
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
"Valen, bisa kau membantuku sebentar." Ujar Luna tiba-tiba yang saat ini tengah berdiri dihadapan Valencia.
Valencia yang sedang mencatat surat masuk ke dalam jurnal menjadi terhenti dan menatap ke arah Luna. "Kakak ingin minta bantuan apa?" Tanya Valencia sopan.
"Aku ingin kau membelikanku sesuatu." Pinta Luna pada Valencia.
"Kakak ingin saya membelikan apa?" Tanya Valencia lagi pada Luna.
Sebelum memberitahu Valencia, Luna melirik ke arah sekitarnya sebentar, kemudian ia berjalan mendekat ke arah Valencia. "Aku ingin kau membelikanku pembalut." Bisik Luna pelan.
Valencia mengangguk pelan. "Baik Kak, saya akan membelikannya."
Ekspresi lega tercetak jelas diwajah Luna. "Kau memang penyelamatku Valen, jika kau tidak ada, aku tidak tahu lagi akan minta tolong pada siapa."
Luna membuka dompetnya dan mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribu dan menyerahkannya pada Valencia. "Ini uangnya, terima kasih karena kau mau menolongku Valen."
Valencia mengambil uang itu dari tangan Luna." Sama-sama Kak, Valen keluar dulu."
Luna mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati dijalan Valen."
Valen hanya tersenyum membalas ucapan Luna, kemudian ia pun berjalan ke luar ruangan untuk membelikan pesanan Luna.
Membutuhkan waktu 20 menit untuk Valencia sampai ke mini market, Valencia pun masuk kedalam mini market tersebut dan mulai mencari pesanan milik Luna.
Setelah mendapatkan pesanan Luna, Valencia berjalan menuju ke lemari pendingin untuk mencari minuman agar menghilangkan rasa hausnya. Mungkin karena cuaca hari ini lumayan panas membuat Valencia didera rasa haus.
Setelah mengambil minuman yang akan ia beli, Valencia pun berjalan ke meja kasir untuk membayar pesanan Luna dan juga minuman miliknya.
"Total belanjaannya lima puluh ribu." Ujar seorang kasir wanita sambil tersenyum sopan.
Valencia pun mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya kemudian ia menyerahkan uang tersebut pada kasir wanita itu. "Ini Kak uangnya, terima kasih."
Valencia mengambil kantong plastik yang berisi belanjaannya, baru setelah itu Valencia keluar dari mini market.
Sebelum kembali ke tempat magang, Valencia memilih untuk duduk diatas motornya dulu sebentar, sambil meminum air mineral yang ia beli tadi di mini market.
Hanya sekali tegakan air mineral milik Valencia langsung habis, Valencia membuang botol air mineral itu kedalam bak sampah yang sudah tersedia didepan mini market.
Sepertinya ia harus kembali ke tempat magang sekarang, ia tidak ingin membuat Luna makin lama menunggu kedatangannya, Valencia pun menyalakan motornya dan menuju ke tempat magangnya.
Kini Valencia telah sampai di tempat magang, ia bersyukur kalau jalanan tidak macet, jika macet mungkin ia akan lambat sampai ke tempat magang. Valencia pun langsung bergegas masuk ke dalam perusahaan dan menuju ruangan arsip.
"Ini pesanan Kak Luna." Ujar Valencia menyodorkan kantong plastik yang berisi pesanan milik Luna, dengan napas yang tidak beraturan karena lari.
Luna pun mengambil kantong plastik itu dari tangan Valencia. "Terima kasih Valen, aku harus cepat ke kamar mandi." Setelah mengatakan itu Luna pun langsung masuk ke dalam kamar mandi yang berada disebelah ruangan arsip.
Sedangkan Valencia, ia kembali ke tempat duduknya dan mulai mengerjakan surat yang sempat tertunda tadi. Melihat suratnya yang tinggal sedikit, membuat Valencia dapat bernapas lega, setidaknya ia bisa santai dan tidak terburu-buru mengerjakan suratnya.
Luna yang sudah selesai di kamar mandi, dengan hati-hati ia menuju meja nya sambil menyembunyikan kantong plastik yang ada ditangannya agar tidak dilihat oleh para karyawan.
Setelah meletakkan kantong plastik itu kedalam tas miliknya, Luna kembali berjalan menuju meja Valencia dan duduk disana sambil menghela napas lega.
"Untung saja tadi aku ke kamar mandi, kalau tidak ke kamar mandi, aku tidak bisa membayangkan betapa malunya aku karena bocor." Ujar Luna pada Valencia.
"Selain menanggung malu, pasti aku akan dijadikan bahan gosip selama seminggu, untung saja itu tidak terjadi." Tambah Luna lagi.
"Syukurlah Kak itu tidak terjadi." Balas Valencia sambil tersenyum.
Luna membalas senyuman Valencia. "Sekali lagi terima kasih Valen, kau memang teman yang baik, padahal aku tidak enak menyuruhmu keluar tadi, tapi karena keadaan terdesak jadi aku terpaksa minta bantuan denganmu."
"Tidak apa Kak, kalau Kakak ingin minta bantuan katakan saja, saya akan membantu Kakak." Ujar Valencia pada Luna.
"Valen, aku ingin bertanya sesuatu."
Alis Valencia berkerut, Luna ingin menanyakan apa padanya. "Kakak ingin bertanya apa?"
"Apa kau akan ikut acara peresmian CEO baru kita sabtu malam nanti?" Luna balik bertanya.
Valencia menggeleng pelan. "Saya tidak ikut Kak."
"Kenapa tidak ikut?" Luna bertanya lagi.
"Saya merasa tidak cocok kalau ikut di acara peresmian itu, karena saya masih anak sekolah." Valencia menjawab pertanyaan Luna.
"Kau harus ikut Valen, jika kau tidak ikut aku tidak mempunyai teman di acara itu." Ujar Luna pada Valencia.
"Kenapa Kak Luna tidak mengajak tunangan Kakak saja untuk datang ke acara peresmian CEO baru kita?" Valencia bertanya pada Luna.
mendengar pertanyaan Valencia, Ekspresi Luna yang semula ceria berubah menjadi murung. "Dia sedang sibuk ke luar kota, jadi aku tidak bisa mengajaknya."
Melihat wajah murung Luna membuay Valencia menjadi merasa bersalah karena telah bertanya itu. "Maaf, kalau pertanyaan saya barusan membuat Kakak menjadi murung."
"Kau harus ikut datang bersamaku, agar aku tidak murung lagi." Ujar Luna pada Valencia.
"Tapi, Kak..."
"Kau tenang saja, aku akan membuatmu tidak terlihat seperti anak sekolah." Luna memotong ucapan Valencia.
"Saya tidak ingin merepotkan Kak Luna. Lagi pula saya tidak mempunyai pakaian untuk datang ke acara nanti." Tolak Valencia secara halus.
Luna tersenyum pada Valencia. "Aku tidak merasa direpotkan, soal pakaian aku punya banyak jadi aku bisa meminjamkannya untukmu."
Valencia jadi tidak enak menolak ajakan Luna, karena wanita itu terus saja berusaha memaksa dirinya untuk ikut ke acara peresmian CEO baru mereka.
Bahkan Luna juga mau meminjamkan pakaian miliknya dan juga mendandaninya, Valencia jadi terharu karena Luna begitu baik padanya.
"Baik Kak, saya akan ikut."
Senyum sumringah terbit dibibir Luna ketika mendengar jawaban Valencia. "Bagus, kau tinggal beritahu saja alamat rumahmu di wahtasapp."
Valencia mengangguk pelan. "Iya Kak, nanti saya akan mengirimkan alamatnya ke whatsapp Kak Luna."
"Aku semakin tidak sabar, menantikan acara peresmian CEO baru kita." Ujar Luna sambil menatap ke arah langit-langit ruangan.
"Pasti akan ada banyak orang yang datang." Tambah Valencia sambil menopang dagu.
"Tentu saja, bahkan kalangan atas pasti akan hadir juga." Timpal luna sambil bersidekap.
Hadirnya kalangan atas termasuk salah satu alasan Valencia tidak ingin ikut, karena Valencia merasa risih ketika melihat sikap sombong para kelas atas yang memamerkan kekayaan mereka, walaupun hanya sebagian yang bersikap seperti itu.
"Valen, aku akan kembali ke mejaku, sampai jumpa jam istirahat." Setelah mengatakan itu Luna pun beranjak dari kursinya dan menuju mejanya.
...🍁🍁🍁...