The Problem

The Problem
The Problem - Empat Belas



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Valencia bersyukur kalau dia bangun tepat waktu dan tidak bangun kesiangan mengingat tadi malam ia baru tidur ketika larut malam.


Tidak lupa ia sarapan terlebih dahulu bersama kedua orang tuanya dan kedua Kakaknya sebelum pergi ketempat magang.


Suasana kantor masih terlihat sepi karena ia datang pukul 6 pagi, menurut Valencia lebih baik datang lebih awal dari pada datang terlambat.


Valencia melihat ruangannya juga masih sepi belum ada orang yang datang. Jadi, Valencia memutuskan untuk menjelajahi ruangannya, selama magang disini ia tidak menjelajahi seluk beluk ruangan karena terlalu sibuk mengerjakan tugas.


Valencia berjalan menuju ke arah jendela, ternyata pemandangannya sangat indah, Valencia dapat melihat gedung tinggi yang berjejeran. Mata Valencia turun ke bawah, ia dapat melihat dengan jelas jalanan serta mobil dan motor yang berlalu lalang.


Aldebaran Company mempunyai 60 lantai dan ruangan Valencia terletak dilantai 20, menurut Valencia lantai 20 saja sudah sangat tinggi apalagi lantai 60 mungkin ia berasa sedang diatas awan.


Valencia suka suasana tenang seperti sekarang ini, karena sampat saat ini belum ada orang yang datang, Valencia membiarkan angin yang menerpa wajahnya karena itu membuat dirinya nyaman.


"Wah, anak magang sudah datang."


Tatapan Valencia otomatis beralih kepada sumber suara, ia melihat tidak jauh dari tempatnya Helena sedang berdiri sambil bersidekap menatap ke arahnya.


Valencia kembali mengalihkan tatapannya ke arah jendela, meladeni ucapan Helena akan membuat dirinya darah tinggi jadi lebih baik ia diam saja dan menikmati suasana tenangnya.


"Enak sekali datang hanya bersantai tidak melakukan apapun." Sahut Helena lagi yang perlahan mendekat ke arah Valencia.


Ucapan Helena seperti menyindir dirinya membuat Valencia menatap ke arah Helena dengan ekspresi datar. "Kakak menyindir saya."


"Kau merasa tersindir." Ujar Helena dengan alis terangkat.


Valencia tersenyum sambil menggeleng pelan. "Tidak, aku rasa apa yang Kakak ucapkan barusan lebih cocok untuk Kakak sendiri."


Helena bertepuk tangan pelan. "Sebelumnya tidak ada orang yang berani melawanku secara terang-terangan. Kau hanya seorang anak magang begitu berani terang-terangan melawanku."


"Apa saya harus diam saja dan lemah ketika saya ditindas oleh Kakak." Balas Valencia mengubah ekspresinya kembali menjadi datar.


"Benar, seharusnya kau diam saja ketika aku menindasmu itu demi kebaikanmu juga."


Rasanya Valencia ingin tertawa mendengar ucapan Helena, wanita itu bilang demi kebaikannya. Valencia tidak bodoh, itu bukan demi kebaikannya tapi itu hanya untuk kesenangan Helena saja.


"Itu bukan demi kebaikan saya tapi untuk kesenangan Kakak." Ujar Valencia telak.


Helena terkekeh pelan. "Ternyata kau pintar juga anak magang, aku suka lawan yang pintar sepertimu."


"Apa itu pujian?" Tanya Valencia.


"Kau merasa itu pujian."


Valencia menggeleng. "Tidak, orang seperti Kakak tidak pantas mengucapkan kata pujian."


"Kau..." Tangan Helena ingin menampar Valencia tapi dengan cepat Valencia menahan tangan tersebut.


"Apa Kakak lupa disini ada cctv, reputasi Kakak bisa hancur jika cctv itu tersebar." Peringat Valencia sambil melirik ke arah cctv yang tengah menyala.


Helena menarik tangannya dan mengatur ekspresinya agar kembali tenang. "Lupakan saja perdebatan kita tadi."


Valencia mengernyit heran, ia merasa seperti bukan Helena, karena wanita itu dengan mudahnya menyerah.


"Dari pada kau hanya bersantai, lebih baik sekarang kau bersihkan saja ruangan ini." Suruh Helena pada Valencia.


Valencia hampir menganga lebar, ketika mendengar perintah dari Helena yang menyuruhnya untuk memberishkan ruangan ini. Membersihkan ruangan sebesar ini yang benar saja, ia tidak akan sanggup jika membersihkan ruangan ini hanya seorang diri.


"Jika saya tidak mau bagaimana?"


Helena menampilkan smirknya. "Kalau kau tidak mau, kau akan tahu akibatnya."


Helena memang paling bisa mengancamnya dan membuat dirinya seakan tidak berdaya dengan ancaman itu. Valencia tahu, kalau ia tidak menuruti perintah Helena, maka wanita itu akan mengadu pada Ibu nya atau Helena akan melaporkan dirinya pada Ibu Emy.


"Kakak memang paling bisa mengancam saya."


"Tentu saja, karena aku yang berkuasa di ruangan ini, Valen. Jadi, kau harus menuruti perintahku." Ujar Helena.


Valencia menarik napas pelan. "Baiklah, saya akan membersihkan ruangan ini."


Helena tersenyum kemenangan. "Bagus, selama kau magang disini, kau harus membersihkan ruangan ini terlebih dahulu hingga bersih." Setelah mengucapkan itu Helena pun pergi meninggalkan ruangan dan tinggal lah Valencia sendirian.


Valencia berjalan ke sudut ruangan, disana terdapat ruangan khusus tempat penyimpanan alat kebersihan, seperti sapu dan pel. Valencia pun mengambil sapu tersebut dan mulai menyapu ruangan.


"Valen, ayo kita makan siang bersama." Ajak Luna yang saat ini telah berdiri dimeja Valencia.


"Kita makannya diluar kan Kak." Ujar Valencia memastikan.


Luna mengangguk. "Iya, kita makannya diluar."


"Syukurlah, ayo kita pergi makan sekarang." Seru Valencia bersemangat.


Valencia dan Luna pun berjalan bersama keluar ruangan dan menuju parkiran. Setelah melalui perjalanan yang memakan waktu cukup lama akhirnya Valencia dan Luna telah sampai di sebuah warung makan pecel lele.


Setelah memesan makanan dan minuman mereka, Valencia dan Luna pun duduk dikursi yang telah disediakan diwarung tersebut.


"Aku lihat, kau begitu akrab dengan Helena." Ujar Luna membuka pembicaraan.


Valencia tersenyum tipis. "Kami tidak seakrab yang Kakak lihat."


"Aku melihat dia terus mendatangimu ketika ingin meminta bantuan." Tambah Luna lagi.


"Itu karena saya tidak bisa menolak, makanya Helena selalu meminta bantuan pada saya." Jawab Valencia jujur.


"Kau diancam olehnya." Tebak Luna.


Valencia mengangguk mengiyakan. "Jika saya menolak, dia akan melaporkan pada Ibu Alison atau juga kepada ketua magang di sekolah saya Ibu Emy."


"Wanita itu memang licik, kau harus berhati-hati padanya jika tidak kau akan dapat masalah". Peringat Luna pada Valencia.


"Saya sudah dapat masalah karena Helena, dipertemuan pertama." Balas Valencia.


"Astaga, kau dapat masalah apa karena Helena?" Tanya Luna penasaran.


"Dia menjebak saya dan berakhir saya dipanggil oleh Ibu Emy dan mendapat peringatan terakhir." Valencia menjawab sambil menopang dagu.


"Kapan dia menjebakmu?" Tanya Luna lagi pada Valencia.


"Hari Rabu, saat itu Kakak sedang tidak masuk ke kantor." Jawab Valencia pada Luna.


"Andai saja saat itu aku masuk kantor, mungkin kau tidak akan masuk dalam jebakan Helena."


Valencia tersenyum. "Tak apa, jadi saya tahu kalau Helena wanita ular dan saya harus berhati-hati dengannya."


"Helena memang suka sekali menjebak seseorang dalam masalah, beberapa karyawan di ruangan kita juga ada yang menjadi korba oleh Helena." Luna memberitahu.


Ternyata bukan Valencia saja yang menjadi, karyawan di ruangannya pun juga ada yang menjadi korban, Helena memang wanita berbahaya yang harus dijauhi.


"Saya tidak mengerti kenapa ia suka sekali menjebak seseorang dalam masalah."


"Itu karena ia anak dari ketua bidang arsip, jadi dia seakan berkuasa di ruangan kita." Luna membalas.


"Apa tidak ada, karyawan yang melaporkan kelakuan Helena pada Ibu Alison?" Tanya Valencia penasaran.


"Ada, tapi Ibu Alison lebih percaya pada anaknya dari pada karyawannya. Jadi, para karyawan tidak ada lagi yang melaporkan pada Ibu Alison karena mereka tahu hasilnya akan sia-sia."


Mendengar jawaban Luna membuat Valencia cukup prihatin dengan nasib karyawan di ruangannya, pasti mereka juga tersiksa seperti dirinya karena tidak dapat berbuat apapun selain mengiyakan perintah Helena.


"Jika Helena melakukan sesuatu padamu katakan saja, aku akan membelamu."


Valencia tersenyum mengangguk, ternyata Luna memang benar-benae baik tidak bermuka dua seperti Helena, ia beruntung mempunyai teman seperti Helena.


"Permisi, ini pesanan kalian." Ujar penjual pecel lele, sambil meletakkan makanan dan minuman ke atas meja.


"Makasih paman." Balas Valencia sambil tersenyum.


Paman penjual itu pun mengangguk. "Sama-sama." Setelah mengucapkan itu paman penjual pergi meninggalkan meja Valencia dan Luna.


"Sepertinya enak, aku tidak sabar untuk mencicipinya." Sahut Luna dengan mata yang berbinar sambil melihat ke arah pecel lele.


"Ayo Kak, kita harus segera makan, sebentar lagi jam istirahat akan berakhir, saya tidak ingin Helena mempunyai peluang untuk melaporkan kita kepada Ibu Alison, karena kita terlambat tiba ke kantor."


Luna mengangguk menyetujui ucapan Valencia. "Kau benar, jangan biarkan wanita ular itu mempunyai peluang untuk melaporkan kita."


Valencia dan Luna pun mulai memakan pecel lele mereka dengan tenang, karena mereka harus cepat menghabiskan makanan mereka agar mereka tidak terlambat tiba di kantor.


...🍁🍁🍁...