
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Sekarang Valencia sedang duduk berhadapan dengan Rafael di sebuah restoran yang mewah dan terkenal. Mata Valencia tidak berhenti untuk menjelajahi isi ruangan restoran tersebut, desain restoran ini sangat bagus dan itu membuat Valencia berdecak kagum.
Tapi, Valencia tidak habis pikir mengapa Rafael membawanya kesini, tidak ditempat makan dipinggir jalan saja, tapi mengingat Rafael adalah anak dari keluarga Aldebaran membuat Valencia memaklumi kalau selera makan Rafael pasti di restoran mewah bukan seperti dirinya yang suka makan dipinggir jalan.
Pasti makanan disini begitu mahal, membeli makanan di kantin Aldebaran Company saja dompetnya tidak sanggup apalagi di restoran mewah ini, mungkin harga satu makanan disini setara dengan uang jajan Valencia selama setahun.
Seharusnya tadi Valencia langsung melepaskan tangan Rafael dari pergelangan tangannya dan melarikan diri agar ia tidak berakhir duduk disini.
Atau mungkin ia berpura-pura izin ke toilet pada Rafael lalu ia langsung melarikan diri lewat pintu belakang restoran ini. Sepertinya itu ide yang patut dicoba.
"Aku ingin ke toilet sebentar." Ujar Valencia memberitahu pada Rafael.
Rafael menatap menilai ke arah Valencia. "Kau yakin ingin pergi ke toilet."
Valencia mengangguk meyakinkan. "Tentu saja dan aku harus segera pergi ke toilet."
"Apa kau ingin ditemani?" Tawar Rafael pada Valencia.
Valencia menggeleng cepat. "Tidak perlu, aku bisa sendiri." Ditemani oleh Rafael sama saja itu membuat niat melarikan dirinya gagal.
Rafael sempat menatap ragu ke arah Valencia setelah itu ia mengangguk pelan dan itu membuat Valencia bernapas legas.
"Baiklah, kau mengizinkanmu pergi ke toilet, jika kau lama aku akan menyusulmu kesana."
Valencia mengangguk malas menanggapi ucapan Rafael, tanpa membuang waktu lagi Valencia pun beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Rafael.
Saat ini Valencia sedang berada disebuah lorong, Valencia melihat ke arah sekitarnya dengan teliti siapa tahu ia menemukan pintu belakang restoran ini.
Mata Valencia melihat seorang pria yang sudah berumur sedang mempel lantai, Valencia langsung menghampiri orang itu untuk menanyakan letak pintu belakang.
"Permisi Pak, letak pintu belakang restoran ini dimana?" Tanya Valencia sopan.
"Dari sini tinggal lurus saja, lalu belok kiri dan disanalah letak pintu belakangnya." Ujar pria itu memberitahu.
Valencia pun tersenyum ketika Bapak itu mau memberitahu letak pintu belakang. "Terima kasih, Pak."
Bapak itu mengangguk dan membalas senyum Valencia. "Sama-sama."
Valencia pun meninggalkan Bapak itu dan berjalan lurus kedepan, beberapa menit kemudian senyum Valencia menjadi lebar karena kakinya sebentar lagi akan sampai pada pintu belakang.
Ketika Valencia ingin membuka pintu tersebut seseorang lebih dulu menahan pintu itu dari belakang dan itu sukses membuat Valencia terperanjat kaget.
Valencia berbalik untuk melihat siapa orang yang menahan pintu itu dan matanya terbelalak ketika ia melihat orang yang menahan pintu itu adalah Rafael.
"Kau tidak bisa melarikan diri nona." Bisik Rafael dengan nada rendah sambil menampilkan seringainya.
Valencia menjadi gelagapan karena aksi melarikan dirinya ketahuan oleh Rafael. "Aku ingin ke toilet bukan untuk melarikan diri." Valencia berdalih.
Aku tahu kau bohong, sejak awal firasatku mengatakan kalau kau memang tidak berniat untuk pergi ke toilet, jadi aku memutuskan untuk mengikutimu dan ternyata firasatku benar, kau ingin melarikan diri melalu pintu belakang.
"Aku tidak berbohong aku memang ingin ke toilet, memangnya ini pintu belakang." Dalih Valencia lagi dan berusaha mengatur ekspresinya agar tidak menunjukkan kebohongan.
"Kau tidak tahu kalau pintu dibelakangmu itu adalah pintu belakang agar dapat keluar dari restoran ini." Ujar Rafael dengan alis terangkat.
Valencia mengangguk cepat. "Iya aku memang tidak tahu."
Valencia mengakui ia kalah telak oleh Rafael, Valencia merutuki orang yang telah membuat papan tulisan yang memberitahu kalau ini adalah pintu belakang, karena papan tulisan itulah membuat aksi melarikan dirinya gagal.
"Aku tidak melihat tulisannya Rafael, aku mengira kalau ini adalah toilet." Valencia kembali berdalih.
"Sudahlah jangan berbohong lagi, lebih baik kita makan sekarang dan jangan mencoba kabur." Setelah mengatakan itu Rafael pun menarik pergelangan tangan Valencia dan membawa wanita itu kembali ke meja mereka.
Valencia menghela napas berat ketika ia kembali duduk ditempat mereka tadi, seharusnya ia memperhatikan keadaan sekitarnya dulu untuk memastikan apakah Rafael mengikutinya atau tidak.
Melihat wajah masam Valencia karena gagal melarikan diri membuat Rafael menahan tawanya, sepertinya Valencia tidak suka bersama dengannya hingga wanita itu memilih untuk melarikan diri melalui pintu belakang.
Valencia memang berbeda dengan wanita lain, jika wanita diluar sana mengantri untuk bisa bersamanya, sedangkan Valencia wanita itu malah memilih kabur agar terbebas dari dirinya.
Rafael akui kalau Valencia standar tidak secantik dengan wanita yang sering mengejarnya, tapi entah kenapa Rafael malah tertarik dengan Valencia.
Apalagi melihat sikap Valencia yang begitu terang-terangan menunjukkan tidak ingin bersama dirinya, membuat Rafael semakin tertantang untuk membuat hati Valencia luluh dan jatuh dalam pelukannya.
"Cepat pesan sesuatu." Suruh Rafael pada Valencia.
Valencia menatap ragu pada daftar menu yang ada diatas meja, uang jajannya mana cukup untuk membeli makanan disini.
"Aku tidak lapar, kau saja yang pesan." Balas Valencia sambil sesekali menatap ke arah daftar menu.
"Kalau kau tidak memesan sesuatu aku tidak akan mengantarmu kembali ke perusahaan Ayah ku." Ancam Rafael pada Valencia.
"Aku bisa kembali sendiri Rafael, kalau bisa aku akan kembali sekarang juga." Ujar Valencia bersemangat.
Rafael menampilkan smirknya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Valen. Jadi, lebih baik sekarang kau pesan makananmu."
Ingin rasanya Valencia menjambak rambut Rafael, kenapa sikap pria itu begitu menyebalkan, kenapa Rafael selalu menahan dirinya agar ai tidak melarikan diri dari pria itu.
"Restoran ini terlalu mewah Rafael, uang jajanku tidak cukup untuk membeli makanan disini." Jujur Valencia menunjukkan ekspresi kesalnya.
Ternyata itu alasannya mengapa Valencia sedari tadi hanya menatap daftar menu tanpa berniat untuk melihat isi daftar menunya, padahal Rafael berniat ingim mentraktir Valencia tapi satu ide muncul dalam benak Rafael membuat ia mengurungkan niatnya untuk mentraktir wanita itu.
"Kau tinggal berhutang saja padaku agar dapat membayar makanan disini." Ujar Rafael enteng.
Berhutang katanya, dengan gampangnya Rafael bilang kalau dirinya dapat berhutang dengan pria itu. Valencia tidak mungkin melakukannya, selain susah membayar ia juga tidak ingin dimasa yang akan datang dirinya berurusan lagi dengan Rafael.
"Aku tidak mau." Tolak Valencia tanpa ada kalimat basa-basi.
"Kalau kau tidak mau, aku tidak akan mengantarmu kembali ataupun membiarkanmu pulang sendiri." Ancam Rafael lagi pada Valencia.
Rasanya Valencia ingin menangis karena Rafael selalu saja memberi ancaman seperti itu. "Aku tidak ingin berhutang padamu Rafael, tolong jangan membuat semuanya sulit."
"Kau yang membuat semuanya sulit Valen, padahal kau tinggal memesan makanan dan berhutang padaku untuk membayar pesananmu maka semuanya selesai." Balas Rafael dengan ekspresi serius.
Melihat tatapan serius Rafael membuat Valencia menghela napas berat, sepertinya ia tidak dapat melawan keputusan Rafael.
"Baiklah aku akan memesan makanan dan berhutang padamu." Ujar Valencia dengan nada berat.
Rafael menunjukkan senyum kemenangan pada Valencia. "Bagus, akhirnya kau menurut juga, cepat pesan sekarang."
Valencia terpaksa merahi daftar menu itu dan mulai mencari makanan apa yang ia inginkan dan tentunya ia memilih makanan dan minuman yang paling murah agar dirinya dapat dengan cepat melunasi hutangnya pada Rafael.
...🍁🍁🍁...