The Problem

The Problem
The Problem - Enam



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Tidak terasa beberapa jam telah berlalu,


akhirnya waktu istirahat telah tiba, Valencia merapikan surat yang berserakan diatas mejanya.


Masih banyak surat yang belum ia catat kedalam jurnal, tapi Valencia memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu baru setelah itu ia menyelesaikan sisa surat tersebut. Rasanya Valencia tidak akan fokus mengerjakan tugasnya jika perutnya merasa lapar.


Valencia meregangkan tubuhnya yang terasa penat akibat terlalu lama duduk, Valencia akui dihari pertama magang ia sudah diberi banyak tugas dan juga ada kesulitan tapi Valencia bersyukur dapat mengerjakannya dengan baik dan Valencia juga senang mengerjakan tugasnya.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Luna yang saat ini sedang berdiri dimeja Valencia.


Valencia menggeleng pelan. "Belum Kak, masih ada sebagian yang belum dikerjakan."


Luna tersenyum simpul. "Tak apa, jangan dipaksa, lagi pula ini sudah jam istirahat, jadi lebih baik merehatkan tubuh dulu sejenak, atau pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa lapar, sebelum kembali mengerjakan tugas."


"Saya juga berencana untuk pergi ke kantin." Valencia memberitahu pada Luna.


"Ingin pergi ke kantin bersama." Luna menawari Valencia masih dengan senyum yang terbit dibibirnya.


Valencia mengangguk tanda mengiyakan tawaran Luna. "Tentu saja saya mau, saya juga masih belum tahu dimana letak kantin. jadi, kalau saya hanya seorang diri pergi kesana mungkin saya akan tersesat." Valencia berkata jujur.


Luna terkekeh pelan ketika mendengar ucapan Valencia. "Ucapanmu ada benarnya juga. Mengingat perusahaan ini sangat luas tidak menutup kemungkinan kalau kau akan tersesat."


Karena tidak tahu harus membalas ucapan Luna seperti apa, jadi Valencia hanya tersenyum.


"Ayo kita pergi sekarang." Ajak Luna sambil melingkarkan tangannya pada tangan Valencia.


Valencia hanya mengangguk dan setelah itu mereka berdua pun berjalan bersama menuju kantin.


Setelah sampai di kantin, Valencia hanya bisa menahan mulutnya agar tidak menganga lebar ketika melihat kantin yang begitu mewah, sepertinya lebih tepat disebut restaurant dari pada kantin.


Mata Valencia masih setia menjelajahi isi ruangan. Valencia menjadi takut kalau uang saku miliknya tidak cukup untuk membeli makanan di kantin perusahaan ini.


Saat ini suasana begitu ramai, jadi tidak heran banyak suara bising dari orang sekitar, mengingat ini waktu istirahat, jadi dapat dipastikan kalau para karyawan juga menghabiskan waktu istirahatnya di kantin.


Valencia membiarkan tangannya yang masih digandeng oleh Luna. Sepertinya Luna masih kebingungan mencari tempat duduk, tapi tidak berlangsung lama, Luna pun menarik tangan Valencia kembali dan jadilah sekarang mereka duduk didekat kaca, sehingga Valencia dapat melihat dengan jelas pemandangan kota yang indah.


Luna langsung mengambil buku daftar menu dan mulai mencari makanan dan minuman yang akan ia pesan, sedangkan Valencia ia masih menatap buku daftar menu itu dengan ragu.


Melihat Valencia yang hanya menatap buku daftar menu itu tanpa ada niatan untuk mengambilnya membuat Luna mengernyit bingung.


"Kenapa hanya dilihat? Kau tidak ingin memesan sesuatu?" Tanya Luna beruntun.


"Sa—ya akan memesan." Ujar Valencia tergagap.


Valencia pun mengambil buku daftar menu dan mulai membukanya, melihat harga menu yang tertera didaftar membuat Valencia meneguk salivanya, melihat harganya membuat Valencia semakin yakin kalau tempat ini tidak tepat disebut kantin tapi lebih tepat disebut restaurant bintang 5.


Harga satu porsi nasi goreng saja lebih dari 100 ribu belum lagi ditambah minum, sedangkan uang saku Valencia hanya 50 ribu. Sialnya lagi makanan yang paling murah disini rata-rata 100 ribu keatas.


Mungkin karena ini perusahaan besar dan terkenal jadi harga makanannya menjadi mahal. Apa sebaiknya Valencia izin pergi keluar untuk mencari makan sesuai dengan isi dompetnya.


"Lebih baik makan dipinggir jalan sudah jelas enak, porsinya banyak serta harga yang murah. Makanan disini bukannya membuatku kenyang tapi malah membuatku bangkrut." Gumam Valencia dalam hati sambil membolak balik halaman buku daftar menu.


Sedari tadi Luna melihat Valencia yang hanya membolak balik halaman buku daftar menu, melihat ekspresi Valencia yang berubah-ubah membuat Luna dapat menebak kalau Valencia masih bingung memilih makanan dan minuman apa yang akan ia pesan.


Ditambah lagi harganya mahal pasti membuat Valencia semakin ragu, mengingat Valencia hanya seorang pelajar membuat Luna yakin sepertinya uang saku Valencia tidak cukup untuk membeli makanan dan minuman di kantin perusahaan ini.


"Kau pilih saja, nanti biar aku yang bayar." Sahut Luna pada Valencia.


Valencia menatap ke arah Luna dengan tatapan tidak percaya. "Tidak perlu Kak..."


Luna menampilkan senyum meyakinkannya. "Tidak apa, kau pilih saja makanan atau minuman apa yang ingin kau pesan, anggap saja ini sebagai imbalan karena kau membantuku dalam mengurusi surat tadi."


"Tapi, makanan disini mahal Kak." Ujar Valencia.


"Aku membawa uang lebih, jadi tidak masalah kalau makanannya mahal. Jadi kau pesan saja, jangan memikirkan harganya, oke." Balas Luna sambil mengedipkan matanya sebelah.


Valencia tidak menyangka kalau Luna begitu baik padanya, padahal mereka baru saja berkenalan beberapa jam yang lalu. Ia bersyukur dapat mengenal orang baik seperti Luna.


Makanan disini begitu mahal tapi Luna tetap saja mau mentraktirnya. Valencia yang awalnya mengira kalau dirinya tidak akan punya teman, karena mengingat sikap acuh para karyawan pada dirinya ternyata dirinya salah, sekarang ia telah mempunyai teman bahkan sangat baik hingga mau mentraktir dirinya.


Sedari tadi ia melihat menu hanya nasi goreng lah makanan yang harganya paling murah serta sirup juga. Jadi Valencia memutuskan untuk memesan itu saja, lagi pula Valencia tahu diri untuk tidak memilih makanan yang mahal.


Luna menekan bel kecil disamping meja, tak lama kemudian datanglah seorang pelayan datang menghampiri meja mereka.


"Kalian ingin memesan apa?" Tanya pelayan itu sopan.


"2 nasi goreng dan 2 sirup." Jawab Luna tersenyum ramah.


"Baik, 10 menit pesanan kalian akan segera siap." Setelah mengatakan itu pelayan tersebut langsung pergi meninggalkan meja Valencia dan Luna.


Benar saja setelah 10 menit kemudian pesanan mereka pun sudah datang, Valencia sudah tidak sabar untuk mencicipi seenak apa nasi goreng yang ada di kantin ini.


Valencia pun menyuapkan nasi goreng tersebut ke mulutnya dan rasanya sangat enak, mungkin karena harganya lumayan mahal jadi wajar saja kalau nasi gorengnya terasa enak dan sedikit berbeda dengan nasi goreng yang ada dipinggir jalan.


"Menurutmu, bagaimana rasanya?" Tanya Luna sambil menyuap nasi gorengnya.


"Rasanya enak sekali Kak, pantas saja harganya mahal." Jawab Valencia bersemangat.


"Kau berasal dari SMK Karya Pelita?" Tanya Luna lagi.


"Iya Kak."


"Kenapa kau memilih sekolah SMK bukan SMA?" Luna kembali bertanya dengan ekspresi penasaran.


"Aku merasa sekolah SMK banyak tantangan jadi aku memutuskan untuk sekolah SMK." Jawab Valencia jujur sambil menyeruput sirup miliknya.


"Pasti sangat menyenangkan bukan, rasanya aku ingin kembali ke masa SMK juga."


"Kakak lulusan SMK juga?" Tanya Valencia.


Luna mengangguk mengiyakan. "Iya, aku lulusan SMK Tunas Bangsa, apa kau mengetahuinya?"


Valencia tidak menyangka kalau Luna ternyata lulusan SMK Tunas Bangsa. Setahu Valencia kalau SMK Tunas Bangsa adalah sekolah elite dan juga terkenal kaya prestasi, bahkan biaya masuk sekolah disana juga sangat mahal.


"Tentu saja saya mengetahuinya, mengingat sekolah itu sangat terkenal." Valencia menjawab.


"Dulu, SMK Tunas Bangsa belum terkenal seperti sekarang." Luna memberitahu pada Valencia.


"Benarkah."


Luna mengangguk. "Iya, mungkin karena sekarang zaman sudah berubah jadi SMK Tunas Bangsa meningkatkan kualitasnya dan jadilah terkenal seperti sekarang."


Valencia membenarkan ucapan Luna dalam hati, sambil menyuap nasi goreng yang hampir habis.


"Kau tinggal dimana?" Tanya Luna yang kini sedang membersihkan sisa makanan disudut mulutnya menggunakan tisu.


"Saya tinggal di jalan Anggrek No. 15." Valencia menjawab.


"Ternyata, jarak rumahmu menuju kesini lumayan jauh juga."


Valencia mengangguk, ucapan Luna memang benar kalau jarak rumahnya menuju ke perusahaan ini lumayan jauh.


Luna melirik ke arah jam tangan yang melingkar pada tangan kanannya, ia melihat sekarang jam menunjukkan pukul 12.40, berarti sebentar lagi waktu istirahat akan habis.


"Sepertinya jam istirahat kita hampir habis."


Otomatis Valencia pun menatap ke arah jam tangannya juga dan benar saja tinggal beberapa menit lagi waktu istirahat akan habis.


"Sepertinya kita harus segera kembali ke ruangan." Ujar Luna.


"Iya Kak, kita harus segera kembali ke ruangan."


Luna menekan tombol lagi dan pelayan pun kembali datang menghampiri meja mereka.


"Berapa total pesanan kami?" Tanya Luna.


"Total pesanan kalian 500 ribu." Jawab pelayan itu.


Luna mengambil uang 100 ribu lima lembar didalam dompetnya dan menyerahkan uang tersebut kepada pelayan. Valencia melihat itu hanya bisa terperangah karena ia tidak menyangka kalau pesanan mereka berdua berjumlah 500 ribu, padahal dirinya sudah memesan makanan yang paling murah.


"Terima kasih." Setelah mengucapkan itu pelayan pun bergegas pergi meninggalkan meja Valencia dan Luna.


"Saatnya kembali ke ruangan." Luna pun menarik tangan Valencia dan keluar dari kantin untuk kembali ke ruangan mereka karena sebentar lagi waktu istirahat akan habis dan mereka pun harus kembali menyelesaikan tugas mereka.


...🍁🍁🍁...