The Problem

The Problem
The Problem - Sembilan Belas



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Saat ini Valencia sedang duduk dikursinya sambil menopang dagu, hari ini tidak ada tugas yang diberikan oleh karyawan padanya, sehingga Valencia hanya duduk manis tanpa melakukan kegiatan apapun.


Valencia sedang malas untuk mengerjakan tugas sekolahnya, jadi ia memilih untuk bersantai saja sambil melihat keadaan sekitarnya.


Karyawan di ruangan ini juga sedang bersantai sama seperti dirinya, apa hari ini perusahaan sedang dibebaskan dari tugas hingga sedari tadi tidak ada tugas yang harus mereka kerjakan.


Valencia melihat para karyawan yang sedang berbincang, Luna yang sedang asik dengan ponselnya dan mata Valencia menatap ke arah meja Helena yang kosong.


Valencia baru menyadari kalau sedari tadi Helena tidak ada dimejanya, apakah wanita itu sedang masuk, atau wanita itu sedang ada keperluan diluar.


Senyum sumringah langsung terbit dibibir Valencia, ia sangat senang karena hari ini Helena tidak ada, jadi dirinya terbebas dari gangguan Helena.


Valencia menghela napas sejenak, entah kenapa perasaan Valencia menjadi serba salah, terlalu banyak tugas membuat dirinya lelah, tidak mengerjakan tugas malah membuat dirinya bosan.


Apa yang harus Valencia lakukan agar dirinya tidak bosan, ingin memainkan ponsel agar menghilangkan rasa bosannya tapi ia takut kalau ada karyawan yang melaporkannya pada Ibu Alison atau Ibu Emy.


Rasanya Valencia ingin segera pulang saja karena tidak ada yang ia kerjakan, Valencia melirik ke arah jam dipergelangan tangannya jam menunjukkan pukul 09.12 pagi dan waktu istirahat masih lama.


Terlalu sibuk dengan pikirannya membuat Valencia tidak menyadari kalau seorang pria sedang memperhatikan gerak gerik Valencia sedari tadi.


Kadang pria itu tersenyum melihat ekspresi bosan yang tercetak jelas diwajah Valencia, pria itu menatap keadaan sekitarnya sebentar setelah itu ia pun melangkahkan kakinya menuju meja Valencia.


"Selamat pagi, Valen."


Mendengar suara itu otomatis membuat Valencia tersadar dari pikirannya, tatapan Valencia pun langsung bertemu dengan mata seorang pria yang tengah tersenyum padanya.


"Selamat pagi, Kak Gavin. Sejak kapan Kak Gavin ada disini?" Tanya Valencia.


"Baru saja aku berada disini." Jawab Gavin pada Valencia.


Valencia diam tidak bertanya atau pun membuka pembicaraan, pasalnya Valencia tidak tahu topik apa yang ingin dirinya bicarakan dengan Gavin.


"Sepertinya kau terlihat bosan." Tebak Gavin yang kini memilih duduk dan posisi mereka pun saling berhadapan.


Apa ekspresi Valencia saat ini tercetak jelas hingga Gavin dapat mengetahui kalau dirinya tengah dilanda rasa bosan. "Lebih tepatnya, saya sedang bingung ingin melakukan apa karena sedari tadi saya tidak mendapatkan tugas."


Gavin tidak menyangka penyebab kebosanan Valencia hanya karena gadis itu tidak diberikan tugas, ternyata Valencia anak yang rajin pantas saja ia dipilih untuk magang di perusahaan ini.


Sepertinya ia harus membantu Valencia agar gadis itu tidak merasa bosan lagi. "Apa kau bisa membantuku?"


"Kakak ingin minta bantuan apa?" Valencia balik bertanya.


"Apa kau bisa membuat kopi?"


Valencia mengangguk. "Iya Kak, saya bisa membuat kopi."


Gavin tersenyum ketika tahu kalau Valencia bisa membuat kopi. "Kalau begitu, apa kau mau membuatkan kopi untukku?"


Valencia kembali mengangguk. "Baik Kak. Tapi, dimana saya harus membuat kopinya?"


"Kau bisa membuatnya disana," Tunjuk Gavin ke arah ruangan kecil yang berada diujung sebelah kiri, "Disana juga tersedia mesin kopi." Jelas Gavin pada Valencia.


Valencia mengangguk mengerti sambil melihat ke arah ruangan yang ditunjuk Gavin, ia barus tahu kalau diujung sebelah kiri terdapat ruangan lagi. "Kopinya pakai gula atau tidak?"


"Pakai gula tapi jangan banyak." Jawab Gavin pada Valencia.


"Baik, Kakak tunggu disini sebentar."


Valencia pun beranjak dari kursinya dan menuju keruangan itu, sedangkan Gavin ia masih duduk ditempatnya dengan senyum yang masih terbit dibibirnya sambil menatap punggu Valencia.


Valencia pun mulai membuatkan kopi untuk Gavin tidak lupa ia memberi sedikit gula pada kopi tersebut. Akhirnya kopi pun sudah siap, Valencia pun segera mengantarkan kopi tersebut untuk Gavin.


"Ini Kak, kopinya." Ujar Valencia dan meletakkan kopi itu diatas meja.


"Terima kasih, kopinya sangat enak."


"Sama-sama, Kak." Valencia pun duduk di kursinya sambil melihat ke arah Gavin yang begitu menikmati kopinya.


"Kau sangat berbakat membuat kopi." Sahut Gavin setelah meminum kopi tersebut.


"Itu karena Ayah saya mengajarkan." Balas Valencia sambil tersenyum.


"Sepertinya kau sudah sering membuatkan kopi untuk seseorang."


Valencia mengangguk mengiyakan. "Iya Kak, saya sering membuatkan kopi untuk pelanggan dikedai."


"Kau bekerja dikedai?" Tanya Gavin penasaran.


Valencia menggeleng pelan. "Tidak, keluarga kami mempunyai kedai dan ketika hari libur saya sering membantu ayah saya disana."


Gavin baru tahu kalau ternyata keluarga Valencia memiliki kedai, wanita itu memang berbeda dari yang lain. Ketika hari libur pasti wanita lain memilih untuk jalan-jalan atau bersantai di rumah, sedangkan Valencia ketika hari libur ia memilih untuk membantu Ayah nya di kedai.


"Lain kali aku akan mengunjungi kedai milikmu."


"Ya, Kakak harus datang ke kedai kami, disana juga ada kue yang enak dan Kakak harus mencobanya." Ujar Valencia bersemangat.


"Alamatnya dimana?" Tanya Gavin lagi.


"Alamatnya di jalan Teratai Kak." Jawab Valencia.


Gavin mengangguk, mungkin hari sabtu nanti dia akan berkunjung kesana. Suasana pun kembali hening tidak ada yang berbicara, Gavin sibuk dengan pikirannya sedangkan Valencia sibuk melihat keadaan sekitarnya.


Valencia tidak sengaja melihat beberapa pasang mata karyawan melirik ke arahnya dan juga ke arah Gavin, Valencia pun sedikit risih karena melihat tatapan para karyawan tersebut.


Mungkin, bisa saja para karyawan terkejut melihat Gavin yang tiba-tiba menghampiri mejanya dan juga menyuruh dirinya membuatkan kopi.


Dari pada ia terus memikirkan tatapan para karyawan lebih baik ia mengerjakan tugas sekolahnya saja. Valencia pun mengambil buku dalam tasnya dan mulai mengerjakan tugas sekolahnya.


"Valencia, apa kau sedang sibuk?"


Valencia mendongak dan hampir saja mulutnya ingin menganga lebar, karena suara barusan ternyata suara Ibu Alison, Valencia pun langsung merapikan bukunya dan menunduk sedikit untuk memberi hormat.


"Saya tidak sibuk, Bu." Jawab Valencia yang masih menunduk.


"Bagus, saya ingin kau dan Gavin ikut saya ke gudang arsip." Perintah Ibu alison pada Valencia dan Gavin.


Valencia dan Gavin pun beranjak dari kursinya dan mengikuti Ibu Alison yang akan membawa mereka menuju ke gudang arsip.


Setelah sampai disana, mata Valencia disuguhkan dengan banyak surat-surat diataa meja serta peralatan kantor yang sudah rusak dan disimpan disini. Valencia mengira kalau gudang pasti akan sangat kotor, ternyata ia salah walaupun ini adalah gudang ruangannya masih bersih dan rapi.


"Kalian harus memilah mana surat yang penting dan mana yang tidak, jika kalian sudah selesai memilahnya kalian bisa memanggil cleaning service untuk membakar surat itu." Jelas Ibu Alison pada Valencia dan Gavin.


Valencia dan Gavin serempak mengangguk paham. "Baik Bu."


"Bagus, kalian Ibu tinggal dulu." Setelah mengucapkan itu Ibu Alison pun melangkahkan kakinya keluar dari gudang.


Setelah punggu Ibu Alison tidak terlihat, mata Valencia kembali menjelajah isi ruangan, ternyata gudang arsip sangat luas, banyak kardus yang bersusun rapi diatas rak, Valencia dapat menebak kalau isinya pasti surat-surat.


"Memilah semua surat ini pasti akan memakan waktu yang lama." Sahut Gavin sambil memandangi surat.


Valencia mengangguk setuju, surat yang akan mereka pilah begitu banyak pasti akan memakan waktu yang lama untuk menyelesaikan.


"Kita berbagi tugas, aku akan memilah surat bagian kanan dan kau memilah surat dibagian kiri." Suruh Gavin pada Valencia.


Valencia pun berjalan ke sisi kiri meja dan mulai memilah surat tersebut, Valencia dan Gavin pun fokus mengerjakan tugas mereka dalam memilah surat, sesekali Valencia akan bertanya pada Gavin apakah surat itu masih tergolong penting atau tidak.


...🍁🍁🍁...