
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Tidak terasa beberapa jam telah berlalu dan jam telah menunjukkan jam tiga sore, itu tandanya Valencia harus segera kembali ke rumah.
Mungkin mereka terlalu asik berbincang hingga tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, andai saja hari ini ia tidak pulang cepat mungkin Valencia akan menghabiskan waktu dengan sahabatnya sampai malam tiba.
Valencia hanya bisa berharap semoga ia bersama sahabatnya akan mempunyai waktu luang lagi, agar dapat menghabiskan waktu bersama. Mengingat mereka sedang menjalani masa magang rasanya sulit sekali untuk mengatur waktu agar bisa berkumpul.
Tring...
Ponsel Valencia berdering dan langsung saja ia mengambil ponselnya dalam tas, Valencia melihat dilayar ponsel notif chat whatsapp dari Kak Luna. Valencia pun membuka aplikasi whatsapp dan membaca isi chat whatsapp tersebut.
Kak Luna
Valen, sebentar lagi aku akan datang ke rumahmu.
Tring...
Kak Luna
Aku harap ketika aku sampai nanti kau sudah membersihkan diri, jadi aku bisa langsung mendandanimu.
Valencia tersenyum melihat chat whatsapp dari Luna, bahkan wanita itu selalu mengingatkan dirinya agar membersihkan diri lebih awal, agar ketika wanita itu sampai ia langsung mendandani dirinya.
Valencia pun mengetikkan sesuatu dipapan keyboardnya untuk membalas chat whatsapp dari Luna.
Valencia Floryna
Baik Kak, ketika Kakak sudah sampai aku sudah membersihkan diri, sampai ketemu nanti Kak.
Setelah membalas chat whatsapp dari Luna, Valencia pun kembali memasukkan ponsel miliknya kedalam tas.
"Tidak terasa sekarang sudah jam tiga sore." Clara memberitahu sahabatnya sambil melihat ke arah jam yang melingkar ditangan kirinya.
"Cepat sekali, perasaan kita baru saja datang kesini dan berbincang." Sahut Joana pada Clara.
"Mungkin karena kita terlalu asik berbincang jadi tidak terasa waktu berlalu begitu cepat." Timpal Valencia sambil menampilkan senyumnya.
"Valen, kau harus pulang sekarang bukan." Ujar Bella pada Valencia.
Valencia mengangguk pelan. "Ya, aku akan pulang sekarang."
"Padahal aku ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan kalian, tapi mengingat kalian ingin pergi ke acara peresmian CEO Aldebaran Company hari ini jadi kita tidak dapat menghabiskan waktu lebih lama." Keluh Clara dengan ekspresi sedihnya.
Joana menepuk bahu Clara pelan, kebetulan posisi Joana saat ini bersebelahan dengan Clara. "Jangan memasang ekspresi sedih seperti itu, kita masih bisa menghabiskan waktu bersama lain kali."
Bella mengangguk tanda membenarkan ucapan Joana. "Joe benar, kita masih bisa bertemu lain kali. Kalau kau memasang ekspresi sedih seperti itu rasanya aku juga ikut sedih."
Clara tersenyum tipis melihat sahabatnya yang mencoba menghibur dirinya. "Kalian benar, kita bisa menghabiskan waktu lain kali, jadi aku tidak perlu sedih."
"Aku juga sama sepertimu Clara, ingin menghabiskan waktu bersama kalian lebih lama lagi, tapi karena acara peresmian itu aku jadi tidak bisa lama untuk menghabiskan waktu bersama kalian." Sahut Valencia pada Clara.
"Tak apa Valen, aku harap kalian bertiga menikmati acara nanti malam." Ujar Clara yang masih menampilkan senyum tipisnya.
Bella membalas senyuman Clara. "Pasti, kami akan sangat menikmati acara nanti malam."
"Andai saja kau ikut, pasti acara nanti malam akan lebih menyenangkan." Joana menyayangkan Clara karena tidak mau ikut ke acara peresmian itu.
"Maaf, kalian tahu bukan kalau aku tidak suka pesta, jadi aku tidak akan ikut." Clara memberitahu pada sahabatnya.
"Baiklah, semoga kau menikmati waktu tidurmu nanti malam." Balas Joana pada Clara.
Clara mengangguk pelan. "Tentu saja, aku akan sangat menikmati waktu tidurku."
Valencia tersenyum melihat ekspresi sedih tidak ada lagi diwajah Clara, mata Valencia melihat ke arah Ayah nya yang sedang sibuk melayani para pembeli, padahal ini sudah sore tapi para pembeli masih berdatangan.
Valencia kembali menjelajah sekitarnya yang ternyata sudah sepi, sepertinya para pelanggan yang tadi ia layani telah menghabiskan pesanannya dan pergi dari kedai.
Mata Valencia tidak sengaja terhenti pada seorang pria yang sedang duduk tidak jauh dari meja mereka, pria itu memakai topi dan juga masker berwarna hitam. Mata Valencia menyipit, entah kenapa ia seperti mengenal postur tubuh itu.
Merasa sedang diperhatikan pria itu pun menatap ke arah Valencia, pria itu pun membuka maskernya dan menampilkan smirknya, setelah itu pria itu pun menutup kembali maskernya dan menatap ke arah lain.
Valencia yang melihat pria itu membuka masker barusan membuat ia membelalak kaget. Beberapa pertanyaan pun muncul dalam benak Valencia, sejak kapan pria itu ada disini? Apa sudah lama? Apa pria itu mendengar pembicaraan mereka mengingat posisi mereka dan pria itu hanya berjarak satu meja saja.
"Valen, kenapa ekspresimu kaget begitu?" Tanya Joana dengan alis terangkat.
Mendengar pertanyaan dari Joana, otomatis membuat tatapan Valencia yang semula menatap ke arah pria itu menjadi mengarah pada Joana. "Sepertinya aku melihat seseorang yang aku kenal, tapi ia sudah menghilang." Bohong Valencia pada sahabatnya.
"Aku kira kau sedang melihat apa, sampai wajahmu kaget seperti itu." Ujar Joana pada Valencia.
"Sudah saatnya kita pulang. Valen, apa kau ingin pulang bersama kami?" Tawar Bella pada Valencia.
Valencia menggeleng pelan. "Kalian pulang duluan saja, karena aku akan membersihkan kedai ini sebentar sebelum pulang ke rumah."
"Baiklah, kami akan pulang duluan. Sampai jumpa nanti malam Valen." Balas Bella sambil menyunggingkan senyumnya.
Valencia membalas senyuman Bella. "Sampai jumpa, kalian hati-hati dijalan."
Tiga sahabatnya itu serempak mengangguk, kemudian mereka beranjak dari kursi, sebelum keluar dari kedai tidak lupa mereka berpamitan dengan Ayah Valencia terlebih dahulu, baru setelah itu mereka keluar dari kedai dan menaiki motor mereka masing-masing.
Valencia yang saat ini berdiri didepan pintu kedai melambaikan tangan pada sahabatnya sambil menyunggingkan senyumnya dan sahabatnya pun membalas lambaian tangan Valencia, setelah itu mereka pun melajukan motor mereka meninggalkan kedai.
Ketika sahabatnya sudah tidak terlihat lagi baru Valencia masuk kedalam dan mencoba mengabaikan seorang pria yang saat ini masih duduk diam ditempatnya sambil menatap ke arahnya.
"Permisi, saya ingin satu kopi hitam tanpa gula." Seru pria itu menyebutkan pesanannya.
"Valen, bisakah kau membuatkan pesanan untuk pria itu, Ayah sedang sibuk melayani para pembeli." Pinta Hery tanpa menatap Valencia karena ia sedang sibuk membungkus roti pesanan para pembeli yang sedang menunggu didepan etalase.
Valencia menghela napas pelan, sebenarnya ia tidak ingin membuatkan pesanan pria itu tapi ia tidak mungkin menolak permintaan Ayah nya.
"Baik Ayah, Valen akan membuatkan pesanan pria itu." Setelah mengatakan itu, Valencia berjalanan menuju mesin kopi dan membuatkan kopi hitam tanpa gula pesanan pria itu yang tak lain adalah CEO baru mereka yaitu Pak Felix.
Kopi hitam tanpa gula pun sudah jadi, Valencia meletakkan kopi itu ke atas nampan, kemudian ia membawa nampan tersebut menuju meja pria itu.
"Ini Pak pesanan anda." Valencia meletakkan kopi hitam itu ke atas meja. Ketika Valencia ingin beranjak pergi Felix lebih dulu mencekal pergelangan tangan Valencia.
"Bisa kau duduk disini sebentar." Pinta Felix pada Valencia.
Walaupun Felix masih menggunakan masker tapi Valencia masih dapat dengan jelas mendengar ucapan pria itu. "Maaf, tapi saya harus segera pulang."
"Kau berani menolak permintaan atasanmu." Balas Felix yang masih mencekal tangan Valencia.
"Mungkin ditempat magang anda atasan saya, tapi ketika diluar anda bukan siapa-siapa saya." Balas Valencia sengit.
"Duduk atau kau ingin aku tidak melepaskan cekalan tanganku dari pergelangan tanganmu." Ancam Felix pada Valencia.
Melihat Valencia duduk membuat Felix menyunggingkan senyumnya, ia pun melepas cekalan tangannya pada pergelangan tangan Valencia.
"Jadi, untuk apa Bapak menyuruh saya duduk disini?" Tanya Valencia dengan ekspresi datar.
"Temani aku sebentar disini." Pinta Felix lagi pada Valencia, ia pun melepaskan maskernya dan mulau meminum kopi hitam miliknya.
"Sejak kapan Bapak ada disini?" Valencia menyuarakan pertanyaan yang ada dalam benaknya sedari tadi.
"Sejak temanmu mengatakan kalau aku sangat tampan." Jawab Felix santai.
Valencia bersyukur karena bukan dirinya yang mengatakan kalau Felix sangat tampan. Jika dirinya, mungkin dapat dipastikan kalau dirinya akan malu karena ucapan itu.
Valencia juga bersyukur, karena sahabatnya tidak menyadari kalau pria yang mereka bicarakan ada disini. jika mereka mengetahui Felix juga ada disini, pasti saat ini mereka belum pulang dan akan mencoba mendekati Felix.
"Bukankah tempo lalu saya sudah memperingatkan, kalau Bapak tidak boleh datang kesini lagi." Valencia mengingatkan ucapannya tempo lalu pada Felix.
"Kau tidak mempunyai hak untuk melarangku datang kesini, karena kedai ini milik Ayahmu bukan milikmu." Balas Felix menampilkan smirknya.
Mulut Valencia terbuka ingin membalas ucapan Felix, tapi mulut Valencia kembali tertutup karena ia kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Felix.
"Kau yakin ingin datang ke acara nanti malam, aku saja ingin kabur untuk menghindari acara nanti malam." Sahut Felix sambil sesekali menyesap kopi miliknya.
Apa Valencia tidak salah dengar kalau Felix ingin kabur dari acara miliknya sendiri. "Bapak yakin ingin kabur, padahal acara itu untuk memperkenalkan Bapak pada seluruh tamu ataupun kolega, kalau Bapak telah resmi menjadi CEO baru Aldebaran Company."
"Aku tidak suka pesta dan keramaian, satu lagi aku tidak suka diriku terekspos dimedia ataupun internet." Felix memberitahu alasannya pada Valencia.
Ia baru mengetahui fakat kalau seorang Felix Reynand Aldebaran tidak suka pesta dan juga keramaian, pria itu juga tidak suka dirinya terekspos oleh media.
Pantas saja Felix tidak mempunyai sosial media dan wajahnya pun tidak pernah terekspos dimedia atau pun diinternet, pasti Felix mengancam para wartawan ataupun orang yang pernah bertemu dengannya agar tidak mengeskpos wajahnya ke internet atau pun media.
Felix juga memiliki sifat yang sama seperti sahabatnya yaitu Clara, sama-sama tidak menyukai pesta, sepertinya mereka cocok jika jadi pasangan kekasih, abaikan saja pikiran melantur Valencia.
"Tapi, sepertinya aku mengurungkan niatku untuk kabur." Sahut Felix lagi.
Valencia mengernyit bingung mendengar Felix yang berubah pikiran. "Kenapa Bapak tidak jadi kabur?"
Sebelum menjawab pertanyaan Valencia, Felix menghabiskan kopinya terlebih dahulu. Felix menampilkan smirknya. "Karena kau juga datang ke acara nanti malam, jadi aku tidak mempunyai alasan untuk kabur." Bisik Felix dengan nada rendah tepat ditelinga Valencia.
Setelah mengatakan itu Felix memakai maskernya kembali dan beranjak dari kursinya. Tidak lupa Felix membayar kopi miliknya terlebih dahulu, baru setelah itu ia berjalan ke luar meninggalkan kedai.
...🍁🍁🍁...