jam lebih ia berbincang dengan Valencia.


"Valen sebaiknya kau pergi tidur, ini sudah larut malam."


Valencia mengangguk. "Baik Bu, aku akan pergi tidur. Selamat malam Ibu." Setelah mengucapkan itu Valen pun beranjak dari sofa dan menuju kamarnya.


Sedangkan Risa tidak lupa ia mematikan lampu diruang tamu terlebih dahulu baru setelah itu ia pergi ke kamarnya.


...🍁🍁🍁...