The Problem

The Problem
The Problem - Delapan



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Tidak terasa sudah tiga hari Valencia melaksanakan kegiatan magang, Valencia bersyukur kegiatan magangnya selama tiga hari ini berjalan dengan lancar, walaupun ada sedikit kesulitan untung saja ia dapat mengatasinya.


Kali ini Valencia tidak lagi memakai seragam sekolah, tapi ia memakai kemeja putih berlengan panjang serta rok hitam dibawah lutut, tidak lupa ia memakai stocking dan flatshoes berwarna hitam, Valencia menguncir rambutnya, agar rambutnya tidak mengganggu dirinya dalam mengerjakan tugas.


Tidak lupa sebuah identitas yang menunjukkan bahwa dirinya anak magang, tengah bertengger manis di leher Valencia dan terdapat fotonya juga disana.


Sekarang Valencia juga mulai akrab dengan Luna, kemarin mereka memutuskan untuk makan diluar lebih tepatnya dipinggir jalan, karena Valencia tidak mempunyai uang yang lebih untuk makan di kantin perusahaan.


Menurut Valencia lebih baik makan dipinggir jalan, karena selain murah porsi makannya juga banyak dan dijamin langsung kenyang, tidak seperti di kantin perusahaan sudah harganya mahal porsinya juga sedikit walaupun makanannya enak.


Awalnya Valencia sempat mengira kalau Luna tidak mau, ternyata dugaannya salah besar, Luna dengan senang hati menerima tawaran Valencia untuk makan dipinggir jalan.


Saat ini Luna sedang tidak masuk dan Valencia tidak tahu alasan mengapa wanita itu jadi tidak masuk ke kantor, Valencia juga belum bertukar nomor ponsel dengan Luna, jadi ia tidak bisa menanyakan alasannya.


Saat ini Valencia sedang sibuk mengerjakan surat masuk, ia harus mencatat semua surat masuk itu kedalam jurnal, kadang Valencia berhenti sejenak untuk mengistirahatkan tangannya yang keram karena terlalu banyak menulis.


Valencia menghembus napas pelan sambil menatap ke arah surat yang masih menumpuk diatas meja, surat masuk terus saja berdatangan dan itu membuat Valencia kewalahan mencatatnya kedalam jurnal.


Mata Valencia mengarah kedepan, ia melihat seorang wanita asing menurutnya sedang berjalan menuju kearahnya.


"Permisi, boleh aku duduk disini sebentar." Ujar wanita lembut itu lembut sambil menampilkan senyumnya.


Valencia membalas senyum wanita itu. "Silahkan Kak."


Wanita itu menatap Valencia dari atas sampai bawah serta ia juga menatap ke arah meja Valencia yang berantakan karena surat yang berserakan.


"Sepertinya kau sibuk sekali, padahal kau hanya anak magang." Ujar wanita itu.


Valencia hanya membalas dengan senyuman karena ia tidak tahu ingin mengatakan apa pada wanita itu.


"Kita belum berkenalan bukan, aku Helena Oktavia, kau bisa memanggilku Helen. Kau tidak perlu mengenalkan diri karena aku sudah tahu namamu." Ujar wanita bernama Helena itu memperkenalkan diri dengan Valencia.


"Kakak sudah lama bekerja disini?" Tanya Valencia penasaran.


Helena mengangguk pelan. "Lumayan lama, aku sudah bekerja 3 tahun disini."


"Apa kau tahu disini ada wifi, jadi kalau kau merasa bosan kau bisa memainkan ponselmu sambil menikmati wifi disini." Helena memberitahu pada Valencia.


Valencia tidak pernah kepikiran kalau di ruangan ini telah tersedia ini, jujur saja Valencia selama magang jarang membuka ponsel jadi ia tidak pernah mencek apakah ruangan ini ada wifi atau tidak.


Valencia langsung membuka ponselnya untuk mengecek apakah yang dikatakan oleh Helena itu benar dan ternyata ucapan Helena benar Valencia melihat banyak sambungan wifi yang tidak terkunci bertebaran di ruangan ini.


"Terima kasih Kak, sudah memberitahu, saya tidak pernah kepikiran kalau di ruangan ini telah tersedia wifi." Ujar Valencia jujur sambil menampilkan senyumnya.


Helena mengangguk. "Kau bisa memainkan ponselmu dulu sebentar, terlalu keras bekerja itu tidak baik apalagi mengingat kalau kau hanya anak magang bukan karyawan kontrak, jadi santai saja."


Mendengar ucapan Helena, Valencia pun mulai memainkan ponselnya tapi Valencia hanya mengecek grup whatsapp saja untuk mengetahui apakah ada kabar penting atau tidak.


Helena mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil gambar Valencia yang sedang sibuk memainkan ponsel. Helena tersenyum ketika melihat hasil fotonya sangat bagus.


Sedangkan Valencia yang menyadari kalau Helena diam-diam mengambil potret dirinya, menjadi gelagapan. "Kakak, kenapa memotret saya? Tanya Valencia.


Helena tersenyum mendengar pertanyaan Valencia. "Aku hanya ingin melihat seberapa bagus kamera di ponsel yang baru saja aku beli kemarin."


Valencia diam sejenak sambil melihat ekspresi Helena, tapi ia tidak melihat ada kebohongan di ekspresi wanita itu dan Valencia pun dapat bernapas dengan lega.


Valencia melihat ponsel yang ada digenggaman Helena, Valencia dapat menebak kalau itu pasti ponsel keluaran terbaru tahun ini, rasanya Valencia ingin memilikinya juga tapi mengingat ia masih pelajar dan belum menghasilkan uang membuat keinginannya sulit terpenuhi.


Valencia menyimpan ponselnya kembali kedalam tas ranselnya dan mulai mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda tadi.


"Apa kau masih sibuk?" Tanya Helena.


"Iya Kak, karena masih banyak surat yang harus saya selesaikan." Jawab Valencia sopan.


Helena tersenyum masam mendengar jawaban Valencia. "Padahal, aku ingin minta bantuan denganmu."


"Kakak ingin minta bantuan apa?" Tanya Valencia.


"Aku ingin kau membelikan aku nasi goreng di kantin sebentar, aku merasa lapar sekali karena aku tidak sempat sarapan pagi tadi." Helena memberitahu sambil memegang perutnya yang kempes karena tidak terisi makanan.


Melihat itu Valencia merasa iba, rasanya tidak enak kalau dirinya menolak Helena yang ingin minta belikan nasi goreng. "Saya mau membelikan Kakak nasi goreng di kantin."


Senyum sumringah langsung terbit dibibir Helena. "Benarkah kau mau, tapi kau kan sedang sibuk."


Valencia tersenyum. "Surat ini bisa saya kerjakan setelah saya membelikan nasi goreng untuk Kakak."


Valencia mengangguk. "Tidak, Kakak duduk saja disini dulu." Setelah mengatakan itu Valencia pergi keluar ruangan menuju Kantin.


Untung saja Valencia masih mengingat letak kantin, jadi ia tidak akan tersesat mengingat perusahaan ini begitu besar dan luas.


Valencia bersyukur ia tidak lama mengantri membeli nasi goreng untuk Helena, karena saat ini Kantin masih sepi mengingat ini belum waktunya jam istirahat. Setelah membayar pesanannya Valencia pun kembali ke ruangan dan ia melihat senyum cerah Helena ketika melihat kedatangannya.


"Apa kau tidak lama mengantri?" Tanya Helena.


Valencia menggeleng pelan. "Tidak Kak, karena ini belum jam istirahat jadi Kantin masih sepi pengunjung."


"Valen, bisa kau membantuku lagi untuk membeli jus jeruk, tadi aku lupa menyuruhmu untuk membelinya."


Valencia terpaksa mengangguk karena ia merasa tidak enak kalau menolak, padahal ia cukup lelah berjalan kaki dari ruangan ini menuju kantin karena jarak ruangan ini ke kantin lumayan jauh.


"Baik Kak, saya akan membelikannya."


"Kau baik sekali, aku jadi tidak enak." Ujar Helena.


"Tidak apa Kak, jangan merasa tidak enak seperti itu." Balas Valencia sambil tersenyum.


Helena kembali mengeluarkan uang berwarna merah dua lembar dan menyerahkannya pada Valencia. "Ini uang tambahannya."


Valencia pun mengambil uang itu dan kembali menuju kantin untuk membelikan jus jeruk. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk Valencia kembali ke ruangan dengan jus jeruk yang ada ditangannya.


"Ini Kak jus jeruknya." Ujar Valencia sambil meletakkan jus jeruk itu ke atas meja, "Ini kembaliannya Kak." Valencia menyerahkan uang kembalian kepada Helena.


Helena pun mengambil uang tersebut dari tangan Valencia. "Terima kasih Valen, kau memang baik sekali."


Valencia mengangguk sambil tersenyum, kemudian Vakencia pun kembali duduk dikursinya untuk kembali mengerjakan surat yang belum selesai.


"Nasi goreng dan jus jeruk ini untukmu saja." Ujar Helena sambil menyodorkan nasi goreng serta jus jeruk itu pada Valencia."


Valencia menganga tidak percaya dengan apa yang diucapkan Helena, bukankah tadi Helena lapar karena tidak sarapan dari pagi, tapi kenapa Helena malah memberika makanan dan minuman itu untuknya.


"Bukankah tadi Kakak lapar karena pagi tadi tidak sarapan." Ujar Valencia.


Helena tersenyum. "Aku sudah kenyang, jadi itu untukmu saja."


"Tapi, Kak..."


"Tidak apa makanlah, aku tahu kau pasti lapar melihat kau terlalu keras bekerja." Helena memotong ucapan Valencia.


Valencia menatap ragu ke arah makanan dan minuman itu, kenapa ia selalu bertemu dengan orang baik padahal mereka baru saja berkenalan.


"Jangan ragu, makanlah tidak apa makan sebentar setelah itu baru kau kembali mengerjakan surat." Helena menampilkan ekspresi meyakinkannya.


"Tapi, ini belum jam istirahat Kak."


"Tenang saja, disini tidak ada yang melarang kalau makan sebelum jam istirahat." Helena memberitahu pada Valencia.


Valencia kembali terdiam, entah kenapa Valencia merasa ragu untuk mengambil makanan itu. Tapi, melihat wajah Helena yang begitu meyakinkan membuat dirinya ingin mengambil makanan itu.


"Makanlah, aku akan marah jika kau tidak memakannya, anggap saja itu hadiah karena kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik." Helena tersenyum.


Valencia pun mengambil makanan dan minuman itu. "Terima kasih, Kak karena telah mentraktir saya makanan."


Helena mengangguk. "Sama-sama, kau harus memakannya sampai habis."


Valencia tersenyum dan mulai memakan nasi goreng itu dengan lahap, perutnya sedari tadi memang lapar karena ia pagi tadi juga tidak sarapan.


Sedangkan Helena sedari tadi senyumnya tidak luntur dari bibirnya, apalagi melihat Valencia yang begitu lahap menyuap makanan itu membuat Helena semakin tersenyum lebar.


Helena mengeluarkan ponselnya dan kembali mengambil gambar Valencia, Helena bersyukur kalau Valencia tidak menyadari kalau dirinya tengah mengambil gambar gadis itu secara diam-diam.


"Aku akan kembali ke mejaku, selamat menikmati makananmu." Setelah mengucapkan itu Helena pun kembali menuju mejanya.


Setelah sampai dimeja miliknya, Helena pun mulai mengetikkan sesuatu pada keyboard ponselnya tidak lupa ia juga melampirkan sebuah gambar, setelah itu Helena langsung menekan tanda kirim dan kemudian ia menyimpan ponsel itu kedalam tasnya.


Drt...


Ponsel Valencia bergetar, ia pun menghentikan aktivitas makannya sebentar kemudian Valencia mengambil ponsel tersebut dalam tasnya, Valencia kaget kalau Ibu Emy Handayani mengirimnya sebuah pesan pribadi diwhatsappnya.


Ibu Emy Handayani


Valencia Floryna Hermawan, saya tunggu kedatanganmu saat jam istirahat nanti ke sekolah.


...🍁🍁🍁...