
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Akhirnya waktu libur telah tiba dan itu membuat Valencia dapat bernapas dengan lega karena dirinya terbebas dari perintah Helena.
Seperti biasa ketika hari libur Valencia akan membantu Ibu nya mengurus pekerjaan rumah. Dari mencuci pakaian, piring, menyapu dan mempel rumah hingga bersih.
Saat ini Valencia sedang duduk santai diatas kasurnya, karena semua pekerjaan rumah sudah ia selesaikan. Valencia tidak tahu ingin melakukan apa lagi jadi ia memutuskan untuk duduk diatas kasur sambil memainkan ponsel miliknya.
Valencia meletakkan ponselnya diatas nakas dan menghembus napas pelan, ia sungguh bosan hanya berdiam diri di kamar. Sepertinya ia butuh udara segar untuk menghilangkan rasa bosannya.
Mungkin ia akan menghabiskan waktu di alun-alun kota sebentar dan membeli es krim disana, baru setelah itu ia membantu Ayah nya di kedai.
Valencia beranjak dari atas kasurnya dan mendekat ke arah cermin besar disamping lemari pakaiannya, ia melihat penampilannya dipantulan cermin. Hari ini Valencia memakai celana panjang berwarna putih dan atasan lengan pendek berwarna lilac.
Valencia mula menguncir rambut sepinggangnya dan menyisakan sedikit rambutnya bagian depan, tidak lupa ia mengoleskan lip balm pada bibirnya agar tidak kering dan pucat.
Melihat penampilannya sudah pas, barulah Valencia memakai tas kecil berwarna ungu, yang berisi dompet dan ponsel miliknya.
"Ibu, Valen mau jalan-jalan sekaligus ingin membantu Ayah dikedai." Ujar Valencia yang saat ini sedang berada diruang tamu.
Risa mengangguk tersenyum. "Baiklah, hati-hati dijalan, Valen."
Valencia pun membalas senyuman Ibu nya, sebelum pergi ia mencium pipi Ibu nya terlebih dahulu, baru setelah itu ia pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju alun-alun kota dengan motor beat kesayangannya.
Membutuhkan waktu 20 menit untu Valencia sampai di alun-alun kota, tidak lupa ia memarkirkan motornya terlebih dahulu sebelum berjalan menikmati suasana sekitar alun-alun.
Valencia pun mulai melangkahkan kakinya dan melihat ke arah sekitarnya yang begitu ramai. Mungkin karena hari ini adalah hari libur jadi orang juga banyak menghabiskan waktu untuk berjalan di alun-alun kota.
Mata Valencia berbinar ketika melihat paman es krim yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya, langsung saja Valencia mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri pama es krim tersebut.
"Paman, es krim satu rasa coklat." Ujar Valencia pada paman tersebut.
"Baik, tunggu sebentar." Paman es krim pun beranjak dari duduknya dan mulai membuatkan es krim pesanan Valencia.
Valencia mengangguk dan melihat paman penjual yang begitu cepat membuatkan es krim untuknya, hanya menunggu lima menit es krim Valencia pun sudah jadi.
"Harganya berapa paman?" Tanya Valencia.
"20 ribu." Jawab paman penjual tersebut.
Valencia pun mengambil dompetnya dalam tas kemudian ia menyerahkan uang 20 ribu kepada paman penjual itu.
"Ini paman uangnya, terima kasih." Setelah mengucapkan itu Valencia pun kembali melanjutkan langkah kakinya untuk mengitari alun-alun kota.
Setelah beberapa menit berjalan Valencia memutuskan untuk duduk sebentar untuk mengistirahatkan kakinya yang penat.
Valencia melihat orang yang berlalu lalang dihadapannya, ada yang berjalan bersama temannya, ada yang berjalan dengan keluarganya dan ada juga yang berjalan dengan kekasihnya.
Valencia bisa saja mengajak temannya kesini tapi Valencia hanya ingin menghabiskan waktu sendirian, sambil menghilangkan rasa penatnya karena magang.
Kalau kekasih, saat ini Valencia tidak mempunyai karena entah kenapa Valencia tidak mempunyai minat lagi untuk memiliki kekasih, dia sendirian saja sudah punya banyak beban apalagi kalau mempunyai kekasih mungkin beban hidupnya akan bertambah.
Walaupun ada terselip rasa iri dihati Valencia, ketika ia tidak sengaja berpapasan dengan sepasang kekasih yang sedang tertawa bahagia dihadapannya. Tapi, ketika mengingat kalau ujung-ujungnya putus dan berakhir patah hati membuat Valencia mengurungkan niatnya untuk memiliki kekasih lagi.
Sepertinya sendiri memang pilihan yang tepat, ia juga masih mempunyai sahabat serta keluarganya yang akan selalu ada untuknya ketika ia mengalami kesusahan.
"Boleh aku duduk disini?"
Mendengar suara itu membuat Valencia tersadar dari pikirannya, tatapan Valencia pun langsung teralih kepada sumber suara. Valencia hampir terperangah ketika melihat seorang pria sedang berdiri dihadapannya.
"Boleh, duduk saja disini." Ujar Valencia pada pria tersebut.
Pria itu pun tersenyum dan duduk disamping Valencia dan itu membuat Valencia merasa gugup, pasalnya pria disampingnya saat ini sangat tampan, mimpi apa dirinya semalam sehingga ada pria tampan yang datang menghampirinya bahkan duduk disampingnya.
"Namamu siapa?" Tanya pria itu pada Valencia.
"Nama yang cantik."
Valencia hanya diam tidak membalas ucapan pria itu. Baru pertemuan pertama pria itu sudah mengeluarkan rayuan mautnya, sepertinya pria disampingnya ini sudah sering merayu para wanita.
"Namaku Rafael Aldebaran." Ujar pria bernama Rafel itu memberitahu nama lengkapnya pada Valencia.
Valencia pun terkejut ketika mendengar nama terakhir pria itu. "A—pa, Rafael Aldebaran, kau dari keluarga Aldebaran?" Tanya Valencia memastikan.
Rafael menampilkan senyumnya dan itu membuat ketampanannya semakin memancar. "Iya, aku dari keluarga Aldebaran, lebih tepatnya aku anak yang terakhir."
Astaga Valencia tidak menyangka akan bertemu dengan seorang anak pemilik Aldebaran Company tempat dirinya magang.
"Dari wajahmu kau terlihat sangat kaget." Sahut Rafael.
Valencia pun berusaha menetralkan ekspresi kagetnya menjadi biasa saja. "Aku hanya kaget karena bertemu dengan seorang anak pemilik Aldebaran Company tempat aku magang."
"Benarkah kau magang di perusahaan milik Ayah ku."
Valencia mengangguk mengiyakan. "Iya, aku baru lima hari magang disana."
"Aku mengira kalau kau telah kuliah, ternyata kau masih sekolah." Ujar Rafael sambil menatap pemandangan didepannya.
Apa wajahnya begitu boros hingga Rafael mengira kalau dirinya seperti anak kuliahan, padahal sahabatnya pernah mengatakan kalau wajahnya seperti orang yang masih sekolah SMP.
"Bagaimana magang di perusahaan Ayah ku? Apa menyenangkan?" Tanya Rafael beruntun pada Valencia.
"Sangat menyenangkan." Jawab Valencia seadanya, awalnya memang menyenangkan, tapi setelah mengenal Helena tempat maganya seperti neraka.
"Syukurlah, semoga kau betah magang disana." Ujar Rafael dengan senyumnya.
Valencia membalas senyuman Rafael dengan senyuman tipis. "Tentu saja aku akan betah." Bohong Valencia.
Valencia tidak menyangka kalau anak pemilik Aldebaran Company begitu ramah dan murah senyum, padahal sebelumnya Valencia mengira kalau anak pemilik Aldebaran Company mempunyai sifat sombong, arogan, dan dingin.
"Kau hanya sendirian disini?"
Valencia mengangguk. "Iya, hanya sendirian."
"Kau tidak mempunyai kekasih?" Tanya Rafael lagi dan pertanyaan itu sedikit membuat Valencia risih.
"Tidak." Jawab Valencia singkat.
"Sayang sekali, wanita cantik sepertimu tidak mempunyai kekasih."
Mendengar ucapan Rafael membuat Valencia menghembus napas pelan, pria itu terlalu berlebihan merayu dirinya, padahal ini baru pertemuan pertama mereka. Untung saja Rafael adalah anak pemilik Aldebaran Company, jika bukan pasti Valencia sudah mengusir pria itu dari sini.
Valencia melirik ke arah jam tangannya yang kini tengah menunjukkan pukul 13.25, sepertinya ia harus segera pergi dari sini dan menuju kedai untuk membantu Ayah nya.
Valencia beranjak dari kursinya sambil menatap ke arah Rafael. "Sepertinya aku harus pergi."
"Kenapa cepat sekali, kita baru saja mengobrol."
"Aku harus pergi ke suatu tempat, senang bisa bertemu denganmu Rafael." Ujar Valencia sambil menampilkan senyumnya.
"Baiklah, aku akan menantikan pertemuan kedua kita."
Valencia terkekeh pelan. "Sampai jumpa." Valencia melambaikan tangannya ke arah Rafael baru setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju tempat ia memarkirkan motor miliknya.
Sedangkan Rafael masih menatap punggung Valencia dengan senyuman penuh arti.
"Aku merasa wanita itu sedikit berbeda dengan wanita lain, dia harus jadi milikku."
...🍁🍁🍁...