The Problem

The Problem
The Problem - Tiga Puluh Empat



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Valencia sampai ke rumah nya sekitar jam empat sore, karena sebelum pulang ke rumah, ia harus merapikan dan membersihkan meja dan kursi di kedai terlebih dahulu. Setidaknya itu dapat meringankan sedikit pekerjaan Ayah nya.


Ketika sampai di rumah, Valencia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Kurang lebih tiga puluh menit barulah Valencia selesai membersihkan dirinya.


Saat ini Valencia sedang duduk didepan cermin dengan piyama tidur, karena ia bingung ingin memakai apa ditambah lagi Luna belum datang ke rumahnya, jadi Valencia memutuskan untuk memakai piyama tidur saja.


Entah kenapa perasaan gugup datang menghampiri Valencia, ini untuk pertama kalinya Valencia datang ke acara formal, jadi ia takut kalau ia datang kesana malah membawa kesan yang buruk.


"Tenang Valen, kau tidak perlu gugup karena disana kau tidak sendirian, ada Kak Luna, Bella dan juga Joana." Valencia menenangkan dirinya agar rasa gugupnya berkurang.


Andai saja Luna tidak memaksa dirinya ikut, mungkin saat ini dirinya akan menyelesaikan tugas sekolahnya sambil mendengarkan musik favoritnya, setelah itu baru ia akan tidur.


Valencia yakin kalau acara peresmian itu akan selesai tengah malam, jadi dirinya telah memutuskan untuk pulang lebih awal, mungkin kalau bisa setelah kata sambutan dirinya akan langsung pulang ke rumah.


Valencia melirik ke arah jam di dinding, jam menunjukkan pukul 17.10, ternyata sudah jam lima tapi Luna belum datang juga ke rumahnya mungkin sore ini jalanan sedang macet jadi Luna sedikit terlambat datang ke rumahnya.


Pikiran Valencia melayang saat dirinya bersama Felix di kedai tadi, entah kenapa ketika ia dan Felix berada dijarak yang dekat membuat jantung Valencia berdegup kencang.


Padahal ia sudah sering berdekatan dengan pria lain, tapi jantungnya malah biasa saja tidak berdegup kencang seperti ia dekat dengan Felix.


Valencia menggeleng pelan, tidak mungkin ia menyukai Felix CEO tempat ia magang, lagi pula Felix sangat tua jadi rasanya tidak cocok jika pria itu menjadi kekasih dirinya.


Ditambah lagi pria itu seorang CEO sedangkan ia masih anak sekolah yang tinggal ditempat sederhana, jadi tidak mungkin sekali ia menjadi kekasih seorang Felix Aldebaran. Jangan lupa sikap menyebalkan dan kurang ajarnya, itu semakin tidak memungkinkan Valencia menjadi kekasih pria itu.


Valencia mengenyahkan pikiran melantur nya itu, sepertinya ia sudah gila karena memikirkan CEO ditempat ia magang, dari pada memikirkan pria itu lebih baik ia memikirkan pria lain saja.


"Valen, cepat keluar temanmu sudah datang." Risa memberitahu dibalik pintu kamar Valencia.


"Iya Bu, Valen akan keluar." Balas Valencia pada Risa, Valencia pun segera keluar kamar dan menuju ruang tamu.


"Hai Valen, maaf aku terlambat datang ke rumahmu, karena tadi jalanan sangat macet." Luna memberitahu alasan keterlambatannya pada Valencia.


Valencia melihat Luna yang saat ini juga memakai piyama tidur sama seperti dirinya. "Kakak tidak perlu meminta maaf, lagi pula kita masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap." Balas Valencia sambil menyunggingkan senyumnya.


Mata Valencia mengarah pada tas berukuran besar yang ada ditangan Luna, Valencia dapat menebak kalau tas itu isinya pasti gaun dan juga alat make up.


Valencia tidak menyadari kalau saat ini Risa Ibu nya telah sedang berada disampingnya. "Kak Luna perkenalkan ini Ibu Valen namanya Risa Hermawan." Valencia memperkenalkan Ibu nya pada Luna.


Pandangan Luna pun otomatis mengarah pada Risa. "Halo tante, saya Luna Sasmitha teman Valen, kebetulan kami dan Valen satu ruangan di Aldebaran Company." Luna menjabat tangan Risa, sambil menyunggingkan senyumannya.


Risa pun membalas jabatan tangan Luna dan juga ikut menyunggingkan senyumnya. "Tante sudah tahu, karena Valen bercerita banyak tentangmu pada tante."


"Wah benarkah, saya senang kalau Valen telah menceritakan tentang saya pada tante." Balas Luna pada Risa.


"Apa kalian ingin makan terlebih dahulu, sebelum bersiap-siap?" Tawar Risa pada Luna dan juga putrinya Valencia.


Hari ini Risa sengaja memasak makanan lebih awal karena ia harus memastikan Valencia makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke acara peresmian CEO Aldebaran Company nanti malam.


Luna mengangguk pelan. "Terima kasih tante, dengan senang hati Luna menerima tawaran tante, Luna juga tidak sabar ingin mencicipi masakan tante."


"Perut Valen juga sangat lapar, jadi Valen ingin makan terlebih dahulu sebelum bersiap-siap." Timpal Valencia.


Luna pun meletakkan tas yang dibawanya diatas meja ruang tamu terlebih dahulu, baru setelah itu ia dan Valencia menyusul Risa ke ruang makan.


Jadilah saat ini Valencia dan Luna berada di ruang tamu, mereka berdua berbagai tugas, Valencia menyiapkan alat makan sedangkan Luna membantu Risa untuk menyiapkan makanan ke atas meja.


Ketika alat makan dan juga makanan sudah ada diatas meja, barulah mereka duduk dan mulai mengambil makanan tersebut.


"Kalian berdua harus makan yang banyak, biar diacara nanti kalian tidak kelaparan." Ujar Risa sambil menyunggingkan senyumnya.


"Baik Bu, Valen akan makan yang banyak." Balas Valencia yang mulai menyuap makanannya.


Luna tersenyum melihat Risa yang begitu perhatian dengan Valencia, bukan dengan Valencia saja tapi dengan dirinya juga. Dapat terlihat dengan jelas dari pancaran mata Risa, kalau Risa sangat menyayangi Valencia.


Luna jadi merindukan Ibu dan juga Ayah nya yang ada diluar kota, Ayah dan Ibu nya itu sangat gila kerja jadi jarang ada di rumah, bahkan ada satu tahun sekali baru Ayah dan Ibu nya pulang.


Luna pun mulai ikut menyuap makanan tersebut kedalam mulutnya. "Tante makanan ini sangat enak, seperti tante pandai sekali dalam hal memasak." Puji Luna sambil sesekali menyuap makanannya.


Risa tersenyum malu mendengar kalimat pujian yang dilontarkan oleh Luna. "Tante jadi malu dipuji seperti itu."


"Yang dikatakan oleh Kak Luna itu memang benar, kalau masakan Ibu sangat enak, pantas saja Ayah sangat mencintai Ibu karena Ibu sangat pandai dalam memasak." Timpal Valencia yang membuat pipi Risa semakin memerah karena malu.


"Valen, kau malah membuat Ibu tambah malu."


"Suami tante ada dimana? Dari tadi Luna tidak melihat suami tante." Tanya Luna pada Valencia.


"Suami tante sedang bekerja di kedai, biasanya malam baru kembali ke rumah." Jawab Risa pada Luna.


Luna mengangguk mengerti, ia pun kembali menyuap makanannya tanpa bertanya lebih lanjut.


"Cepat habiskan sepertinya sebentar lagi jam enam sore, jadi kalian harus segera bersiap-siap."


Mendengar ucapan Risa yang memberitahu sebentar lagi jam enam, Valencia dan Luna pun segera menghabiskan makanan mereka dengan begitu lahap.


Setelah menghabiskan makanan selama beberapa menit, mereka pun membantu Risa untuk mencuci piring serta merapikan meja makan seperti semula.


Valencia dan Luna pun pamit dengan Risa untuk pergi ke kamar, tidak lupa Luna membawa tas yang ia tinggalkan di ruang tamu tadi ke kamar Valencia.


Saat ini Valencia dan Luna sedang berada di kamar milik Valencia, Luna mulai mengeluarkan dua gaun, dua heels serta alat make up dalam tas yang ia bawa tadi, sedangkan Valencia ia duduk membelakangi cermin.


Valencia yang melihat itu hanya bisa menganga lebar, karena ia tidak menduga kalau Luna juga membawa heels untuk dirinya pakai nanti malam.


"Sekarang saatnya aku akan mengubahmu menjadi seorang wanita dewasa yang cantik." Seru Luna dengan bersemangat.


"Kenapa Kak Luna tidak mendandani diri Kakak sendiri terlebih dahulu?" Tanya Valencia pada Luna.


Luna menyunggingkan senyumnya pada Valencia. "Kau yang harus ku dandani terlebih dahulu, kalau aku bisa nanti."


"Tapi Kak..."


"Kau menurut saja padaku, lebih baim sekarang kau duduk diam saja, jangan banyak bicara, biarkan aku fokus untuk mendandani dirimu." Pinta Luna pada Valencia.


Valencia pun diam tidak berbicara lagi dan membiarkan Luna mulai memoleskan berbagai macam make up pada wajahnya.


...🍁🍁🍁...