
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Hari ini Valencia pulang cepat karena para karyawan Aldebaran Company sedang sibuk mempersiapkan kedatangan CEO pengganti besok, ditambah lagi ia juga tidak memiliki tugas untuk dikerjakan jadi Ibu Alison menyuruhnya pulang lebih dulu.
Ketika sampai ke rumah, Valencia merasa tubuhnya terasa lengket, jadi ia memutuskan untuk langsung membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai.
Setelah membersihkan diri Valencia pun merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak yang terasa lelah.
Disatu sisi Valencia senang karena pulang cepat, tapi disatu sisi ia merasa bosan berada di rumah karena tidak ada yang ia kerjakan.
Valencia melirik ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 15.10, Valencia beranjak dari atas kasurnya dan keluar dari kamarnya untuk menemui Ibu nya.
Valencia melihat Ibu nya yang sedang duduk di ruang tamu sambil melihat berita di televisi, Valencia pun menghampiri Ibu nya dan tetap disamping Ibu nya.
Risa tersenyum ketika menyadari kalau Valencia menghampirinya dan duduk disebelahnya. Risa melihat rambut Valencia yang masih basah, sepertinya Valencia sudah membersihkan dirinya.
"Ternyata kau sudah mandi." Ujar Risa membuka pembicaraan.
"Iya Bu, tubuhku terasa lengket jadi aku memutuskan untuk langsung mandi." Balas Valencia yang menatap ke arah televisi.
"Ibu rasa hari ini kau pulang cepat, tidak seperti biasanya."
"Hari ini para karyawan sedang sibuk mempersiapkan untuk menyambut kedatangan CEO pengganti, Ibu Alison bilang tidak ada yang perlu Valen kerjakan jadi beliau menyuruh Valen untuk pulang." Valencia menjelaskan alasannya pada Ibu nya.
"Apa CEO pengganti itu masih muda?" Tanya Risa pada Valencia.
Valencia mengangguk mengiyakan. "Sepertinya iya Bu, karena dari cerita yang Valen dengar, kalau yang jadi CEO pengganti adalah anak pertama dari pemilik Aldebaran Company sendiri."
"Benarkah, pasti CEO pengganti itu akan menjadi incaran para karyawan wanita." Risa menyuarakan pendapatnya pada Valencia.
"Tentu saja Bu, selain masih muda CEO pengganti itu juga tampan." Ucap Valencia tanpa sadar.
"Kau pernah melihatnya."
Valencia menggeleng pelan. "Tidak pernah Bu, aku mendengar itu dari para karyawan."
Suasan pun menjadi hening tidak ada lagi yang bersuara, yang terdengar saat ini hanyalah suara yang berasal dari televisi.
Padahal saat ini Valencia telah duduk bersama Ibu nya sambil menonton televisi, tapi entah kenapa Valencia masih merasa bosan.
Valencia memikirkan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosannya, senyum langsung terbit dibibir Valencia ketika ia telah menemukan penghilang rasa bosannya.
"Ibu, aku ingin pergi ke kedai." Ujar Valencia memberitahu pada Ibu nya.
Risa tersenyum mengangguk. "Baiklah, kau pergi saja ke kedai. Hati-hati dijalan Valen."
Valencia membalas senyuman Ibu nya. "Baik Bu, Valen pasti akan hati-hati." setalah itu ia beranjak dari duduknya dan kembali menuju kamarnya untuk mengambil tas, dompet, ponsel serta kunci motor miliknya.
Tidak lupa sebelum pergi Valencia melihat penampilan dirinya terlebih dahulu dicermin, setelah merasa penampilannya sempurna barulah Valencia keluar kamarnya.
Tanpa membuang waktu lagi Valencia segera menghidupkan mesin motornya dan melajukan motor tersebut ke kedai Ayah nya.
Setelah sampai di kedai, seperti biasa Valencia memarkirkan motornya terlebih dahulu didepan kedai beserta helm miliknya, baru setelah itu ia masuk kedalam dan menghampiri Ayah nya yang terlihat sibuk melayani pembeli.
"Sepertinya Ayah sedang sibuk." Sahut Valencia yang saat ini tengah disamping Ayah nya.
"Kebetulan kau datang, tolong bantu Ayah melayani pembeli." Balas Ayah nya yang sibuk membungkus roti untuk pembeli.
Valencia pun mengangguk dan mulai membantu Ayah nya untuk melayani para pelanggan, Ketika merasa tidak ada lagi pelanggan yang datang, Valencia pun duduk untuk istirahat sejenak.
Hery pun datang menghampiri Valencia dan duduk tepat dihadapan putrinya tersebut. "Ayah rasa hari ini kau pulang cepat, hingga kau datang kemari."
"Hari ini aku pulang cepat Ayah, makanya aku bisa datang kesini." Valencia memberitahu Ayah nya.
Hery melihat ada pelanggan yang masuk kedalam kedai dan melihat-lihat kue yang ada di etalase. "Ayah tahu kau lelah. jadi, kau duduk saja disini biar Ayah yang melayani pelanggan."
Valencia mengangguk sambil tersenyum pada Ayah nya. "Baik Ayah, Valen akan duduk disini dulu untuk istirahat sebentar."
Hery menanggapi ucapan Valencia dengan senyuman setelah itu Hery pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju etalase.
Valencia bertopang dagu sambil menatap ke arah kaca depan kedai yang memperlihatkan orang-orang yang sedang berlalu lalang.
Pikiran Valencia melayang saat dirinya sedang makan siang bersama Rafael, Valencia tidak menyangka kalau total jumlah pesanannya seorang diri hampir lima ratus ribu, padahal Valencia sudah memastikan kalau makanan dan minuman yang ia pesan itu harganya yang paling murah diantara makanan dan minuman yang lain.
Makanannya begitu mahal, tapi porsinya sangat sedikit, bahkan makanan itu langsung habis hanya tiga suapan. Bukannya membuat kenyang malah membuat cacing diperut Valencia semakin meronta karena masih lapar.
Valencia menghembus napas berat, karena mulai besok Valencia harus menyisihkan sedikit uang jajannya untuk membayar hutang pada Rafael, padahal ia tidak ingin berhutang apapun pada Rafael, tapi pria itu yang membuat dirinya tidak mempunyai pilihan selain berhutang pada pria itu.
Tapi disatu sisi Valencia bersyukur, saat mereka makan siang tadi, Rafael tidak ada mengatakan apapun tentang pria itu yang memfollback instagram miliknya. Berarti sudah dapat dipastikan kalau Rafael memang tidak sengaja menekan tanda follback pada instagramnya.
"Sedang memikirkan sesuatu gadis kecil."
Mendengar suara itu membuat Valencia terlonjak kaget dan tersadar dari pikirannya, matanya pun bertemu dengan mata seorang pria yang tempo lalu pernah datang ke kedai Ayah nya.
"Astaga, kenapa aku harus bertemu dengan pria lancang ini lagi." Rutuk Valencia dalam hati yang masih bersitatap dengan pria itu.
"Halo gadis kecil apa kau mendengarku." Sahut pria itu lagi yang kini melambaikan tangannya tepat ke wajah Valencia.
Valencia pun langsung mengalihkan tatapannya dan melihat ke arah lain. "Aku sudah 17 tahun om, jadi aku bukan gadis kecil lagi."
"17 tahun masih kecil bagiku, jangan panggil aku om karena aku bukan om mu." Balas pria itu sambil menopang dagu.
"Selain om aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" Tanya Valencia dengan alis terangkat.
Pria itu menampilkan smirknya. "Kau bisa memanggilku dengan sebutan sayang misalnya."
Membayangkan dirinya memanggil pria dihadapannya itu dengan sebutan sayang membuat Valencia bergidik ngeri. "Itu tidak akan pernah terjadi om."
Pria itu diam sambil menatap ke arah Valencia, untuk pertama kalinya ia bertemu dengan seorang wanita yang tidak terpesona dengan ketampanan yang dimilikinya.
Biasanya wanita akan seperti cacing kepanasan saat ada didekatnya, sedangkan wanita dihadapannya itu tidak, ia bersikap begitu tenang bahkan wanita itu lebih fokus melihat ke arah lain dari pada menatap dirinya.
Ini juga pertama kalinya ia merayu seorang wanita, ketika wanita lain mendekat atau pun mengajaknya bicara maka dirinya memilih menjauh. Sedangkan dengan wanita dihadapannya ini, malah dirinya yang mengajak wanita itu bicara bahkan sampai merayunya.
Astaga ia seperti pedofil karena merayu seorang wanita yang masih berumur 17 tahun, tapi entah kenapa lucu saja melihat raut tidak suka wanita itu saat dirinya merayu wanita itu.
"Sepertinya, kau sedang tidak ada kerjaan. Jadi, bisa buatkan aku kopi hitam tanpa gula." Ujar pria itu pada Valencia.
Tatapan Valencia otomatis mengarah pada pria yang belum ia ketahui namanya itu. "Baik om, tunggu sebentar."
Dengan malas Valencia beranjak dari kursinya untuk membuatkan kopi pria tersebut. Lima menit kemudian Valencia pun kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula ditangannya.
Valencia melihat pria itu tidak duduk sendirian kini ia sedang duduk bersama seorang wanita, ternyata kedatangan pria itu kesini untuk bertemu dengan kekasihnya.
"Ini kopinya." Ujar Valencia sambil meletakkan kopi itu ke atas meja.
Ketika Valencia ingin beranjak pergi tangan seseorang langsung memegang pergelangan tangan miliknya membuat langkah Valencia terhenti.
"Bisa lepaskan tangan anda tuan." Pinta Valencia sopan pada pria itu.
"Duduk disini." Perintah pria itu dengan nada dingin.
Entah kenapa ketika mendengar nada dingin itu membuat Valencia langsung menuruti perintahnya untuk duduk disebelahnya.
"Bisa kau pergi sekarang, kau mengganggu kencan ku dengan kekasihku." Ujar pria itu sarkas pada wanita yang duduk dihadapannya.
"Aku tahu kau berbohong tuan, kau sedang tidak berkencan bukan." Balas wanita itu sambil menatap tidak suka ke arah Valencia.
Ditatap tidak suka oleh wanita itu membuat Valencia mengernyit bingung, padahal ini pertemuan pertama mereka dan wanita itu secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak sukanya padanya.
Alis pria itu terangkat ketika mendengar ucapan wanita itu. "Kau tidak percaya."
"Tentu saja tuan, karena wanita itu masih kelihatan muda dan tidak cocok untukmu." Balas wanita itu lagi sambil menampilkan senyum kemenangannya.
Tiba-tiba pria itu menggenggam tangan Valencia sekaligus mengecupnya dan itu sukses membuat Valencia menganga terkejut. "Tapi sayang sekali, kenyataannya kami memang sepasang kekasih nona. Jadi silahkan pergi dari sini."
Wanita itu pun menampilkan wajah masamnya karena pria yang ingin ia dekati ternyata telah memiliki kekasih. "Baik tuan saya akan pergi dari sini."
Wanita itu pun beranjak dari duduknya dan pergi keluar dari kedai, pria itu pun dapat bernapas dengan lega karena akhirnya wanita yang tidak ia kenali itu pergi juga.
Sedangkan Valencia saat ini masih diam terpaku akibat kejadian tadi, ia melirik ke arah Ayah nya yang masih sibuk melayani pelanggan. Valencia bersyukur kalau Ayah nya tidak melihat kejadian tadi, jika Ayah nya melihat dapat dipastikan kalau dirinya akan dimarahi oleh Ayah nya tersebut dan tidak di izinkan untuk ke kedai lagi.
Valencia menatap ke arah pria itu dengan ekspresi marah. "Anda sangat tidak sopan tuan, saya harap tuan segera pergi dari sini dan jangan pernah datang kesini lagi." Setelah mengatakan kalimat pengusiran itu Valencia pun langsung pergi kedalam ruangan milik Ayah nya.
Sedangkan pria itu menatap kepergian Valencia dengan senyum penuh arti, ia tidak menyangka kalau dirinya barusan telah melakukan hal gila dan entah kenapa ia menyukai hal gila tersebut.
"Kau milikku gadis kecil." Pria itu menampilkan smirknya kemudian mulai menyesap kopinya yang mulai dingin.
...🍁🍁🍁...